Apa Doa Itu?

Mula Puisi Karya Sulaiman Djaya

Jika seseorang tak menginginkan sesuatu yang tak dimilikinya –barangkali ia hanya berharap agar hari-harinya senantiasa jadi doa. Namun, tentu saja, doa tak selamanya hanya milik mereka yang mengklaim beragama dan mengakui eksistensi Tuhan. Tetapi, pada saat yang sama, saya tak percaya kepada mereka yang berkata bahwa mereka berkuasa sepenuhnya atas hidup dan hari-hari mereka.

Saya tak percaya kepada mereka yang mengingkari keajaiban dan kebetulan –sehingga dengan lantang mereka senantiasa mengumandangkan bahwa Tuhan itu tidak ada, bukannya berendah hati bahwa jiwa manusia senantiasa berada dalam kerentanan.

Manusia acapkali dirundung kegelisahan, rasa bosan, kesepian, dan diterkam suatu keadaan dan kebetulan dalam hidup yang berada di luar jangkauan akal dan pemahamannya. Seseorang seringkali terjebak begitu saja dalam rasa asing dan keterasingan, dan karenanya hatinya berdoa dan mengharapkan sesuatu yang menggembirakan akan datang dalam hidupnya.

Pernahkah kau merasakan kegelisahan dan keterasingan –ketika engkau berada dalam kesulitan dan kepapaan, contohnya? Dan pada saat itu engkau merasa tak berarti dan terjebak dalam rasa ketakbermaknaan dalam hidup. Jika kau pernah mengalami hal itu, maka kau manusia normal.

Ketika engkau berharap mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup ini, pada saat itulah engkau tengah berdoa –entah kau mempercayai adanya Tuhan atau tidak? Kepada siapa engkau membathinkan harapan di dalam hatimu ketika engkau tidak mempercayai Tuhan? Itu bukan urusan saya, karena engkau sendiri yang berhak menjawabnya.

Ada saat-saat manusia berada dan terjebak dalam situasi yang tak menyenangkan –mengalami kesepian dan kesendirian ketika berada dalam kesulitan dan kejatuhan yang tak ia duga sebelumnya, pada saat itu yang membuat manusia bertahan adalah doa dan harapan yang ada di lubuk jiwanya. Barangkali, itulah iman. (Sulaiman Djaya 2016)

Iklan

Kasidah Rebana

Tari Sema

Puisi Sulaiman Djaya

Aku tiba-tiba jatuh cinta
hanya karena dua matamu
yang mirip senja.
Sejak itu kubayangkan gugusan rambutmu

seumpama belantara
dan kuamsal tawamu sebagai gemuruh hujan
menggempur tanah dan semesta.
Aku tak tahu harus berkata apa

ketika hatiku dirundung sepi
yang perwira.
Telah kutulis ribuan kalimat
dan umpama

tapi tak kutemukan
kiasan bagi parasmu
yang teramat sederhana
sesederhana kegembiraan para pemuja

yang menyanyikan duka-lara mereka
dengan tabuhan
dan dendang rebana.
Cinta itu, duh Adinda sayang,

seperti ketika engkau merenungkan
dan memandang
pohon-pohon basah yang diam
selepas asar dikumandangkan

dan sunyi di dalam dada
sama sunyinya dengan lengang jalanan
diantara sisa rintik
mericik di kalbu sendiri.

(2016)

Turkish Alevi community at Gazi Cem Evi Istanbul
Turkish Alevi community at Gazi Cem Evi Istanbul

Ezra dalam al Qur’an

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

Hikmah ini adalah riwayat tentang Uzair as (Ezra) yang dihidupkan kembali oleh Tuhan setelah mati selama seratus tahun berdasarkan wahyu al Qur’an.

“Pada suatu hari, tampak cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa kehausan. Sementara itu, desa yang ditinggali oleh Uzair as hari itu tampak tenang karena sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktivitas di dalamnya. Uzair berpikir bahwa kebunnya butuh untuk di-airi. Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai dengan kuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya –lalu ia menjadi kota mati”

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’, maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama kamu tinggal di sini ?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (al Qur’an Surah al-Baqarah ayat 259)

Dikatakan bahwa Uzair as adalah seorang Nabi dari nabi-nabi Bani Israil. Dia-lah yang menjaga Taurat, lalu terjadilah peristiwa yang sangat mengagumkan padanya. Allah SWT telah mematikannya selama seratus tahun kemudian ia dibangkitkan kembali. Selama Uzair as tidur satu abad penuh, terjadilah peperangan yang didalangi oleh Bakhtansir di mana ia membakar Taurat. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa kecuali yang dijaga oleh kaum lelaki. Mukjizat yang terjadi pada Nabi Uzair as adalah sumber fitnah yang luar biasa di tengah kaumnya.

Pada suatu hari, tampak bahwa cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa kehausan. Sementara itu, desa yang ditinggali oleh Uzair hari itu tampak tenang karena sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktivitas di dalamnya. Uzair berpikir bahwa kebunnya butuh untuk diairi. Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai dengan kuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya lalu ia menjadi kota mati.

