Arsip Kategori: Puisi Sulaiman Djaya

Kasidah Rebana

Tari Sema

Puisi Sulaiman Djaya

Aku tiba-tiba jatuh cinta
hanya karena dua matamu
yang mirip senja.
Sejak itu kubayangkan gugusan rambutmu

seumpama belantara
dan kuamsal tawamu sebagai gemuruh hujan
menggempur tanah dan semesta.
Aku tak tahu harus berkata apa

ketika hatiku dirundung sepi
yang perwira.
Telah kutulis ribuan kalimat
dan umpama

tapi tak kutemukan
kiasan bagi parasmu
yang teramat sederhana
sesederhana kegembiraan para pemuja

yang menyanyikan duka-lara mereka
dengan tabuhan
dan dendang rebana.
Cinta itu, duh Adinda sayang,

seperti ketika engkau merenungkan
dan memandang
pohon-pohon basah yang diam
selepas asar dikumandangkan

dan sunyi di dalam dada
sama sunyinya dengan lengang jalanan
diantara sisa rintik
mericik di kalbu sendiri.

(2016)

Turkish Alevi community at Gazi Cem Evi Istanbul
Turkish Alevi community at Gazi Cem Evi Istanbul

Bila Aku Mati

Dahl, Hans Fredrik

(Gambar: Lukisan Karya Hans Fredrik Dahl)

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2015)

Sudah lama tak ada tamu di pintuku:
padahal aku telah menyalakan malam.

Bintang-bintang di langit
seperti kota-kota yang sepi

dan betapa jauh dari bumi.
Adakah di sana

kelak tempatku?
Saatku mati

dan lupa kepada puisi.
Sungguh aku

selalu rindu kematian
bila sunyi tak lagi bisa kupadamkan.

Membayangkan waktu seperti rusa-rusa
di hutan-hutan senja

yang ditinggalkan gerimis
dan matahari.

Ketika sabana dan lereng-lereng lembab
dikepung gaib cakrawala.

Tak ada hasratku untuk bertanya
di mana surga berada

apalagi memikirkan dunia mana
yang pertama ada dan terjaga.

Dan barangkali langit
akan jadi rumahku nanti.

Hilverdink_HIL067

(Gambar: Lukisan Karya Johannes Hilverdink)

Herman Herzog, In the Alps

(Gambar: Lukisan Karya Herman Herzog)

Pintu Sajak

Jacquelyn Bischak - Woman reading by the window

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2012)

Tafakkur Februari

Bersama lembab,
barisan pohon di jalan
dan angin yang berkejaran
adalah perumpamaan

baris-baris munajat
yang dirundung sunyi dan diam.

Senja membuka kerah bajunya,
membentangkan ranum
tafakkur perindu
ihwal anugerah-Mu.

Barangkali hujan
yang telah jauh melangkah
tetap para tamuku
yang senantiasa intim

sekaligus terasa asing.
Betapa runcing
dingin yang sangsi
saat dua mataku ingin pergi

ke tanah yang lain.
Seakan maut pun jatuh

dalamku terlelap
kala duduk atau dalam kantuk.
Dalamku bermuwajahah
dengan bisu semesta-Mu.

Pintu Sajak

Setiapkali aku datang,
kutanggalkan sepatu di depanmu,
lalu tanganku menjabatmu:
akrab sekaligus asing,
seakan aku memang seorang tamu
di hadapan apa saja
yang tak terusik oleh tajamnya
tatapan sang maut.

Di suatu waktu, kausambut aku
dengan penuh kecup,
namun kau usir aku tanpa ragu
di kali lain. Sejak itu aku paham,
atas restu atau murkamu
nasib dan puisi dengan ikhlas
senantiasa hilir-mudik.

Tetapi aku tak mengerti,
kenapa hujan dan gerimis
serasa berada jauh di musim yang lari.
Bahkan waktu dengan ubannya yang kemerahan
lebih mirip kalimat-kalimat sajak
yang berserakan.

Setiapkali aku pergi,
kau selalu melepas bajuku
hingga aku tak ubahnya si petualang telanjang
yang senantiasa rindu pulang.
Kembali berjabat tangan
dan meminta maaf kepada mereka
yang menangis sendirian.

Tiga Sajak

Kragilan Utara Serang Banten by Asep Bahri

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2005-2006)

Kadang

Kadang ingin kudengarkan saja rintik hujan
sembari bersandar. Membiarkan bisu
mesra membujukku.

Kadang aku ingin bersama mereka,
merasa bahagia di mana saja
dan tak mempersoalkan kapan ingin tertawa,
kapan ingin pergi dan terlambat pulang.

Kadang aku hanya ingin percaya
jika saja hidup seperti jingga
atau coklat tua, niscaya gembira
seperti sisa cuaca yang tak mesti

berarti apa-apa.
Dan untuk apa aku bertanya dan bertanya:
akankah aku berhenti mengagumi
yang tak terjawab ataukah tidak,

jika aku tak mendengarkannya berbicara,
ketika mereka mengajakku mesra berbincang
dan riang seperti kanak-kanak yang bebas.

November

Betapa indah putih yang beterbangan
dari ujung senja
dan sisa waktu
dari musim yang sederhana.

Dari desir dan gerak
yang tak sempurna.
Dari keluasan
yang kupandang.

Langkah ditunda, dan aku
terpesona: bahwa dari keriangan
yang sama, akan muncul kepedihan
yang membuatmu heran

dan bertanya. Lalu sekuat angan
kau pun berusaha mengingat
sedikit saja: dari hidup
yang kau pikir tak sia-sia.

