Arsip Tag: Al-Qur’an

Ketika Engkau Terjaga

fragmen-sulaiman-djaya

“Di waktu-waktu sorehari puluhan tahun silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan”

Bagi banyak orang, terutama orang-orang kota, Januari tentu saja adalah bulan keriangan, pesta, dan perayaan yang hingar-bingar, tentu bagi mereka yang menyambut dan merayakannya. Tapi itu tidak sama dengan kami. Sejujurnya kami tak pernah tahu bila ada orang-orang yang menyalakan kembang api di tengah malam di ujung bulan Desember. Saya hanya tahu bahwa di saat saya terbangun pagi-pagi sekali di awal bulan itu, saya hanya keluar sejenak. Mungkin ketika itu saya terpesona, meski masih seorang kanak-kanak, saat tangan-tangan fajar menyentuh rumput dan daun-daun yang masih basah karena embun. Menyentuh hidup.

Itulah saat-saat saya sungguh-sungguh terjaga, entah saya duduk atau berdiri kala itu. Mengelanakan kedua mata ke arah cuaca. Sementara, ketika saya telah menjadi seorang lelaki remaja, di pagi-pagi seperti itu saya akan menyeduh segelas kopi dari bubuk kopi buatan Ibu, agar sedikit merasa nyaman saat duduk di gubuk, menunggu burung-burung Januari yang kami khawatirkan akan datang menyerbu.

Pada saat-saat seperti itulah, saya sadar bahwa ada yang tengah termenung, ada yang begitu riang berlarian seperti kanak-kanak yang bahagia. Juga, ada yang tengah merapihkan diri dan ada yang bermain-main saja –seperti kanak-kanak atau para bocah yang belum mengenal kejahatan dan tipu daya yang menyakitkan, atau pengkhianatan yang telah membuat sejarah menjadi arena pertumpahan darah.

Itu semua saya namakan sebagai tangan-tangan fajar yang riang bermain dan bercanda dengan burung-burung awal bulan Januari yang basah dan lembab saat saya tengah terduduk di sebuah gubuk tempat saya termenung dan menunggu. Itulah keriangan Januari yang kami pahami dan kami alami. Keriangan yang juga datang ketika kami meninggalkan tahun sebelumnya, meski saya kira, ketika itu segala sesuatunya masih tetap sama dan tidak berubah. Ketika kami menjalani hidup dengan menginjakkan kaki-kaki kami di lumpur dan meremas batang-batang padi ketika memukul-mukulkan ujung-ujung pohonnya yang bergelantungan bijian-bijian berwarna kuning pada sebuah alat yang kami sebut gelebotan. Setelahnya, seperti biasa, ada keheningan senjakala.

Burung-burung Januari saat itu, seperti sebuah karnaval yang melintasi bentangan kanvas-kanvas langit dan cakrawala yang berwarna kuning dan merah. Di hari-hari yang lain, bila kami telah selesai membantu orang tua-orang tua kami itu, kami akan bermain layang-layang hingga adzan magrib berkumandang. Dan pada malam harinya, selepas sembahyang magrib itu, kami akan membawa lampu minyak milik kami masing-masing menuju sebuah langgar tempat kami belajar Al-Qur’an kepada ustadz kami yang terbilang galak.

Seperti itulah rutinitas kami sebagai kanak-kanak sebelum akhirnya saya belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah, juga bertemankan semungil nyala lampu minyak yang telah dinyalakan Ibu jelang magrib. Tidak seperti sekarang ini, musik-musik malam saya ketika itu adalah desau angin yang datang dari ranting-ranting dan sela-sela dedaunan sepanjang sungai, juga para katak dan serangga yang tak bosan-bosan memainkan orkhestra mereka dengan riang gembira, namun anehnya semakin menambah kesunyian.

Memang, saya tak sepenuhnya mengerti apa yang saya sebut sebagai ingatan. Tetapi, dengan keterserakannya, dengan potongan-potongan dan serpihan-serpihannya, mereka justru memberikan kesempatan dan kebebasan pada seseorang untuk mengumpulkannya dan merangkainya menjadi sebuah narasi yang tidak mesti sama dengan peristiwa-peristiwa sesungguhnya. Saya tergoda untuk menyebutnya sebagai historiografi angan-angan, karena mereka semua tak lebih sejumlah jejak yang samar. Ketika sebuah tulisan yang ingin menceritakannya tak ubahnya warna-warna pada sebuah kanvas.

Historiografi angan-angan itu dituliskan dan digambar dari keakraban dan keintiman, yang adakalanya bsosan dan adakalanya riang, dengan cuaca, angin, cahaya, tanah, dan sudut-sudut langit yang pernah kita tinggali dan kita akrabi dengan bathin kita. Seperti ketika Giovanni Segantini menggambar dan melukis Saint Moritz, dimana ia menumpahkan kerinduan dan kesepian bathinnya sebagai seorang lelaki. Atau, katakanlah, ingatan itu seperti ketika seseorang memandangi warna-warna dan figur-figur yang tercerai-berai di sudut-sudut kanvas, sobekan-sobekan cahaya yang justru memberi kesempatan pada kita untuk menyusun dan menambalnya dengan angan-angan kita sendiri.

Tetapi saya, kadang akan memahaminya seperti seorang perempuan belia yang merendam separuh tubuhnya di sebuah sungai di kala senja. Sebuah imajinasi impresionis yang menggoda khayalan saya demi mendapatkan penghiburan.

Entah ini tercela ataukah tidak, kadang-kadang saya mengumpamakan salah-satu pengalaman di masa kanak-kanak seperti salah-satu figur dalam lukisan impresionistik, di mana ketika saya menuliskannya tidak berarti saya menulis tentang diri saya sendiri, melainkan tentang ingatan itu sendiri. Atau biarlah saya umpamakan ingatan itu seperti sebuah samar figur di antara desir angin dan gemerisik lembut dedaunan. Atau seperti seorang bocah yang berjalan telanjang kaki sendirian di bawah barisan rindang pepohononan senjahari. Seorang bocah yang menyusuri setapak jalan sepanjang aliran sungai.

Namun yang pasti, di waktu-waktu sorehari puluhan tahun silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan.

Pada saat-saat seperti itu, mereka seakan-akan asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca. Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan. Dingin yang tentu saja meresap pada bulu-bulu mereka. Dan saya sendiri, ketika itu, duduk di bawah rimbun pepohonan bambu pinggir sungai kecil yang airnya mengaliri sawah-sawah. Anggaplah ketika itu, saya memang sudah jatuh cinta pada kebisuan dan kesenduan alam, yang pada akhirnya menggambar dan melukis kesenduan hidup itu sendiri. Kebisuan dan kesenduan yang memberi kedamaian yang aneh. Kedamaian yang merupakan keheningan musim yang basah dengan gerak-gerak yang samar dalam pandangan kedua mata saya sendiri sebagai seorang bocah yang hendak beranjak menjadi lelaki remaja.

Tentulah di saat-saat seperti itu, matahari sudah merasa terlambat untuk menampakkan diri. Di saat malam datang lebih awal. Kesunyian-kesunyian seperti itu pada akhirnya sangat berpengaruh pada keadaan bathin. Keadaan bathin yang mudah tersulut oleh kondisi-kondisi yang mendorong saya untuk mencipta dunia-dunia khayalan. Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dan saya sendiri, bila dilihat dari sudut pandang orang lain lagi, merupakan salah-satu figurnya. Katakanlah saya telah bersatu, atau paling tidak, telah menjadi bagian dari mereka. Sebagai seseorang yang turut mengambil bagian dalam keheningan itu sendiri.

Konon, kecendrungan-kecendrungan seperti itu sebenarnya merupakan salah-satu bentuk keterasingan dan pelarian karena kecewa dan rasa tak puas. Atau karena amarah yang terpendam. Amarah yang menyamarkan dirinya untuk menggandrungi keindahan. Semacam kegilaan yang lembut. Dan kalau pun ya, saya takkan menganggapnya sebagai persoalan atau pun masalah yang perlu disikapi dengan serius. Sebab jika pun itu semua benar, saya akan mengakuinya. Saya akan menerimanya sebagai sesuatu yang mungkin saja malah akan memberikan kebaikan-kebaikan tak terduga.

Dalam cuaca seperti itu, saya pun sebenarnya tak hanya memandangi capung-capung yang saya umpamakan sebagai para peri mungil yang tengah bergembira. Sesekali saya pun melihat juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang. Sementara itu, di malam hari, bila saya keluar dari rumah untuk memandangi bintang-bintang di langit, saya akan bertemu dengan kunang-kunang. Saya sangat mengagumi tubuh-tubuh mereka yang seperti lampu-lampu kecil yang bergerak dan beterbangan dengan cahaya-cahaya yang mereka tebarkan dari tubuh mereka kala itu.

Hanya saja, di saat saya telah menjadi seorang lelaki dewasa, saya hampir tak pernah melihat kunang-kunang masa kanak dan masa remaja saya itu. Kadang-kadang, ada kerinduan dalam hati yang terasa sangat kuat sekali untuk bisa kembali melihat mereka, binatang-binatang ciptaan Tuhan yang menurut saya sendiri termasuk dalam golongan binatang-binatang kecil paling indah. Makhluk-makhluk yang sampai saat ini saya golongkan sebagai makhluk-makhluk keluarga para peri mungil bersama dengan kupu-kupu dan para capung itu.

Saat itu, di masa-masa ketika angin ujung senja tak pernah sekalipun tidak datang ke pintu-pintu rumah kami, adzan berkumandang dalam cuaca basah, dan burung-burung telah bersembunyi di dahan-dahan, ranting-ranting atau di sarang-sarang mereka. Sedemikian akrabnya kami dengan adzan yang seakan memecahkan keheningan itu, kami juga jadi terbiasa berdoa dengan hasrat di hati kami masing-masing, yang kami tak pernah akan saling mengetahuinya satu sama lain. Namun yang pasti, kami sulit membedakan antara pasrah, berdoa atau berusaha bersikap sebagaimana layaknya orang-orang yang telah demikian akrab dengan kepolosan.

Dan kini, ternyata, saya akan menyebutnya sebagai kecerdasan jiwa kami yang tidak diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di kota-kota besar saat ini. Bersamaan adzan yang berkumandang dari sebuah speaker yang menggunakan tenaga accu di ujung senja itulah sebenarnya kami tengah belajar berkali-kali merenungi dan memahami waktu, meski saya belum menyadarinya ketika itu.

Mungkin saja ketika itu bukan hanya kami yang berdoa, tetapi burung-burung yang sama-sama menahan dingin selepas hujan seperti kami. Tapi itu hanya rekaan saya sebagai seorang kanak-kanak yang terjebak antara rasa bosan dan keheningan yang tak kami mengerti. Itulah sebenarnya saat-saat kami tengah mengakrabi musik yang samar-samar, dengan sejumlah komposisi yang tengah dimainkan angin, daun-daun basah, burung-burung dan yang lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Sebab di sana, para katak dan para serangga turut serta menjadi para penyanyi yang meramaikan dan menjelma pentas orkestra keheningan ketika itu. Kumandang adzan di ujung senja hanyalah overture-nya.