Uzair as berpikir dalam hatinya bahwa pohon-pohon di kebunnya pasti merasakan kehausan lalu ia menetapkan untuk pergi memberinya minum. Hamba yang saleh dan salah seorang nabi dari Bani Israil ini pergi dari desanya. Matahari tampak masih baru memasuki waktu siang. Uzair as menunggang keledainya dan memulai perjalanannya. Beliau tetap berjalan hingga sampai di kebun. Beliau mengetahui bahwa pohon-pohonnya tampak kehausan dan tanahnya tampak terbelah dan kering. Uzair menyirami kebunnya dan ia memetik dari kebun itu buah tin (sebagian buah tin) dan mengambil pohon anggur. Beliau meletakkan buah tin di satu keranjang dan meletakkan buah anggur di keranjang yang lain. Kemudian ia kembali dari kebun sehingga keledai yang dibawanya berjalan di tengah-tengah terik matahari.

Di tengah-tengah perjalanan, Uzair berpikir tentang tugasnya yang harus dilakukan besok. Tugas pertama yang harus dilakukannya adalah mengeluarkan Taurat dari tempat persembunyiannya dan meletakkannya di tempat ibadah. Beliau berpikir untuk membawa makanan dan memikirkan tentang anaknya yang masih kecil, di mana beliau teringat oleh senyumannya yang manis, dan beliau pun terus berjalan dan semakin cepat. Beliau menginginkan keledainya untuk berjalan lebih cepat.

Lalu Uzair as sampai di suatu kuburan. Udara panas saat itu semakin menyengat dan keledai-nya tampak kepayahan. Tubuhnya diselimuti dengan keringat yang tampak menyala karena tertimpa sinar matahari. Keledai itu pun mulai memperlambat langkahnya ketika sampai di kuburan. Uzair as berkata kepada dirinya: Mungkin aku lebih baik berhenti sebentar untuk beristirahat, dan aku akan mengistirahatkan keledai. Lalu aku akan makan siang. Uzair as turun dari keledainya di salah satu kuburan yang rusak dan sepi. Semua desa itu menjadi kuburan yang hancur dan sunyi. Uzair mengeluarkan piring yang dibawanya dan duduk di suatu naungan. Ia mengikat keledai di suatu dinding, lalu ia mengeluarkan sebagian roti kering dan menaruhnya di sampingnya. Selanjutnya, ia memeras di piringnya anggur dan meletakkan roti yang kering itu di bawah perasan anggur. Uzair as menyandarkan punggungnya di dinding dan agak menjulurkan kakinya. Uzair as menunggu sampai roti itu tidak kering dan tidak keras.

Kemudian Uzair mulai mengamati keadaan di sekelilingnya dan tampak keheningan dan kehancuran meliputi tempat itu: rumah-rumah hancur berantakan dan tampak tiang-tiang pun akan hancur, pohon-pohon sedikit saja terdapat di tempat itu yang tampak akan mati karena kehausan, tulang-tulang yang mati yang dikuburkan di sana berubah menjadi tanah. Alhasil, keheningan menyeliputi tempat itu. Uzair as merasakan betapa kerasnya kehancuran di situ dan ia bertanya dalam dirinya sendiri: bagaimana Allah SWT menghidupkan semua ini setelah kematiannya? “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Uzair as bertanya: bagaimana Allah SWT menghidupkan tulang-tulang ini setelah kematiannya, di mana ia berubah menjadi sesuatu yang menyerupai tanah. Uzair as tidak meragukan bahwa Allah SWT mampu menghidupkan tulang-tulang ini, tetapi ia mengatakan yang demikian itu karena rasa heran dan kekaguman. Belum lama Uzair as mengatakan kalimatnya itu sehingga ia mati. Allah SWT mengutus malaikat maut padanya lalu rohnya dicabut sementara keledai yang dibawanya masih ada di tempatnya ketika melihat tuannya sudah tidak lagi berdaya. Keledai itu tetap di tempatnya sehingga matahari tenggelam lalu datanglah waktu Subuh. Keledai berusaha berpindah dari tempatnya tetapi ia terikat. Ia pun masih ada di tempatnya dan tidak bisa melepaskan ikatannya sehingga ia mati kelaparan.

Kemudian penduduk desa Uzair as merasa gelisah dan mereka ramai-ramai mencari Uzair as di kebunnya, tetapi di sana mereka tidak menemukannya. Mereka kembali ke desa dan tidak menemukannya. Lalu mereka menetapkan beberapa kelompok untuk mencarinya. Akhirnya, kelompok-kelompok ini mencari ke segala penjuru tetapi mereka tidak menemukan Uzair as dan tidak menemukan keledainya. Kelompok-kelompok ini melewati kuburan yang di situ Uzair as meninggal, namun mereka tidak berhenti di situ. Tampak bahwa di tempat itu hanya diliputi keheningan. Seandainya Uzair as ada di sana niscaya mereka akan mendengar suaranya. Kemudian kuburan yang hancur ini sangat menakutkan bagi mereka, karena itu mereka tidak mencari di dalamnya.

Lalu berlalulah hari demi hari, dan orang-orang putus asa dari mencari Uzair as, dan anak-anaknya merasa bahwa mereka tidak akan melihat Uzair as kedua kalinya dan istrinya mengetahui bahwa Uzair as tidak mampu lagi memelihara anaknya dan menuangkan rasa cintanya kepada mereka sehingga istrinya itu menangis lama sekali. Sesuai dengan perjalanan waktu, maka air-mata pun menjadi kering dan penderitaan makin berkurang. Akhirnya, manusia mulai melupakan Uzair as dan mereka tetap menjalankan tugas mereka masing-masing. Dan berjalanlah tahun demi tahun dan masyarakat mulai melupakan Uzair as kecuali anaknya yang paling kecil dan seorang wanita yang bekerja di rumah mereka di mana Uzair as sangat cinta kepadanya. Usia wanita itu dua puluh tahun ketika Uzair as keluar dari desa.

