Kupu-Kupu Senja di Kebun Rosella

Ketika Gerimis Terus Berbisik Karya Sulaiman Djaya

Dari mana aku harus mulai? Sungguh sulit sekali untukku menemukan simpul pertama dari ceceran dan serakan ingatan yang telah tercerai-berai –yang sebagian besar telah terlupakan. Meski demikian, rasanya aku akan merasa bersalah bila mencampakkan yang masih tersisa sebagai kenangan. Aku ingin memulainya dari kupu-kupu di pagihari dan senja yang sesekali kulihat di barisan pohon Rosella yang ditanam Ibuku, ketika hari bersimbah cuaca dingin atau di kala iklim berubah cerah selepas hujan menjelang siang.

Apakah kau akan membaca kisah pribadi yang kutulis ini? Aku berharap demikian. Keikhlasanmu untuk meluangkan waktu demi membaca kisahku ini akan menjadi penghargaan yang sangat berarti bagiku.

Kala itu adalah masa-masa di tahun 1980-an, ketika Ibuku memetik buah Rosella, sementara aku asik memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di salah-satu pohon Rosella itu, yang warna sepasang sayapnya seperti susunan ragam tamsil karena cahaya matahari senja. Ia sesekali terbang, lalu hinggap lagi, kadangkala berpindah atau pindah kembali ke pohon Rosella yang sama, lalu terbang lagi, sebelum akhirnya pergi ke tempat yang ingin ia ziarahi.

Keesokan harinya Ibuku akan menjemur biji-biji Rosella itu dengan tikar yang ia sulam dari sejumlah karung bekas, dan akan mengangkatnya selepas asar, sebelum kami akan menggoreng dan menumbuknya bersama menjadi bubuk kopi yang akan kami bungkus dengan plastik-plastik kecil yang ia beli dari warung. Kakak perempuanku yang akan memasukkan bubuk kopi Rosella itu, sedangkan aku yang menjahit ujung plastik itu dengan cara mendekatkannya ke semungil nyala lampu minyak.

Aku membeli buku-buku tulis sekolahku dari menjual bubuk kopi Rosella yang ditanam Ibuku itu, pohon-pohon Rosella yang acapkali disinggahi sejumlah kupu-kupu, selain dihinggapi dan diziarahi para kumbang.

Kami terbiasa hidup bersahaja dan memperoleh rizki kami dari Tuhan dengan perantaraan pohon-pohon ciptaan Tuhan yang ditanam Ibundaku: Rosella, kacang panjang, tomat, labuh, dan lain-lain yang kemudian dijual Ibuku setelah ia mengunduh dan memanennya. Aku hanya bisa membantu Ibuku sepulang sekolah atau ketika hari libur sekolah, meski kadangkala aku absen untuk membantunya dan lebih memilih untuk bermain dan menerbangkan layang-layang, berburu jangkerik, atau berburu para belalang yang kesulitan untuk terbang karena air yang melekat di sayap-sayap mereka dan yang tergenang di hamparan sawah-sawah di kala hujan atau selepas hujan bersama teman-temanku.

Hidup kami memang seperti kupu-kupu di senjakala yang mengimani kesabaran dan ketabahan sebagai keharusan yang tak terelakkan. Tahukah kau kenapa aku mengumpamakannya dengan kupu-kupu? Aku akan menjawabnya. Kupu-kupu, juga para kumbang, adalah makhluk-makhluk Tuhan yang ikhlas bekerja dan dengan takdir mereka sebagai para pengurai dan penyerbuk kembang dan bunga.

Kehadiran mereka merupakan berkah bagi kami yang mengais rizki dari hidup bertani dan menanam sejumlah tanaman yang buah-buahnya dapat dijual Ibuku. Keberadaan mereka adalah siklus alam dan kelahiran bagi kami, para petani.

Mereka, para kupu-kupu dengan sayap-sayap ragam warna di kedua sisi lengan mereka itu, akan datang tanpa kami undang bila tanaman-tanaman yang kami tanam telah berbunga, entah mereka datang di pagihari atau di senjahari. Memang aku baru menyadarinya di saat aku tak lagi hidup seperti di masa-masa itu –sebuah pemahaman yang memang terlambat. Tetapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak menyadarinya sama-sekali? [Sulaiman Djaya]

Iklan

Hujan dan Waktu

Sajak Prosa Sulaiman Djaya

Sebagaimana jamak kita maphumi, setiap kenyataan dan peristiwa akan senantiasa bersifat subjektif bagi setiap orang atau pengamat yang berbeda alias berlainan. Begitu pula suatu “sunnah alam” yang sama, semisal hujan yang dibicarakan dalam diari singkat ini, tak selamanya memberikan dan menghadirkan keintiman dan suasana yang seragam ketika ia hadir dan datang kepada kita untuk yang pertama-kalinya atau untuk yang kesekian-kalinya.