Agustus

Barangkali kegembiraanku yang paling ikhlas
adalah kenangan sepohon songler di belakang rumah.
Beberapa kepak unggas ke arah senja
seperti nasib yang kadang malas beranjak.

Saat hujan pun enggan usai,
aku tak tahu apakah aku ketika itu
takut pada sepi yang terbentang.
Mungkin gerimisnya yang paling dingin

lebih mirip sepasang bola matamu
membayangkan rindu paling rimbun
ke arah sosok gunung. Angin dari arah bukit
dan bebatuan, sesekali menabrak

rindang belukar. Setelah itu, tangan-tangan ibuku
sibuk menghitung nyala mungil lampu-lampu.

Sungai Ciujung

Kragilan, Serang, Banten

Hak cipta © Sulaiman Djaya (2010)

Di waktu kecilku dulu, arusmu kubaca sebagai tafakkur.
Keheningan bertepuk dengan rimbun daun-daun.

Pada yang tak rampung, musim mengetam nasib seputih randu.
Usia bagai perempuan menyisir rambutnya, menjelma bendera.

Di waktu kecilku dulu, siangmu kujadikan teduh sekarib peluk.
Dan aku pernah akrab dengan mereka yang senantiasa hijrah.

Sesaat sebelum aku pulang, aku singgah barang sebentar
pada senja yang bersandar di barisan pohon-pohon kelapa.

Kanak-kanak riang berlarian menerbangkan layang-layang
sebelum hujan memanen kenangan tanpa saputangan

ketika ibuku tersayang mengembarakan jari-jemari tangan
ke sela-sela pancaroba yang mengeringkan batang-batang pandan

hingga asar dikumandangkan, dan malam jadi rumah keheningan.

Hujan April dalam Puisi

girl-autumn

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2015)

Anak-anak waktu lahir bersama hujan April –
seperti bahasa yang lahir
dari rahim kata.

Setiap hari kita punya nama yang berbeda
untuk rasa bosan dan kebahagiaan.
Koin yang kita punya

bukan alat tukar dalam hidup dan bagi usia
yang datang seperti angin dan teka-teki
saat kita ingin memahami.

Betapa waktu yang berusaha kita mengerti
lebih mirip para tamu asing
yang sudah lama intim.

Namun kita selalu punya alasan untuk mengerti
kegembiraan-kegembiraan kita yang terbatas
dari rahim-rahim bahasa.

Bahkan saat kita jenuh dan bosan
kita tetap saja selalu punya celah
menamainya sebagai kenangan.

Juga engkau dan aku tak pernah putus-asa
untuk menemukan keindahan dan keakraban
pada segala yang biasa.

Seperti hujan April, usia kita seumpama
langit lengang pematang-pematang ingatan
di mana hati kita melangkah

seperti sepasukan burung dan unggas yang hijrah
ke rumah-rumah lain yang selalu ada
karena terbukanya pintu-pintu bahasa.

Kiasan Menulis

Wild Flowers at the Top of the Mountain by Julian Lesser

(Lukisan: Wild Flowers at the Top of the Mountain karya Julian Lesser)

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2008)

Jika bunga-bunga tebing mekar kembali
dan menguning di awal musim
–dan secercah cahaya mengerdip,

aku senantiasa percaya
makna-makna yang akan kau tulis
pada selembar kertas

takkan cukup bercerita
tentang langkah-langkah dan jejak.
Atau tentang kisah-kisah masa kanak

yang kau rajut kembali tanpa henti
pada sebuah diari.
Dan jika pun kau mau, tulislah satu dua sajak

seolah mereka adalah jiwamu
yang selalu setia di saat-saat riangmu.
Demikian bila kau sendiri pergi

dan tak menemu apa yang hilang
di antara dongeng-dongeng jelang tidur.
Meski acapkali kau pun gundah

dan tak sanggup menolaknya sebagai kata.
Seperti juga semua kerapuhan hidup
yang membuatmu takut.

Meski jarum-jarum matahari
senantiasa meresap pada tanah
juga pada daun-daun.

Seperti juga mengeringkan
apa yang mereka sentuh,
membakar rambutmu-rambutku,

menjelma tangan-tangan usia
yang tak pernah kita tahu kapan ia pergi
dan kapan ia datang kembali.

Seringkali aku pun tak paham
kenapa anugerah hidup mesti meminta
kehilangan. Seringkali saat pagi hari,

kupandangi kelengangan
di antara para unggas yang sibuk
menancapkan paruh mereka

pada air dan lumpur. Bermain-main
cahaya yang memantul
di mata mereka.

Dan jika pun ingin bertanya tentang hidup,
kuyakin aku tak punya jawabnya.
Sebab seringkali apa pun yang kupikirkan,

seringkali aku pun lupa menyaksikan
sesuatu yang berharga pada yang biasa saja
pada apa yang tak kusadari

sebagai yang paling nyata.
Dan kau sadar betapa banyak
yang datang tanpa kehendakku

sebanyak yang hilang tanpa sepengetahuanmu
dan raguku. Seperti saat kau tidur
dan memejamkan matamu

pada lembut telapak tanganmu.
Seperti saat kunyanyikan lagu-laguku
sembari kupandangi lampu yang mengilau

urai rambutmu. Dan seakan aku tak percaya
betapa keindahan selalu luput
saat aku hanya memikirkannya.

Dan ketika segala yang padam
tiba-tiba menyala
saat itulah kutahu kau ada.