Berlalulah sepuluh tahun, dua puluh tahun, delapan puluh tahun, sembilan puluh tahun sehingga sampai satu abad penuh. Allah SWT berkehendak untuk membangkitkan Uzair as kembali. Allah SWT mengutus seorang malaikat yang meletakkan cahaya pada hati Uzair as sehingga ia melihat bagaimana Allah SWT menghidupkan orang-orang mati. Uzair as telah mati selama seratus tahun. Meskipun demikian, ia dapat berubah dari tanah menjadi tulang, menjadi daging, dan kemudian menjadi kulit. Allah SWT membangkitkan di dalamnya kehidupan dengan perintah-Nya sehingga ia mampu bangkit dan duduk di tempatnya dan memperhatikan dengan kedua matanya apa yang terjadi di sekelilingnya.

Uzair as bangun dari kematian yang dijalaninya selama seratus tahun. Matanya mulai memandang apa yang ada di sekelilingnya lalu ia melihat kuburan di sekitarnya. Ia mengingat-ingat bahwa ia telah tertidur. Ia kembali dari kebunnya ke desa lalu tertidur di kuburan itu. Inilah peristiwa yang dialaminya. Matahari bersiap-siap untuk tenggelam sementara ia masih tertidur di waktu Dzuhur. Uzair as berkata dalam dirinya: Aku tertidur cukup lama. Barangkali sejak Dzuhur sampai Maghrib. Malaikat yang diutus oleh Allah SWT membangunkannya dan bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Malaikat bertanya kepadanya: “Berapa jam engkau tidur?” Uzair menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Malaikat vang mulia itu berkata kepadanya: “Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. ” Engkau tidur selama seratus tahun. Allah SWT mematikanmu lalu menghidupkanmu agar engkau mengetahui jawaban dari pertanyaanmu ketika engkau merasa heran dari kebangkitan yang dialami oleh orang-orang yang mati. Uzair as merasakan keheranan yang luar biasa sehingga tumbuhlah keimanan pada dirinya terhadap kekuasaanal-Khaliq (Sang Pencipta). Malaikat berkata sambil menunjuk makanan Uzair: “Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah.”

Uzair melihat buah tin itu lalu ia mendapatinya seperti semula di mana warnanya tidak berubah dan rasanya pun tidak berubah. Telah berlalu seratus tahun tetapi bagaimana mungkin makanan itu tidak berubah? Lalu Uzair as melihat piring yang di situ ia memeras buah anggur dan meletakkan di dalamnya roti yang kering, dan ia mendapatinya seperti semula di mana minuman anggur itu masih layak untuk diminum dan roti pun masih tampak seperti semula, di mana kerasnya dan keringnya roti itu dapat dihilangkan ketika dicampur dengan perasan anggur. Uzair as merasakan keheranan yang luar biasa, bagaimana mungkin seratus tahun terjadi sementara perasan anggur itu tetap seperti semula dan tidak berubah. Malaikat merasa bahwa seakan-akan Uzair masih belum percaya atas apa yang dikatakannya. Karena itu, malaikat menunjuk keledainya sambil berkata: “Dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang).”

Uzair as pun melihat ke keledainya tetapi ia tidak mendapati kecuali ia tanah dari tulang-tulang keledainya. Malaikat berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin melihat bagaimana Allah SWT membangkitkan orang-orang yang mati? Lihatlah ke tanah yang di situ terletak keledaimu.” Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu lalu atom-atom tanah itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai berkumpul dan bergerak dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang. Malaikat memerintakan otot-otot syaraf daging untuk bersatu sehingga daging melekat pada tulang-tulang keledai. Sementara itu, Uzair as memperhatikan semua proses itu. Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan rambut.

Alhasil, keledai itu kembali seperti semula setelah menjalani kematian. Malaikat memerintahkan agar roh keledai itu kembali kepadanya dan keledai pun bangkit dan berdiri. Ia mulai mengangkat ekornya dan bersuara. Uzair as menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT tersebut terjadi di depannya. Ia melihat bagaimana mukjizat Allah SWT yang berupa kebangkitan orang-orang yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah. Setelah melihat mukjizat yang terjadi di depannya, Uzair as berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. “

Uzair as bangkit dan menunggangi keledainya menuju desanya. Allah SWT berkehendak untuk menjadikan Uzair as sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya kepada masyarakat dan mukjizat yang hidup yang menjadi saksi atas kebenaran kebangkitan dan hari kiamat. Uzair memasuki desanya pada waktu Maghrib. Ia tidak percaya melihat perubahan yang terjadi di desanya di mana rumah-rumah dan jalan-jalan sudah berubah, begitu juga manusia dan anak-anak yang ditemuinya. Tak seorang pun di situ yang mengenalinya. Sebaliknya, ia pun tidak mengenali mereka. Uzair as meninggalkan desanya saat beliau berusia empat puluh tahun dan kembali kepadanya dan usianya masih empat puluh tahun. Tetapi desanya sudah menjalani waktu seratus tahun sehingga rumah-rumah telah hancur dan jalan-jalan pun telah berubah dan wajah-wajah baru menghiasi tempat itu.