Bagi saya sendiri, dan tentu saja saya tidak tahu bagi Anda, hujan saya pahami sebagai waktu dan semesta yang tumpah, sebagai aksara yang lahir untuk menjadi kata, menjadi kalimat, singkatnya menjadi sajak. Ini adalah momen ketika saya berada di ruang baca dan meja menulis saya.

Pada saat itu, lewat jendela kaca, saya menyempatkan diri untuk merenungi dan memandangi mereka. Menyimak riuh dan gemericik suara mereka, persis ketika kelahiran dan kematian hadir bersamaan dalam waktu –persis ketika waktu sedang berhenti.

Dan tentu saja, adakalanya mereka menawan saya dalam momen-momen yang lain, seperti ketika saya duduk atau menunggu di halte busway, di kota Jakarta yang tak bahagia itu, dalam keadaan kedinginan –dan saya yakin Anda pernah mengalami momen ini. Ketika mereka mengguyur jalanan aspal dan gedung-gedung bertingkat yang angkuh dan bisu.

Dalam keadaan seperti itu, Anda kadang merasa kesal, jenuh, atau bosan, tak lain karena pada momen itu, mereka menghadirkan dan menghunjamkan kesepian ke dalam perasaan dan hati Anda, kedalam jantung eksistensi Anda yang rentan. Kecuali jika Anda menerima dan mengintiminya sebagai momen puitik.

Kehadiran mereka, ternyata “menciptakan” ragam momen eksistensial dan suasana bathin bagi ragam orang di ragam tempat dan “waktu”. Momen eksistensial bagi seorang kekasih yang memiliki janji atau jadwal untuk bertemu kekasihnya, contohnya. Bagi mereka yang hendak ke tempat kerja atau bagi mereka yang hendak pulang dari tempat kerja, dan lain sebagainya.

Tetapi lain di kota lain pula di desa (di sebuah kosmik ruang-waktu di mana saya menulis diari singkat ini), hujan adalah momen puitik dan peristiwa bahasa, sejumlah perumpamaan kosmis dan spiritual, di mana kematian dan kelahiran, hadir dan datang secara serentak, persis ketika waktu berhenti, dan bahasa kembali ke rahimnya sebagai puisi. Bahasa itu adalah perpaduan kematian dan kelahiran –yang kita sebut waktu. Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Ketika Engkau Terjaga

fragmen-sulaiman-djaya

“Di waktu-waktu sorehari puluhan tahun silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan”

Bagi banyak orang, terutama orang-orang kota, Januari tentu saja adalah bulan keriangan, pesta, dan perayaan yang hingar-bingar, tentu bagi mereka yang menyambut dan merayakannya. Tapi itu tidak sama dengan kami. Sejujurnya kami tak pernah tahu bila ada orang-orang yang menyalakan kembang api di tengah malam di ujung bulan Desember. Saya hanya tahu bahwa di saat saya terbangun pagi-pagi sekali di awal bulan itu, saya hanya keluar sejenak. Mungkin ketika itu saya terpesona, meski masih seorang kanak-kanak, saat tangan-tangan fajar menyentuh rumput dan daun-daun yang masih basah karena embun. Menyentuh hidup.

Itulah saat-saat saya sungguh-sungguh terjaga, entah saya duduk atau berdiri kala itu. Mengelanakan kedua mata ke arah cuaca. Sementara, ketika saya telah menjadi seorang lelaki remaja, di pagi-pagi seperti itu saya akan menyeduh segelas kopi dari bubuk kopi buatan Ibu, agar sedikit merasa nyaman saat duduk di gubuk, menunggu burung-burung Januari yang kami khawatirkan akan datang menyerbu.

Pada saat-saat seperti itulah, saya sadar bahwa ada yang tengah termenung, ada yang begitu riang berlarian seperti kanak-kanak yang bahagia. Juga, ada yang tengah merapihkan diri dan ada yang bermain-main saja –seperti kanak-kanak atau para bocah yang belum mengenal kejahatan dan tipu daya yang menyakitkan, atau pengkhianatan yang telah membuat sejarah menjadi arena pertumpahan darah.