Saya akan menamai mereka semua sebagai keriangan yang tengah bertasbih dan memuji lembab. Juga, saya akan menamai mereka sebagai konsierto menjelang tidur, sebab mereka terus saja memainkan musik dan bernyanyi hingga menjelang tengah malam. Sementara itu, sesekali angin mempermainkan daun-daun hingga menjelma desau yang mengirimkan hembusan lembut ke arah jendela dan pintu-pintu rumah kami. Saya juga akan menamainya sebagai moment of compassion. Dengan musik-musik itulah jiwa kami menjadi cerdas dan jujur pada hidup, bukan dari khotbah-khotbah seperti sekarang ini. Tentu saja, ada banyak nama untuk itu semua, tapi saya akan lebih suka menyebutnya praying in solitude.

Dalam keheningan seperti itulah, kami sebenarnya tengah belajar bagaimana berdoa dengan tulus. Itu, tentu saja, jauh berbeda dengan khotbah-khotbah modern dan politis sekarang ini, yang telah mengaburkan batas individual jiwa, bahwa hati kami masing-masing ketika itu sebenarnya tetap tak terselami sebagai manusia yang mempercayai sesuatu yang kudus dan adikodrati. Namun, kepercayaan itulah yang membuat kami, orang-orang desa, menjadi manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tidak pernah berputus asa meski dalam kesahajaan kami yang serba terbatas. Saya akan menamainya sebagai kekuatan dan kecerdasan jiwa. Dan pada saat itulah, ada yang berubah dan ada yang tetap dan tidak berubah. (Sulaiman Djaya 2006)

Iklan

Ezra dalam al Qur’an

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

Hikmah ini adalah riwayat tentang Uzair as (Ezra) yang dihidupkan kembali oleh Tuhan setelah mati selama seratus tahun berdasarkan wahyu al Qur’an.

“Pada suatu hari, tampak cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa kehausan. Sementara itu, desa yang ditinggali oleh Uzair as hari itu tampak tenang karena sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktivitas di dalamnya. Uzair berpikir bahwa kebunnya butuh untuk di-airi. Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai dengan kuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya –lalu ia menjadi kota mati”

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’, maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama kamu tinggal di sini ?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Aku yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (al Qur’an Surah al-Baqarah ayat 259)

Dikatakan bahwa Uzair as adalah seorang Nabi dari nabi-nabi Bani Israil. Dia-lah yang menjaga Taurat, lalu terjadilah peristiwa yang sangat mengagumkan padanya. Allah SWT telah mematikannya selama seratus tahun kemudian ia dibangkitkan kembali. Selama Uzair as tidur satu abad penuh, terjadilah peperangan yang didalangi oleh Bakhtansir di mana ia membakar Taurat. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa kecuali yang dijaga oleh kaum lelaki. Mukjizat yang terjadi pada Nabi Uzair as adalah sumber fitnah yang luar biasa di tengah kaumnya.

Pada suatu hari, tampak bahwa cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa kehausan. Sementara itu, desa yang ditinggali oleh Uzair hari itu tampak tenang karena sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktivitas di dalamnya. Uzair berpikir bahwa kebunnya butuh untuk diairi. Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai dengan kuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya lalu ia menjadi kota mati.

Uzair as berpikir dalam hatinya bahwa pohon-pohon di kebunnya pasti merasakan kehausan lalu ia menetapkan untuk pergi memberinya minum. Hamba yang saleh dan salah seorang nabi dari Bani Israil ini pergi dari desanya. Matahari tampak masih baru memasuki waktu siang. Uzair as menunggang keledainya dan memulai perjalanannya. Beliau tetap berjalan hingga sampai di kebun. Beliau mengetahui bahwa pohon-pohonnya tampak kehausan dan tanahnya tampak terbelah dan kering. Uzair menyirami kebunnya dan ia memetik dari kebun itu buah tin (sebagian buah tin) dan mengambil pohon anggur. Beliau meletakkan buah tin di satu keranjang dan meletakkan buah anggur di keranjang yang lain. Kemudian ia kembali dari kebun sehingga keledai yang dibawanya berjalan di tengah-tengah terik matahari.

Di tengah-tengah perjalanan, Uzair berpikir tentang tugasnya yang harus dilakukan besok. Tugas pertama yang harus dilakukannya adalah mengeluarkan Taurat dari tempat persembunyiannya dan meletakkannya di tempat ibadah. Beliau berpikir untuk membawa makanan dan memikirkan tentang anaknya yang masih kecil, di mana beliau teringat oleh senyumannya yang manis, dan beliau pun terus berjalan dan semakin cepat. Beliau menginginkan keledainya untuk berjalan lebih cepat.

Lalu Uzair as sampai di suatu kuburan. Udara panas saat itu semakin menyengat dan keledai-nya tampak kepayahan. Tubuhnya diselimuti dengan keringat yang tampak menyala karena tertimpa sinar matahari. Keledai itu pun mulai memperlambat langkahnya ketika sampai di kuburan. Uzair as berkata kepada dirinya: Mungkin aku lebih baik berhenti sebentar untuk beristirahat, dan aku akan mengistirahatkan keledai. Lalu aku akan makan siang. Uzair as turun dari keledainya di salah satu kuburan yang rusak dan sepi. Semua desa itu menjadi kuburan yang hancur dan sunyi. Uzair mengeluarkan piring yang dibawanya dan duduk di suatu naungan. Ia mengikat keledai di suatu dinding, lalu ia mengeluarkan sebagian roti kering dan menaruhnya di sampingnya. Selanjutnya, ia memeras di piringnya anggur dan meletakkan roti yang kering itu di bawah perasan anggur. Uzair as menyandarkan punggungnya di dinding dan agak menjulurkan kakinya. Uzair as menunggu sampai roti itu tidak kering dan tidak keras.

Kemudian Uzair mulai mengamati keadaan di sekelilingnya dan tampak keheningan dan kehancuran meliputi tempat itu: rumah-rumah hancur berantakan dan tampak tiang-tiang pun akan hancur, pohon-pohon sedikit saja terdapat di tempat itu yang tampak akan mati karena kehausan, tulang-tulang yang mati yang dikuburkan di sana berubah menjadi tanah. Alhasil, keheningan menyeliputi tempat itu. Uzair as merasakan betapa kerasnya kehancuran di situ dan ia bertanya dalam dirinya sendiri: bagaimana Allah SWT menghidupkan semua ini setelah kematiannya? “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Uzair as bertanya: bagaimana Allah SWT menghidupkan tulang-tulang ini setelah kematiannya, di mana ia berubah menjadi sesuatu yang menyerupai tanah. Uzair as tidak meragukan bahwa Allah SWT mampu menghidupkan tulang-tulang ini, tetapi ia mengatakan yang demikian itu karena rasa heran dan kekaguman. Belum lama Uzair as mengatakan kalimatnya itu sehingga ia mati. Allah SWT mengutus malaikat maut padanya lalu rohnya dicabut sementara keledai yang dibawanya masih ada di tempatnya ketika melihat tuannya sudah tidak lagi berdaya. Keledai itu tetap di tempatnya sehingga matahari tenggelam lalu datanglah waktu Subuh. Keledai berusaha berpindah dari tempatnya tetapi ia terikat. Ia pun masih ada di tempatnya dan tidak bisa melepaskan ikatannya sehingga ia mati kelaparan.

Kemudian penduduk desa Uzair as merasa gelisah dan mereka ramai-ramai mencari Uzair as di kebunnya, tetapi di sana mereka tidak menemukannya. Mereka kembali ke desa dan tidak menemukannya. Lalu mereka menetapkan beberapa kelompok untuk mencarinya. Akhirnya, kelompok-kelompok ini mencari ke segala penjuru tetapi mereka tidak menemukan Uzair as dan tidak menemukan keledainya. Kelompok-kelompok ini melewati kuburan yang di situ Uzair as meninggal, namun mereka tidak berhenti di situ. Tampak bahwa di tempat itu hanya diliputi keheningan. Seandainya Uzair as ada di sana niscaya mereka akan mendengar suaranya. Kemudian kuburan yang hancur ini sangat menakutkan bagi mereka, karena itu mereka tidak mencari di dalamnya.

Lalu berlalulah hari demi hari, dan orang-orang putus asa dari mencari Uzair as, dan anak-anaknya merasa bahwa mereka tidak akan melihat Uzair as kedua kalinya dan istrinya mengetahui bahwa Uzair as tidak mampu lagi memelihara anaknya dan menuangkan rasa cintanya kepada mereka sehingga istrinya itu menangis lama sekali. Sesuai dengan perjalanan waktu, maka air-mata pun menjadi kering dan penderitaan makin berkurang. Akhirnya, manusia mulai melupakan Uzair as dan mereka tetap menjalankan tugas mereka masing-masing. Dan berjalanlah tahun demi tahun dan masyarakat mulai melupakan Uzair as kecuali anaknya yang paling kecil dan seorang wanita yang bekerja di rumah mereka di mana Uzair as sangat cinta kepadanya. Usia wanita itu dua puluh tahun ketika Uzair as keluar dari desa.

Berlalulah sepuluh tahun, dua puluh tahun, delapan puluh tahun, sembilan puluh tahun sehingga sampai satu abad penuh. Allah SWT berkehendak untuk membangkitkan Uzair as kembali. Allah SWT mengutus seorang malaikat yang meletakkan cahaya pada hati Uzair as sehingga ia melihat bagaimana Allah SWT menghidupkan orang-orang mati. Uzair as telah mati selama seratus tahun. Meskipun demikian, ia dapat berubah dari tanah menjadi tulang, menjadi daging, dan kemudian menjadi kulit. Allah SWT membangkitkan di dalamnya kehidupan dengan perintah-Nya sehingga ia mampu bangkit dan duduk di tempatnya dan memperhatikan dengan kedua matanya apa yang terjadi di sekelilingnya.

Uzair as bangun dari kematian yang dijalaninya selama seratus tahun. Matanya mulai memandang apa yang ada di sekelilingnya lalu ia melihat kuburan di sekitarnya. Ia mengingat-ingat bahwa ia telah tertidur. Ia kembali dari kebunnya ke desa lalu tertidur di kuburan itu. Inilah peristiwa yang dialaminya. Matahari bersiap-siap untuk tenggelam sementara ia masih tertidur di waktu Dzuhur. Uzair as berkata dalam dirinya: Aku tertidur cukup lama. Barangkali sejak Dzuhur sampai Maghrib. Malaikat yang diutus oleh Allah SWT membangunkannya dan bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Malaikat bertanya kepadanya: “Berapa jam engkau tidur?” Uzair menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Malaikat vang mulia itu berkata kepadanya: “Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. ” Engkau tidur selama seratus tahun. Allah SWT mematikanmu lalu menghidupkanmu agar engkau mengetahui jawaban dari pertanyaanmu ketika engkau merasa heran dari kebangkitan yang dialami oleh orang-orang yang mati. Uzair as merasakan keheranan yang luar biasa sehingga tumbuhlah keimanan pada dirinya terhadap kekuasaanal-Khaliq (Sang Pencipta). Malaikat berkata sambil menunjuk makanan Uzair: “Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah.”