Uzair berkata dalam dirinya: Aku akan mencari seorang lelaki tua atau perempuan tua yang masih mengingat aku. Uzair as terus mencari sehingga ia menemukan pembantunya yang ditinggalnya saat berusia dua puluh tahun. Kini, usia pembantu itu mencapai seratus dua puluh tahun di mana kekuatannya sudah sangat merosot dan giginya sudah ompong dan matanya sudah lemah. Uzair as bertanya kepadanya: “Wahai perempuan yang baik, di mana rumah Uzair as.” Wanita itu menangis dan berkata: “Tak seorang pun yang mengingatnya. Ia telah keluar sejak seratus tahun dan tidak kembali lagi. Semoga Allah SWT merahmatinya.” Uzair as berkata kepada wanita itu: “Sungguh aku adalah Uzair as. Tidakkah engkau mengenal aku? Allah SWT telah mematikan aku selama seratus tahun dan telah membangkitkan aku dari kematian.” Wanita itu keheranan dan tidak mempercayai omongan itu. Wanita itu berkata: “Uzair as adalah seseorang yang doanya dikabulkan. Kalau kamu memang Uzair as, maka berdoalah kepada Allah SWT agar aku dapat melihat sehingga aku dapat berjalan dan mengenalmu.” Lalu Uzair as berdoa untuk wanita itu sehingga Allah SWT mengembalikan penglihatan matanya dan kekuatannya. Wanita itu pun mengenali Uzair as. Lalu ia segera berlari di negeri itu dan berteriak: “Sungguh Uzair as telah kembali.” Mendengar teriakan wanita itu, masyarakat bingung dan merasa heran. Mereka mengira bahwa wanita itu telah gila.

Kemudian diadakan pertemuan yang dihadiri orang-orang pandai dan para ulama. Dalam majelis itu juga dihadiri oleh cucu Uzair as di mana ayahnya telah meninggal dan si cucu itu telah berusia tujuh puluh tahun sedangkan kakeknya, Uzair as, masih berusia empat puluh tahun. Di majelis itu mereka rnendengarkan kisah Uzair as lalu mereka tidak mengetahui apakah mereka akan mempercayainya atau mengingkarinya. Salah seorang yang pandai bertanya kepada Uzair as: “Kami mendengar dari ayah-ayah kami dan kakek-kakek kami bahwa Uzair as adalah seorang Nabi dan ia mampu menghafal Taurat. Sungguh Taurat telah hilang dari kita dalam peperangan Bukhtunnashr di mana mereka membakarnya dan membunuh para ulama dan para pembaca Kitab suci itu. Ini terjadi seratus tahun lalu yang engkau katakan bahwa engkau menjalani kematian atau engkau tidur. Seandainya engkau menghafal Taurat, niscaya kami akan percaya bahwa engkau adalah Uzair as.”

Uzair mengetahui bahwa tak seorang pun dari Bani Israil yang mampu menghafal Taurat. Uzair as telah menyembunyikan Taurat itu dari usaha musuh untuk menghancurkannya. Uzair as duduk di bawah naungan pohon sedangkan Bani Israil berada di sekitarnya. Lalu Uzair as menghapusnya huruf demi huruf sampai selesai lalu ia berkata dalam dirinya: Aku sekarang akan mengeluarkan Taurat yang telah aku simpan. Uzair as pergi ke suatu tempat lalu ia mengeluarkan Taurat di mana kertas yang terisi Taurat itu telah rusak. Ia mengetahui mengapa Allah SWT mematikannya selama seratus tahun dan membangkitkannya kembali. Kemudian tersebarlah berita tentang mukjizat Uzair as di tengah-tengah Bani Israil. Mukjizat tersebut membawa fitnah yang besar bagi kaumnya. Sebagian kaumnya mengklaim bahwa Uzair as adalah anak Allah. Allah SWT berfirman:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah’” (al Qur’an Surah al-Baqarah ayat 30). Mula-mula mereka membandingkan antara Musa as dan Uzair as dan mereka berkata: “Musa tidak mampu mendatangkan Taurat kepada kita kecuali di dalam kitab sedangkan Uzair as mampu mendatangkannya tanpa melalui kitab.” Setelah perbandingan yang salah ini, mereka menyimpulkan sesuatu yang keliru di mana mereka menisbatkan kepada nabi mereka hal yang sangat tidak benar. Mereka mengklaim bahwa dia adalah anak Tuhan. Maha Suci Allah dari semua itu: “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia” (al Qur’an Surah Maryam ayat 35)

Maria dalam al Qur’an

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam as Produksi Republik Islam Iran)

Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup sepoi-sepoi di sekitar pepohonan. Harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam. Bau itu menembus jendela mihrab dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis perawan yang khusuk dalam salat tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahwa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan salatnya dengan khusuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.

Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam ingat bahwa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar mesjid. Maryam menyelesaikan salatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:

“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Di tempat itu tidak terdapat cermin sehingga ia tidak dapat melihat perubahan itu. Tetapi ia merasa bahwa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Beliau menyadari bahwa ia sedang gugup. Beliau merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam ruhnya. Perasaan yang demikian ini justru membangkitkan kerendahan hatinya. Maryam mengetahui bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahwa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku” (QS. Ali ‘Imran: 43)

Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan kekhusukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada Allah SWT. Maryam lupa terhadap pohon mawar dan beliau kembali salat. Maryam merasakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat ini.

Matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah bangkit sedangkan bulan duduk di atas singgasananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam salatnya. Beliau menyelesaikan salatnya dan teringat pohon mawar itu lalu beliau membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.

Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari mesjid yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan salat di dalamnya atau beribadah. Maryam mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya. lalu beliau meletakkan bejana, kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.

Tiba-tiba, Maryam mendengar suara derap kaki yang mengguncang bumi. Beliau tidak mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi beliau mendengar suara kaki yang menetap di atas batu serta pasir. Maryam merasakan ketakutan. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun. Kemudian kedua matanya mulai berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang asing itu, dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di mana dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan.

