Arsip Kategori: Lembar Pustaka Islam

Ezra dalam al Qur’an

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

Hikmah ini adalah riwayat tentang Uzair as (Ezra) yang dihidupkan kembali oleh Tuhan setelah mati selama seratus tahun berdasarkan wahyu al Qur’an.

“Pada suatu hari, tampak cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa kehausan. Sementara itu, desa yang ditinggali oleh Uzair as hari itu tampak tenang karena sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktivitas di dalamnya. Uzair berpikir bahwa kebunnya butuh untuk di-airi. Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai dengan kuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya –lalu ia menjadi kota mati”

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’, maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama kamu tinggal di sini ?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (al Qur’an Surah al-Baqarah ayat 259)

Dikatakan bahwa Uzair as adalah seorang Nabi dari nabi-nabi Bani Israil. Dia-lah yang menjaga Taurat, lalu terjadilah peristiwa yang sangat mengagumkan padanya. Allah SWT telah mematikannya selama seratus tahun kemudian ia dibangkitkan kembali. Selama Uzair as tidur satu abad penuh, terjadilah peperangan yang didalangi oleh Bakhtansir di mana ia membakar Taurat. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa kecuali yang dijaga oleh kaum lelaki. Mukjizat yang terjadi pada Nabi Uzair as adalah sumber fitnah yang luar biasa di tengah kaumnya.

Pada suatu hari, tampak bahwa cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa kehausan. Sementara itu, desa yang ditinggali oleh Uzair hari itu tampak tenang karena sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktivitas di dalamnya. Uzair berpikir bahwa kebunnya butuh untuk diairi. Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai dengan kuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya lalu ia menjadi kota mati.

Uzair as berpikir dalam hatinya bahwa pohon-pohon di kebunnya pasti merasakan kehausan lalu ia menetapkan untuk pergi memberinya minum. Hamba yang saleh dan salah seorang nabi dari Bani Israil ini pergi dari desanya. Matahari tampak masih baru memasuki waktu siang. Uzair as menunggang keledainya dan memulai perjalanannya. Beliau tetap berjalan hingga sampai di kebun. Beliau mengetahui bahwa pohon-pohonnya tampak kehausan dan tanahnya tampak terbelah dan kering. Uzair menyirami kebunnya dan ia memetik dari kebun itu buah tin (sebagian buah tin) dan mengambil pohon anggur. Beliau meletakkan buah tin di satu keranjang dan meletakkan buah anggur di keranjang yang lain. Kemudian ia kembali dari kebun sehingga keledai yang dibawanya berjalan di tengah-tengah terik matahari.

Di tengah-tengah perjalanan, Uzair berpikir tentang tugasnya yang harus dilakukan besok. Tugas pertama yang harus dilakukannya adalah mengeluarkan Taurat dari tempat persembunyiannya dan meletakkannya di tempat ibadah. Beliau berpikir untuk membawa makanan dan memikirkan tentang anaknya yang masih kecil, di mana beliau teringat oleh senyumannya yang manis, dan beliau pun terus berjalan dan semakin cepat. Beliau menginginkan keledainya untuk berjalan lebih cepat.

Lalu Uzair as sampai di suatu kuburan. Udara panas saat itu semakin menyengat dan keledai-nya tampak kepayahan. Tubuhnya diselimuti dengan keringat yang tampak menyala karena tertimpa sinar matahari. Keledai itu pun mulai memperlambat langkahnya ketika sampai di kuburan. Uzair as berkata kepada dirinya: Mungkin aku lebih baik berhenti sebentar untuk beristirahat, dan aku akan mengistirahatkan keledai. Lalu aku akan makan siang. Uzair as turun dari keledainya di salah satu kuburan yang rusak dan sepi. Semua desa itu menjadi kuburan yang hancur dan sunyi. Uzair mengeluarkan piring yang dibawanya dan duduk di suatu naungan. Ia mengikat keledai di suatu dinding, lalu ia mengeluarkan sebagian roti kering dan menaruhnya di sampingnya. Selanjutnya, ia memeras di piringnya anggur dan meletakkan roti yang kering itu di bawah perasan anggur. Uzair as menyandarkan punggungnya di dinding dan agak menjulurkan kakinya. Uzair as menunggu sampai roti itu tidak kering dan tidak keras.

Kemudian Uzair mulai mengamati keadaan di sekelilingnya dan tampak keheningan dan kehancuran meliputi tempat itu: rumah-rumah hancur berantakan dan tampak tiang-tiang pun akan hancur, pohon-pohon sedikit saja terdapat di tempat itu yang tampak akan mati karena kehausan, tulang-tulang yang mati yang dikuburkan di sana berubah menjadi tanah. Alhasil, keheningan menyeliputi tempat itu. Uzair as merasakan betapa kerasnya kehancuran di situ dan ia bertanya dalam dirinya sendiri: bagaimana Allah SWT menghidupkan semua ini setelah kematiannya? “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Uzair as bertanya: bagaimana Allah SWT menghidupkan tulang-tulang ini setelah kematiannya, di mana ia berubah menjadi sesuatu yang menyerupai tanah. Uzair as tidak meragukan bahwa Allah SWT mampu menghidupkan tulang-tulang ini, tetapi ia mengatakan yang demikian itu karena rasa heran dan kekaguman. Belum lama Uzair as mengatakan kalimatnya itu sehingga ia mati. Allah SWT mengutus malaikat maut padanya lalu rohnya dicabut sementara keledai yang dibawanya masih ada di tempatnya ketika melihat tuannya sudah tidak lagi berdaya. Keledai itu tetap di tempatnya sehingga matahari tenggelam lalu datanglah waktu Subuh. Keledai berusaha berpindah dari tempatnya tetapi ia terikat. Ia pun masih ada di tempatnya dan tidak bisa melepaskan ikatannya sehingga ia mati kelaparan.

Kemudian penduduk desa Uzair as merasa gelisah dan mereka ramai-ramai mencari Uzair as di kebunnya, tetapi di sana mereka tidak menemukannya. Mereka kembali ke desa dan tidak menemukannya. Lalu mereka menetapkan beberapa kelompok untuk mencarinya. Akhirnya, kelompok-kelompok ini mencari ke segala penjuru tetapi mereka tidak menemukan Uzair as dan tidak menemukan keledainya. Kelompok-kelompok ini melewati kuburan yang di situ Uzair as meninggal, namun mereka tidak berhenti di situ. Tampak bahwa di tempat itu hanya diliputi keheningan. Seandainya Uzair as ada di sana niscaya mereka akan mendengar suaranya. Kemudian kuburan yang hancur ini sangat menakutkan bagi mereka, karena itu mereka tidak mencari di dalamnya.

Lalu berlalulah hari demi hari, dan orang-orang putus asa dari mencari Uzair as, dan anak-anaknya merasa bahwa mereka tidak akan melihat Uzair as kedua kalinya dan istrinya mengetahui bahwa Uzair as tidak mampu lagi memelihara anaknya dan menuangkan rasa cintanya kepada mereka sehingga istrinya itu menangis lama sekali. Sesuai dengan perjalanan waktu, maka air-mata pun menjadi kering dan penderitaan makin berkurang. Akhirnya, manusia mulai melupakan Uzair as dan mereka tetap menjalankan tugas mereka masing-masing. Dan berjalanlah tahun demi tahun dan masyarakat mulai melupakan Uzair as kecuali anaknya yang paling kecil dan seorang wanita yang bekerja di rumah mereka di mana Uzair as sangat cinta kepadanya. Usia wanita itu dua puluh tahun ketika Uzair as keluar dari desa.

Berlalulah sepuluh tahun, dua puluh tahun, delapan puluh tahun, sembilan puluh tahun sehingga sampai satu abad penuh. Allah SWT berkehendak untuk membangkitkan Uzair as kembali. Allah SWT mengutus seorang malaikat yang meletakkan cahaya pada hati Uzair as sehingga ia melihat bagaimana Allah SWT menghidupkan orang-orang mati. Uzair as telah mati selama seratus tahun. Meskipun demikian, ia dapat berubah dari tanah menjadi tulang, menjadi daging, dan kemudian menjadi kulit. Allah SWT membangkitkan di dalamnya kehidupan dengan perintah-Nya sehingga ia mampu bangkit dan duduk di tempatnya dan memperhatikan dengan kedua matanya apa yang terjadi di sekelilingnya.

Uzair as bangun dari kematian yang dijalaninya selama seratus tahun. Matanya mulai memandang apa yang ada di sekelilingnya lalu ia melihat kuburan di sekitarnya. Ia mengingat-ingat bahwa ia telah tertidur. Ia kembali dari kebunnya ke desa lalu tertidur di kuburan itu. Inilah peristiwa yang dialaminya. Matahari bersiap-siap untuk tenggelam sementara ia masih tertidur di waktu Dzuhur. Uzair as berkata dalam dirinya: Aku tertidur cukup lama. Barangkali sejak Dzuhur sampai Maghrib. Malaikat yang diutus oleh Allah SWT membangunkannya dan bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Malaikat bertanya kepadanya: “Berapa jam engkau tidur?” Uzair menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Malaikat vang mulia itu berkata kepadanya: “Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. ” Engkau tidur selama seratus tahun. Allah SWT mematikanmu lalu menghidupkanmu agar engkau mengetahui jawaban dari pertanyaanmu ketika engkau merasa heran dari kebangkitan yang dialami oleh orang-orang yang mati. Uzair as merasakan keheranan yang luar biasa sehingga tumbuhlah keimanan pada dirinya terhadap kekuasaanal-Khaliq (Sang Pencipta). Malaikat berkata sambil menunjuk makanan Uzair: “Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah.”

Uzair melihat buah tin itu lalu ia mendapatinya seperti semula di mana warnanya tidak berubah dan rasanya pun tidak berubah. Telah berlalu seratus tahun tetapi bagaimana mungkin makanan itu tidak berubah? Lalu Uzair as melihat piring yang di situ ia memeras buah anggur dan meletakkan di dalamnya roti yang kering, dan ia mendapatinya seperti semula di mana minuman anggur itu masih layak untuk diminum dan roti pun masih tampak seperti semula, di mana kerasnya dan keringnya roti itu dapat dihilangkan ketika dicampur dengan perasan anggur. Uzair as merasakan keheranan yang luar biasa, bagaimana mungkin seratus tahun terjadi sementara perasan anggur itu tetap seperti semula dan tidak berubah. Malaikat merasa bahwa seakan-akan Uzair masih belum percaya atas apa yang dikatakannya. Karena itu, malaikat menunjuk keledainya sambil berkata: “Dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang).”

Uzair as pun melihat ke keledainya tetapi ia tidak mendapati kecuali ia tanah dari tulang-tulang keledainya. Malaikat berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin melihat bagaimana Allah SWT membangkitkan orang-orang yang mati? Lihatlah ke tanah yang di situ terletak keledaimu.” Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu lalu atom-atom tanah itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai berkumpul dan bergerak dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang. Malaikat memerintakan otot-otot syaraf daging untuk bersatu sehingga daging melekat pada tulang-tulang keledai. Sementara itu, Uzair as memperhatikan semua proses itu. Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan rambut.

Alhasil, keledai itu kembali seperti semula setelah menjalani kematian. Malaikat memerintahkan agar roh keledai itu kembali kepadanya dan keledai pun bangkit dan berdiri. Ia mulai mengangkat ekornya dan bersuara. Uzair as menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT tersebut terjadi di depannya. Ia melihat bagaimana mukjizat Allah SWT yang berupa kebangkitan orang-orang yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah. Setelah melihat mukjizat yang terjadi di depannya, Uzair as berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. “

Uzair as bangkit dan menunggangi keledainya menuju desanya. Allah SWT berkehendak untuk menjadikan Uzair as sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya kepada masyarakat dan mukjizat yang hidup yang menjadi saksi atas kebenaran kebangkitan dan hari kiamat. Uzair memasuki desanya pada waktu Maghrib. Ia tidak percaya melihat perubahan yang terjadi di desanya di mana rumah-rumah dan jalan-jalan sudah berubah, begitu juga manusia dan anak-anak yang ditemuinya. Tak seorang pun di situ yang mengenalinya. Sebaliknya, ia pun tidak mengenali mereka. Uzair as meninggalkan desanya saat beliau berusia empat puluh tahun dan kembali kepadanya dan usianya masih empat puluh tahun. Tetapi desanya sudah menjalani waktu seratus tahun sehingga rumah-rumah telah hancur dan jalan-jalan pun telah berubah dan wajah-wajah baru menghiasi tempat itu.