Uzair melihat buah tin itu lalu ia mendapatinya seperti semula di mana warnanya tidak berubah dan rasanya pun tidak berubah. Telah berlalu seratus tahun tetapi bagaimana mungkin makanan itu tidak berubah? Lalu Uzair as melihat piring yang di situ ia memeras buah anggur dan meletakkan di dalamnya roti yang kering, dan ia mendapatinya seperti semula di mana minuman anggur itu masih layak untuk diminum dan roti pun masih tampak seperti semula, di mana kerasnya dan keringnya roti itu dapat dihilangkan ketika dicampur dengan perasan anggur. Uzair as merasakan keheranan yang luar biasa, bagaimana mungkin seratus tahun terjadi sementara perasan anggur itu tetap seperti semula dan tidak berubah. Malaikat merasa bahwa seakan-akan Uzair masih belum percaya atas apa yang dikatakannya. Karena itu, malaikat menunjuk keledainya sambil berkata: “Dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang).”

Uzair as pun melihat ke keledainya tetapi ia tidak mendapati kecuali ia tanah dari tulang-tulang keledainya. Malaikat berkata kepadanya: “Apakah engkau ingin melihat bagaimana Allah SWT membangkitkan orang-orang yang mati? Lihatlah ke tanah yang di situ terletak keledaimu.” Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu lalu atom-atom tanah itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai berkumpul dan bergerak dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang. Malaikat memerintakan otot-otot syaraf daging untuk bersatu sehingga daging melekat pada tulang-tulang keledai. Sementara itu, Uzair as memperhatikan semua proses itu. Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan rambut.

Alhasil, keledai itu kembali seperti semula setelah menjalani kematian. Malaikat memerintahkan agar roh keledai itu kembali kepadanya dan keledai pun bangkit dan berdiri. Ia mulai mengangkat ekornya dan bersuara. Uzair as menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT tersebut terjadi di depannya. Ia melihat bagaimana mukjizat Allah SWT yang berupa kebangkitan orang-orang yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah. Setelah melihat mukjizat yang terjadi di depannya, Uzair as berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. “

Uzair as bangkit dan menunggangi keledainya menuju desanya. Allah SWT berkehendak untuk menjadikan Uzair as sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya kepada masyarakat dan mukjizat yang hidup yang menjadi saksi atas kebenaran kebangkitan dan hari kiamat. Uzair memasuki desanya pada waktu Maghrib. Ia tidak percaya melihat perubahan yang terjadi di desanya di mana rumah-rumah dan jalan-jalan sudah berubah, begitu juga manusia dan anak-anak yang ditemuinya. Tak seorang pun di situ yang mengenalinya. Sebaliknya, ia pun tidak mengenali mereka. Uzair as meninggalkan desanya saat beliau berusia empat puluh tahun dan kembali kepadanya dan usianya masih empat puluh tahun. Tetapi desanya sudah menjalani waktu seratus tahun sehingga rumah-rumah telah hancur dan jalan-jalan pun telah berubah dan wajah-wajah baru menghiasi tempat itu.

Uzair berkata dalam dirinya: Aku akan mencari seorang lelaki tua atau perempuan tua yang masih mengingat aku. Uzair as terus mencari sehingga ia menemukan pembantunya yang ditinggalnya saat berusia dua puluh tahun. Kini, usia pembantu itu mencapai seratus dua puluh tahun di mana kekuatannya sudah sangat merosot dan giginya sudah ompong dan matanya sudah lemah. Uzair as bertanya kepadanya: “Wahai perempuan yang baik, di mana rumah Uzair as.” Wanita itu menangis dan berkata: “Tak seorang pun yang mengingatnya. Ia telah keluar sejak seratus tahun dan tidak kembali lagi. Semoga Allah SWT merahmatinya.” Uzair as berkata kepada wanita itu: “Sungguh aku adalah Uzair as. Tidakkah engkau mengenal aku? Allah SWT telah mematikan aku selama seratus tahun dan telah membangkitkan aku dari kematian.” Wanita itu keheranan dan tidak mempercayai omongan itu. Wanita itu berkata: “Uzair as adalah seseorang yang doanya dikabulkan. Kalau kamu memang Uzair as, maka berdoalah kepada Allah SWT agar aku dapat melihat sehingga aku dapat berjalan dan mengenalmu.” Lalu Uzair as berdoa untuk wanita itu sehingga Allah SWT mengembalikan penglihatan matanya dan kekuatannya. Wanita itu pun mengenali Uzair as. Lalu ia segera berlari di negeri itu dan berteriak: “Sungguh Uzair as telah kembali.” Mendengar teriakan wanita itu, masyarakat bingung dan merasa heran. Mereka mengira bahwa wanita itu telah gila.

Kemudian diadakan pertemuan yang dihadiri orang-orang pandai dan para ulama. Dalam majelis itu juga dihadiri oleh cucu Uzair as di mana ayahnya telah meninggal dan si cucu itu telah berusia tujuh puluh tahun sedangkan kakeknya, Uzair as, masih berusia empat puluh tahun. Di majelis itu mereka rnendengarkan kisah Uzair as lalu mereka tidak mengetahui apakah mereka akan mempercayainya atau mengingkarinya. Salah seorang yang pandai bertanya kepada Uzair as: “Kami mendengar dari ayah-ayah kami dan kakek-kakek kami bahwa Uzair as adalah seorang Nabi dan ia mampu menghafal Taurat. Sungguh Taurat telah hilang dari kita dalam peperangan Bukhtunnashr di mana mereka membakarnya dan membunuh para ulama dan para pembaca Kitab suci itu. Ini terjadi seratus tahun lalu yang engkau katakan bahwa engkau menjalani kematian atau engkau tidur. Seandainya engkau menghafal Taurat, niscaya kami akan percaya bahwa engkau adalah Uzair as.”

Uzair mengetahui bahwa tak seorang pun dari Bani Israil yang mampu menghafal Taurat. Uzair as telah menyembunyikan Taurat itu dari usaha musuh untuk menghancurkannya. Uzair as duduk di bawah naungan pohon sedangkan Bani Israil berada di sekitarnya. Lalu Uzair as menghapusnya huruf demi huruf sampai selesai lalu ia berkata dalam dirinya: Aku sekarang akan mengeluarkan Taurat yang telah aku simpan. Uzair as pergi ke suatu tempat lalu ia mengeluarkan Taurat di mana kertas yang terisi Taurat itu telah rusak. Ia mengetahui mengapa Allah SWT mematikannya selama seratus tahun dan membangkitkannya kembali. Kemudian tersebarlah berita tentang mukjizat Uzair as di tengah-tengah Bani Israil. Mukjizat tersebut membawa fitnah yang besar bagi kaumnya. Sebagian kaumnya mengklaim bahwa Uzair as adalah anak Allah. Allah SWT berfirman:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah’” (al Qur’an Surah al-Baqarah ayat 30). Mula-mula mereka membandingkan antara Musa as dan Uzair as dan mereka berkata: “Musa tidak mampu mendatangkan Taurat kepada kita kecuali di dalam kitab sedangkan Uzair as mampu mendatangkannya tanpa melalui kitab.” Setelah perbandingan yang salah ini, mereka menyimpulkan sesuatu yang keliru di mana mereka menisbatkan kepada nabi mereka hal yang sangat tidak benar. Mereka mengklaim bahwa dia adalah anak Tuhan. Maha Suci Allah dari semua itu: “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia” (al Qur’an Surah Maryam ayat 35)

Maria dalam al Qur’an

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam as Produksi Republik Islam Iran)

Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup sepoi-sepoi di sekitar pepohonan. Harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam. Bau itu menembus jendela mihrab dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis perawan yang khusuk dalam salat tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahwa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan salatnya dengan khusuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.

Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam ingat bahwa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar mesjid. Maryam menyelesaikan salatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:

“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Di tempat itu tidak terdapat cermin sehingga ia tidak dapat melihat perubahan itu. Tetapi ia merasa bahwa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Beliau menyadari bahwa ia sedang gugup. Beliau merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam ruhnya. Perasaan yang demikian ini justru membangkitkan kerendahan hatinya. Maryam mengetahui bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahwa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku” (QS. Ali ‘Imran: 43)

Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan kekhusukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada Allah SWT. Maryam lupa terhadap pohon mawar dan beliau kembali salat. Maryam merasakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat ini.

Matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah bangkit sedangkan bulan duduk di atas singgasananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam salatnya. Beliau menyelesaikan salatnya dan teringat pohon mawar itu lalu beliau membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.

Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari mesjid yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan salat di dalamnya atau beribadah. Maryam mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya. lalu beliau meletakkan bejana, kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.

Tiba-tiba, Maryam mendengar suara derap kaki yang mengguncang bumi. Beliau tidak mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi beliau mendengar suara kaki yang menetap di atas batu serta pasir. Maryam merasakan ketakutan. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun. Kemudian kedua matanya mulai berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang asing itu, dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di mana dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan.

Pandangan pertama yang dilihat oleh Maryam kepada orang itu mengisyaratkan, bahwa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini? Kemudian seakan-akan orang asing itu membaca pikiran Maryam dan berkata: “Salam kepadamu wahai Maryam.” Maryam dibuat terkejut mendengar adanya suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa” (QS. Maryam: 18)

Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, “Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?” Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam: 19)

Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu.” Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang telah berubah wujud menjadi manusia.

Maryam mengangkat kepalanya dengan gemetar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahwa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan bahwa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat bahwa dirinya adalah seorang perawan yang belum tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan. Pikiran-pikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:

“Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)

Jibril as berkata: “Demikianlah Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputushan”‘ (QS. Maryam: 21)

Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahwa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada pria dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.

Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu, tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran searang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (QS. Ali ‘Imran: 45-46)

Keheranan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu di perutnya ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia menhetahui bahwa anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Maryam. Lalu cahaya tersebut ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.

Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam salat yang khusuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini, Maryam tidak lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan ruh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Maryam di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi musim. Maryam heran melihat hal itu. Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya kemarin, yaitu bagaimana kejadian saat menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak. Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan ini. Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: “Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.”

Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeda dengan kandungan umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik. Datanglah bulan yang kesembilan. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.

Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun karena saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.

Tak seorang pun yang mengetahui Maryam bahwa sedang hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahwa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan” (QS. Maryam: 23)

Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain yang segera menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahwa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya. Maryam berpikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu rnelihat seorang manusia, maka katakantah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’” (QS. Maryam: 24-26)

Maryam dan Isa al Masih dalam al Qur’an (Bagian Kedua)

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran 2

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

Belum sampai Isa al Masih menuntaskan pembicaraannya sehingga wajah-wajah para pendeta dari kalangan Yahudi tampak pucat. Mereka menyaksikan mukjizat terjadi di depan mereka secara langsung. Anak kecil itu berbicara di buaiannya; anak kecil yang datang tanpa seorang ayah; anak kecil yang mengatakan bahwa Allah SWT telah memberinya al-Kitab dan menjadikannya seorang Nabi. Ini berarti bahwa kekuasaan mereka sebentar lagi akan hancur. Setiap orang dari mereka akan menjadi tidak berarti ketika anak kecil itu dewasa. Tak seorang pun di antara mereka yang dapat “menjual pengampunan” kepada manusia atau menghakimi mereka melalui peryataan bahwa ia adalah wakil dari langit yang turun di bumi. Atau pernyataan bahwa hanya dia yang mengetahui syariat.

Para pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak kecil ini. Kedatangan al Masih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan semata-mata kepada Allah SWT. Ini berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang mereka yakini. Perbedaan antara ajaran-ajaran Musa as dan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi menyerupai perbedaan antara bintang-bintang di langit dan lumpur-lumpur di jalan. Para pendeta Yahudi menyembunyikan kisah kelahiran Isa as dan bagaimana ia berbicara di masa buaian. Mereka justru menuduh Maryam yang masih perawan dengan kebohongan yang besar. Mereka menuduh Maryam melakukan pelacuran, padahal mereka menyaksikan sendiri mukjizat pembicaraan anaknya di masa buaian.