Itu semua saya namakan sebagai tangan-tangan fajar yang riang bermain dan bercanda dengan burung-burung awal bulan Januari yang basah dan lembab saat saya tengah terduduk di sebuah gubuk tempat saya termenung dan menunggu. Itulah keriangan Januari yang kami pahami dan kami alami. Keriangan yang juga datang ketika kami meninggalkan tahun sebelumnya, meski saya kira, ketika itu segala sesuatunya masih tetap sama dan tidak berubah. Ketika kami menjalani hidup dengan menginjakkan kaki-kaki kami di lumpur dan meremas batang-batang padi ketika memukul-mukulkan ujung-ujung pohonnya yang bergelantungan bijian-bijian berwarna kuning pada sebuah alat yang kami sebut gelebotan. Setelahnya, seperti biasa, ada keheningan senjakala.

Burung-burung Januari saat itu, seperti sebuah karnaval yang melintasi bentangan kanvas-kanvas langit dan cakrawala yang berwarna kuning dan merah. Di hari-hari yang lain, bila kami telah selesai membantu orang tua-orang tua kami itu, kami akan bermain layang-layang hingga adzan magrib berkumandang. Dan pada malam harinya, selepas sembahyang magrib itu, kami akan membawa lampu minyak milik kami masing-masing menuju sebuah langgar tempat kami belajar Al-Qur’an kepada ustadz kami yang terbilang galak.

Seperti itulah rutinitas kami sebagai kanak-kanak sebelum akhirnya saya belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah, juga bertemankan semungil nyala lampu minyak yang telah dinyalakan Ibu jelang magrib. Tidak seperti sekarang ini, musik-musik malam saya ketika itu adalah desau angin yang datang dari ranting-ranting dan sela-sela dedaunan sepanjang sungai, juga para katak dan serangga yang tak bosan-bosan memainkan orkhestra mereka dengan riang gembira, namun anehnya semakin menambah kesunyian.

Memang, saya tak sepenuhnya mengerti apa yang saya sebut sebagai ingatan. Tetapi, dengan keterserakannya, dengan potongan-potongan dan serpihan-serpihannya, mereka justru memberikan kesempatan dan kebebasan pada seseorang untuk mengumpulkannya dan merangkainya menjadi sebuah narasi yang tidak mesti sama dengan peristiwa-peristiwa sesungguhnya. Saya tergoda untuk menyebutnya sebagai historiografi angan-angan, karena mereka semua tak lebih sejumlah jejak yang samar. Ketika sebuah tulisan yang ingin menceritakannya tak ubahnya warna-warna pada sebuah kanvas.

Historiografi angan-angan itu dituliskan dan digambar dari keakraban dan keintiman, yang adakalanya bsosan dan adakalanya riang, dengan cuaca, angin, cahaya, tanah, dan sudut-sudut langit yang pernah kita tinggali dan kita akrabi dengan bathin kita. Seperti ketika Giovanni Segantini menggambar dan melukis Saint Moritz, dimana ia menumpahkan kerinduan dan kesepian bathinnya sebagai seorang lelaki. Atau, katakanlah, ingatan itu seperti ketika seseorang memandangi warna-warna dan figur-figur yang tercerai-berai di sudut-sudut kanvas, sobekan-sobekan cahaya yang justru memberi kesempatan pada kita untuk menyusun dan menambalnya dengan angan-angan kita sendiri.

Tetapi saya, kadang akan memahaminya seperti seorang perempuan belia yang merendam separuh tubuhnya di sebuah sungai di kala senja. Sebuah imajinasi impresionis yang menggoda khayalan saya demi mendapatkan penghiburan.

Entah ini tercela ataukah tidak, kadang-kadang saya mengumpamakan salah-satu pengalaman di masa kanak-kanak seperti salah-satu figur dalam lukisan impresionistik, di mana ketika saya menuliskannya tidak berarti saya menulis tentang diri saya sendiri, melainkan tentang ingatan itu sendiri. Atau biarlah saya umpamakan ingatan itu seperti sebuah samar figur di antara desir angin dan gemerisik lembut dedaunan. Atau seperti seorang bocah yang berjalan telanjang kaki sendirian di bawah barisan rindang pepohononan senjahari. Seorang bocah yang menyusuri setapak jalan sepanjang aliran sungai.

Namun yang pasti, di waktu-waktu sorehari puluhan tahun silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan.