Uzair berkata dalam dirinya: Aku akan mencari seorang lelaki tua atau perempuan tua yang masih mengingat aku. Uzair as terus mencari sehingga ia menemukan pembantunya yang ditinggalnya saat berusia dua puluh tahun. Kini, usia pembantu itu mencapai seratus dua puluh tahun di mana kekuatannya sudah sangat merosot dan giginya sudah ompong dan matanya sudah lemah. Uzair as bertanya kepadanya: “Wahai perempuan yang baik, di mana rumah Uzair as.” Wanita itu menangis dan berkata: “Tak seorang pun yang mengingatnya. Ia telah keluar sejak seratus tahun dan tidak kembali lagi. Semoga Allah SWT merahmatinya.” Uzair as berkata kepada wanita itu: “Sungguh aku adalah Uzair as. Tidakkah engkau mengenal aku? Allah SWT telah mematikan aku selama seratus tahun dan telah membangkitkan aku dari kematian.” Wanita itu keheranan dan tidak mempercayai omongan itu. Wanita itu berkata: “Uzair as adalah seseorang yang doanya dikabulkan. Kalau kamu memang Uzair as, maka berdoalah kepada Allah SWT agar aku dapat melihat sehingga aku dapat berjalan dan mengenalmu.” Lalu Uzair as berdoa untuk wanita itu sehingga Allah SWT mengembalikan penglihatan matanya dan kekuatannya. Wanita itu pun mengenali Uzair as. Lalu ia segera berlari di negeri itu dan berteriak: “Sungguh Uzair as telah kembali.” Mendengar teriakan wanita itu, masyarakat bingung dan merasa heran. Mereka mengira bahwa wanita itu telah gila.

Kemudian diadakan pertemuan yang dihadiri orang-orang pandai dan para ulama. Dalam majelis itu juga dihadiri oleh cucu Uzair as di mana ayahnya telah meninggal dan si cucu itu telah berusia tujuh puluh tahun sedangkan kakeknya, Uzair as, masih berusia empat puluh tahun. Di majelis itu mereka rnendengarkan kisah Uzair as lalu mereka tidak mengetahui apakah mereka akan mempercayainya atau mengingkarinya. Salah seorang yang pandai bertanya kepada Uzair as: “Kami mendengar dari ayah-ayah kami dan kakek-kakek kami bahwa Uzair as adalah seorang Nabi dan ia mampu menghafal Taurat. Sungguh Taurat telah hilang dari kita dalam peperangan Bukhtunnashr di mana mereka membakarnya dan membunuh para ulama dan para pembaca Kitab suci itu. Ini terjadi seratus tahun lalu yang engkau katakan bahwa engkau menjalani kematian atau engkau tidur. Seandainya engkau menghafal Taurat, niscaya kami akan percaya bahwa engkau adalah Uzair as.”

Uzair mengetahui bahwa tak seorang pun dari Bani Israil yang mampu menghafal Taurat. Uzair as telah menyembunyikan Taurat itu dari usaha musuh untuk menghancurkannya. Uzair as duduk di bawah naungan pohon sedangkan Bani Israil berada di sekitarnya. Lalu Uzair as menghapusnya huruf demi huruf sampai selesai lalu ia berkata dalam dirinya: Aku sekarang akan mengeluarkan Taurat yang telah aku simpan. Uzair as pergi ke suatu tempat lalu ia mengeluarkan Taurat di mana kertas yang terisi Taurat itu telah rusak. Ia mengetahui mengapa Allah SWT mematikannya selama seratus tahun dan membangkitkannya kembali. Kemudian tersebarlah berita tentang mukjizat Uzair as di tengah-tengah Bani Israil. Mukjizat tersebut membawa fitnah yang besar bagi kaumnya. Sebagian kaumnya mengklaim bahwa Uzair as adalah anak Allah. Allah SWT berfirman:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah’” (al Qur’an Surah al-Baqarah ayat 30). Mula-mula mereka membandingkan antara Musa as dan Uzair as dan mereka berkata: “Musa tidak mampu mendatangkan Taurat kepada kita kecuali di dalam kitab sedangkan Uzair as mampu mendatangkannya tanpa melalui kitab.” Setelah perbandingan yang salah ini, mereka menyimpulkan sesuatu yang keliru di mana mereka menisbatkan kepada nabi mereka hal yang sangat tidak benar. Mereka mengklaim bahwa dia adalah anak Tuhan. Maha Suci Allah dari semua itu: “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia” (al Qur’an Surah Maryam ayat 35)

Iklan

Maria dalam al Qur’an

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam as Produksi Republik Islam Iran)

Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup sepoi-sepoi di sekitar pepohonan. Harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam. Bau itu menembus jendela mihrab dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis perawan yang khusuk dalam salat tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahwa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan salatnya dengan khusuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.

Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam ingat bahwa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar mesjid. Maryam menyelesaikan salatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:

“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Di tempat itu tidak terdapat cermin sehingga ia tidak dapat melihat perubahan itu. Tetapi ia merasa bahwa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Beliau menyadari bahwa ia sedang gugup. Beliau merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam ruhnya. Perasaan yang demikian ini justru membangkitkan kerendahan hatinya. Maryam mengetahui bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahwa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku” (QS. Ali ‘Imran: 43)

Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan kekhusukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada Allah SWT. Maryam lupa terhadap pohon mawar dan beliau kembali salat. Maryam merasakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat ini.

Matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah bangkit sedangkan bulan duduk di atas singgasananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam salatnya. Beliau menyelesaikan salatnya dan teringat pohon mawar itu lalu beliau membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.

Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari mesjid yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan salat di dalamnya atau beribadah. Maryam mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya. lalu beliau meletakkan bejana, kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.

Tiba-tiba, Maryam mendengar suara derap kaki yang mengguncang bumi. Beliau tidak mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi beliau mendengar suara kaki yang menetap di atas batu serta pasir. Maryam merasakan ketakutan. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun. Kemudian kedua matanya mulai berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang asing itu, dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di mana dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan.

Pandangan pertama yang dilihat oleh Maryam kepada orang itu mengisyaratkan, bahwa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini? Kemudian seakan-akan orang asing itu membaca pikiran Maryam dan berkata: “Salam kepadamu wahai Maryam.” Maryam dibuat terkejut mendengar adanya suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa” (QS. Maryam: 18)

Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, “Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?” Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam: 19)

Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu.” Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang telah berubah wujud menjadi manusia.

Maryam mengangkat kepalanya dengan gemetar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahwa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan bahwa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat bahwa dirinya adalah seorang perawan yang belum tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan. Pikiran-pikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:

“Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)

Jibril as berkata: “Demikianlah Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputushan”‘ (QS. Maryam: 21)

Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahwa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada pria dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.

Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu, tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran searang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (QS. Ali ‘Imran: 45-46)

Keheranan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu di perutnya ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia menhetahui bahwa anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Maryam. Lalu cahaya tersebut ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.

Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam salat yang khusuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini, Maryam tidak lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan ruh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Maryam di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi musim. Maryam heran melihat hal itu. Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya kemarin, yaitu bagaimana kejadian saat menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak. Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan ini. Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: “Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.”

Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeda dengan kandungan umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik. Datanglah bulan yang kesembilan. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.

Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun karena saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.

Tak seorang pun yang mengetahui Maryam bahwa sedang hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahwa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan” (QS. Maryam: 23)

Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain yang segera menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahwa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya. Maryam berpikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu rnelihat seorang manusia, maka katakantah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’” (QS. Maryam: 24-26)

Atsar dan Keramat Abul Fadhl Abbas

Iranian Military Parade

(Foto: Iran Military Parade)

“Di sebuah tenda seorang memuji dan menyeru Tuhannya,
Seorang anak kecil dengan bibir kehausan menyeru Tuhannya.
Oh tangan! Mengapa? Mengapa engkau jatuh dari tuanmu,
Serombongan kafilah kehausan hanya menginginkanmu”.

Almarhum hujjatul Islam Wal Muslimin Syeikh Aga Rabbani Khalhali menulis dalam sebuah buku yang berjudul Cehreye derakhsyan Qamare Bani Hasyim Abu Fadel Abbas as (wajah rembulan cerah Bani Hasyim) jilid dua halaman 422:

Seorang ulama Arif Hujjatul Islam Wal Muslimin Syeikh Aga Sayyid Murtadha Mujtahidi Sistani adalah seorang ustad pengajar di hawzah ilmiah Qom, Iran, pada hari-hari Fatimiah (hari syahadah dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra as) pada tahun 1418 Hijriah Qamariah menulis bahwa, Almarhum Salalah Al-Atyab Aga Haji Sayyid Abbas Reisi adalah salah seorang dari pelayan dan pembantu di haram Imam Ridha as yang baru-baru ini berpulang ke rahmatullah, dua tahun yang lalu di masa beliau mendapat mukasyafah bertemu dengan Abu Fadel Abbas as –dan ia mendapat syafaat kesembuhan penyakitnya dari beliau.

Aga haji Sayyid Abbas Reisi mengatakan bahwa pada musim dingin beberapa tahun yang lalu di suatu hari yang penuh dengan salju, beliau terjatuh di tanah dan tulang kaki bagian atasnya patah. Beberapa waktu beliau berbaring di rumah sakit, dan setelah itu beliau dibawa ke rumah seorang anak laki-lakinya yang bernama Sayyid Ali Akbar Reisi dan beliau dirawat di rumah anaknya tersebut. Akan tetapi dikarenakan oleh umur yang memang sudah tua beliau, tidak sembuh dari sakit yang beliau alami hingga tiba suatu hari di mana beliau tertidur di rumah anaknya, di mana dalam tidur itu beliau bermimpi bertemu dengan Abu Fadel Abbas dan dia sedang menunggangi kuda dan masuk ke halaman rumah yang ia tempati tepat berhadapan dengan kamar yang ia tempati saat tidur, setelah itu Abu Fadel Abbas melihat kepada pelayan tua itu, Aga Haji Sayyid Abbas Reisi, dan tersenyum kepada beliau, kemudian pergi.

Setelah saat itu, Kimia Atzar (elexir of effect), sementara umur dari Aga Haji Sayyid Abbas Reisi yang sudah sangat tua itu dengan umur yang lewat dari delapan puluh tahun, sembuh dari penyakit beliau dan beliau dapat lagi berjalan seperti semula. Pandangan yang dapat memberikan kehidupan bagi yang telah mati, dari keselamatan yang diperoleh dari tulang yang patah bukanlah sesuatu yang tak bisa.

“Serombongan kafilah dalam kehausan
Di sebuah tenda seorang memuji dan menyeru Tuhannya,
Seorang anak kecil dengan bibir kehausan menyeru Tuhannya.
Oh tangan! Mengapa? Mengapa engkau jatuh dari tuanmu,
Serombongan kafilah kehausan hanya menginginkanmu”.

Maryam dan Isa al Masih dalam al Qur’an (Bagian Kedua)

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran 2

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

Belum sampai Isa al Masih menuntaskan pembicaraannya sehingga wajah-wajah para pendeta dari kalangan Yahudi tampak pucat. Mereka menyaksikan mukjizat terjadi di depan mereka secara langsung. Anak kecil itu berbicara di buaiannya; anak kecil yang datang tanpa seorang ayah; anak kecil yang mengatakan bahwa Allah SWT telah memberinya al-Kitab dan menjadikannya seorang Nabi. Ini berarti bahwa kekuasaan mereka sebentar lagi akan hancur. Setiap orang dari mereka akan menjadi tidak berarti ketika anak kecil itu dewasa. Tak seorang pun di antara mereka yang dapat “menjual pengampunan” kepada manusia atau menghakimi mereka melalui peryataan bahwa ia adalah wakil dari langit yang turun di bumi. Atau pernyataan bahwa hanya dia yang mengetahui syariat.