Mula-mula cerita tentang itu mereka sembunyikan untuk beberapa saat. Meskipun demikian, berita tentang kelahiran Isa sampai ke Hakim Romawi, yaitu Heradus. Ia memimpin orang-orang Palestina dan orang-orang Yahudi dengan kekuatan pedang. Ia menakut-nakuti mereka dengan menumpahkan darah serta banyaknya mata-mata yang dimilikinya.

Pada suatu hari, ia duduk di istananya dan meminum anggur. Lalu ia mendengar berita yang samar tentang kelahiran seseorang anak tanpa ayah; seorang anak yang dikatakan ia mampu berbicara saat masih di buaian, lalu ia menyampaikan pembicaraan yang menjurus pada ancaman terhadap kekuasaan Romawi. Kemudian bergetarlah kursi yang ada di bawah tubuh Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan suatu pertemuan mendadak yang dihadiri oleh para pengawalnya dan para mata-matanya. Pertemuan itu pun terlaksana. Heradus duduk dengan wajahnya yang hitam mengkilat, lalu ia memutarkan pandangannya ke arah mata-matanya dan bertanya: “Bagaimana berita anak kecil yang berbicara di buaiannya?”

Salah seorang kepala mata-mata berkata: “Tampak bahwa masalahnya tidak benar. Kami telah mendengar isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahwa ia membuat mukjizat dengan berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak buahku untuk mencari kebenaran berita itu, tetapi mereka tidak menemukannya. Jelas bagi kami, bahwa berita itu dilebih-lebihkan.”

Kemudian salah satu anggota mata-mata raja berkata: “Aku telah mendapatkan bukti yang terpercaya bahwa tiga orang dari orang-orang Majusi datang dibalik suatu bintang yang mereka lihat menyala di suatu langit dan bintang tersebut mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa mukjizat, yaitu anak kecil yang akan menyelamatkan kaumnya.”

Hakim berkata: “Bagaimana ia dapat menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa yang diselamatkannya?” Salah seorang mata-mata berkata: “Anak buahku tidak mengetahuinya karena orang-orang pandai dari Majusi itu pergi dan tak seorang pun menemukan mereka.”

Hakim berkata: “Bagaimana mereka dapat pergi dan bersembunyi lalu bagaimana cerita anak kecil ini? Apakah di sana ada persekongkolan untuk menentang Romawi?” Hakim melompat dari tempat duduknya ketika ia menyebut Romawi, dan ia mulai berbicara dengan keadaan emosi: “Aku menginginkan kepala tiga orang yang cerdik itu dan aku juga menginginkan kepala anak kecil itu. Dan aku menginginkan informasi yang lengkap. Sungguh masalah ini semakin samar hai orang-orang yang bodoh.”

Lalu kepala mata-mata berkata: “Barangkali ini hanya mimpi yang dibayangkan orang-orang Yahudi bahwa mereka melihatnya.” Hakim berkata: “Sungguh kepala-kepala kalian semua akan terbang lebih cepat dari merpati jika kalian tidak mendatangkan cerita secara lengkap tentang anak ini. Kebingungan dan kekacauan apa yang aku rasakan! Pergilah kalian dari sini.”

Anak buah Heradus dan para mata-mata pergi, sedangkan ia masih duduk memikirkan masalah tersebut. Tampaknya masalah itu sangat menggelisahkannya. Ia tidak peduli dengan kedatangan agama baru kepada manusia tetapi yang dipikirkannya adalah kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya.

Kemudian Heradus menetapkan untuk memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya kepadanya tentang masalah ini. Para pengawalnya yang khusus memanggil orang Yahudi itu. Tidak beberapa lama orang Yahudi itu ada di depan hakim. Heradus berkata: “Aku ingin berbicara kepadamu tentang suatu masalah yang sangat menggelisahkanku.” Pendeta Yahudi itu berkata: “Aku ingin mengabdi kepadamu.”

Heradus berkata: “Aku mendengar berita-berita yang saling berlawanan tentang anak kecil yang bisa berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahwa ia akan menyelamatkan kaumnya. Maka bagaimana berita yang sebenarnya tentang itu?” Pendeta itu berkata—dan ia merasa bahwa pertanyaan itu sepertinya berupa jebakan yang tidak diketahuinya secara pasti: “Apakah tuan yang mulia peduli dengan agama Yahudi?”

Heradus berkata dalam keadaan emosi: “Aku tidak peduli sedikit pun selain kekuasaan Romawi. Jawablah pertanyaanku wahai pendeta.” Pendeta Yahudi itu telah melihat Isa as berbicara di buaiannya. Ia memahami bahwa seandainya ia mengatakan itu, maka ia akan mendapatkan penderitaan pada dirinya, maka ia lebih memilih sedikit berbohong. Ia berkata kepada Heradus bahwa ia mendengar cerita itu tetapi ia meragukannya.

Heradus berkata: “Apakah benar agama kalian berbicara tentang kedatangan seorang penyelamat bagi rakyat kalian?” Pendeta berkata: “Ini benar wahai tuan yang mulai.”

Heradus berkata: “Apakah kalian mengetahui ini adalah persekongkolan menentang keamanan kerajaan Romawi? Apakah kalian menyadari ini adalah bentuk pengkhianatan?” Pendeta berkata: “Aku harap tuan membiarkan aku meluruskan suatu pemikiran yang sederhana. Berita tentang hal itu adalah berita yang kuno. Berita ini diyakini ketika rakyat menjadi tawanan di Babel sejak ratusan tahun.”

Heradus berkata: “Apakah memang di sana ada yang membenarkan berita ini? Sekarang, apakah kamu secara pribadi membenarkannya? Apakah engkau melihat anak kecil itu yang mereka katakan bahwa ia dilahirkan tanpa seorang ayah?” Pendeta itu berkata: “Apakah ada seorang yang percaya wahai tuan yang mulia jika dikatakan ada seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah. Ini adalah mimpi rakyat biasa.”

Heradus berkata: “Tidak ada sesuatu yang mengusir tidur dari mata seorang penguasa selain mimpi-mimpi rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau mendengar berita-berita, maka sampaikanlah kepadaku sebelum engkau sampaikan kepada istrimu.”

Belum lama pendeta itu pergi sehingga Heradus berpikir, bagaimana seandainya pendeta itu berbohong. Ia menangkap benang kebohongan pada kedua matanya. Ia mengetahui kebohongan ini karena ia sendiri sangat pandai berbohong. Kemudian bagaimana cerita tiga orang cerdik yang mereka mengikuti bintang? Apakah di sana terdapat persekongkolan menentang Romawi yang tidak diketahuinya?

Heradus berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk menangkap semua orang yang mendengar cerita ini atau ia akan melihat akibatnya.

Mula-mula dia memerintahkan untuk mencari gadis perawan yang melahirkan anak itu dan membunuh setiap anak yang lahir di saat itu. Sementara itu, Maryam keluar dari Palestina menuju ke Mesir.

Sebelumnya, pada suatu malam, datanglah kepadanya seseorang yang belum pernah dilihatnya dan orang itu menyampaikan salam kepadanya serta menyerukannya dan sambil berkata: “Bawalah anakmu wahai Maryam dan keluarlah menuju Mesir.” Dengan nada ketakutan Maryam bertanya, “Mengapa? Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir, dan bagaimana aku bisa mengenali jalan?” Orang asing itu menjawab, “Keluarlah engkau niscaya Allah SWT akan melindungimu. Sesungguhnya Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu.”

Maryam bertanya: “Kapan aku keluar?” Orang asing itu menjawab: “Sekarang juga. Janganlah engkau khawatir sedikit pun karena engkau keluar bersama seorang Nabi yang mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri mereka dan rumah mereka. Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha untuk menyingkirkan kebaikan tetapi pada akhirnya, kebaikan akan kembali menduduki singgasananya. Keluarlah wahai Maryam.”

Akhirnya, Maryam pun pergi menuju ke Mesir. Maryam melalui gurun Sina bersama suatu kafilah yang menuju Mesir. Maryam berjalan membawa Isa as di jalan yang sama yang pernah dilalui Nabi Musa as di mana ditampakkan kepada Nabi Musa as api yang suci dan beliau dipanggil dari sisi Thur al-Aiman.

Setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, Maryam sampai di Mesir. Mesir yang dipenuhi dengan kebaikan, kemuliaan, kebudavaan klasik serta cuacanya yang stabil mempakan tempat yang terbaik untuk pertumbuhan Isa as.

Isa as pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya. Isa keluar dari rumahnya dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi. Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu. Di sana tidak ada satu rumah pun dari rumah kaum Yahudi yang dapat menyalakan api atau memadamkannya pada hari Sabtu, atau mengambil buah di hari itu. Dilarang bagi seorang wanita untuk membuat adonan roti atau seseorang anak kecil mencuci anjingnya. Nabi Musa as telah memerintahkan untuk menghormati hari Sabtu dan hanya mengkhususkanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Terdapat hikmah di balik penghormatan hari Sabtu sehingga hari Sabtu menjadi hari yang sangat disucikan di kalangan orang-orang Yahudi. Mereka melaksanakannya dengan berbagai macam tradisi dan mereka mencurahkan segala konsentrasi mereka untuk menjaga hari Sabtu dan tidak meremehkannya. Sebab, mereka meyakini bahwa hari Sabtu adalah hari yang dijaga dari langit sebelum Allah menciptakan manusia sebagaimana mereka percaya bahwa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu jalur saja, yaitu menjaga hari Sabtu.

Mereka bangga karena mereka dapat menjaganya meskipun hal itu menyebabkan mereka kalah di kancah peperangan atau mereka tertawan di tangan musuh. Bahkan saking ketatnya mereka mempertahankan kehormatan hari Sabtu sampai-sampai mereka menambah-nambahi berbagai macam larangan di hari Sabtu.

Majelis kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak boleh dilakukan di hari Sabtu, seperti seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari Sabtu. Seorang yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di tempat yang sakit pada hari Sabtu atau memanggil dokter. Dilarang pula di hari Sabtu untuk menulis dua huruf abjad; dilarang juga untuk mempertahankan diri pada hari Sabtu; dilarang untuk panen dan belajar di hari Sabtu. Kemudian, bepergian di hari Sabtu diharuskan untuk tidak lebih dari dua ribu yard. Dilarang juga dihari Sabtu untuk membawa sesuatu ke luar rumah. (Bersambung ke Bagian Ketiga)

Maryam dan Isal al Masih dalam al Qur’an (Bagian Pertama)

Film Maryam Produksi Republik Islam Iran

(Gambar: Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci (QS. Maryam: 19). Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina (QS. Maryam: 28)”

Maryam melihat al-Masih yang tampan wajahnya. Wajahnya tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak yang lahir di saat itu, tetapi ia berkulit lembut dan putih. Anak itu diselimuti dengan kesucian dan kasih sayang; anak itu berbicara kepada Maryam agar ia menghilangkan kesedihannya dan meminta padanya agar menggoyangkan batang-batang pohon kurma supaya jatuh darinya sebagian buahnya yang lezat dan Maryam dapat memakan dan meminum darinya sehingga hatinya pun penuh dengan kedamaian serta kegembiraan dan tidak berpikir tentang sesuatu pun.