Pada saat-saat seperti itu, mereka seakan-akan asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca. Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan. Dingin yang tentu saja meresap pada bulu-bulu mereka. Dan saya sendiri, ketika itu, duduk di bawah rimbun pepohonan bambu pinggir sungai kecil yang airnya mengaliri sawah-sawah. Anggaplah ketika itu, saya memang sudah jatuh cinta pada kebisuan dan kesenduan alam, yang pada akhirnya menggambar dan melukis kesenduan hidup itu sendiri. Kebisuan dan kesenduan yang memberi kedamaian yang aneh. Kedamaian yang merupakan keheningan musim yang basah dengan gerak-gerak yang samar dalam pandangan kedua mata saya sendiri sebagai seorang bocah yang hendak beranjak menjadi lelaki remaja.

Tentulah di saat-saat seperti itu, matahari sudah merasa terlambat untuk menampakkan diri. Di saat malam datang lebih awal. Kesunyian-kesunyian seperti itu pada akhirnya sangat berpengaruh pada keadaan bathin. Keadaan bathin yang mudah tersulut oleh kondisi-kondisi yang mendorong saya untuk mencipta dunia-dunia khayalan. Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dan saya sendiri, bila dilihat dari sudut pandang orang lain lagi, merupakan salah-satu figurnya. Katakanlah saya telah bersatu, atau paling tidak, telah menjadi bagian dari mereka. Sebagai seseorang yang turut mengambil bagian dalam keheningan itu sendiri.

Konon, kecendrungan-kecendrungan seperti itu sebenarnya merupakan salah-satu bentuk keterasingan dan pelarian karena kecewa dan rasa tak puas. Atau karena amarah yang terpendam. Amarah yang menyamarkan dirinya untuk menggandrungi keindahan. Semacam kegilaan yang lembut. Dan kalau pun ya, saya takkan menganggapnya sebagai persoalan atau pun masalah yang perlu disikapi dengan serius. Sebab jika pun itu semua benar, saya akan mengakuinya. Saya akan menerimanya sebagai sesuatu yang mungkin saja malah akan memberikan kebaikan-kebaikan tak terduga.

Dalam cuaca seperti itu, saya pun sebenarnya tak hanya memandangi capung-capung yang saya umpamakan sebagai para peri mungil yang tengah bergembira. Sesekali saya pun melihat juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang. Sementara itu, di malam hari, bila saya keluar dari rumah untuk memandangi bintang-bintang di langit, saya akan bertemu dengan kunang-kunang. Saya sangat mengagumi tubuh-tubuh mereka yang seperti lampu-lampu kecil yang bergerak dan beterbangan dengan cahaya-cahaya yang mereka tebarkan dari tubuh mereka kala itu.

Hanya saja, di saat saya telah menjadi seorang lelaki dewasa, saya hampir tak pernah melihat kunang-kunang masa kanak dan masa remaja saya itu. Kadang-kadang, ada kerinduan dalam hati yang terasa sangat kuat sekali untuk bisa kembali melihat mereka, binatang-binatang ciptaan Tuhan yang menurut saya sendiri termasuk dalam golongan binatang-binatang kecil paling indah. Makhluk-makhluk yang sampai saat ini saya golongkan sebagai makhluk-makhluk keluarga para peri mungil bersama dengan kupu-kupu dan para capung itu.

Saat itu, di masa-masa ketika angin ujung senja tak pernah sekalipun tidak datang ke pintu-pintu rumah kami, adzan berkumandang dalam cuaca basah, dan burung-burung telah bersembunyi di dahan-dahan, ranting-ranting atau di sarang-sarang mereka. Sedemikian akrabnya kami dengan adzan yang seakan memecahkan keheningan itu, kami juga jadi terbiasa berdoa dengan hasrat di hati kami masing-masing, yang kami tak pernah akan saling mengetahuinya satu sama lain. Namun yang pasti, kami sulit membedakan antara pasrah, berdoa atau berusaha bersikap sebagaimana layaknya orang-orang yang telah demikian akrab dengan kepolosan.

Dan kini, ternyata, saya akan menyebutnya sebagai kecerdasan jiwa kami yang tidak diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di kota-kota besar saat ini. Bersamaan adzan yang berkumandang dari sebuah speaker yang menggunakan tenaga accu di ujung senja itulah sebenarnya kami tengah belajar berkali-kali merenungi dan memahami waktu, meski saya belum menyadarinya ketika itu.