Para pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak kecil ini. Kedatangan al Masih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah SWT. Ini berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang mereka yakini. Perbedaan antara ajaran-ajaran Musa as dan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi menyerupai perbedaan antara bintang-bintang di langit dan lumpur-lumpur di jalan. Para pendeta Yahudi menyembunyikan kisah kelahiran Isa as dan bagaimana ia berbicara di masa buaian. Mereka justru menuduh Maryam yang masih perawan dengan kebohongan yang besar. Mereka menuduh Maryam melakukan pelacuran, padahal mereka menyaksikan sendiri mukjizat pembicaraan anaknya di masa buaian.

Mula-mula cerita tentang itu mereka sembunyikan untuk beberapa saat. Meskipun demikian, berita tentang kelahiran Isa sampai ke Hakim Romawi, yaitu Heradus. Ia memimpin orang-orang Palestina dan orang-orang Yahudi dengan kekuatan pedang. Ia menakut-nakuti mereka dengan menumpahkan darah serta banyaknya mata-mata yang dimilikinya.

Pada suatu hari, ia duduk di istananya dan meminum anggur. Lalu ia mendengar berita yang samar tentang kelahiran seseorang anak tanpa ayah; seorang anak yang dikatakan ia mampu berbicara saat masih di buaian, lalu ia menyampaikan pembicaraan yang menjurus pada ancaman terhadap kekuasaan Romawi. Kemudian bergetarlah kursi yang ada di bawah tubuh Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan suatu pertemuan mendadak yang dihadiri oleh para pengawalnya dan para mata-matanya. Pertemuan itu pun terlaksana. Heradus duduk dengan wajahnya yang hitam mengkilat, lalu ia memutarkan pandangannya ke arah mata-matanya dan bertanya: “Bagaimana berita anak kecil yang berbicara di buaiannya?”

Salah seorang kepala mata-mata berkata: “Tampak bahwa masalahnya tidak benar. Kami telah mendengar isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahwa ia membuat mukjizat dengan berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak buahku untuk mencari kebenaran berita itu, tetapi mereka tidak menemukannya. Jelas bagi kami, bahwa berita itu dilebih-lebihkan.”

Kemudian salah satu anggota mata-mata raja berkata: “Aku telah mendapatkan bukti yang terpercaya bahwa tiga orang dari orang-orang Majusi datang dibalik suatu bintang yang mereka lihat menyala di suatu langit dan bintang tersebut mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa mukjizat, yaitu anak kecil yang akan menyelamatkan kaumnya.”

Hakim berkata: “Bagaimana ia dapat menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa yang diselamatkannya?” Salah seorang mata-mata berkata: “Anak buahku tidak mengetahuinya karena orang-orang pandai dari Majusi itu pergi dan tak seorang pun menemukan mereka.”

Hakim berkata: “Bagaimana mereka dapat pergi dan bersembunyi lalu bagaimana cerita anak kecil ini? Apakah di sana ada persekongkolan untuk menentang Romawi?” Hakim melompat dari tempat duduknya ketika ia menyebut Romawi, dan ia mulai berbicara dengan keadaan emosi: “Aku menginginkan kepala tiga orang yang cerdik itu dan aku juga menginginkan kepala anak kecil itu. Dan aku menginginkan informasi yang lengkap. Sungguh masalah ini semakin samar hai orang-orang yang bodoh.”

Lalu kepala mata-mata berkata: “Barangkali ini hanya mimpi yang dibayangkan orang-orang Yahudi bahwa mereka melihatnya.” Hakim berkata: “Sungguh kepala-kepala kalian semua akan terbang lebih cepat dari merpati jika kalian tidak mendatangkan cerita secara lengkap tentang anak ini. Kebingungan dan kekacauan apa yang aku rasakan! Pergilah kalian dari sini.”

Anak buah Heradus dan para mata-mata pergi, sedangkan ia masih duduk memikirkan masalah tersebut. Tampaknya masalah itu sangat menggelisahkannya. Ia tidak peduli dengan kedatangan agama baru kepada manusia tetapi yang dipikirkannya adalah kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya.

Kemudian Heradus menetapkan untuk memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya kepadanya tentang masalah ini. Para pengawalnya yang khusus memanggil orang Yahudi itu. Tidak beberapa lama orang Yahudi itu ada di depan hakim. Heradus berkata: “Aku ingin berbicara kepadamu tentang suatu masalah yang sangat menggelisahkanku.” Pendeta Yahudi itu berkata: “Aku ingin mengabdi kepadamu.”

Heradus berkata: “Aku mendengar berita-berita yang saling berlawanan tentang anak kecil yang bisa berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahwa ia akan menyelamatkan kaumnya. Maka bagaimana berita yang sebenarnya tentang itu?” Pendeta itu berkata—dan ia merasa bahwa pertanyaan itu sepertinya berupa jebakan yang tidak diketahuinya secara pasti: “Apakah tuan yang mulia peduli dengan agama Yahudi?”

Heradus berkata dalam keadaan emosi: “Aku tidak peduli sedikit pun selain kekuasaan Romawi. Jawablah pertanyaanku wahai pendeta.” Pendeta Yahudi itu telah melihat Isa as berbicara di buaiannya. Ia memahami bahwa seandainya ia mengatakan itu, maka ia akan mendapatkan penderitaan pada dirinya, maka ia lebih memilih sedikit berbohong. Ia berkata kepada Heradus bahwa ia mendengar cerita itu tetapi ia meragukannya.

Heradus berkata: “Apakah benar agama kalian berbicara tentang kedatangan seorang penyelamat bagi rakyat kalian?” Pendeta berkata: “Ini benar wahai tuan yang mulai.”

Heradus berkata: “Apakah kalian mengetahui ini adalah persekongkolan menentang keamanan kerajaan Romawi? Apakah kalian menyadari ini adalah bentuk pengkhianatan?” Pendeta berkata: “Aku harap tuan membiarkan aku meluruskan suatu pemikiran yang sederhana. Berita tentang hal itu adalah berita yang kuno. Berita ini diyakini ketika rakyat menjadi tawanan di Babel sejak ratusan tahun.”

Heradus berkata: “Apakah memang di sana ada yang membenarkan berita ini? Sekarang, apakah kamu secara pribadi membenarkannya? Apakah engkau melihat anak kecil itu yang mereka katakan bahwa ia dilahirkan tanpa seorang ayah?” Pendeta itu berkata: “Apakah ada seorang yang percaya wahai tuan yang mulia jika dikatakan ada seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah. Ini adalah mimpi rakyat biasa.”

Heradus berkata: “Tidak ada sesuatu yang mengusir tidur dari mata seorang penguasa selain mimpi-mimpi rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau mendengar berita-berita, maka sampaikanlah kepadaku sebelum engkau sampaikan kepada istrimu.”

Belum lama pendeta itu pergi sehingga Heradus berpikir, bagaimana seandainya pendeta itu berbohong. Ia menangkap benang kebohongan pada kedua matanya. Ia mengetahui kebohongan ini karena ia sendiri sangat pandai berbohong. Kemudian bagaimana cerita tiga orang cerdik yang mereka mengikuti bintang? Apakah di sana terdapat persekongkolan menentang Romawi yang tidak diketahuinya?

Heradus berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk menangkap semua orang yang mendengar cerita ini atau ia akan melihat akibatnya.

Mula-mula dia memerintahkan untuk mencari gadis perawan yang melahirkan anak itu dan membunuh setiap anak yang lahir di saat itu. Sementara itu, Maryam keluar dari Palestina menuju ke Mesir.

Sebelumnya, pada suatu malam, datanglah kepadanya seseorang yang belum pernah dilihatnya dan orang itu menyampaikan salam kepadanya serta menyerukannya dan sambil berkata: “Bawalah anakmu wahai Maryam dan keluarlah menuju Mesir.” Dengan nada ketakutan Maryam bertanya, “Mengapa? Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir, dan bagaimana aku bisa mengenali jalan?” Orang asing itu menjawab, “Keluarlah engkau niscaya Allah SWT akan melindungimu. Sesungguhnya Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu.”

Maryam bertanya: “Kapan aku keluar?” Orang asing itu menjawab: “Sekarang juga. Janganlah engkau khawatir sedikit pun karena engkau keluar bersama seorang Nabi yang mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri mereka dan rumah mereka. Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha untuk menyingkirkan kebaikan tetapi pada akhirnya, kebaikan akan kembali menduduki singgasananya. Keluarlah wahai Maryam.”

Akhirnya, Maryam pun pergi menuju ke Mesir. Maryam melalui gurun Sina bersama suatu kafilah yang menuju Mesir. Maryam berjalan membawa Isa as di jalan yang sama yang pernah dilalui Nabi Musa as di mana ditampakkan kepada Nabi Musa as api yang suci dan beliau dipanggil dari sisi Thur al-Aiman.

Setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, Maryam sampai di Mesir. Mesir yang dipenuhi dengan kebaikan, kemuliaan, kebudavaan klasik serta cuacanya yang stabil mempakan tempat yang terbaik untuk pertumbuhan Isa as.

Isa as pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya. Isa keluar dari rumahnya dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi. Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu. Di sana tidak ada satu rumah pun dari rumah kaum Yahudi yang dapat menyalakan api atau memadamkannya pada hari Sabtu, atau mengambil buah di hari itu. Dilarang bagi seorang wanita untuk membuat adonan roti atau seseorang anak kecil mencuci anjingnya. Nabi Musa as telah memerintahkan untuk menghormati hari Sabtu dan hanya mengkhususkanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Terdapat hikmah di balik penghormatan hari Sabtu sehingga hari Sabtu menjadi hari yang sangat disucikan di kalangan orang-orang Yahudi. Mereka melaksanakannya dengan berbagai macam tradisi dan mereka mencurahkan segala konsentrasi mereka untuk menjaga hari Sabtu dan tidak meremehkannya. Sebab, mereka meyakini bahwa hari Sabtu adalah hari yang dijaga dari langit sebelum Allah menciptakan manusia sebagaimana mereka percaya bahwa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu jalur saja, yaitu menjaga hari Sabtu.

Mereka bangga karena mereka dapat menjaganya meskipun hal itu menyebabkan mereka kalah di kancah peperangan atau mereka tertawan di tangan musuh. Bahkan saking ketatnya mereka mempertahankan kehormatan hari Sabtu sampai-sampai mereka menambah-nambahi berbagai macam larangan di hari Sabtu.

Majelis kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak boleh dilakukan di hari Sabtu, seperti seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari Sabtu. Seorang yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di tempat yang sakit pada hari Sabtu atau memanggil dokter. Dilarang pula di hari Sabtu untuk menulis dua huruf abjad; dilarang juga untuk mempertahankan diri pada hari Sabtu; dilarang untuk panen dan belajar di hari Sabtu. Kemudian, bepergian di hari Sabtu diharuskan untuk tidak lebih dari dua ribu yard. Dilarang juga dihari Sabtu untuk membawa sesuatu ke luar rumah. (Bersambung ke Bagian Ketiga)

Maryam dan Isal al Masih dalam al Qur’an (Bagian Pertama)

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci (QS. Maryam: 19). Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina (QS. Maryam: 28)”

Maryam melihat al-Masih yang tampan wajahnya. Wajahnya tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak yang lahir di saat itu, tetapi ia berkulit lembut dan putih. Anak itu diselimuti dengan kesucian dan kasih sayang; anak itu berbicara kepada Maryam agar ia menghilangkan kesedihannya dan meminta padanya agar menggoyangkan batang-batang pohon kurma supaya jatuh darinya sebagian buahnya yang lezat dan Maryam dapat memakan dan meminum darinya sehingga hatinya pun penuh dengan kedamaian serta kegembiraan dan tidak berpikir tentang sesuatu pun.

Jika Maryam melihat atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka bahwa ia bernazar kepada Allah SWT untuk berpuasa dan tidak berbicara kepada seseorang pun.

Maryam melihat al Masih dengan penuh kecintaan. Anak itu baru dilahirkan beberapa saat tetapi ia langsung memikul tanggung jawab ibunya di atas pundaknya. Selanjutnya, ia akan memikul penderitaan orang-orang fakir. Maryam melihat bahwa wajah anak itu menyiratkan tanda yang sangat aneh. Yaitu tanda yang mengisyaratkan bahwa ia datang ke dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu, tetapi untuk memberinya segala sesuatu.