Jika Maryam melihat atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka bahwa ia bernazar kepada Allah SWT untuk berpuasa dan tidak berbicara kepada seseorang pun.

Maryam melihat al Masih dengan penuh kecintaan. Anak itu baru dilahirkan beberapa saat tetapi ia langsung memikul tanggung jawab ibunya di atas pundaknya. Selanjutnya, ia akan memikul penderitaan orang-orang fakir. Maryam melihat bahwa wajah anak itu menyiratkan tanda yang sangat aneh. Yaitu tanda yang mengisyaratkan bahwa ia datang ke dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu, tetapi untuk memberinya segala sesuatu.

Maryam mengulurkan tangannya ke pohon kurma yang besar. Belum lama ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah darinya buah kurma yang masih muda dan lezat. Maryam makan dan minum dan kemudian ia memangku anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saat itu, Maryam merasakan kegoncangan yang hebat. Silih-berganti ketenangan dan kegelisahan menghampirinya. Segala pikirannya tertuju pada satu hal, yaitu Isa. Ia bertanya-tanya dalam dirinya: Bagaimana orang-orang Yahudi akan menyambutnya, apa yang akan mereka katakan tentangnya, apa yang akan mereka katakan terhadap Maryam, apakah para pendeta dan para pembesar Yahudi percaya bahwa Maryam melahirkan seorang anak tanpa disentuh oleh seseorang pun? Bukankah mereka terbiasa hidup dengan suasana pencurian dan penipuan? Apakah seseorang di antara mereka akan percaya—padahal ia jauh dari langit—bahwa langit telah memberinya seseorang anak.

Akhirnya, masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke kaumnya. Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar. Pasar besar yang terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju mesjid dipenuhi dengan manusia. Mereka sibuk dengan jual-beli. Mereka duduk berbincang-bincang sambil minum anggur.

Belum lama Maryam melewati pasar itu sehingga manusia melihatnya membawa seorang anak kecil yang didekapnya. Salah seorang bertanya: “Bukankah ini Maryam yang masih perawan? Lalu, anak siapa yang dibawanya itu?” Seorang yang mabuk berkata: “Itu adalah anaknya.” Mari kita dengar cerita apa yang akan disampaikannya.

Akhirnya, orang-orang Yahudi mulai “mengepung” dengan berbagai macam pertanyaan: “Anak siapa ini wahai Maryam, mengapa engkau tidak mengembalikannya, apakah itu memang anakmu, bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak sedangkan engkau adalah gadis yang masih perawan?”

Maryam dituduh melakukan pelacuran. Mereka menyerang Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan sanggahannya atau mengadakan penelitian atau membuktikan bahwa perkataan mereka memang benar.

Maryam dicerca sana-sini dan ia diingatkan, bahwa bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah ibunya seorang pelacur? Lalu mengapa semua ini terjadi padanya? Menghadapi semua tuduhan itu, Maryam tampak tenang dan tetap menunjukkan kebaikannya. Wajahnya dipenuhi dengan cahaya keyakinan.

Ketika pertanyaan semakin menjadi-jadi dan keadaan semakin sulit, maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya. Maryam menunjuk Isa. Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan. Mereka memahami bahwa Maryam berpuasa dari berbicara dan meminta kepada mereka agar bertanya kepada anak itu.

Para pembesar Yahudi bertanya: “Bagaimana mereka akan melontarkan pertanyaan kepada seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari? Apakah anak itu akan berbicara di buaiannya” Mereka berkata kepada Maryam: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS. Maryam: 29).

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadahu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 30-33) (Bersambung ke Bagian Kedua)

Al Qur’an, Hadits, Nahjul Balaghah, dan Ta’wil

Sayyid Ali Khamenei

Oleh Sayid Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran)

“Fitnah ibarat kuda liar yang menggilas masyarakat, menginjak-injak mereka dengan kukunya, dan menendang mereka dengan ujung kakinya, maka mereka tersesat di sana dan kebingungan, bodoh dan tergila-gila di rumah terbaik dan tetangga terburuk. Tidur mereka di sana adalah keterjagaan dan celak mata mereka adalah air mata …. Pembicaraan ini berkisar tentang fitnah pra pengutusan para nabi. Beliau menjelaskan kaadaan masyarakat di mana para nabi diutus dan pada hakikatnya menjelaskan pula kaadaan masyarakat pada zaman beliau seraya memperingatkan mereka agar menghindari fitnah.” (Nahjul Balaghah)

Adalah keberuntungan yang luar biasa bagi saya saat menyaksikan terbentuknya lembaga baru di bidang Nahjul Balaghah yang direalisasikan oleh saudara-saudara kita tercinta pada Institut Nahjul Balaghah. Saya selaku warga Iran yang sangat menyukai ajaran Nahjul Balaghah, selaku muslim yang telah meluangkan sebagian masa kehidupan intelektual dan penelitiannya di bidang Nahjul Balaghah, dan juga selaku penanggung jawab negara Republik Islam Iran mengucapkan selamat atas gerakan yang penuh berkah dan berakibat baik ini, dengan harapan semoga tingkatan ini menjadi pijakan pemula untuk mencapai tahapan berikutnya yang lebih sempurna.

Semangat saudara-saudara kita ini layak mendapatkan penghargaan yang besar. Proyek ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja, melainkan harus berlanjut seterusnya. Sudah barang tentu, selama jarak setahun antara kongres tahun kemarin sampai sekarang sudah ada beberapa usaha dan pekerjaan di berbagai bidang Nahjul Balaghah yang terlaksana dengan baik dan saya juga ikut terlibat di dalam sebagian aktifitas itu. Namun demikian, saya ingin menekankan kembali bahwa perkumpulan-perkumpulan ini harus menjadi pengantar untuk pekerjaan-pekerjaan berikutnya yang lebih besar. Sudah cukup lama tempo yang kita lalui tanpa menjalin hubungan dengan Nahjul Balaghah. Adapun sekarang, kita harus menggunakan peluang dan kesempatan yang ada secara optimal untuk menutupi kekurangan sebelumnya.

Memang benar mereka yang bekerja keras di bidang Nahjul Balaghah tidak sedikit, baik di Iran sendiri maupun di negara-negara Islam lainnya. Akan tetapi, masih tertinggal banyak pekerjaan utama dan asasi yang bisa digarap untuk menyebar-luaskan sekolah Nahjul Balaghah di segala penjuru dunia, kendati dasar dan pokok-pokoknya sedang dalam pembangunan secara bertahap. Sungguh, Nahjul Balaghah adalah simpanan istimewa nan agung yang keberadaannya saja susah untuk dijangkau atau dimengerti (apalagi lebih dari itu), dan setelah mampu menyentuh keberadaanya, baru memasuki babak berikutnya yang lebih utama, yaitu penggunaan dan pengambilan untung darinya. Adapun sekarang, kita masih belum mengetahui hakikat keberadaan Nahjul Balaghah itu sendiri. Memang iya; seperti halnya referensi-referensi kaya Islam lainnya yang memiliki nasib serupa, hanya saja Nahjul Balaghah adalah pengecualian tersendiri mengingat kelasnya yang sangat tinggi. Oleh karena itu, harus diperhitungkan dan disikapi lebih istimewa layaknya simpanan yang sangat berharga.

Apa yang ingin saya sampaikan sekarang adalah urutan dari sekian harapan dan cita-cita yang sejak dulu sampai saat ini kita miliki, yaitu harapan agar masyarakat kita dekat dan bersahabat dengan Nahjul Balaghah. Untuk masa-masa sekarang tidak bisa berharap banyak dari orang-orang seperti saya, kecuali jika Allah SWT memberi taufik, suatu hari saya dapat kembali ke kamar-kamar talabeh (pelajar agama) dan berpeluang aktif menjalankan tugas-tugas tersebut. Saya ingin berbicara seputar perhatian yang harus kita pusatkan pada Nahjul Balaghah dan sampai saat ini masih minim sekali. Seakan kita tidak tahu betapa agungnya simpanan makrifat tanpa batas yang terjaga dalam kitab ini, atau sampai sekarang masyarakat kita, bahkan para peneliti kita pun belum menyadari secara penuh pentingnya mencapai sumber agung yang tiada tara ini.

Pertama-tama, kitab ini terhitung referensi otentik kelas pertama Islam, dan sumber seperti ini sangatlah penting, khususnya dalam kondisi dan situasi historis masa kini yang berjarak seribu empat ratus tahun dari sejarah munculnya Islam. Urgensi itu juga disebabkan oleh merebaknya takwil dan interpretasi sesuka hati di sepanjang sejarah, dan ini merupakan wabah intelektual religius. Ketika zaman telah berjarak jauh dari sumber pancaran agama, maka benak, kreativitas, inovasi, dan gejolak internal manusia bermental menggiringnya untuk menarik kesimpulan berdasarkan selera pribadi masing-masing, dan secara misterius tak terlihat, telah berhasil menyimpangkan agama-agama yang pernah ada. Alasan kenapa agama-agama terdahulu telah menyimpang, salah satu penyakit utamanya adalah teks-teks otentik dan pertama mereka tidak terjaga secara selamat dan sempurna.

Satu keistimewaan besar yang kita miliki adalah Al-Qur’an yang tidak terjamah oleh tangan jahat perubahan dan penyimpangan. Hal inilah yang menyebabkan tetapnya sebuah poros utama dalam interpretasi atau pemahaman tentang Islam di tengah luasnya keberagaman selera yang ada. Pada akhirnya masih terdapat titik yang menjadi sandaran akhir untuk akidah dan pendapat yang berbeda-beda, yaitu Al-Qur’an. Namun hal itu tidak cukup. Dalam artian, belum dapat menghalangi arus takwil dan kecenderungan pendapat pribadi, selera personal, dan hawa nafsu.

Amirul Mukminin as sendiri suatu saat berkata pada Ibn Abbas,

لاَ تُخَاصِمْهُمْ بِالْقُرْآنِ، فَإِنَّ الْقُرْآنَ حَمَّالٌ ذُوْ وُجُوْهٍ

“Janganlah kamu menghadapi Khawarij dengan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an memikul banyak arti dan punya beragam wajah.”[1]

Sungguh, orang-orang yang menerapkan ayat “dan sebagian orang, ada yang menjual dirinya demi keridhaan Allah”—yang sebenarnya turun berkenaan tentang Amirul Mukminin Ali as—untuk Ibn Muljam, mereka betul-betul telah menyimpang dari jalan yang benar. Lalu, apa mungkin menghadapi orang seperti ini dengan menggunakan Al-Qur’an?! (Jelas tidak mungkin, karena mereka mengartikannya sesuka hati). Pada zaman sekarang, kita juga menyaksikan hal yang sama. Ada orang-orang yang bersandarkan kepada Al-Qur’an dengan metode takwil! Dalam situasi dan kondisi seperti ini, semakin banyak teks otentik Islam yang sampai kepada kita dari awal sejarah Islam, maka semakin besar pula peluang bagi para peneliti untuk mencapai ajaran Islam yang sebenarnya.

Dulu kita melihat ahli takwil—yang sekarang lebih dikenal dengan iltiqâthî (aliran yang mencampuraduk sana dan sini)—tidak peduli terhadap hadis, sehingga kapan saja kita membawakan hadis, mereka langsung berkata, “Apa kamu tidak menerima dan mengimani Al-Qur’an? Seakan-akan ada pertentangan antara kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan keyakinan pada hadis!