Mungkin saja ketika itu bukan hanya kami yang berdoa, tetapi burung-burung yang sama-sama menahan dingin selepas hujan seperti kami. Tapi itu hanya rekaan saya sebagai seorang kanak-kanak yang terjebak antara rasa bosan dan keheningan yang tak kami mengerti. Itulah sebenarnya saat-saat kami tengah mengakrabi musik yang samar-samar, dengan sejumlah komposisi yang tengah dimainkan angin, daun-daun basah, burung-burung dan yang lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Sebab di sana, para katak dan para serangga turut serta menjadi para penyanyi yang meramaikan dan menjelma pentas orkestra keheningan ketika itu. Kumandang adzan di ujung senja hanyalah overture-nya.

Saya akan menamai mereka semua sebagai keriangan yang tengah bertasbih dan memuji lembab. Juga, saya akan menamai mereka sebagai konsierto menjelang tidur, sebab mereka terus saja memainkan musik dan bernyanyi hingga menjelang tengah malam. Sementara itu, sesekali angin mempermainkan daun-daun hingga menjelma desau yang mengirimkan hembusan lembut ke arah jendela dan pintu-pintu rumah kami. Saya juga akan menamainya sebagai moment of compassion. Dengan musik-musik itulah jiwa kami menjadi cerdas dan jujur pada hidup, bukan dari khotbah-khotbah seperti sekarang ini. Tentu saja, ada banyak nama untuk itu semua, tapi saya akan lebih suka menyebutnya praying in solitude.

Dalam keheningan seperti itulah, kami sebenarnya tengah belajar bagaimana berdoa dengan tulus. Itu, tentu saja, jauh berbeda dengan khotbah-khotbah modern dan politis sekarang ini, yang telah mengaburkan batas individual jiwa, bahwa hati kami masing-masing ketika itu sebenarnya tetap tak terselami sebagai manusia yang mempercayai sesuatu yang kudus dan adikodrati. Namun, kepercayaan itulah yang membuat kami, orang-orang desa, menjadi manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tidak pernah berputus asa meski dalam kesahajaan kami yang serba terbatas. Saya akan menamainya sebagai kekuatan dan kecerdasan jiwa. Dan pada saat itulah, ada yang berubah dan ada yang tetap dan tidak berubah. (Sulaiman Djaya 2006)

Apa Kerja Itu?

Puisi Jendela karya Sulaiman Djaya

“Menulis adalah juga kerja, bukan pengangguran sebagaimana yang disalah-pahami selama ini. Kerja dalam arti yang sesungguhnya, kerja yang sekaligus melibatkan tubuh dan pikiran, tenaga dan jiwa. Bagaimana seorang penulis, dengan tubuh dan pikirannya berkonsentarasi, melakukan pengembaraan spiritual dan intelektual bersama tubuh dan pikirannya sekaligus secara bersamaan. Penulis adalah seorang pekerja yang tak mengenal jadwal dalam arti mekanik ala para birokrat atau pegawai negeri sipil yang dibiayai uang rakyat”

Kerja merupakan sesuatu yang manusiawi yang mencakup kapasitas tubuh (tenaga), akal dan inteleknya, tak lain karena manusia-lah yang sanggup memperluas dan mengembangkan kerjanya. Kerja juga dipandang sebagai kegiatan transitif, yaitu suatu kegiatan yang memiliki hal lain sebagai objeknya. Sementara itu, secara subjektif, kerja merupakan manifestasi dan perwujudan kedaulatan manusia.

Dalam hal ini, kerja haruslah dikatakan sebagai setiap kegiatan manusiawi, baik kerja tangan atau pun kerja akal-budi. Dan marilah kita ulas satu per-satu masalah kerja ini.

Pertama, kerja sebagai kegiatan transitif, artinya kegiatan yang bermula pada pelaku manusia yang ditujukan kepada sasaran di luarnya, yang mengandaikan kedaulatan khas manusia atas bumi, yang pada saat bersamaan, mengembangkan kedaulatan tersebut.

Kedua, kerja dalam arti objektif, di mana hal ini merupakan buah kemajuan dan pencapaian intelektual manusia, utamanya penemuan mesin dan pembangunan industri modern, singkatnya penemuan dan penciptaan tekhnologi, seperti sekarang ini, di mana dalam konteks ini kerja mencakup keseluruhan perangkat peralatan yang dikerahkan oleh manusia.

Masalahnya adalah, seperti dikritisi Karl Marx, kerja dalam ranah dan kategori kedua tersebut ternyata melahirkan keterasingan atau alienasi, di mana “subjek” manusia kemudian tergerus oleh tekhnologi dan eksploitasi itu sendiri –hingga yang terjadi adalah “manusia untuk kerja”, bukannya “kerja untuk manusia”.