Maryam mengulurkan tangannya ke pohon kurma yang besar. Belum lama ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah darinya buah kurma yang masih muda dan lezat. Maryam makan dan minum dan kemudian ia memangku anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saat itu, Maryam merasakan kegoncangan yang hebat. Silih-berganti ketenangan dan kegelisahan menghampirinya. Segala pikirannya tertuju pada satu hal, yaitu Isa. Ia bertanya-tanya dalam dirinya: Bagaimana orang-orang Yahudi akan menyambutnya, apa yang akan mereka katakan tentangnya, apa yang akan mereka katakan terhadap Maryam, apakah para pendeta dan para pembesar Yahudi percaya bahwa Maryam melahirkan seorang anak tanpa disentuh oleh seseorang pun? Bukankah mereka terbiasa hidup dengan suasana pencurian dan penipuan? Apakah seseorang di antara mereka akan percaya—padahal ia jauh dari langit—bahwa langit telah memberinya seseorang anak.

Akhirnya, masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke kaumnya. Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar. Pasar besar yang terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju mesjid dipenuhi dengan manusia. Mereka sibuk dengan jual-beli. Mereka duduk berbincang-bincang sambil minum anggur.

Belum lama Maryam melewati pasar itu sehingga manusia melihatnya membawa seorang anak kecil yang didekapnya. Salah seorang bertanya: “Bukankah ini Maryam yang masih perawan? Lalu, anak siapa yang dibawanya itu?” Seorang yang mabuk berkata: “Itu adalah anaknya.” Mari kita dengar cerita apa yang akan disampaikannya.

Akhirnya, orang-orang Yahudi mulai “mengepung” dengan berbagai macam pertanyaan: “Anak siapa ini wahai Maryam, mengapa engkau tidak mengembalikannya, apakah itu memang anakmu, bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak sedangkan engkau adalah gadis yang masih perawan?”

Maryam dituduh melakukan pelacuran. Mereka menyerang Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan sanggahannya atau mengadakan penelitian atau membuktikan bahwa perkataan mereka memang benar.

Maryam dicerca sana-sini dan ia diingatkan, bahwa bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah ibunya seorang pelacur? Lalu mengapa semua ini terjadi padanya? Menghadapi semua tuduhan itu, Maryam tampak tenang dan tetap menunjukkan kebaikannya. Wajahnya dipenuhi dengan cahaya keyakinan.

Ketika pertanyaan semakin menjadi-jadi dan keadaan semakin sulit, maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya. Maryam menunjuk Isa. Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan. Mereka memahami bahwa Maryam berpuasa dari berbicara dan meminta kepada mereka agar bertanya kepada anak itu.

Para pembesar Yahudi bertanya: “Bagaimana mereka akan melontarkan pertanyaan kepada seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari? Apakah anak itu akan berbicara di buaiannya” Mereka berkata kepada Maryam: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS. Maryam: 29).

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadahu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 30-33) (Bersambung ke Bagian Kedua)

Al Qur’an, Hadits, Nahjul Balaghah, dan Ta’wil

Sayyid Ali Khamenei

Oleh Sayid Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran)

“Fitnah ibarat kuda liar yang menggilas masyarakat, menginjak-injak mereka dengan kukunya, dan menendang mereka dengan ujung kakinya, maka mereka tersesat di sana dan kebingungan, bodoh dan tergila-gila di rumah terbaik dan tetangga terburuk. Tidur mereka di sana adalah keterjagaan dan celak mata mereka adalah air mata …. Pembicaraan ini berkisar tentang fitnah pra pengutusan para nabi. Beliau menjelaskan kaadaan masyarakat di mana para nabi diutus dan pada hakikatnya menjelaskan pula kaadaan masyarakat pada zaman beliau seraya memperingatkan mereka agar menghindari fitnah.” (Nahjul Balaghah)

Adalah keberuntungan yang luar biasa bagi saya saat menyaksikan terbentuknya lembaga baru di bidang Nahjul Balaghah yang direalisasikan oleh saudara-saudara kita tercinta pada Institut Nahjul Balaghah. Saya selaku warga Iran yang sangat menyukai ajaran Nahjul Balaghah, selaku muslim yang telah meluangkan sebagian masa kehidupan intelektual dan penelitiannya di bidang Nahjul Balaghah, dan juga selaku penanggung jawab negara Republik Islam Iran mengucapkan selamat atas gerakan yang penuh berkah dan berakibat baik ini, dengan harapan semoga tingkatan ini menjadi pijakan pemula untuk mencapai tahapan berikutnya yang lebih sempurna.

Semangat saudara-saudara kita ini layak mendapatkan penghargaan yang besar. Proyek ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja, melainkan harus berlanjut seterusnya. Sudah barang tentu, selama jarak setahun antara kongres tahun kemarin sampai sekarang sudah ada beberapa usaha dan pekerjaan di berbagai bidang Nahjul Balaghah yang terlaksana dengan baik dan saya juga ikut terlibat di dalam sebagian aktifitas itu. Namun demikian, saya ingin menekankan kembali bahwa perkumpulan-perkumpulan ini harus menjadi pengantar untuk pekerjaan-pekerjaan berikutnya yang lebih besar. Sudah cukup lama tempo yang kita lalui tanpa menjalin hubungan dengan Nahjul Balaghah. Adapun sekarang, kita harus menggunakan peluang dan kesempatan yang ada secara optimal untuk menutupi kekurangan sebelumnya.

Memang benar mereka yang bekerja keras di bidang Nahjul Balaghah tidak sedikit, baik di Iran sendiri maupun di negara-negara Islam lainnya. Akan tetapi, masih tertinggal banyak pekerjaan utama dan asasi yang bisa digarap untuk menyebar-luaskan sekolah Nahjul Balaghah di segala penjuru dunia, kendati dasar dan pokok-pokoknya sedang dalam pembangunan secara bertahap. Sungguh, Nahjul Balaghah adalah simpanan istimewa nan agung yang keberadaannya saja susah untuk dijangkau atau dimengerti (apalagi lebih dari itu), dan setelah mampu menyentuh keberadaanya, baru memasuki babak berikutnya yang lebih utama, yaitu penggunaan dan pengambilan untung darinya. Adapun sekarang, kita masih belum mengetahui hakikat keberadaan Nahjul Balaghah itu sendiri. Memang iya; seperti halnya referensi-referensi kaya Islam lainnya yang memiliki nasib serupa, hanya saja Nahjul Balaghah adalah pengecualian tersendiri mengingat kelasnya yang sangat tinggi. Oleh karena itu, harus diperhitungkan dan disikapi lebih istimewa layaknya simpanan yang sangat berharga.

Apa yang ingin saya sampaikan sekarang adalah urutan dari sekian harapan dan cita-cita yang sejak dulu sampai saat ini kita miliki, yaitu harapan agar masyarakat kita dekat dan bersahabat dengan Nahjul Balaghah. Untuk masa-masa sekarang tidak bisa berharap banyak dari orang-orang seperti saya, kecuali jika Allah SWT memberi taufik, suatu hari saya dapat kembali ke kamar-kamar talabeh (pelajar agama) dan berpeluang aktif menjalankan tugas-tugas tersebut. Saya ingin berbicara seputar perhatian yang harus kita pusatkan pada Nahjul Balaghah dan sampai saat ini masih minim sekali. Seakan kita tidak tahu betapa agungnya simpanan makrifat tanpa batas yang terjaga dalam kitab ini, atau sampai sekarang masyarakat kita, bahkan para peneliti kita pun belum menyadari secara penuh pentingnya mencapai sumber agung yang tiada tara ini.

Pertama-tama, kitab ini terhitung referensi otentik kelas pertama Islam, dan sumber seperti ini sangatlah penting, khususnya dalam kondisi dan situasi historis masa kini yang berjarak seribu empat ratus tahun dari sejarah munculnya Islam. Urgensi itu juga disebabkan oleh merebaknya takwil dan interpretasi sesuka hati di sepanjang sejarah, dan ini merupakan wabah intelektual religius. Ketika zaman telah berjarak jauh dari sumber pancaran agama, maka benak, kreativitas, inovasi, dan gejolak internal manusia bermental menggiringnya untuk menarik kesimpulan berdasarkan selera pribadi masing-masing, dan secara misterius tak terlihat, telah berhasil menyimpangkan agama-agama yang pernah ada. Alasan kenapa agama-agama terdahulu telah menyimpang, salah satu penyakit utamanya adalah teks-teks otentik dan pertama mereka tidak terjaga secara selamat dan sempurna.

Satu keistimewaan besar yang kita miliki adalah Al-Qur’an yang tidak terjamah oleh tangan jahat perubahan dan penyimpangan. Hal inilah yang menyebabkan tetapnya sebuah poros utama dalam interpretasi atau pemahaman tentang Islam di tengah luasnya keberagaman selera yang ada. Pada akhirnya masih terdapat titik yang menjadi sandaran akhir untuk akidah dan pendapat yang berbeda-beda, yaitu Al-Qur’an. Namun hal itu tidak cukup. Dalam artian, belum dapat menghalangi arus takwil dan kecenderungan pendapat pribadi, selera personal, dan hawa nafsu.

Amirul Mukminin as sendiri suatu saat berkata pada Ibn Abbas,

لاَ تُخَاصِمْهُمْ بِالْقُرْآنِ، فَإِنَّ الْقُرْآنَ حَمَّالٌ ذُوْ وُجُوْهٍ

“Janganlah kamu menghadapi Khawarij dengan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an memikul banyak arti dan punya beragam wajah.”[1]

Sungguh, orang-orang yang menerapkan ayat “dan sebagian orang, ada yang menjual dirinya demi keridhaan Allah”—yang sebenarnya turun berkenaan tentang Amirul Mukminin Ali as—untuk Ibn Muljam, mereka betul-betul telah menyimpang dari jalan yang benar. Lalu, apa mungkin menghadapi orang seperti ini dengan menggunakan Al-Qur’an?! (Jelas tidak mungkin, karena mereka mengartikannya sesuka hati). Pada zaman sekarang, kita juga menyaksikan hal yang sama. Ada orang-orang yang bersandarkan kepada Al-Qur’an dengan metode takwil! Dalam situasi dan kondisi seperti ini, semakin banyak teks otentik Islam yang sampai kepada kita dari awal sejarah Islam, maka semakin besar pula peluang bagi para peneliti untuk mencapai ajaran Islam yang sebenarnya.

Dulu kita melihat ahli takwil—yang sekarang lebih dikenal dengan iltiqâthî (aliran yang mencampuraduk sana dan sini)—tidak peduli terhadap hadis, sehingga kapan saja kita membawakan hadis, mereka langsung berkata, “Apa kamu tidak menerima dan mengimani Al-Qur’an? Seakan-akan ada pertentangan antara kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan keyakinan pada hadis!

Awal-awal kita heran. Tapi tidak begitu sensitif terhadap masalah ini. Sampai akhirnya kita sadar bagaimana mereka memperlakukan Al-Qur’an dan bagaimana mereka menolak hadis yang shahih dan sharih (jelas dan tidak ambigu). Ketika itu kita baru mengerti alasan sesungguhnya kenapa mereka menentang hadis. Di kala itu, Amirul Mukminin as mengingatkan Ibn Abbas seraya berkata, “Berargumentasilah dengan sunah untuk menghadapi Khawarij, karena sunah tidak bisa ditakwil lagi.” Jadi jelas, ketika kita hidup dalam situasi dan kondisi dunia Islam kontemporer yang pengikutnya mencapai jumlah yang jauh lebih besar dari sebelumnya dan berhasil menempati bagian terbesar dari geografi dunia, disertai oleh multi kultur dan beragam pendapat, aliran dan kelompok yang mendominasi jalan pikiran dan kejiwaan mereka, maka apabila kita dapat menghidupkan kembali teks-teks awal Islam, niscaya kita telah memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan poros utama untuk berijtihad dan menjelaskan pandangan Islam.