Awal-awal kita heran. Tapi tidak begitu sensitif terhadap masalah ini. Sampai akhirnya kita sadar bagaimana mereka memperlakukan Al-Qur’an dan bagaimana mereka menolak hadis yang shahih dan sharih (jelas dan tidak ambigu). Ketika itu kita baru mengerti alasan sesungguhnya kenapa mereka menentang hadis. Di kala itu, Amirul Mukminin as mengingatkan Ibn Abbas seraya berkata, “Berargumentasilah dengan sunah untuk menghadapi Khawarij, karena sunah tidak bisa ditakwil lagi.” Jadi jelas, ketika kita hidup dalam situasi dan kondisi dunia Islam kontemporer yang pengikutnya mencapai jumlah yang jauh lebih besar dari sebelumnya dan berhasil menempati bagian terbesar dari geografi dunia, disertai oleh multi kultur dan beragam pendapat, aliran dan kelompok yang mendominasi jalan pikiran dan kejiwaan mereka, maka apabila kita dapat menghidupkan kembali teks-teks awal Islam, niscaya kita telah memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan poros utama untuk berijtihad dan menjelaskan pandangan Islam.

Pandanglah Nahjul Balaghah dari sudut ini. Dengan begitu, Nahjul Balaghah tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan kitab hadis fulan sahabat atau tabi’in yang terbentuk pada tahun lima puluh, enam puluh, seratus, atau seratus empat puluh Hijriah. Nahjul Balaghah adalah ucapan orang yang pertama kali beriman kepada wahyu Tuhan yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw. Nahjul Balaghah adalah kata-kata khalifah Nabi, yaitu khalifah yang disepakati oleh semua orang Islam. Yaitu imam yang menurut pengikut Syi’ah dan mayoritas pengikut Ahlusunah adalah sahabat yang paling baik dan utama. Itu artinya ada ucapan-ucapan yang tersimpan secara utuh dan sampai kepada kita dari orang yang agung dan penting sekali, mulai dari ceramah atau kata-kata beliau yang lain. Maka sudah barang tentu ini adalah teks yang otentik dan agung berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam, teks yang menyelesaikan segala permasalahan: tauhid, kenabian, filsafat sejarah, akhlak, irfan, dan lain sebagainya. Sebagaimana Anda perhatikan seksama, kita bisa menemukan dasar-dasar keyakinan yang sempurna dan komprehensif tentang Islam dari Nahjul Balaghah.

Tanpa diragukan lagi, kitab ini adalah pendamping Al-Qur’an dan setingkat di bawahnya. Kita tidak punya kitab lain yang sampai pada derajat nilai pengakuan, komprehensifitas, dan histori seperti ini. Oleh karena itu, menghidupkan kembali Nahjul Balaghah bukan hanya tugas orang-orang Syi’ah semata, melainkan juga tugas bagi semua orang Islam, karena dalam Islam tidak ada satu orang pun yang menolak Amirul Mukminin Ali as. Maka setiap muslim bertugas untuk menghidupkan Nahjul Balaghah sebagai warisan tiada tara Islam. Penghidupan ini tidak berarti memperbanyak cetakan yang—alhamdulillâh—sudah banyak. Melainkan kajian dan penelitian di bidang Nahjul Balaghah, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap Al-Qur’an. Sudah banyak tulisan di bidang tafsir Al-Qur’an dan karya di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an. Upaya yang sama juga harus dilakukan untuk Nahjul Balaghah. Ia harus diajarkan sebagaimana Al-Qur’an diajarkan, karena ia adalah lanjutan dan ekor Al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana muslimin mewajibkan diri mereka untuk mengenal Al-Qur’an dan berteman dengannya, dan sebaliknya adalah aib dan kekurangan bagi mereka, maka terhadap Nahjul Balaghah pun mereka harus bertindak demikian.

Poin luar biasa penting lainnya yang ingin saya sampaikan di sini adalah tugas kita semua untuk mengetahui konteks munculnya kata-kata ini, sekaligus juga kaadaan si pembicara. Pengenalan ini memberikan kita kesembuhan yang cepat bagi berbagai penyakit sosial masa kini. Karena jika kita perhatikan, pembicaranya bukanlah orang biasa, melainkan manusia yang berhasil menyatukan dua keistimewaan sehingga ucapan-ucapannya naik sampai tingkat yang luar biasa. Dua keistimewaan itu adalah hikmah dan kekuasaan. Beliau adalah seorang hakim menurut yang disinyalir Al-Qur’an dengan firman-Nya, “Dia memberi hikmah kepada siapa pun yang dikehendaki.” Beliau mengenal jagat raya, manusia, dan segala ciptaan lainnya secara baik, teliti, dan sempurna. Dan itulah seorang hakim. Dalam terminologi orang yang meyakini beliau sebagai imam suci, hal itu didapat melalui ilham Allah SWT dan dalam terminologi mereka yang tidak mengimani kesuciannya, hal itu diperoleh lewat pelajaran Rasulullah saw. Bagaimanapun juga, yang jelas tak seorang pun meragukan bahwa beliau adalah manusia berbashirah dan berhikmah, sebagaimana para nabi, dan beliau mengetahui segala hakikat penciptaan serta apa yang terdapat dalam simpanan-simpanan Allah SWT.

Adapun keistimewaan kedua pembicara Nahjul Balaghah adalah beliau penguasa dan pemimpin masyarakat Islam pada periode tertentu yang bertanggung jawab mengendalikan pemerintahan Islam pada zamannya. Dua keistimewaan hikmah dan kekuasaan ini terdapat pada sosok Amirul Mukminin as sehingga ucapan-ucapan beliau terkatrol sampai tingkat yang luar biasa tinggi melebihi kata-kata mutiara biasa lainnya mengingat dimensi baru yang diperoleh.

Tapi, sebetulnya apakah sebenarnya kata-kata beliau itu? Apakah yang beliau utarakan dalam ceramah-ceramahnya? Apakah yang dikatakan oleh amîr dan penguasa pemerintahan Islam yang juga hakim ini? Sudah barang tentu apa yang beliau katakan sesuai dengan kebutuhan. Beliau pasti menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan utama pada periode sejarah Islam zaman, dan tidak mungkin beliau mengutarakan hal-hal lain yang tidak diperlukan, karena tidak mungkin seorang dokter yang teliti dan penyayang memberikan resep dan saran yang tidak dibutuhkan pasien. Oleh karena itu, kita mendapatkan sesuatu yang berbeda dalam resep pemberian Amirul Mukminin as dan apakah itu? Hal itu adalah situasi dan kondisi masyarakat Islam pada masa hidupnya.

Tidak ada catatan sejarah yang lebih jelas dan lebih teliti daripada Nahjul Balaghah (kata-kata Amirul Mukminin as) dalam melaporkan kondisi dan situasi kehidupan masyarakat pada waktu itu. Sekarang ini kita hidup pada masa yang saya cenderung menyerupakannya dengan periode awal Islam. Artinya, kelahiran Islam kembali. Waktu itu adalah kelahiran pertama Islam. Adapun sekarang adalah kelahiran kedua Islam. Pada masa itu hukum-hukum Islam diberlakukan, dan sekarang kita sedang bergerak menuju penerapan hukum-hukm Islam tersebut. Kalau pada waktu itu musuh-musuh Islam yang sebetulnya memusuhi ajaran-ajaran Islam itu sendiri dan menentang masyarakat nabawi, begitu pula sekarang orang-orang yang memusuhi Revolusi kita pada hakikatnya mereka tidak menentang berdirinya Republik Iran, melainkan mereka melawan Islam itu sendiri. Tapi tentunya bukan atas nama hakikat Islam, dan harus disadari secara bersama bahwa ini bukanlah hal yang sederhana. Wajar-wajar saja apabila mereka menentang, bahkan apabila adikuasa, penguasa, penindas, kapitalis, penjajah, pelaku nepotisme, penginjak harkat manusia, terorisme nilai-nilai kemanusian dan pemberhangus norma-norma Tuhan tidak takut atau tidak gelisah terhadap Islam, maka itu sangat mengherankan, karena itu berseberangan dengan arah tujuan dan target mereka. Hal itu pula yang dulu pernah terjadi pada masa Amirul Mukminin as.

Nah, kita bangsa Iran sebagai orang-orang yang memikul dasar-dasar sistem negara Islam ini di atas pundak bersama, apabila merujuk kepada Nahjul Balaghah, niscaya kita akan mendapatkan hal-hal yang sangat menarik. Kita akan mampu mendeteksi penyakit-penyakit yang mungkin terjangkit dan mengancam situasi seperti ini sekaligus juga mendapatkan penawarnya. Ini sangatlah menarik dan marilah kita sama-sama mencari obat penawar itu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua yang terjadi pada awal sejarah Islam sekarang pun terjadi secara persis serambut demi serambut. Melainkan arah dan tujuan di masa itu adalah sama seperti yang sekarang terjadi. Hati orang-orang beriman pada waktu itu sama dengan hati mukminin sekarang. Harapan dan cita-cita mereka pun sama. Keraguan orang-orang munafik dan lemah iman pada waktu itu adalah sama seperti yang dialami munafikin dan orang-orang lemah iman masa kini. Rencana teror dan rongrongan musuh pada masa lalu seragam dengan rencana musuh dan terorisme kontemporer. Poros sistem kenegaraan kita adalah sama dengan poros sistem pemerintahan awal Islam. Keberpihakan sistem kita kepada masyarakat adalah sama seperti halnya keberpihakan sistem Islam pada waktu itu. Menerima Al-Qur’an sebagai dokumen yang asli, naskah yang sempurna, dan sebagai pembentuk situasi yang ideal, semua ini adalah arah dan tujuan universal yang seragam antara sistem pemerintahan Islam kita sekarang dengan sistem pemerintahan Islam pada awal kelahirannya. Maka dari itu, wajar saja apabila kita sudah memprediksi datangnya penyakit-penyakit tertentu yang mirip dengan wabah yang menyerang masyarakat Islam pada waktu itu, sehingga dengan mengenali penyakit tersebut jauh-jauh sebelumnya, kita akan dapat mengantisipasi diri untuk melawan dan mengobatinya. Nahjul Balaghah mengajarkan penyakit-penyakit itu kepada kita. Meskipun tampaknya Nahjul Balaghah bukan catatan sejarah, tapi sebetulnya dia juga melaporkan sejarah pada waktu itu. Dan tentunya, jika saya ingin membawakan bukti-bukti bagaimana Amirul Mukminin as mengungkapkan masyarakat zamannya sekaligus penyakit dan penawar sosial pada waktu itu, jika saya ingin menerangkan bagaimana beliau memberi resep kepada kita yang apabila kita pelajari resep itu kita akan mengerti khasiatnya untuk mengobati penyakit tertentu yang kita temukan sekarang, jika saya ingin menguraikan semua itu, maka tidak cukup hanya dalam tempo dua atau tiga jam. Dan sayangnya, tidak bisa berharap banyak dari orang seperti saya sekarang. Mereka yang berpeluang harus menjalankan tugas mulia ini. Dan satu hal lagi perlu saya katakan, penelitian semacam ini terhadap Nahjul Balaghah bukanlah pekerjaan yang begitu sulit dan melelahkan. Cari dan bukalah selembar demi selembar, niscaya ia pasti menampakkan diri pada Anda.