Pandangan pertama yang dilihat oleh Maryam kepada orang itu mengisyaratkan, bahwa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini? Kemudian seakan-akan orang asing itu membaca pikiran Maryam dan berkata: “Salam kepadamu wahai Maryam.” Maryam dibuat terkejut mendengar adanya suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa” (QS. Maryam: 18)

Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, “Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?” Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam: 19)

Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu.” Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang telah berubah wujud menjadi manusia.

Maryam mengangkat kepalanya dengan gemetar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahwa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan bahwa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat bahwa dirinya adalah seorang perawan yang belum tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan. Pikiran-pikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:

“Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)

Jibril as berkata: “Demikianlah Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputushan”‘ (QS. Maryam: 21)

Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahwa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada pria dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.

Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu, tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran searang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (QS. Ali ‘Imran: 45-46)

Keheranan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu di perutnya ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia menhetahui bahwa anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Maryam. Lalu cahaya tersebut ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.

Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam salat yang khusuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini, Maryam tidak lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan ruh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Maryam di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi musim. Maryam heran melihat hal itu. Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya kemarin, yaitu bagaimana kejadian saat menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak. Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan ini. Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: “Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.”

Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeda dengan kandungan umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik. Datanglah bulan yang kesembilan. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.

Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun karena saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.

Tak seorang pun yang mengetahui Maryam bahwa sedang hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahwa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan” (QS. Maryam: 23)

Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain yang segera menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahwa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya. Maryam berpikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu rnelihat seorang manusia, maka katakantah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’” (QS. Maryam: 24-26)

Atsar dan Keramat Abul Fadhl Abbas

Iranian Military Parade

(Foto: Iran Military Parade)

“Di sebuah tenda seorang memuji dan menyeru Tuhannya,
Seorang anak kecil dengan bibir kehausan menyeru Tuhannya.
Oh tangan! Mengapa? Mengapa engkau jatuh dari tuanmu,
Serombongan kafilah kehausan hanya menginginkanmu”.

Almarhum hujjatul Islam Wal Muslimin Syeikh Aga Rabbani Khalhali menulis dalam sebuah buku yang berjudul Cehreye derakhsyan Qamare Bani Hasyim Abu Fadel Abbas as (wajah rembulan cerah Bani Hasyim) jilid dua halaman 422:

Seorang ulama Arif Hujjatul Islam Wal Muslimin Syeikh Aga Sayyid Murtadha Mujtahidi Sistani adalah seorang ustad pengajar di hawzah ilmiah Qom, Iran, pada hari-hari Fatimiah (hari syahadah dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra as) pada tahun 1418 Hijriah Qamariah menulis bahwa, Almarhum Salalah Al-Atyab Aga Haji Sayyid Abbas Reisi adalah salah seorang dari pelayan dan pembantu di haram Imam Ridha as yang baru-baru ini berpulang ke rahmatullah, dua tahun yang lalu di masa beliau mendapat mukasyafah bertemu dengan Abu Fadel Abbas as –dan ia mendapat syafaat kesembuhan penyakitnya dari beliau.

Aga haji Sayyid Abbas Reisi mengatakan bahwa pada musim dingin beberapa tahun yang lalu di suatu hari yang penuh dengan salju, beliau terjatuh di tanah dan tulang kaki bagian atasnya patah. Beberapa waktu beliau berbaring di rumah sakit, dan setelah itu beliau dibawa ke rumah seorang anak laki-lakinya yang bernama Sayyid Ali Akbar Reisi dan beliau dirawat di rumah anaknya tersebut. Akan tetapi dikarenakan oleh umur yang memang sudah tua beliau, tidak sembuh dari sakit yang beliau alami hingga tiba suatu hari di mana beliau tertidur di rumah anaknya, di mana dalam tidur itu beliau bermimpi bertemu dengan Abu Fadel Abbas dan dia sedang menunggangi kuda dan masuk ke halaman rumah yang ia tempati tepat berhadapan dengan kamar yang ia tempati saat tidur, setelah itu Abu Fadel Abbas melihat kepada pelayan tua itu, Aga Haji Sayyid Abbas Reisi, dan tersenyum kepada beliau, kemudian pergi.

Setelah saat itu, Kimia Atzar (elexir of effect), sementara umur dari Aga Haji Sayyid Abbas Reisi yang sudah sangat tua itu dengan umur yang lewat dari delapan puluh tahun, sembuh dari penyakit beliau dan beliau dapat lagi berjalan seperti semula. Pandangan yang dapat memberikan kehidupan bagi yang telah mati, dari keselamatan yang diperoleh dari tulang yang patah bukanlah sesuatu yang tak bisa.

“Serombongan kafilah dalam kehausan
Di sebuah tenda seorang memuji dan menyeru Tuhannya,
Seorang anak kecil dengan bibir kehausan menyeru Tuhannya.
Oh tangan! Mengapa? Mengapa engkau jatuh dari tuanmu,
Serombongan kafilah kehausan hanya menginginkanmu”.