Pandanglah Nahjul Balaghah dari sudut ini. Dengan begitu, Nahjul Balaghah tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan kitab hadis fulan sahabat atau tabi’in yang terbentuk pada tahun lima puluh, enam puluh, seratus, atau seratus empat puluh Hijriah. Nahjul Balaghah adalah ucapan orang yang pertama kali beriman kepada wahyu Tuhan yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw. Nahjul Balaghah adalah kata-kata khalifah Nabi, yaitu khalifah yang disepakati oleh semua orang Islam. Yaitu imam yang menurut pengikut Syi’ah dan mayoritas pengikut Ahlusunah adalah sahabat yang paling baik dan utama. Itu artinya ada ucapan-ucapan yang tersimpan secara utuh dan sampai kepada kita dari orang yang agung dan penting sekali, mulai dari ceramah atau kata-kata beliau yang lain. Maka sudah barang tentu ini adalah teks yang otentik dan agung berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam, teks yang menyelesaikan segala permasalahan: tauhid, kenabian, filsafat sejarah, akhlak, irfan, dan lain sebagainya. Sebagaimana Anda perhatikan seksama, kita bisa menemukan dasar-dasar keyakinan yang sempurna dan komprehensif tentang Islam dari Nahjul Balaghah.

Tanpa diragukan lagi, kitab ini adalah pendamping Al-Qur’an dan setingkat di bawahnya. Kita tidak punya kitab lain yang sampai pada derajat nilai pengakuan, komprehensifitas, dan histori seperti ini. Oleh karena itu, menghidupkan kembali Nahjul Balaghah bukan hanya tugas orang-orang Syi’ah semata, melainkan juga tugas bagi semua orang Islam, karena dalam Islam tidak ada satu orang pun yang menolak Amirul Mukminin Ali as. Maka setiap muslim bertugas untuk menghidupkan Nahjul Balaghah sebagai warisan tiada tara Islam. Penghidupan ini tidak berarti memperbanyak cetakan yang—alhamdulillâh—sudah banyak. Melainkan kajian dan penelitian di bidang Nahjul Balaghah, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap Al-Qur’an. Sudah banyak tulisan di bidang tafsir Al-Qur’an dan karya di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an. Upaya yang sama juga harus dilakukan untuk Nahjul Balaghah. Ia harus diajarkan sebagaimana Al-Qur’an diajarkan, karena ia adalah lanjutan dan ekor Al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana muslimin mewajibkan diri mereka untuk mengenal Al-Qur’an dan berteman dengannya, dan sebaliknya adalah aib dan kekurangan bagi mereka, maka terhadap Nahjul Balaghah pun mereka harus bertindak demikian.

Poin luar biasa penting lainnya yang ingin saya sampaikan di sini adalah tugas kita semua untuk mengetahui konteks munculnya kata-kata ini, sekaligus juga kaadaan si pembicara. Pengenalan ini memberikan kita kesembuhan yang cepat bagi berbagai penyakit sosial masa kini. Karena jika kita perhatikan, pembicaranya bukanlah orang biasa, melainkan manusia yang berhasil menyatukan dua keistimewaan sehingga ucapan-ucapannya naik sampai tingkat yang luar biasa. Dua keistimewaan itu adalah hikmah dan kekuasaan. Beliau adalah seorang hakim menurut yang disinyalir Al-Qur’an dengan firman-Nya, “Dia memberi hikmah kepada siapa pun yang dikehendaki.” Beliau mengenal jagat raya, manusia, dan segala ciptaan lainnya secara baik, teliti, dan sempurna. Dan itulah seorang hakim. Dalam terminologi orang yang meyakini beliau sebagai imam suci, hal itu didapat melalui ilham Allah SWT dan dalam terminologi mereka yang tidak mengimani kesuciannya, hal itu diperoleh lewat pelajaran Rasulullah saw. Bagaimanapun juga, yang jelas tak seorang pun meragukan bahwa beliau adalah manusia berbashirah dan berhikmah, sebagaimana para nabi, dan beliau mengetahui segala hakikat penciptaan serta apa yang terdapat dalam simpanan-simpanan Allah SWT.

Adapun keistimewaan kedua pembicara Nahjul Balaghah adalah beliau penguasa dan pemimpin masyarakat Islam pada periode tertentu yang bertanggung jawab mengendalikan pemerintahan Islam pada zamannya. Dua keistimewaan hikmah dan kekuasaan ini terdapat pada sosok Amirul Mukminin as sehingga ucapan-ucapan beliau terkatrol sampai tingkat yang luar biasa tinggi melebihi kata-kata mutiara biasa lainnya mengingat dimensi baru yang diperoleh.

Tapi, sebetulnya apakah sebenarnya kata-kata beliau itu? Apakah yang beliau utarakan dalam ceramah-ceramahnya? Apakah yang dikatakan oleh amîr dan penguasa pemerintahan Islam yang juga hakim ini? Sudah barang tentu apa yang beliau katakan sesuai dengan kebutuhan. Beliau pasti menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan utama pada periode sejarah Islam zaman, dan tidak mungkin beliau mengutarakan hal-hal lain yang tidak diperlukan, karena tidak mungkin seorang dokter yang teliti dan penyayang memberikan resep dan saran yang tidak dibutuhkan pasien. Oleh karena itu, kita mendapatkan sesuatu yang berbeda dalam resep pemberian Amirul Mukminin as dan apakah itu? Hal itu adalah situasi dan kondisi masyarakat Islam pada masa hidupnya.

Tidak ada catatan sejarah yang lebih jelas dan lebih teliti daripada Nahjul Balaghah (kata-kata Amirul Mukminin as) dalam melaporkan kondisi dan situasi kehidupan masyarakat pada waktu itu. Sekarang ini kita hidup pada masa yang saya cenderung menyerupakannya dengan periode awal Islam. Artinya, kelahiran Islam kembali. Waktu itu adalah kelahiran pertama Islam. Adapun sekarang adalah kelahiran kedua Islam. Pada masa itu hukum-hukum Islam diberlakukan, dan sekarang kita sedang bergerak menuju penerapan hukum-hukm Islam tersebut. Kalau pada waktu itu musuh-musuh Islam yang sebetulnya memusuhi ajaran-ajaran Islam itu sendiri dan menentang masyarakat nabawi, begitu pula sekarang orang-orang yang memusuhi Revolusi kita pada hakikatnya mereka tidak menentang berdirinya Republik Iran, melainkan mereka melawan Islam itu sendiri. Tapi tentunya bukan atas nama hakikat Islam, dan harus disadari secara bersama bahwa ini bukanlah hal yang sederhana. Wajar-wajar saja apabila mereka menentang, bahkan apabila adikuasa, penguasa, penindas, kapitalis, penjajah, pelaku nepotisme, penginjak harkat manusia, terorisme nilai-nilai kemanusian dan pemberhangus norma-norma Tuhan tidak takut atau tidak gelisah terhadap Islam, maka itu sangat mengherankan, karena itu berseberangan dengan arah tujuan dan target mereka. Hal itu pula yang dulu pernah terjadi pada masa Amirul Mukminin as.

Nah, kita bangsa Iran sebagai orang-orang yang memikul dasar-dasar sistem negara Islam ini di atas pundak bersama, apabila merujuk kepada Nahjul Balaghah, niscaya kita akan mendapatkan hal-hal yang sangat menarik. Kita akan mampu mendeteksi penyakit-penyakit yang mungkin terjangkit dan mengancam situasi seperti ini sekaligus juga mendapatkan penawarnya. Ini sangatlah menarik dan marilah kita sama-sama mencari obat penawar itu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua yang terjadi pada awal sejarah Islam sekarang pun terjadi secara persis serambut demi serambut. Melainkan arah dan tujuan di masa itu adalah sama seperti yang sekarang terjadi. Hati orang-orang beriman pada waktu itu sama dengan hati mukminin sekarang. Harapan dan cita-cita mereka pun sama. Keraguan orang-orang munafik dan lemah iman pada waktu itu adalah sama seperti yang dialami munafikin dan orang-orang lemah iman masa kini. Rencana teror dan rongrongan musuh pada masa lalu seragam dengan rencana musuh dan terorisme kontemporer. Poros sistem kenegaraan kita adalah sama dengan poros sistem pemerintahan awal Islam. Keberpihakan sistem kita kepada masyarakat adalah sama seperti halnya keberpihakan sistem Islam pada waktu itu. Menerima Al-Qur’an sebagai dokumen yang asli, naskah yang sempurna, dan sebagai pembentuk situasi yang ideal, semua ini adalah arah dan tujuan universal yang seragam antara sistem pemerintahan Islam kita sekarang dengan sistem pemerintahan Islam pada awal kelahirannya. Maka dari itu, wajar saja apabila kita sudah memprediksi datangnya penyakit-penyakit tertentu yang mirip dengan wabah yang menyerang masyarakat Islam pada waktu itu, sehingga dengan mengenali penyakit tersebut jauh-jauh sebelumnya, kita akan dapat mengantisipasi diri untuk melawan dan mengobatinya. Nahjul Balaghah mengajarkan penyakit-penyakit itu kepada kita. Meskipun tampaknya Nahjul Balaghah bukan catatan sejarah, tapi sebetulnya dia juga melaporkan sejarah pada waktu itu. Dan tentunya, jika saya ingin membawakan bukti-bukti bagaimana Amirul Mukminin as mengungkapkan masyarakat zamannya sekaligus penyakit dan penawar sosial pada waktu itu, jika saya ingin menerangkan bagaimana beliau memberi resep kepada kita yang apabila kita pelajari resep itu kita akan mengerti khasiatnya untuk mengobati penyakit tertentu yang kita temukan sekarang, jika saya ingin menguraikan semua itu, maka tidak cukup hanya dalam tempo dua atau tiga jam. Dan sayangnya, tidak bisa berharap banyak dari orang seperti saya sekarang. Mereka yang berpeluang harus menjalankan tugas mulia ini. Dan satu hal lagi perlu saya katakan, penelitian semacam ini terhadap Nahjul Balaghah bukanlah pekerjaan yang begitu sulit dan melelahkan. Cari dan bukalah selembar demi selembar, niscaya ia pasti menampakkan diri pada Anda.

Berikut ini saya ingin menyebutkan beberapa contoh dari penyakit yang pernah menimpa masyarakat pada masa Amirul Mukminin as sekaligus juga penawar yang beliau berikan.

Salah satu penyakit dan problema sosial pada waktu itu adalah dunia. Anda bisa saksikan betapa banyak ungkapan Nahjul Balaghah yang memperingatkan masyarakat dari dunia, cinta dunia, tipu daya dunia, dan bahaya dunia. Sebaliknya, kezuhudan Nahjul Balaghah merupakan salah satu bagian terpenting kitab ini. Untuk apa kezuhudan ini? Realitas apa pada waktu itu yang ingin ditunjukkan oleh seluruh kata-kata ini? Yaitu periode yang Nabi pernah bersabda tentangnya, “Kemiskinan adalah kebanggaanku.” Periode di mana Rasulullah dan masyarakat Islam pada waktu itu bangga dengan kemiskinannya. Mereka bangga karena tidak tercemar oleh dunia. Sosok seperti Abu Dzar, Salman, Abdullah bin Mas’ud, dan para penghuni Shuffah terhitung papan atas umat Islam kala itu. Mereka sama sekali tidak tertarik pada dunia, emas dan perak, dinar dan dirham, perhiasan dan permata, atau kekayaan berharga lainnya. Dan pada dasarnya, kilauan harta tidak bernilai di mata mereka daripada kilauan non-harta.

Rasulullah saw bersabda,

أَشْرَافُ أُمَّتِيْ أَصْحَابُ اللَّيْلِ وَ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ

“Orang-orang mulia dari umatku adalah mereka yang menghabiskan malam bersama Allah SWT dan yang mengenal atau menghafal Al-Qur’an.”

Apa sebetulnya yang telah terjadi di tengah masayarakat Islam pada waktu itu sehingga sekitar lima puluh dari seratus ucapan Amirul Mukminin as berhubungan dengan zuhud? Apa yang ingin ditunjukkan oleh Nahjul Balaghah yang penuh dengan tuntunan zuhud dan anjuran kepadanya?

Iya, semua itu menunjukkan adanya penyakit tertentu pada masyarakat waktu itu. Resep Amirul Mukminin as yang bergejolak dan penuh dengan peringatan tentang dunia menunjukkan kepada kita betapa masyarakat pada waktu itu terjangkit parah oleh penyakit dunia. Dua puluh tiga tahun setelah kepergian Rasulullah saw mereka telah terjerat dan terjarah oleh dunia, dan Amirul Mukminin as berupaya untuk membuka perangkap tali yang mengikat kaki dan tangan mereka.