Berikut ini saya ingin menyebutkan beberapa contoh dari penyakit yang pernah menimpa masyarakat pada masa Amirul Mukminin as sekaligus juga penawar yang beliau berikan.

Salah satu penyakit dan problema sosial pada waktu itu adalah dunia. Anda bisa saksikan betapa banyak ungkapan Nahjul Balaghah yang memperingatkan masyarakat dari dunia, cinta dunia, tipu daya dunia, dan bahaya dunia. Sebaliknya, kezuhudan Nahjul Balaghah merupakan salah satu bagian terpenting kitab ini. Untuk apa kezuhudan ini? Realitas apa pada waktu itu yang ingin ditunjukkan oleh seluruh kata-kata ini? Yaitu periode yang Nabi pernah bersabda tentangnya, “Kemiskinan adalah kebanggaanku.” Periode di mana Rasulullah dan masyarakat Islam pada waktu itu bangga dengan kemiskinannya. Mereka bangga karena tidak tercemar oleh dunia. Sosok seperti Abu Dzar, Salman, Abdullah bin Mas’ud, dan para penghuni Shuffah terhitung papan atas umat Islam kala itu. Mereka sama sekali tidak tertarik pada dunia, emas dan perak, dinar dan dirham, perhiasan dan permata, atau kekayaan berharga lainnya. Dan pada dasarnya, kilauan harta tidak bernilai di mata mereka daripada kilauan non-harta.

Rasulullah saw bersabda,

أَشْرَافُ أُمَّتِيْ أَصْحَابُ اللَّيْلِ وَ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ

“Orang-orang mulia dari umatku adalah mereka yang menghabiskan malam bersama Allah SWT dan yang mengenal atau menghafal Al-Qur’an.”

Apa sebetulnya yang telah terjadi di tengah masayarakat Islam pada waktu itu sehingga sekitar lima puluh dari seratus ucapan Amirul Mukminin as berhubungan dengan zuhud? Apa yang ingin ditunjukkan oleh Nahjul Balaghah yang penuh dengan tuntunan zuhud dan anjuran kepadanya?

Iya, semua itu menunjukkan adanya penyakit tertentu pada masyarakat waktu itu. Resep Amirul Mukminin as yang bergejolak dan penuh dengan peringatan tentang dunia menunjukkan kepada kita betapa masyarakat pada waktu itu terjangkit parah oleh penyakit dunia. Dua puluh tiga tahun setelah kepergian Rasulullah saw mereka telah terjerat dan terjarah oleh dunia, dan Amirul Mukminin as berupaya untuk membuka perangkap tali yang mengikat kaki dan tangan mereka.

Ketika kita membaca tanggapan Nahjul Balaghah seputar dunia, kita diantar ke puncak tersendiri dan kata-kata Amirul Mukminin as di sini terasa memiliki ritme dan warna yang berbeda. Dari sekian ratus contoh kalimat beliau tentang dunia sulit bagi saya untuk melewatkan berapa baris berikut ini untuk tidak disampaikan pada kesempatan yang berharga ini, mengingat begitu indahnya kata-kata beliau:

فَإِنَّ الدُّنْيَا رَنِقٌ مَشْرَبُهَا رَدِعٌ مَشْرَعُهَا، يُوْنِقُ مَنْظَرُهَا وَ يُوْبِقُ مَخْبَرُهَا، غَرُوْرٌ حَائِلٌ وَ ضَوْءٌ آفِلٌ وَ ظِلٌّ زَائِلٌ وَ سَنَادٌ مَائِلٌ، حَتَّی إِذَا أَنِسَ نَافِرُهَا وَ اطْمَأَنَّ نَاکِرُهَا قَمَصَتْ بِأَرْجُلِهَا وَ قَنَصَتْ بِأَحْبُلِهَا وَ أَقْصَدَتْ بِأَسْهُمِهَا وَ أَعْلَقَتْ الْمَرْءَ أَوْهَاقَ الْمَنِيَّةِ قَائِدَةً لَهُ إِلَی ضَنْکِ الْمَضْجَعِ وَ وَحْشَةِ الْمَرْجَعِ

Perhatikan betapa indahnya kata-kata ini, dan tentunya tidak bisa diterjemahkan begitu saja. Para sastrawan dan pujangga harus duduk bersama untuk mencari kata padanan yang tepat kemudian menerjemahkannya. Apa yang menarik perhatian saya adalah ketika beliau mengomentari dunia seraya mengatakan, “Penipu yang berubah-rubah, cahaya yang memadam, bayangan yang menghilang, dan sandaran yang nyaris tumbang.”

Kemudian beliau melanjutkan diskripsinya dengan berkata, “Sampai suatu saat orang yang lari dari dunia akan bergantung padanya.” Dunia tampil begitu indah dan menawan dengan segala tipu daya yang tersimpan sehingga orang yang sebelumnya lari ketakutan terpaksa harus menyerah dan bersahabat dengannya.

Beliau melanjutkan, “Orang yang mengingkari akan tenang bersamanya.” Artinya orang yang sebelumnya membenci dan tidak bersedia untuk bergandeng tangan dengan dunia, mau tidak mau dia merasakan ketenangan berada di sisinya.

Ini adalah penyakit. Sahabat-sahabat Nabi saw yang pada masa hidup beliau meninggalkan rumah, kehidupan, kebun-kebun rindang Mekkah, harta kekayaan, perdagangan, bahkan anak dan istri, mereka tinggalkan untuk ikut datang bersama Rasulullah saw ke Madinah demi Islam, mereka tahan lapar dan tabah terhadap segala kesulitan, tapi orang-orang itu pulalah yang dua puluh tiga tahun kemudian setelah kepergian Rasulullah saw begitu serakah terhadap dunia sehingga ketika mereka meninggal dunia, emas yang mereka wariskan terpaksa harus dibagi dan dipecah dengan menggunakan kampak karena terlalu besar. “Sampai suatu saat orang yang lari darinya akan bergantung padanya, dan orang yang membenci akan merasa tenang bersamanya.” Ini adalah puncak kata-kata Amirul Mukminin as, dan ini adalah satu contoh dari sekian banyak kalimat beliau tentang dunia.

Tema lain yang berkali-kali terulang dalam Nahjul Balaghah adalah sifat sombong, seperti inti ceramah beliau yang bernama al-Qâshi’ah. Tentunya tidak terbatas pada ceramah ini saja, melainkan di berbagai tempat lain juga berulang kali beliau membahas kesombongan.

Masalah sombong yang berarti menganggap diri sendiri lebih tinggi dan angkuh daripada orang lain adalah penyakit yang menyelewengkan Islam dan sistem politik Islam, merubah kekhalifahan menjadi kerajaan. Itu artinya sama dengan memberhangus semua hasil dan jerih payah Rasulullah saw—minimalnya—dalam selang berapa waktu. Karena itulah kenapa Amirul Mukminin as begitu perhatian dengan masalah ini.

Satu contoh dalam ceramah al-Qâshi’ah[2] yang makruf dan terkenal ini betapa indah, berbobot, dan kerasnya beliau berceramah. Berikut ini saya ingin mengutip sebagian dari ceramah tersebut:

فَاللهَ اللهَ في كِبْرِ الْحَمِيَّةِ، وَفَخْرِ الْجَاهلِيَّةِ! فَإِنَّهُ مَلاَقِحُ الشَّنَآنِ، وَمَنَافِخُ الشَّيْطانِ، اللاَِّتي خَدَعَ بِهَا الْاُْمَمَ الْمَاضِيَةَ، والْقُرُوْنَ الْخَالِيَةَ، حَتّى أَعْنَقُوا فِيْ حَنَادِسِ جَهَالَتِهِ، وَمهَاوِيْ ضَلاَلَتِهِ، ذُلُلاً عَنْ سِيَاقِهِ، سُلُساً فِي قِيَادِهِ، … ألاَ فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ مِنْ طَاعَةِ سَادَاتِكُمْ وَكُبَرَائِكُمْ! الَّذِينَ تَكَبَّرُوا عَنْ حَسَبِهِمْ، وَتَرَفَّعُوا فَوْقَ نَسَبِهِمْ

Ini adalah peringatan keras Amirul Mukminin as. Secara serius beliau mengingatkan masyarakat untuk menghindari dua hal berikut: (1) adalah sombong dan keangkuhan atau menganggap diri sendiri lebih unggul daripada yang lain, dan (2) sikap menerima kesombongan, keangkuhan, dan anggapan orang lain bahwa dirinya lebih tinggi atau unggul daripada selainnya. Artinya jangan pernah Anda angkuh dan menganggap diri kalian lebih unggul daripada orang lain dan juga jangan pasrah atau menerima sikap orang lain yang sombong dan punya anggapan seperti itu. Dua hal ini adalah jaminan terlaksananya etika Islam antara masyarakat dan penanggung jawab masayarakat Islam. Amirul Mukminin as menegaskan, masyarakat agar tidak angkuh terhadap orang lain sebagaimana beliau sendiri tidak sombong dan juga tidak pernah menerima perlakuan sombong orang lain.

Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat pada waktu itu terjangkit penyakit sombong dan angkuh. Kedua penyakit tersebut di atas ada pada mereka; kesombongan sekaligus juga pasrah dan menerima keangkuhan orang lain. Untuk meyakinkan diri, silakan Anda merujuk pada buku sejarah tentang masyarakat pada waktu itu. Mereka yang mengenal sejarah periode itu mengetahui persis bahwa penyakit utama masyarakat pada waktu itu adalah dua hal tersebut: sebagian dari mereka angkuh, congkak, sombong, dan menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain, seperti Quraisy lebih tinggi dari selain Quraisy, famili dari suku Arab tertentu lebih unggul dari keluarga suku lain. Dan sayangnya, penyakit ini begitu cepat merebak di tengah masyarakat dan orang-orang sombong segera bermunculan di berbagai penjuru setelah kepergian Rasulullah saw. Akibatnya, seperti disebutkan oleh Amirul Mukminin as, “Fainnahû malâqihusy syana’ân …”, Yaitu tempat kelahiran dan menjamurnya perbedaan dan perpecahan. Ketika seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada yang lain, ketika golongan tertentu beranggapan mereka lebih tinggi daripada golongan yang lain, maka saat itu adalah hari pertama perpecahan dan awal pertengkaran. Ketika kita memperhatikan poin-poin teliti dari ucapan Amirul Mukminin as, ternyata beliau telah menyebutkan semua karakter yang bersangkutan.

Penyakit kedua yang dialami masayarakat beliau adalah menerima dan menyerah terhadap keangkuhan orang lain. Yaitu, orang yang tertindas pasrah dengan ketertindasannya dan menerima bahwa mereka memang harus tertindas. Cobalah kita membaca sejarah masa itu, niscaya kita akan mendapatkan banyak bukti kepasrahan mereka terhadap kedzaliman atas diri mereka, pasrah pada kesombongan orang lain dan pasrah pada kehidupan marginal atau selalu di bawah. Anda akan terenyuh menyaksikan realitas masyarakat pada waktu itu. Setiap orang yang hendak mengangkat kepalanya dan unjuk rasa senantiasa diserang habis-habisan, dan ini (unjuk rasa) adalah salah satu karakter masyarakat Irak sepanjang sejarah. Namun demikian, sebagaimana tercatat juga oleh sejarah, orang-orang Kufah bukan tipe masyarakat yang setia dan tepat janji, dan ini karakter yang melahirkan berbagai karakter buruk lainnya. Tetapi secara umum masyarakat Irak pada waktu itu adalah masyarakat yang punya watak tinggi dan tidak pernah menerima penguasa-penguasa Syam. Menurut saya, sepertinya salah satu sebabnya adalah kehadiran Amirul Mukminin as di tengah mereka untuk selang waktu yang cukup lama sehingga mereka mempelajari etika Islam yang mulia ini dari beliau.