Militer Iran Sanggup Perang Cyber Tingkat Tinggi

New Iranian military trucks vehicles

Oleh Marsda TNI Prayitno Ramelan (Analis militer dan pertahanan)

Televisi Iran pada hari Kamis (8/12) telah memublikasikan sebuah pesawat pengintai tak berawak yang disebutkan milik Amerika Serikat dan telah telah berhasil mereka kuasai. Pesawat yang dipamerkan sangat mirip dan dikenali sebagai salah satu jenis pengintai AS yang sangat dirahasiakan, RQ-170 Sentinel. Selama ini pesawat tersebut beroperasi di kawasan Afghanistan dan Pakistan. Operasinya dikendalikan oleh CIA.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah Iran kemudian memanggil Duta Besar Swiss yang mewakili AS di Iran, (Iran tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan AS, Swiss yang mewakili kepentingan AS di Iran). Iran mengajukan protes bahwa telah terjadi pelanggaran wilayah dan upaya memata-matai negaranya. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan rasa tidak senangnya kepada Duta Besar Afghanistan di Iran atas terjadinya pelanggaran wilayah udara dari pesawat terbang yang jauh ke wilayah Iran.

Para pejabat Iran mengatakan bahwa pesawat itu terdeteksi di dekat kota Kashmar, 140 mil dari perbatasan Afghanistan, dan kemudian ditembak jatuh atau dipaksa turun (force down) karena sistem kontrol yang telah hacked dengan sebuah serangan cyber oleh militer Iran. Dikuasainya pesawat ini masih mengundang tanda tanya, karena Sentinel adalah pesawat siluman, tidak terdeteksi oleh radar. Kemungkinan terbesar, militer Iran memiliki kemampuan serupa, sehingga mampu melancarkan serangan Cyber dan memaksa/menuntunnya landing.

Menurut seorang pejabat Afghanistan, pesawat itu diterbangkan dari pangkalan bersama Amerika dan Afghanistan di Shindand di bagian barat Provinsi Herat. Para pejabat Amerika memang telah mengakui kehilangan sebuah RQ-170, pesawat siluman (teknologi stealth) tak berawak yang dibuat oleh Lockheed Martin. RQ-170 dirancang untuk terbang dalam misi rahasia untuk mengumpulkan informasi di wilayah lawan. Menanggapi pemberitaan televisi Iran tersebut, pemerintah AS tidak menolak untuk mengkonfirmasi ataupun menyangkal bahwa itu adalah pesawat mereka yang hilang.

Pengintaian udara oleh RQ-170 ke wilayah Iran nampaknya berkait dengan kekhawatiran AS terhadap program nuklir Iran yang terus berkembang, bahkan ada kekhawatiran Iran mampu membuat senjata nuklir. Dalam pidatonya baru-baru, penasihat keamanan nasional Presiden Obama, Tom Donilon, mengisyaratkan sebuah upaya rahasia Amerika Serikat untuk mengawasi program nuklir Iran . “Kami akan terus waspada,” kata Donilon bulan lalu di Brookings Institution. “Kami akan bekerja lebih giat untuk mendeteksi upaya-upaya baru yang berkait dengan nuklir Iran. Kami akan mengekspos mereka dan memaksa Iran untuk menempatkannya di bawah inspeksi internasional,” tegas Dillon.

Rq-170 kini menjadi bahan diskusi banyak pihak, pemerintah AS sangat khawatir teknologi stealth dan khususnya radar RQ-170 akan bocor kepihak lain, karena teknologinya jauh diatas radar terbaik baik dari China maupun Rusia. Sentinel, yang bisa terbang pada ketinggian 50.000 kaki, dianggap penting untuk operasi intelijen udara. Sementara satelit surveillance yang terus mengorbit hanya dapat mengamati sebuah lokasi hanya beberapa menit pada suatu waktu. Kehebatan RQ-170, bisa berkeliaran selama berjam-jam, mengirimkan gambar video. Dapat memberikan petunjuk penting untuk sifat pekerjaan yang dilakukan, peralatan yang digunakan dan ukuran lainnya.

John Pike, pakar teknologi militer di situs GlobalSecurity.org mengatakan, “Jika hanya untuk melihat target diam seperti batu bata dan mortir, satelit jauh lebih baik. Tetapi jika kita ingin melihat apa yang dilakukan orang sepanjang hari, pesawat tak berawak jauh lebih baik.” Selain dengan kamera video, pesawat hampir dipastikan membawa peralatan komunikasi untuk menyadap, serta dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi sejumlah kecil isotop radioaktif dan bahan kimia lainnya yang dapat memberikan petunjuk adanya kegiatan penelitian nuklir.

Demikian pentingnya pesawat dengan klasifikasi sangat rahasia tersebut. Kini kekuatan udara telah merubah cara serta strategi Amerika dalam berperang. Serangan pesawat tak berawak dibawah kendali CIA jauh lebih banyak dilakukan oleh pemerintahan Presiden Barack Obama dibandingkan era pemerintahan Presiden George W. Bush. Pentagon kini memiliki sekitar 7000 pesawat udara, dan pemerintah telah meminta Kongres anggaran sebesar hampir US$ 5 miliar untuk penambahan pesawat pada tahun 2012. Pesawat pengintai sekaligus penyerang tak berawak tersebut sangat efektif untuk operasi anti gerilya, terorisme dan surveillance lainnya.

Lebih dari 1.900 gerilyawan di daerah suku Pakistan telah tewas oleh pesawat Amerika sejak tahun 2006, demikian dikatakan situs longwarjournal.com. Ahli etika militer mengakui bahwa pesawat tanpa awak dapat mengubah perang menjadi sebuah permainan video. Kelebihannya, tidak ada seorangpun warga Amerika yang beresiko menjadi korban dari perang itu sendiri. Inilah kelebihan sebuah operasi udara tanpa awak.