Masalah lainnya dari kerja dalam ranah dan kategori kedua tersebut adalah juga ternyata lebih merupakan instrument akumulasi bagi kekayaan elit korporat, pemilik perusahaan dan modal semata, dan karenanya situasi tersebut mendapat dukungan sistem sosial-politik liberal. Persis di sinilah yang menjadi konsen kritik Karl Marx seputar kerja yang melahirkan alienasi atau keterasingan bagi kaum buruh itu.

Di luar itu semua, atau dalam kategori ketiga, kerja juga mencakup kerja yang murni berkenaan dengan eksplorasi dan penggalian daya akal-budi, semisal kerja para penulis dalam menulis atau memproduksi karya-karya tulis mereka, atau kerjanya para ilmuwan yang mendedikasikan dirinya di dalam laboratorium. Di sini kita bisa memasukan para penulis, penyair, ilmuwan, filsuf, pemikir sosial, kritikus, dan yang lainnya yang dapat dimasukkan dalam kategori ini.

Lalu bagaimana dengan para pedagang, pemain saham, birokrat, olahragawan, perajin, pemahat, dan yang sejenisnya itu? Barangkali di sini kita dapat memasukkannya dalam kategori yang merupakan profesi dan skill di luar yang masuk di kategori ketiga di atas. Sebab, di jaman kita saat ini, dengan munculnya ragam disiplin dan sebaran ruang-ruang aktivitas dan kegiatan manusia, telah juga menciptakan ragam kerja itu sendiri. (Sulaiman Djaya 2015)

Pasar

Gitanjali Sulaiman Djaya

“In this world of trickery –emptiness is what your soul wants” (Jalaluddin Rumi).

“Engkau adalah apa yang kau-baca dan yang kau-makan”, kata sebuah pameo –yang kira-kira berkaitan dengan identitas dan “siapa seseorang” ditentukan atau dibentuk oleh kultur dan kesekitaran masyarakatnya –oleh kesekitaran dunia keseharian yang akrab dengannya dan atau yang diakrabinya. Dan tidak teringkari –sebagaimana dikatakan para sosiolog dan antropolog budaya, jaman ini adalah sebuah era “pertarungan” ragam informasi dan sebaran komoditas yang diproduksi dengan cepat.

Dari sudut analisis media dan teknosains serta dampaknya bagi “masyarakat konsumtif” –di jaman ketika masyarakat atau publik luas mengiyakan dan mempercayai begitu saja apa yang didesakkan media massa layaknya mereka menjalankan perintah-perintah agama –pada saat itu pula mereka melupakan banyak hal yang tidak diberitakan dan tidak didesakkan oleh media massa.

Di jaman ketika iklan dan reklame menggantikan imperatif-imperatif keyakinan religius saat ini, aspek kesadaran dan kognitif manusia seakan tak sanggup lagi menimbang dan mempertanyakan apa yang didefinisikan oleh citra-citra yang disebarkan secara massif dan cepat oleh berbagai reklame dan iklan.

Seakan-akan kita tak bisa lagi menampik barang sejenak semua yang diujarkan media massa –yang dengan memanfaatkan efektivitas dan kecepatan teknosains, dapat dengan mudah berada di mana saja, mulai dari trotoar-trotoar jalan hingga ke sudut-sudut pedesaan. Seakan-akan tempat-tempat ritual ibadah abad ini adalah Carrefour dan mall-mall –di mana kita dapat dengan segera menumpahkan hasrat dan kerinduan kita untuk mencintai benda-benda yang lebih nyata.

Istilah lain untuk menyebutnya –alias untuk menyebut era kita ini, adalah “pemassalan” –yaitu ketika individu-individu direkayasa dan dikondisikan oleh mesin dan pasar-pasar kapitalisme sebagai “massa konsumtif” –yang hanya diperintahkan untuk membeli dan membeli, sehingga membalik motto Cartesian tentang otonomi subjek menjadi subjek-subjek yang “di-crowd-kan –alias di-massa-kan, dengan pameo: “aku membeli, maka aku ada”.

Dalam konteks yang demikian –sebagaimana telah diramalkan Nietzsche dan Kierkegaard ihwal manusia kontemporer, individu-individu telah menjadi kerumunan “yang disamakan” oleh pasar. (Sulaiman Djaya 2004)

Wanita yang Berbeda

Sulaiman Djaya, Scent of Women

Cerpen Siti Nuraisyah* (Sumber: Radar Banten, 23 September 2014)

Pukul 16.30 Aku datang tepat waktu. Sore ini, kami berdua berjanji untuk kembali bertemu setelah hampir satu minggu semua pekerjaan menyita seluruh waktuku. Dari depan pintu, aku dapat melihatnya duduk di sudut cafe, sedikit terpisah dari pengunjung lainnya. Tempat biasa kami menghabiskan segelas kopi dalam genggaman masing-masing. Seperti biasa ia selalu datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.