Ketika kita membaca tanggapan Nahjul Balaghah seputar dunia, kita diantar ke puncak tersendiri dan kata-kata Amirul Mukminin as di sini terasa memiliki ritme dan warna yang berbeda. Dari sekian ratus contoh kalimat beliau tentang dunia sulit bagi saya untuk melewatkan berapa baris berikut ini untuk tidak disampaikan pada kesempatan yang berharga ini, mengingat begitu indahnya kata-kata beliau:

فَإِنَّ الدُّنْيَا رَنِقٌ مَشْرَبُهَا رَدِعٌ مَشْرَعُهَا، يُوْنِقُ مَنْظَرُهَا وَ يُوْبِقُ مَخْبَرُهَا، غَرُوْرٌ حَائِلٌ وَ ضَوْءٌ آفِلٌ وَ ظِلٌّ زَائِلٌ وَ سَنَادٌ مَائِلٌ، حَتَّی إِذَا أَنِسَ نَافِرُهَا وَ اطْمَأَنَّ نَاکِرُهَا قَمَصَتْ بِأَرْجُلِهَا وَ قَنَصَتْ بِأَحْبُلِهَا وَ أَقْصَدَتْ بِأَسْهُمِهَا وَ أَعْلَقَتْ الْمَرْءَ أَوْهَاقَ الْمَنِيَّةِ قَائِدَةً لَهُ إِلَی ضَنْکِ الْمَضْجَعِ وَ وَحْشَةِ الْمَرْجَعِ

Perhatikan betapa indahnya kata-kata ini, dan tentunya tidak bisa diterjemahkan begitu saja. Para sastrawan dan pujangga harus duduk bersama untuk mencari kata padanan yang tepat kemudian menerjemahkannya. Apa yang menarik perhatian saya adalah ketika beliau mengomentari dunia seraya mengatakan, “Penipu yang berubah-rubah, cahaya yang memadam, bayangan yang menghilang, dan sandaran yang nyaris tumbang.”

Kemudian beliau melanjutkan diskripsinya dengan berkata, “Sampai suatu saat orang yang lari dari dunia akan bergantung padanya.” Dunia tampil begitu indah dan menawan dengan segala tipu daya yang tersimpan sehingga orang yang sebelumnya lari ketakutan terpaksa harus menyerah dan bersahabat dengannya.

Beliau melanjutkan, “Orang yang mengingkari akan tenang bersamanya.” Artinya orang yang sebelumnya membenci dan tidak bersedia untuk bergandeng tangan dengan dunia, mau tidak mau dia merasakan ketenangan berada di sisinya.

Ini adalah penyakit. Sahabat-sahabat Nabi saw yang pada masa hidup beliau meninggalkan rumah, kehidupan, kebun-kebun rindang Mekkah, harta kekayaan, perdagangan, bahkan anak dan istri, mereka tinggalkan untuk ikut datang bersama Rasulullah saw ke Madinah demi Islam, mereka tahan lapar dan tabah terhadap segala kesulitan, tapi orang-orang itu pulalah yang dua puluh tiga tahun kemudian setelah kepergian Rasulullah saw begitu serakah terhadap dunia sehingga ketika mereka meninggal dunia, emas yang mereka wariskan terpaksa harus dibagi dan dipecah dengan menggunakan kampak karena terlalu besar. “Sampai suatu saat orang yang lari darinya akan bergantung padanya, dan orang yang membenci akan merasa tenang bersamanya.” Ini adalah puncak kata-kata Amirul Mukminin as, dan ini adalah satu contoh dari sekian banyak kalimat beliau tentang dunia.

Tema lain yang berkali-kali terulang dalam Nahjul Balaghah adalah sifat sombong, seperti inti ceramah beliau yang bernama al-Qâshi’ah. Tentunya tidak terbatas pada ceramah ini saja, melainkan di berbagai tempat lain juga berulang kali beliau membahas kesombongan.

Masalah sombong yang berarti menganggap diri sendiri lebih tinggi dan angkuh daripada orang lain adalah penyakit yang menyelewengkan Islam dan sistem politik Islam, merubah kekhalifahan menjadi kerajaan. Itu artinya sama dengan memberhangus semua hasil dan jerih payah Rasulullah saw—minimalnya—dalam selang berapa waktu. Karena itulah kenapa Amirul Mukminin as begitu perhatian dengan masalah ini.

Satu contoh dalam ceramah al-Qâshi’ah[2] yang makruf dan terkenal ini betapa indah, berbobot, dan kerasnya beliau berceramah. Berikut ini saya ingin mengutip sebagian dari ceramah tersebut:

فَاللهَ اللهَ في كِبْرِ الْحَمِيَّةِ، وَفَخْرِ الْجَاهلِيَّةِ! فَإِنَّهُ مَلاَقِحُ الشَّنَآنِ، وَمَنَافِخُ الشَّيْطانِ، اللاَِّتي خَدَعَ بِهَا الْاُْمَمَ الْمَاضِيَةَ، والْقُرُوْنَ الْخَالِيَةَ، حَتّى أَعْنَقُوا فِيْ حَنَادِسِ جَهَالَتِهِ، وَمهَاوِيْ ضَلاَلَتِهِ، ذُلُلاً عَنْ سِيَاقِهِ، سُلُساً فِي قِيَادِهِ، … ألاَ فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ مِنْ طَاعَةِ سَادَاتِكُمْ وَكُبَرَائِكُمْ! الَّذِينَ تَكَبَّرُوا عَنْ حَسَبِهِمْ، وَتَرَفَّعُوا فَوْقَ نَسَبِهِمْ

Ini adalah peringatan keras Amirul Mukminin as. Secara serius beliau mengingatkan masyarakat untuk menghindari dua hal berikut: (1) adalah sombong dan keangkuhan atau menganggap diri sendiri lebih unggul daripada yang lain, dan (2) sikap menerima kesombongan, keangkuhan, dan anggapan orang lain bahwa dirinya lebih tinggi atau unggul daripada selainnya. Artinya jangan pernah Anda angkuh dan menganggap diri kalian lebih unggul daripada orang lain dan juga jangan pasrah atau menerima sikap orang lain yang sombong dan punya anggapan seperti itu. Dua hal ini adalah jaminan terlaksananya etika Islam antara masyarakat dan penanggung jawab masayarakat Islam. Amirul Mukminin as menegaskan, masyarakat agar tidak angkuh terhadap orang lain sebagaimana beliau sendiri tidak sombong dan juga tidak pernah menerima perlakuan sombong orang lain.

Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat pada waktu itu terjangkit penyakit sombong dan angkuh. Kedua penyakit tersebut di atas ada pada mereka; kesombongan sekaligus juga pasrah dan menerima keangkuhan orang lain. Untuk meyakinkan diri, silakan Anda merujuk pada buku sejarah tentang masyarakat pada waktu itu. Mereka yang mengenal sejarah periode itu mengetahui persis bahwa penyakit utama masyarakat pada waktu itu adalah dua hal tersebut: sebagian dari mereka angkuh, congkak, sombong, dan menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain, seperti Quraisy lebih tinggi dari selain Quraisy, famili dari suku Arab tertentu lebih unggul dari keluarga suku lain. Dan sayangnya, penyakit ini begitu cepat merebak di tengah masyarakat dan orang-orang sombong segera bermunculan di berbagai penjuru setelah kepergian Rasulullah saw. Akibatnya, seperti disebutkan oleh Amirul Mukminin as, “Fainnahû malâqihusy syana’ân …”, Yaitu tempat kelahiran dan menjamurnya perbedaan dan perpecahan. Ketika seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada yang lain, ketika golongan tertentu beranggapan mereka lebih tinggi daripada golongan yang lain, maka saat itu adalah hari pertama perpecahan dan awal pertengkaran. Ketika kita memperhatikan poin-poin teliti dari ucapan Amirul Mukminin as, ternyata beliau telah menyebutkan semua karakter yang bersangkutan.

Penyakit kedua yang dialami masayarakat beliau adalah menerima dan menyerah terhadap keangkuhan orang lain. Yaitu, orang yang tertindas pasrah dengan ketertindasannya dan menerima bahwa mereka memang harus tertindas. Cobalah kita membaca sejarah masa itu, niscaya kita akan mendapatkan banyak bukti kepasrahan mereka terhadap kedzaliman atas diri mereka, pasrah pada kesombongan orang lain dan pasrah pada kehidupan marginal atau selalu di bawah. Anda akan terenyuh menyaksikan realitas masyarakat pada waktu itu. Setiap orang yang hendak mengangkat kepalanya dan unjuk rasa senantiasa diserang habis-habisan, dan ini (unjuk rasa) adalah salah satu karakter masyarakat Irak sepanjang sejarah. Namun demikian, sebagaimana tercatat juga oleh sejarah, orang-orang Kufah bukan tipe masyarakat yang setia dan tepat janji, dan ini karakter yang melahirkan berbagai karakter buruk lainnya. Tetapi secara umum masyarakat Irak pada waktu itu adalah masyarakat yang punya watak tinggi dan tidak pernah menerima penguasa-penguasa Syam. Menurut saya, sepertinya salah satu sebabnya adalah kehadiran Amirul Mukminin as di tengah mereka untuk selang waktu yang cukup lama sehingga mereka mempelajari etika Islam yang mulia ini dari beliau.

Bagaimanapun juga kita menyaksikan sepanjang sejarah pemerintahan Bani Umayah dan Bani Abbas selama sekitar enam ratus tahun, satu-satunya sasaran empuk dan titik utama kelemahan masyarakat Islam pada periode itu adalah hal tersebut di atas, yaitu kepasrahan terhadap keangkuhan atau kezaliman. Kerusakan pun bersumber dari sini. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as sering kali menentang masalah nepotisme dan sikap masyarakat yang menerima nepotisme penguasa serta kesombongan mereka. Ini adalah salah satu hal yang disebutkan Amirul Mukminin as dalam Nahjul Balaghah.

Masalah berikutnya adalah fitnah. Banyak sekali kata-kata beliau yang menakjubkan seputar fitnah. Sebagiannya multi berbobot, indah, dan komprehensif sangat mengherankan perhatian setiap orang yang memikirkannya! Apakah fitnah itu? Fitnah adalah ketercampuradukan dan kacaunya barisan, serta berbaurnya hak dan batil.[3]

وَ لَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هذَا ضِغْثٌ، وَمِنْ هذَا ضِغْثٌ، فَيُمْزَجَانِ! فَهُنَالِكَ يَسْتَوْلي الشَّيْطَانُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ

Masalah mencampuradukkan hak dan batil, penggunaan slogan hak untuk kepentingan batil, penggunaan simbol-simbol hak untuk mengokohkan pondasi kebatilan, semua ini adalah penyakit yang terdapat pada masa Amirul Mukminin as dan beliau tuangkan dalam kata-kata.

Ada dua macam ucapan Amirul Mukminin as tentang fitnah. Salah satu dari dua macam itu membicarakan fitnah secara universal. Saya ingin membaca dua ucapan beliau yang sudah saya catat sebelumnya.

Pada ceramah ke-2 Nahjul Balaghah, ketika beliau berbicara tentang kemunculan Rasulullah saw, beliau juga mengisyaratkan keadaan masyarakat seraya berkata:

في فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا، وَوَطِئَتْهُمْ بأَظْلاَفِهَا، وَقَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا، فَهُمْ فِيهَا تَائِهُونَ حَائِرونَ جَاهِلُونَ مَفْتُونُونَ، في خَيْرِ دَار، وَشَرِّ جِيرَان، نَوْمُهُمْ سُهُودٌ، وَكُحْلُهُمْ دُمُوعٌ

Sungguh ini juga salah satu kalimat yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja. Lagi-lagi para penyair dan sastrawan harus duduk bersama mengerahkan semua kemampuannya untuk menemukan padanan kata dan susunan kalimat yang tepat. Beliau berbicara tentang fitnah sebagai berikut:

Fitnah ibarat kuda liar yang menggilas masyarakat, menginjak-injak mereka dengan kukunya, dan menendang mereka dengan ujung kakinya, maka mereka tersesat di sana dan kebingungan, bodoh dan tergila-gila di rumah terbaik dan tetangga terburuk. Tidur mereka di sana adalah keterjagaan dan celak mata mereka adalah air mata …. Pembicaraan ini berkisar tentang fitnah pra pengutusan para nabi. Beliau menjelaskan kaadaan masyarakat di mana para nabi diutus dan pada hakikatnya menjelaskan pula kaadaan masyarakat pada zaman beliau seraya memperingatkan mereka agar menghindari fitnah.