Pesawat mata-mata tanpa awak pertama yang dibuat AS adalah Predator. Pertama kali digunakan di Bosnia dan Kosovo pada 1990-an, dikendalikan oleh Angkatan Udara, dengan kegagalan yang hampir mencapai 30 persen, teknologinya terus disempurnakan. Sejak serangan 11 September, Angkatan Udara terus meningkatkan operasi pengintaian intelijen udara. Pengawasan dan pengintaian tercatat naik hingga 3.100 persen, sebagian besar dalam operasi udara pesawat tanpa awak. Setiap hari, Angkatan Udara memproses hampir 1.500 jam full-motion video dan sekitar 1.500 gambar statis, sebagian besar hasilnya berasal dari pesawat Predator dan Reaper didaerah operasinya di Irak, Afghanistan dan Pakistan.

Pesawat-pesawat pengintai tanpa awak selain RQ-170 dan Predator, yang juga terkenal adalah Reaper, yang lebih besar dan Shadow yang lebih kecil. Semua diterbangkan dengan pilot yang menggunakan remote, menggunakan joystick dan layar komputer, dioperasikan kebanyakan dari pangkalan militer Amerika Serikat. Versi pesawat tanpa awak dari Angkatan Laut adalah X-47b, prototipe yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat dari kapal induk secara otomatis. Pesawat ini berkemampuan membawa dan menyerang dengan bom. Selain itu, operasi pengintaian intelijen udara juga dilakukan oleh Global Hawk yang lebih besar. Pesawat ini digunakan untuk mengawasi kegiatan nuklir Korea Utara.

Dikuasainya RQ-170 milik CIA tersebut oleh militer Iran jelas membuat pemerintah AS khawatir, karena Rusia dan China telah mengajukan dan meminta akses ke pemerintah Iran untuk ikut memeriksa dan jelas akan menyalin teknologinya. Nampaknya beberapa negara besar saling memodernisir kepemilikan pesawat tanpa awak dengan teknologi tinggi, terutama untuk kegiatan surveillance. Intelijen perlu mengetahui tentang lawan jauh dibelakang palagan tempur, tentang kekuatan, kemampuan, kerawanan dan niatnya. Pesawat tanpa awak dengan teknologi tinggi inilah alutsista yang tepat digunakan.

Pesawat tanpa awak tersebut telah membuktikan keunggulannya dalam beberapa operasi intelijen baik dalam operasi penyelidikan maupun penyerangan. Pesawat berhasil membunuh beberapa tokoh kelas atas Al-Qaeda, Taliban dan Haqqani di Afghanistan dan Pakistan serta tokoh Al-Qaeda diYaman. Juga diketahui RQ-170 berperan menyelidiki dan mendeteksi keberadaan Osama bin Laden di Abottabat dengan akurasi tinggi sebelum dilakukan ambush oleh Navy SEALs Six Team. Kejatuhan hingga terbunuhnya Kolonel Khadafi juga tidak lepas dari peran besar pesawat tanpa awak.

Kini kekhawatiran AS secara khusus ditujukan kepada Korea Utara dan Iran yang terus dimonitor kepemilikan senjata nuklirnya. Kedua negara tersebut dikenal nekat dan radikal, memusuhi AS serta tidak mengenal takut. AS sadar bahwa sebuah serangan nuklir akan sangat menghancurkan dan tidak mempunyai toleransi sedikitpun. Apabila Iran pada saatnya nanti diketahui memiliki kemampuan menyerang dengan peluru kendali nuklir dan aksinya membahayakan, bisa diperkirakan AS dan sekutunya akan melakukan operasi semacam di Libya. Serangan udara yang akan menjadi pilihan terbaiknya.

Tetapi, dengan terjadinya kasus force down terhadap RQ-170 di Iran, nampaknya CIA harus lebih waspada dan berhati-hati, karena ternyata militer Iran mempunyai kemampuan melakukan serangan cyber terhadap pesawat rahasianya RQ-170. Ataukah kembali AS telah berhasil diinfiltrasi oleh para spion? Mungkin saja.

Islam, Iran, dan Sains

Iran Military Parade in Hormuz

Dalam peringatan 30 tahun paska Revolusi Iran tahun 1979 silam, sebagaimana diberitakan Royal Society Report tahun 2011, Reuters, Social Sciences Citation Index (SCI), Science-Metrix, dan MoSRT, perkembangan Sains di Iran tercepat di dunia dan menempati peringkat 16 di level negara maju.

Situs-situs tersebut menyatakan bahwa Iran mengalahkan negara-negara maju seperti Swiss, Rusia, Austria, Denmark. Dalam hal ini, Iran berada pada posisi kelima setelah China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Iran juga mengungguli semua negara regional (di kawasan Teluk Persia) termasuk Turki dan teratas di dunia Islam dalam capaian Ilmiah.

Lalu apa hubungannya antara Islam, Iran, dan sains sebagaimana dimaksudkan tulisan ini? Islam kan berpandangan tauhid? Persis, dalam Islam, sains tidak bisa lepas dari pandangan tauhid termasuk etika alias moralitas. Akan terjadi split personality pada seorang saintis muslim jika masih melihat konflik relasi agama dengan sains, yang mengakibatkan agama menjadi sekuler (seperti terjadi pada kalangan muslim neoliberal ciptaan Amerika di Indonesia yang kehilangan identitas dan kepercayaan diri mereka kepada Islam, sementara di saat lain, kelompok Wahabi pun tak lebih pion Israel dan Amerika karena para majikan dan para tokoh mereka dikendalikan Israel dan Amerika).