“Aku tak suka menunggu, itu lah alasannya kenapa aku tak ingin membuat orang lain menunggu.” Itu yang selalu ia katakan. Dan aku belajar hal itu darinya.

Ia langsung tersenyum saat menyadari kehadiranku. Masih menggunakan blezer kerja berwarna hitam, yang menandakan bahwa ia tak sempat pulang ke rumah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Rasa lelah terpancar jelas di wajahnya, entah karena pekerjaan atau karena hubungannya dengan laki-laki itu. Tapi bagaimanapun, ia selalu terlihat cantik.

Aku melanjutkan langkahku dan duduk di hadapannya. Tanpa banyak haha dan hihi akhirnya kami memesan cappuccino dan tiramisu masing-masing satu.

Dua gelas cappuccino dan dua potong tiramisu datang tak lama setelah kami selesai menanyakan kabar. Ia menjawab bahwa ia baik-baik saja, tapi aku tahu ia tidak sedang baik-baik saja. Setelah tegukan pertama, ia menghela nafas panjang. Aku benar-benar yakin bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Tangismu pecah, pada helaan nafas di akhir cerita. Sepertinya kamu tak lagi mampu menahan beban berat yang sejak tadi membuatmu menghela nafas berkali-kali. Ceritamu selalu sama, tentang dia yang kembali menyakitimu dengan semua hal yang ia lakukan, dengan semua hal yang ia katakan. Aku benci mendengarnya.

Aku mengenalmu lebih dari siapapun yang pernah kamu kenal, kita telah bersama lebih lama dari siapapun yang pernah bersamamu. Aku tahu kamu, sifatmu, kebiasaanmu. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mengerti jalan fikiranmu. Aku tak pernah bisa sepenuhnya tahu apa yang kamu fikirkan. Aku…aku…tak pernah tahu, kenapa kamu masih saja bertahan.

Ia menyakitimu, lagi, lagi dan lagi. Tapi, Kamu masih tetap mencintainya. Ia mengecewakanmu, lagi, lagi dan lagi. Tapi kamu masih tetap bertahan di sampingnya.

“Aku yakin kok, dia bakal berubah.” Katamu di sela isak tangis.

“Tapi, aku nggak yakin.” kataku. Dan kamu hanya akan tersenyum mendengar semua omelanku.

Aku tahu sekali tentang hubunganmu dengan laki-laki itu. 3 tahun, aku tak menyangka kamu bisa bertahan selama ini menghadapi laki-laki seperti itu. Ini bukan pertama kalinya kamu menangis hingga separah ini. Penjaga cafe pun sudah tahu, dan mungkin mereka sudah memakluminya.

Berulang kali aku memberitahumu bahwa dia tak akan berubah, dia adalah orang yang salah. Namun aku menyerah, sampai kapan pun kamu tak akan pernah mendengarkanku. Tugasku, hanya menjadi seorang pendengar yang baik untukmu.

Kita berteman sudah sangat-sangat lama. Aku selalu menjagamu. Aku tak ingin satu orangpun menyakitimu. Tapi dia datang, menghancurkan apa yang selalu aku jaga. Dan aku…tak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa sakit yang teramat saat kamu menangis di hadapanku. Ada debar yang tak terduga saat jemariku menggenggam erat jemarimu ―yang bermaksud untuk menguatkan.

Aku tahu, tak seharusnya rasa sayangku berubah menjadi apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Aku tahu, tak seharusnya aku jatuh cinta padamu. Kita tumbuh bersama, hingga akhirnya aku mempunyai rasa. Aku tahu ini kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Aku menginginkanmu, namun tak ingin kamu ikut terjerumus bersamaku.

Aku pun tak mengerti tentang perasaan ini, bukan cuma sekali aku mengutuk diriku sendiri, tapi pada akhirnya aku harus mengerti bahwa ini telah terjadi. Aku telah jatuh cinta padamu, tapi…aku, sudahlah. Aku tahu aku hanya akan menjadi teman terbaikmu.

Suaramu mulai parau saat berkata. “Aku tak apa-apa.” Dan kembali meneguk cappuccino yang hampir dingin. Tapi nyatanya tangismu lebih banyak menceritakan apa yang kamu rasakan dibandingkan kata-kata yang kamu ucapkan. Tapi kamu, masih bisa berkata bahwa kamu tak apa-apa.