Ini satu bentuk dari pembicaraan beliau seputar fitnah. Adapun bentuk lain dari penjelasan beliau tentang fitnah adalah spesifik tertuju pada person atau komunitas terbatas, seperti kata-kata beliau mengenai musuh-musuh yang telah menyulut api peperangan, yaitu Muawiyah, Thalhah dan Zubair, ‘Aisyah, Khawarij dan lain sebagainya yang semua itu menurut kaca mata beliau terhitung fitnah.

Sebetulnya, bentuk kedua ini semacam pengungkapan atau penyingkapan. Beliau hendak melumpuhkan dan membasmi fitnah ini dengan cara membongkar wajah-wajah mereka, dan ini adalah sebaik-baik cara membasmi fitnah. Apakah fitnah? Ketika dua kubu sedang bertikai, maka debu bertebaran sehingga wajah-wajah mereka susah untuk dikenal sampai terkadang manusia membunuh saudaranya atau termakan senjata kawannya sendiri. Kadang-kadang dia berjalan bersama musuhnya dan saling percaya. Inilah yang disebut dengan fitnah.

Apa obat penawar fitnah? Penyingkapan. Tak satu hal pun lebih manjur daripada penyingkapan dalam membasmi fitnah. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as melakukan penyingkapan wajah masing-masing, dan penyingkapan ini berarti ada penyakit yang sedang menimpa masyarakat pada waktu itu.

Dengan demikian, kira-kira saya sudah menjelaskan tiga tema, yaitu dunia, kesombongan, dan fitnah, dan masih ada ratusan lain seperti ini dalam Nahjul Balaghah yang bisa Anda temukan apabila Anda mencarinya. Saya sendiri belum menghitungnya sehingga bisa saya pastikan ada seratus masalah lain seperti ini, tapi saya melihatnya demikian. Bahkan lebih dari seratus tema besar yang bisa didapatkan melalui penelitian. Setiap Amirul Mukminin as berbicara tentang sebuah penawar, maka itu menunjukkan adanya penyakit tertentu, karena apabila penyakit itu tidak ada, pasti Amirul Mukminin as selaku hakim yang bertanggung jawab ganda terhadap masyarakat pada zamannya tidak akan berbicara demikian, melainkan dia akan membicarakan hal lain yang lebih berguna. Oleh karena itu, membicarakan hal-hal seperti itu berarti masyarakat pada waktu itu terjangkit oleh penyakit-penyakit tertentu dan penawarnya adalah anjuran-anjuran yang beliau berikan.

Seribu tiga ratus sekian puluh tahun telah berlalu, dan kita sekarang membutuhkan resep obat tersebut, baik untuk pengobatan dan juga untuk mengenali penyakit apa yang mengancam. Kondisi kita sekarang persis seperti dahulu kala. Kita terancam oleh cinta dunia, wabah kesombongan, cinta diri sendiri, nepotisme, dan bahaya fitnah-fitnah sosial yang mampu merobohkan semua bangunan kita. Maka dari itu, kita juga memerlukan penwawar-penawar tersebut, dan senantiasa kita akan merasa butuh kepada Nahjul Balaghah selama-lamanya, terlebih lagi apabila kita memandangnya dengan perspektif ini. Saya tidak melihat seseorang yang mengkaji Nahjul Balaghah dari sisi ini. Memang benar sudah banyak usaha yang dilakukan, tapi ini adalah perspektif baru dalam memandang Nahjul Balaghah. Bercerminlah pada Nahjul Balaghah dan apa yang Anda lihat pada diri Anda dalam kondisi sekarang? Apa penyakit yang Anda idap? Bahaya apa yang mengancam Anda? Dan peringatan apa yang tertuju pada Anda? Ketahuilah penawarnya ada pada Nahjul Balaghah, dan merupakan keharusan kontemporer bagi para peneliti untuk menggali Nahjul Balaghah dari sisi-sisi ini.

Bagaimanapun juga, di penghujung pembicaraan ini, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara terhormat yang telah memberi warna baru pada kajian Nahjul Balaghah, dan memberi perhatian yang lebih ekstra terhadap kajian-kajian seperti ini, serta membersihkannya dari debu-debu kealpaan. Berikutnya, saya juga menghaturkan ucapan terima kasih kepada para peneliti yang menulis di bidang Nahjul Balaghah, mulai dari karya tafsir Nahjul Balaghah dan syarah, terjemah, kamus kata-kata Nahjul Balaghah dan lain sebagainya. Sekali lagi, saya tekankan untuk lebih serius lagi dalam masalah Nahjul Balaghah.

Sekarang ini, Nahjul Balaghah bagi kita lebih sensitif dari berbagai sisi. Di pembahasan tadi saya mengingatkan pada dua sisinya, dan masih banyak lagi sisi-sisi yang lain.

Saya tekankan kembali bahwa kitab ini adalah simpanan agung yang tiada tara dan tidak akan pernah berakhir, dan pada zaman sekarang, kita lebih membutuhkannya, masayarakat kita dan masyarakat Islam lebih memerlukannya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[1] Nahjul Balaghah, surat ke-77.
[2]Ceramah al-Qâshi’ah ke-192.
[3]Ceramah ke-50.

Kelahiran Muhammad saw (dan Batu-Batu Panas dari Sijjil)

hazrat-muhammad-pbuh-hazrat-ali-as

“Gajah-gajah itu semakin berteriak dengan kencang dan tampak ketakutan. Dan rasa takut itu kini menghinggapi seluruh pasukan. Abrahah berteriak di tengah-tengah pasukannya agar gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Kemudian terbukalah salah satu jendela dari jendela al-Jahim, dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Sijjil, yaitu batu yang sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi Luth as. Batu itu menyerupai bom-bom atom yang digunakan saat ini”

Jika Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahwa Anda berada di hadapan suatu kekuatan yang menghancurkan yang tidak diketahui asal muasalnya. Dunia mengenali sebagian darinya setelah empat belas abad dari peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan bahwa pasukan itu dihancurkan dengan penghancuran yang dahsyat.

Para tentara Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging dari tubuh mereka berceceran di jalan. Abrahah pun mendapatkan luka dan mereka keluar dari tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah pun terbelah dadanya dan mati. Kemudian jasad para pasukannya tersebar dan berceceran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah mendekati setengah abad, turunlah suatu surah di Mekkah yang menceritakan tentang peristiwa itu:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka ‘bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat)” (al Qur’an Surah al-Fil: 1-5).

Pasukan gajah yang ingin memporak-porandakan Mekkah dikalahkan. Kemudian mereka dihancurkan dan Tuhan pemilik Ka’bah berhasil melindungi rumah suci-Nya. Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi orang yang tinggal di rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa kaum yang menyembah berhala yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai Pelindung Ka’bah memeliharanya karena adanya hikmah yang tinggi; Allah SWT menginginkan sesuatu bagi rumah itu; Allah SWT ingin melindunginya agar tempat itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak dikuasai oleh seseorang pun dari luar dan juga tidak didominasi oleh pemerintahan asing yang akan membatasi dakwah. Yang demikian itu karena di sana terdapat rumah dari rumah-rumah di Mekkah yang lahir di sana seorang anak di mana ibunya bernama Aminah binti Wahab dan ayahnya adalah Abdullah, salah seorang tokoh Arab. Anak itu belum dilahirkan dan belum dapat tugas kenabian dan ia belum memikul Islam di atas pundaknya dan belum menjadi rahmat bagi alam semesta. Kemudian datanglah Abrahah yang ingin menghancurkan semua ini tanpa ia mengetahui semua rahasia ini.

Tragedi yang menimpa Abrahah adalah karena bahwa ia berusaha menentang kehendak Ilahi sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan mukjizat yang mengagumkan. Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan yang tidak didengar suaranya. Kemudian burung-burung melemparkan batu-batu itu kepada Abrahah beserta tentaranya. Semua ini berdasarkan rencana Ilahi terhadap rumah-Nya dan agama-Nya serta nabi-Nya sebelum orang mengetahui bahwa Nabi Islam telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya dan mulai memasuki kehidupan yang keras di muka bumi.

Di tengah-tengah kegembiraan Mekkah karena keselamatan penghuninya dan selamatnya Ka’bah, Aminah binti Wahab bermimpi: Di tengah suatu malam ia menyaksikan dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya suatu cahaya besar yang menyinari Timur dan Barat dan terbentang hingga langit. Aminah tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun ia tidak mengetahui tafsir dari mimpinya.

Berlalulah hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur dari malam Senin hari keduabelas dari bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan seorang anak kecil yang yatim yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin Ibrahim bin Adam.

Sebelum ia dilahirkan, dunia mati karena kehausan padanya. Kehausan dunia sangat besar kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teiah berlalu 600 tahun dari kelahiran al-Masih dan orang-orang Masehi telah menjauhi ajaran cinta, bahkan keyakinan-keyakinan berhalaisme telah meresap kepada sebagian kelompok mereka dan kejernihan ajaran tauhid telah ternodai. Sedangkan orang-orang Yahudi telah meninggalkan wasiat-wasiat Musa dan mereka kembali menyembah lembu yang terbuat dari emas. Dan setiap orang dari mereka lebih memilih untuk memiliki lembu emas yang khusus. Demikianlah, berhalaisme telah menyerang di bumi. Bumi dipenuhi oleh kegelapan. Akal disingkirkan dan Tuhan dilupakan dan mereka menyerahkan diri mereka kepada pembohong.

Ketika jantung dunia telah terkena kekeringan, maka memancarlah dari Timur suatu mata air keimanan yang jernih yang menjadi puas dengannya separo dunia. Dan mukjizat besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari jantung gurun yang paling besar ketandusannya di dunia, yaitu gurun jazirah Arab. Berkenaan dengan penggambaran masa tersebut, dalam hadis yang mulia dikatakan: “Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka, baik orang-orang Arab maupun orang-orang Ajam kecuali sebagian kecil dari Ahlulkitab.”

Di tenda yang kasar, lahirlah seorang anak yatim yang kemudian bertanggung-jawab untuk memberikan minum kepada dunia yang haus pada cinta, keadilan, kebebasan, serta kebenaran. Sementara itu, beberapa langkah dari tempat kelahirannya terdapat berhala-berhala yang memenuhi Baitul ‘Athiq dan sekitar Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi rumah Allah SWT dan Dia disembah di dalamnya dan manusia merasa tenteram di dalamnya. Di rumah yang kuno ini—yang dibangun sebelumnya oleh Adam—dipenuhi patung-patung tuhan yang terbuat dari batu dan kayu. Ini menunjukkan betapa akal orang-orang Arab saat itu mengalami titik terendah.

Sementara itu nun jauh di sana, tepatnya di Yatsrib atau Madinah dipenuhi oleh orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana karena melarikan diri dari penindasan orang-orang Romawi. Mereka tinggal di situ bagaikan srigala-srigala di atas tanah yang tersubur di mana mereka melakukan monopoli dalam perdagangan. Mereka membagun kejayaan mereka dengan memanfaatkan orang-orang Arab dan keheranan mereka terhadap diri mereka sendiri.

Para cendikiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu, dimulai dari emas sampai Taurat. Mereka menyembunyikan kertas-kertas darinya dan menampakkan sebagiannya; mereka mengubah kertas-kertas Taurat itu untuk memperkaya diri mereka. Pada saat orang-orang Yahudi menyembah emas dan sangat lihai melakukan persekongkolan, orang-orang Arab justru menyembah batu dan mereka pandai berperang. Mereka juga lihai dalam membuat syair lalu menggantungkannya di atas tirai-tirai Ka’bah. Orang-orang Arab hidup di bawah naungan sistem kesukuan di mana kepala suku adalah pemimpin dan nilainya sebanding dengan anak buahnya, dan kemampuan mereka dalam berperang. Dan keutamaan seseorang dilihat dari asal muasalnya serta nilainya juga dilihat dari kefanatikannya serta kebanggaannya kepada nasab yang merupakan kemuliaannya, juga kefanatikannya terhadap berhala tertentu yang merupakan agamanya. Jadi, segala bentuk kemuliaan dan kewibawaan tidak terbentuk kecuali dalam ruang lingkup yang sempit dalam kabilah atau kesukuan (tribalisme).