Nah, dalam hal demikian lah, dibutuhkan bingkai cara berpikir bahwa mengembangkan sains bagian dari tugas agama. Ibn Haitham, Ar Razi memandang tugas sains itu sebagai tugas agama. Mengkaji alam pada akhirnya juga membaca manifestasi dan kebesaran Tuhan.

Kita lihat di Iran, setidaknya ada indikasi kuat yang mengarah ke hal yang demikian. Sains berkembang di Iran. Informasi ini menjadi penting, karena biasanya kita hanya mendapat informasi tentang Iran dari sisi Revolusi dan Teologi, dan kita jarang melihat dari sisi Sains-nya.

Dan perlu ditegaskan sekali lagi, kita melihat hal ini dari sisi holistik, pengembangan sains itu menjadi bagian dari perjuangan mandiri sebagai bangsa. Penguasaan sains menjadi elemen niscaya menjadi bangsa yang mandiri. Tuntutan agama Islam itu kan menjadi bangsa yang mandiri, tidak hanya semangat jihad khilafah yang justru menjelma kejahatan itu, sembari tidak memperjuangkan jihad ilmu dan sains.

Bagi muslim yang ingin maju, sains justru menjadi elemen penting –di mana penguasaan sains itu sendiri bagi Muslim Syi’ah Iran merupakan tuntutan agama. Islam secara fitrah menuntut mengembangkan semua potensi termasuk Sains. Cara berpikir monokausal itu melihat, hanya karena faktor kejepit Iran maju, atau hanya karena faktor Revolusi, sains berkembang pesat, atau hanya melihat faktor Iran punya modal budaya sejarah Sains.

Harusnya kita pakai berpikir both and, menerima banyak faktor kondisional, contohnya: kertas, udara, api itu elemen-elemen penyebab kertas terbakar. Sains maju di Iran, karena kombinasi, faktor Revolusi, faktor “kejepit”, faktor modal sejarah Sains, faktor tersedianya infrastruktur budaya dan sosio religi –yang dalam hal ini haruslah diakui bersumber dari spirit Syi’ah Iran.

Di sinilah, Sayid Ali Khamenei seringkali menyampaikan pesan tentang pentingnya jihad ilmu –tidak seperti kaum Wahabi yang memahami jihad hanya sebagai memerangi manusia atau memerangi non muslim.

Contoh lainnya adalah fatwa ulama Iran tentang kloning telah menjadikan ilmu kloning berkembang pesat di Iran. Kalau teologinya tidak rasional itu nanti jadi penghambat kemajuan Sains –seperti kondisi muslim kebanyakan dan apalagi di negeri Indonesia, yang meski pahit haruslah kita akui masih tertinggal dalam pencapaian sains. Alih-alih sejumlah kelompok muslim Indonesia malah menjadi muslim neoliberal karbitan Amerika dan jadi pelayan kepentingan Amerika serta kehilangan kemandirian.

Begitu pun, yang juga tak dapat diingkari, Fenomena Nuklir Iran yang sudah beberapa tahun ini menjadi headline berita-berita dunia, dengan sendiri menjadi fondasi utama berbagai kemajuan para ilmuwan dalam negeri Iran. Dalam hal ini, berbagai kemajuan dan aneka prestasi Iran selama tiga dekade ini, sesekali dipamerkan juga ke dunia internasional. Keberhasilan di bidang nuklir ini tentu juga merupakan salah satu indikator kemajuan sains di negara tersebut. Namun ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap obyektif, mereka masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuwan Iran.

Tak ketinggalan pula, para saintis di bidang teknologi nano pun mengalami kemajuan pesat, sehingga teknologi yang rumit ini sekarang sudah banyak membantu menciptakan berbagai komoditas alias produk-produk tekhnologi –utamanya kesehatan. Kemudian di bidang lainnya, saintis Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuwan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca tersebut.

Tak ragu lagi, prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca tersebut.

Sementara itu, di bidang kedokteran ada penciptaan obat IMOD yang berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh menghadapi virus AIDS. Sebagaimana diberitakan situs-situs sains dan kedokteran, keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia.

Beberapa waktu silam, misalnya, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, dimana obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi.

Tentu juga dalam bidang pertahahan, yang belakan semakin digalakkan karena kebutuhan defense alias pertahanan diri, di mana Iran pun sudah menerima alokasi berbagai kreasi saintis dalam negeri Iran, dari pesawat tak berawak, kapal selam, berbagai jenis rudal, tank-tank perang, pesawat tempur, yang kesemuanya diciptakan oleh sebagian sebagian besar ilmuwan Iran.

Begitu pun di bidang robotik, Iran juga tidak ketinggalan dengan Jepang dan Barat. Kemudian teknologi Roket dan Satelit juga ikut andil dalam memajukan Iran.

Mendapati perkembangan yang demikian, Amerika dan kawan-kawan pun semakin jengkel dengan kemajuan Iran tersebut, sampai kemudian muncul sanksi PBB yang disetujui Barat, Eropa, dan mayoritas anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (mayoritas anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB ini diduga karena ditekan Barat agar mendukung sanksi anti-Iran).

Namun, seperti kita lihat, Iran tetap tegak dan bahkan semakin tegak, sekaligus bermartabat. Dari madrasah manakah bangsa Iran ini belajar? Tak lain dari Madrasah Karbala Imam Husain ‘alayhis-salam.

Mahmoud Ahmadinejad Tekhnologi Militer Republik Islam Iran Iran Warships Iran Marines Iran Navy Iran Airforce

"Diari Sulaiman Djaya"