Lagi-lagi aku tak mengerti jalan fikiranmu.

Aku masih tak mengerti, saat kamu bilang tak bisa meninggalkannya. Aku hanya mengerti, bahwa kamu terlalu melihat pada satu titik hitam hingga tak sadar ada pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku hanya mengerti, kamu terlalu melihat pada jurang dalam di hadapanmu hingga kamu tak sadar bahwa ada jembatan yang siap menyeberangkanmu.

Aku tahu, tak seharusnya aku berharap menjadi pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku tahu, tak sepantasnya aku berharap menjadi jembatan yang akan menyebrangkanmu melewati jurang.

Aku tahu, sampai kapan pun kamu tak akan menyadari perasaanku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa memilikimu. Kita sama-sama wanita? Kau tahu sendiri kan? Tapi aku rasa kita wanita yang berbeda, maksudku aku wanita yang berbeda.

*Lahir di Pandeglang, Banten 1 April 1997. Saat ini aktif di Kubah Budaya.

Puisi dan Cinta

Puisi November Sulaiman Djaya

Saya ingin memulai jurnal singkat ini dengan dua kutipan –yaitu: “Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata –terurai dalam perbuatan” (Fyodor Dostoyevsky, pujangga Rusia). “Cinta itu seperti air, dengannya hidup segalanya. Seperti bumi, cinta bisa menumbuhkan semuanya” (Ali bin Abi Thalib, Imam Pertama dari 12 Imam dalam Islam). Dan rasanya tak salah pula jika saya pun belajar membuat aforisma –suatu seni menyampaikan pandangan secara singkat dan padat:

“Lidah cinta tak hanya berkata untuk telinga –tapi hati pendengarnya. Puisi ditulis bukan semata oleh pikiran –tapi oleh rasa. Sebab kata-kata bukan hanya bunyi belaka –tetapi dunia. Dalam hidup kita tak mesti melakukan hal-hal besar –cukup melakukan hal-hal kecil dengan ketulusan, kesungguhan, dan cinta yang besar. Bukan banyaknya benda-benda yang kita miliki yang membuat kita bahagia –tapi karena yang kita miliki membuat kita bahagia.”

Tidaklah sama antara hubungan yang bergantung pada keuntungan semata dengan cinta. Yang pertama hanya akan ada selama ada transaksi dan pamrih, sementara cinta itu keteguhan hati dalam segala situasi dan keadaan.

Cinta melahirkan kesabaran dan konsistensi, seperti ketika seorang seniman dengan tekun mengukir karya seninya. Cinta melahirkan sikap rendah hati dan sikap pemaaf, selain sikap peduli. Cinta itu adalah rahim yang melahirkan pemahaman dan kepekaan.

Biasanya, orang egois itu bukan hanya tak sanggup mencintai dan peduli kepada orang lain, tetapi juga tak sanggup mencintai dirinya sendiri dan berdamai dengan orang lain dan dirinya, dan menganggap bahwa di dunia ini hanya dirinya-lah yang ada dan yang paling penting, yang pada akhirnya melahirkan sikap mudah meremehkan dan menghina.

Puisi ditulis karena cinta –karena keintiman, kesabaran, konsistensi dan keteguhan.

Tak ada cinta tanpa pemahaman –sebab tanpa pemahaman, cinta tak lebih egoisme sepihak, seumpama pohon yang akarnya rapuh dan dangkal, dan pemahaman lahir dari rahim kerendahan hati, yang membuat seseorang ingin mengerti orang lain, apa yang dalam istilah lain kita sebut sikap peduli.

Puisi ditulis karena cinta dan pemahaman, dari sikap rendah-hati kita dan sikap peduli kita kepada orang lain –mengintimi keberadaan orang lain, selain kita. Bahwa orang lain itu ada dan nyata!

Cinta-lah yang membuat seseorang mampu bertahan dalam situasi-situasi yang sulit dan menekan –yang membuat seseorang menjadi toleran terhadap sesama manusia. Cinta-lah yang membuat seseorang sanggup menahan amarah dan menjadi air yang memadamkan bara api yang merusak. Cinta-lah yang membuat seseorang menolak kejahatan, kekejian, dan kekejaman. Kearifan dan sikap welas-asih-nya menjadi alasan berjalannya keseimbangan di tengah ancaman kesemena-menaan dan aniaya. (Sulaiman Djaya 2016)

"Diari Sulaiman Djaya"