Sedangkan di tempat yang jauh dari Mekkah, Romawi menyerupai burung rajawali yang lemah, namun belum sampai kehilangan kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat menyanjung kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab, orang-orang Persia menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat peribadatan mereka di mana manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau Sawah yang dianggap suci oleh mereka.

Sementara itu, Kisra, raja kaum Persia duduk di atas singgasananya dan memberikan keputusan terhadap manusia. Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan. Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya dan menolaknya. Orang-orang Persia berhasil mengalahkan Romawi dan Yunani, sehingga mereka menjadi kekuatan yang dahsyat di muka bumi. Meskipun mereka memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, namun penyembahan api jelas-jelas menunjukkan betapa bodohnya mereka dan betapa kekuatan mereka diliputi oleh kebodohan sehingga akal mereka tercabut dan mereka terhalangi untuk mencapai kebenaran. Alhasil, kegelapan semakin meningkat di setiap penjuru bumi dan kehidupan berubah menjadi hutan yang lebat di mana di dalamnya seorang yang kuat akan menyingkirkan seorang yang lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan.

Di tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda Mekkah. Ketika anak tersebut lahir, maka padamlah api yang disembah oleh kaum Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh manusia, bahkan robohlah empat belas loteng dari istana Kisra. Dan Setan merasa bahwa penderitaan yang besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai simbol dimulainya kehancuran kejahatan atau keburukan di muka bumi dan terbebasnya akal manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia atau terhadap hal-hal yang bersifat khurafat. Manusia diajak hanya untuk menyembah kepada Allah SWT. Kelahiran Rasul sebagai bukti hilangnya kelaliman, sebagaimana kelahiran Nabi Musa yang menunjukkan kebebasan Bani Israil dari kelaliman Fir’aun.

Ajaran Muhammad bin Abdillah merupakan ajaran revolusi yang paling meyakinkan dan yang paling penting yang pernah dikenal di dunia; ajaran yang bertugas untuk menyelamatkan dan membebaskan akal dan materi. Tentara Al-Qur’an adalah tentara yang paling adil dan paling berani untuk menghancurkan orang-orang yang lalim. Kita akan melihat dalam sejarah Nabi bahwa kejadian-kejadian luar biasa telah mengelilingi Ka’bah sebelum kelahirannya. Kemudian terjadilah peristiwa luar biasa setelah kelahirannya di mana terjadilah peristiwa pembelahan dada pada saat beliau masih kecil, begitu juga beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil, bahkan beliau terkenal pada saat masih kecil dengan kecenderungan untuk meninggalkan permainan-permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak kecil seusia beliau. Allah SWT memberikan penjagaan khusus kepadanya sehingga Jibril as turun kepadanya dengan membawa wahyu.

Selanjutnya, mukjizatnya yang pertama adalah mukjizat yang terdapat pada kepribadiannya dan pemikiran-pemikirannya. Itulah yang menjadi mukjizatnya yang terbesar setelah Al-Qur’an; itu adalah bangunan ruhani yang tinggi di mana beliau mampu menahan penderitaan di jalan Allah SWT. Dan dalam menegakkan kebenaran, beliau memikul berbagai macam rintangan. Beliau melaksanakan amanat yang diembannya secara sempuma dan sebaik-baik mungkin. Hal yang indah yang dikatakan tentang mukjizat Nabi setelah diutusnya beliau adalah bahwa beliau tidak mempunyai mukjizat selain usaha membebaskan akal: tanpa memiliki kekuatan luar biasa selain membebaskan pikiran, tanpa dalil selain kalimat Allah SWT.

Sedangkan Isa bin Maryam telah berdakwah dan mengajak manusia untuk menciptakan kesamaan, persaudaraan, dan cinta kasih di antara mereka, namun Muhammad saw diberi karunia untuk mewujudkan persamaan, persaudaraan, dan cinta kasih di antara orang-orang mukmin di tengah-tengah kehidupannya dan setelah kehidupannya. Ketika Nabi Isa mampu menghidupkan orang-orang yang mati dan mengeluarkan mereka dari kuburan, Muhammad bin Abdillah menghidupkan orang-orang hidup dari kematian mereka yang tidak pernah mereka sadari. Itu adalah bentuk kematian yang paling berat. Beliau juga mengeluarkan rnereka dari kegelapan dan kebodohan menuju cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan kekufuran menuju dunia tauhid.

Sulaiman sebagai seorang Nabi dan raja mampu memperkerjakan jin untuk mengabdi padanya, bahkan mereka mampu terbang beribu-ribu mil untuk menghadirkan singgasana musuh-musuhnya agar mereka semua tercengang terhadap kemampuannya, sehingga mereka masuk Islam. Namun Muhammad saw justru mengabdi kepada Islam hanya sebagai seorang tentara yang sederhana. Beliau mengetahui bahwa ketika beliau lalai sesaat saja dari dakwah di jalan Allah SWT, maka kesempatannya dalam menyebarkan agama Islam akan hilang.

Di saat terjadi peristiwa besar dalam peperangan, tiba-tiba azan salat dikumandangkan, sehingga para pasukan yang berperang mengerjakan salat. Tidak ada malaikat yang turun untuk melindungi mereka ketika salat atau mencegah datangnya anak-anak panah dari punggung mereka saat sujud. Karena itu, hendaklah para pasukan melindungi dirinya sendiri. Para pasukan mukmin berusaha salat secara bergantian: sebagian mereka salat dan sebagian mereka bertugas untuk menjaga.

Allah SWT berfirman: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus” (QS. an-Nisa’: 102).

Selesailah masalah itu dan tidak adak malaikat yang turun untuk melindunginya dan menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan masa keletihan para nabi dan orang-orang mukmin. Dan sesuai kadar keletihan mereka dalam menyampaikan ajaran Islam, mereka pun akan mendapatkan balasan yang besar. Pada masa para nabi sebelum Nabi Muhammad saw, mereka menghadirkan mukjizat-mukjizat kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga kaum tersebut mempercayai apa saja yang mereka bawa, sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tidak menghadirkan kepada kaumnya selain dirinya dan ketulusannya.

Allah SWT telah memutuskan untuk melindungi Musa dan memerintahkannya untuk mengangkat gunung di atas kaumnya hingga mereka beriman kepada Taurat, atau untuk menjatuhkan gunung tersebut di atas mereka. Ketika mengetahui hal yang demikian itu, orang-orang Yahudi sujud dengan meletakkan pipi mereka di atas tanah dan mereka mengamati bukit batu yang berada di atas kepala mereka yang diangkat oleh tangan yang tersembunyi. Sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tak pernah memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa orang kepadanya dan puaslah beberapa orang kepadanya dan matilah bersamanya orang-orang yang mati dalam keadaan puas. Beliau tidak membawa pedang kecuali saat panah yang beracun mendekati jantung Islam dan mengancamnya.

Dakwah para nabi menuntut terjadinya mukjizat demi mukjizat. Ini karena masa kekanak-kanakan manusia serta kelemahan akal dan hilangnya panca indera menuntut rahmat Allah SWT untuk mendatangkan mukjizat yang sesuai dengan masa turunnya mukjizat tersebut dan budaya masyarakat setempat. Adalah hal yang maklum bahwa di tengah-tengah penduduk Mekah saat itu tidak terdapat orang-orang yang cerdas atau orang-orang yang bijak yang mampu menyerap kata-kata yang baik. Dan kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahwa ia tidak diturunkan pada masa ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap masa. Allah SWT mengetahui bahwa manusia telah memasuki masa kematangan berpikir yang mengagumkan, maka hikmah-Nya menuntut bahwa pernyataan yang pertama kali disebutkan dalam risalah-Nya adalah “Iqra'” (bacalah). Disamping itu, risalah tersebut mengandung pemikiran yang universal, sistem yang membangun, dan hukum yang mempesona, serta kebebasan yang diidamkan, dan manusia yang sempurna.

Adalah tidak mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi Muhammad saw di mana mereka tidak diutus di masa-masa kematangan pemikiran, tetapi yang menambah kehormatan Nabi Muhammad saw bahwa beliau diutus di tengah-tengah masa kematangan berpikir, dan beliau diutus sebelum datangnya masa ini. Beliau memikul berbagai lipat cobaan yang pernah dipikul oleh para nabi; beliau berdakwah dengan menanggung berbagai lipat godaan dan cobaan; beliau mengalami siksaan yang pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai Allah SWT sebagaimana para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika beliau mengimami mereka di saat salat pada saat beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj. Meskipun demikian, ketika beliau keluar pada suatu hari menemui sahabat-sahabatnya dan mendapati mereka mengutamakan para nabi dan mendahulukannya atas mereka, maka beliau justru menampakkan kemarahan dan wajahnya berubah. Beliau berkata: “Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin Matta.”

Melalui pernyataan itu, beliau berusaha meletakkan suatu fondasi pemikiran yang harus dilalui oleh kaum Muslim di mana para nabi memang memiliki derajat tertentu di sisi Allah SWT. Boleh jadi ada nabi yang lebih afdal atau yang lebih mulia daripada yang lain. Siapakah yang menetapkan hal itu? Tidak ada seorang pun selain Allah SWT. Ada pun kaum Muslim hendaklah mereka berhenti pada batas tertentu yang seharusnya mereka berikan berkaitan dengan sopan santun terhadap para nabi. Selama Allah SWT menyampaikan shalawat kepada rasul sebagai bentuk penghormatan dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan shalawat kepadanya, dan selama Rasulullah seperti nabi-nabi yang lain, maka hendaklah mereka juga bershalawat kepada semua nabi tanpa perbedaan, meskipun pada bentuk shalawat itu sendiri.

Sementara itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekkah bergerak setelah tahun gajah. Kemudian berita tersebar di sana sini dan sampailah ke telinga kakeknya bahwa cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib segera menuju ke tempat itu dan membawa cucunya yang yatim lalu berkeliling dengannya di Ka’bah sambil memikirkan namanya. Abdul Muthalib tidak merasa terpukau dengan nama-nama yang mulai beredar di benaknya. Ia tampak bingung menentukan nama yang paling tepat buat cucunya, bahkan kebingungannya itu berlanjut sampai enam hari, sehingga sang Nabi disunat. Ketika malam telah menyelimuti kawasan Mekkah, datanglah kepadanya suara yang sama yang dulu pernah dilihatnya dan didengarnya yang memerintahkannya untuk menggali zamzam. Di tengah-tengah tidurnya, suara itu membisikkan kepadanya bahwa nama cucunya berasal dari al-Ham, yang berarti Muhammad atau Ahmad.

Orang-orang Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib: “Nama apa yang engkau berikan kepada cucumu?” Abdul Muthalib menjawab sambil mengingat bisikan suara yang didengarnya saat mimpi, “Muhammad.” Nama tersebut sebenamya tidak umum di kalangan orang-orang Jahilliyah. Mereka bertanya, “Mengapa Abdul Muthalib tidak memakai narna-nama kakek-kakeknya dan nama-nama yang biasa dipakai di kalangan mereka.” Abdul Muthalib menjawab: “Aku ingin Allah SWT memujinya di langit dan manusia memujinya di bumi.”

Kami tidak mengetahui dorongan apa yang mendikte Abdul Muthalib untuk menyatakan kalimat tersebut. Apakah kalimat itu bersumber dari realitas kebanggaan orang-orang Arab yang populer atau berasal dari realitas kebanggaan tradisional? Atau, apakah berangkat dari realitas kegembiraan yang dalam dengan kelahiran si cucu, ataukah kalimat itu bersumber dari suasana ruhani yang jernih dan bisikan alam gaib? Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang dapat kami ketahui adalah bahwa seseorang tidak akan layak menyandang predikat manusia yang dipuji di bumi dan dipuji oleh Allah SWT di langit seperti predikat yang disandang oleh Muhammad bin Abdillah.