Bagaimanapun juga kita menyaksikan sepanjang sejarah pemerintahan Bani Umayah dan Bani Abbas selama sekitar enam ratus tahun, satu-satunya sasaran empuk dan titik utama kelemahan masyarakat Islam pada periode itu adalah hal tersebut di atas, yaitu kepasrahan terhadap keangkuhan atau kezaliman. Kerusakan pun bersumber dari sini. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as sering kali menentang masalah nepotisme dan sikap masyarakat yang menerima nepotisme penguasa serta kesombongan mereka. Ini adalah salah satu hal yang disebutkan Amirul Mukminin as dalam Nahjul Balaghah.

Masalah berikutnya adalah fitnah. Banyak sekali kata-kata beliau yang menakjubkan seputar fitnah. Sebagiannya multi berbobot, indah, dan komprehensif sangat mengherankan perhatian setiap orang yang memikirkannya! Apakah fitnah itu? Fitnah adalah ketercampuradukan dan kacaunya barisan, serta berbaurnya hak dan batil.[3]

وَ لَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هذَا ضِغْثٌ، وَمِنْ هذَا ضِغْثٌ، فَيُمْزَجَانِ! فَهُنَالِكَ يَسْتَوْلي الشَّيْطَانُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ

Masalah mencampuradukkan hak dan batil, penggunaan slogan hak untuk kepentingan batil, penggunaan simbol-simbol hak untuk mengokohkan pondasi kebatilan, semua ini adalah penyakit yang terdapat pada masa Amirul Mukminin as dan beliau tuangkan dalam kata-kata.

Ada dua macam ucapan Amirul Mukminin as tentang fitnah. Salah satu dari dua macam itu membicarakan fitnah secara universal. Saya ingin membaca dua ucapan beliau yang sudah saya catat sebelumnya.

Pada ceramah ke-2 Nahjul Balaghah, ketika beliau berbicara tentang kemunculan Rasulullah saw, beliau juga mengisyaratkan keadaan masyarakat seraya berkata:

في فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا، وَوَطِئَتْهُمْ بأَظْلاَفِهَا، وَقَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا، فَهُمْ فِيهَا تَائِهُونَ حَائِرونَ جَاهِلُونَ مَفْتُونُونَ، في خَيْرِ دَار، وَشَرِّ جِيرَان، نَوْمُهُمْ سُهُودٌ، وَكُحْلُهُمْ دُمُوعٌ

Sungguh ini juga salah satu kalimat yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja. Lagi-lagi para penyair dan sastrawan harus duduk bersama mengerahkan semua kemampuannya untuk menemukan padanan kata dan susunan kalimat yang tepat. Beliau berbicara tentang fitnah sebagai berikut:

Fitnah ibarat kuda liar yang menggilas masyarakat, menginjak-injak mereka dengan kukunya, dan menendang mereka dengan ujung kakinya, maka mereka tersesat di sana dan kebingungan, bodoh dan tergila-gila di rumah terbaik dan tetangga terburuk. Tidur mereka di sana adalah keterjagaan dan celak mata mereka adalah air mata …. Pembicaraan ini berkisar tentang fitnah pra pengutusan para nabi. Beliau menjelaskan kaadaan masyarakat di mana para nabi diutus dan pada hakikatnya menjelaskan pula kaadaan masyarakat pada zaman beliau seraya memperingatkan mereka agar menghindari fitnah.

Ini satu bentuk dari pembicaraan beliau seputar fitnah. Adapun bentuk lain dari penjelasan beliau tentang fitnah adalah spesifik tertuju pada person atau komunitas terbatas, seperti kata-kata beliau mengenai musuh-musuh yang telah menyulut api peperangan, yaitu Muawiyah, Thalhah dan Zubair, ‘Aisyah, Khawarij dan lain sebagainya yang semua itu menurut kaca mata beliau terhitung fitnah.

Sebetulnya, bentuk kedua ini semacam pengungkapan atau penyingkapan. Beliau hendak melumpuhkan dan membasmi fitnah ini dengan cara membongkar wajah-wajah mereka, dan ini adalah sebaik-baik cara membasmi fitnah. Apakah fitnah? Ketika dua kubu sedang bertikai, maka debu bertebaran sehingga wajah-wajah mereka susah untuk dikenal sampai terkadang manusia membunuh saudaranya atau termakan senjata kawannya sendiri. Kadang-kadang dia berjalan bersama musuhnya dan saling percaya. Inilah yang disebut dengan fitnah.

Apa obat penawar fitnah? Penyingkapan. Tak satu hal pun lebih manjur daripada penyingkapan dalam membasmi fitnah. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as melakukan penyingkapan wajah masing-masing, dan penyingkapan ini berarti ada penyakit yang sedang menimpa masyarakat pada waktu itu.

Dengan demikian, kira-kira saya sudah menjelaskan tiga tema, yaitu dunia, kesombongan, dan fitnah, dan masih ada ratusan lain seperti ini dalam Nahjul Balaghah yang bisa Anda temukan apabila Anda mencarinya. Saya sendiri belum menghitungnya sehingga bisa saya pastikan ada seratus masalah lain seperti ini, tapi saya melihatnya demikian. Bahkan lebih dari seratus tema besar yang bisa didapatkan melalui penelitian. Setiap Amirul Mukminin as berbicara tentang sebuah penawar, maka itu menunjukkan adanya penyakit tertentu, karena apabila penyakit itu tidak ada, pasti Amirul Mukminin as selaku hakim yang bertanggung jawab ganda terhadap masyarakat pada zamannya tidak akan berbicara demikian, melainkan dia akan membicarakan hal lain yang lebih berguna. Oleh karena itu, membicarakan hal-hal seperti itu berarti masyarakat pada waktu itu terjangkit oleh penyakit-penyakit tertentu dan penawarnya adalah anjuran-anjuran yang beliau berikan.

Seribu tiga ratus sekian puluh tahun telah berlalu, dan kita sekarang membutuhkan resep obat tersebut, baik untuk pengobatan dan juga untuk mengenali penyakit apa yang mengancam. Kondisi kita sekarang persis seperti dahulu kala. Kita terancam oleh cinta dunia, wabah kesombongan, cinta diri sendiri, nepotisme, dan bahaya fitnah-fitnah sosial yang mampu merobohkan semua bangunan kita. Maka dari itu, kita juga memerlukan penwawar-penawar tersebut, dan senantiasa kita akan merasa butuh kepada Nahjul Balaghah selama-lamanya, terlebih lagi apabila kita memandangnya dengan perspektif ini. Saya tidak melihat seseorang yang mengkaji Nahjul Balaghah dari sisi ini. Memang benar sudah banyak usaha yang dilakukan, tapi ini adalah perspektif baru dalam memandang Nahjul Balaghah. Bercerminlah pada Nahjul Balaghah dan apa yang Anda lihat pada diri Anda dalam kondisi sekarang? Apa penyakit yang Anda idap? Bahaya apa yang mengancam Anda? Dan peringatan apa yang tertuju pada Anda? Ketahuilah penawarnya ada pada Nahjul Balaghah, dan merupakan keharusan kontemporer bagi para peneliti untuk menggali Nahjul Balaghah dari sisi-sisi ini.

Bagaimanapun juga, di penghujung pembicaraan ini, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara terhormat yang telah memberi warna baru pada kajian Nahjul Balaghah, dan memberi perhatian yang lebih ekstra terhadap kajian-kajian seperti ini, serta membersihkannya dari debu-debu kealpaan. Berikutnya, saya juga menghaturkan ucapan terima kasih kepada para peneliti yang menulis di bidang Nahjul Balaghah, mulai dari karya tafsir Nahjul Balaghah dan syarah, terjemah, kamus kata-kata Nahjul Balaghah dan lain sebagainya. Sekali lagi, saya tekankan untuk lebih serius lagi dalam masalah Nahjul Balaghah.

Sekarang ini, Nahjul Balaghah bagi kita lebih sensitif dari berbagai sisi. Di pembahasan tadi saya mengingatkan pada dua sisinya, dan masih banyak lagi sisi-sisi yang lain.

Saya tekankan kembali bahwa kitab ini adalah simpanan agung yang tiada tara dan tidak akan pernah berakhir, dan pada zaman sekarang, kita lebih membutuhkannya, masayarakat kita dan masyarakat Islam lebih memerlukannya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[1] Nahjul Balaghah, surat ke-77.
[2]Ceramah al-Qâshi’ah ke-192.
[3]Ceramah ke-50.

Menjelang Kelahiran Muhammad (Abrahah dan Burung-Burung Ababil)

tahun-gajah-burung-ababil

“Matahari saat itu bersinar dan ia duduk di kemahnya. Ketika ia keluar, matahari bersembunyi di balik segerombolan burung. Abrahah mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahwa ia melihat sekawanan awan yang hitam. Kemudian ia mengamat-amati awan itu. Dan ternyata ia bukan awan biasa. Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak.”

Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.

Allah SWT menyampaikan salawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan salawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bersalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS al-Azhab: 56).

Sebelumnya Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT mengutus beliau saw sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau saw datang dengan membawa rahmat yang mutlak untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman. Allah SWT berfirman, “Dan aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.”

Hakikat dakwah para nabi sebelumnya adalah menyebarkan Islam, begitu juga ajaran yang dibawa oleh Nabi yang terakhir adalah Islam. Beliau saw adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib, anak seorang wanita Quraisy. Beliau saw adalah pemimpin anak-anak Nabi Adam as. Beliau saw adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada umat manusia.

Beliau saw lahir di tanah Arab. Ketika itu malam gelap, tiba-tiba Abdul Muthalib membayangkan bahwa matahari telah terbit, lalu ia bangun dan ternyata mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu kemah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti dengan malam. Ia kembali menutup pintu kemah dan tidur. Belum lama ia dikuasai oleh rasa kantuk yang amat sangat, sehingga ia kembali bermimpi untuk kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak jelas kali ini, Sesungguhnya sesuatu yang besar memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting, “Galilah zamzam!” Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya: “Apakah itu zamzam?” Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu mengatakan bahwa ia diperintahkan untuk menggali zamzam. Belum lama Abdul Muthalib melihat sesuatu yang bersembunyi itu, sehingga ia berdiri di tempat tidurnya dan hatinya berdebar dengan keras. Abdul Muthalib bangkit, lalu ia membuka pintu kemah kemudian pergi ke gurun yang luas. Apakah arti zamzam? Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan cahaya yang datang dari jauh, bahwa pasti zamzam adalah sebuah sumur, tetapi apa yang diinginkan oleh suara yang datang dalam tidur itu agar ia menggali sumur, di sana tidak ada jawaban selain satu jawaban dari pertanyaan ini, yaitu agar orang-orang yang berhaji dan berkeliling di sekitar Ka’bah dapat meminumnya. Tetapi apa nilai dari sumur itu sendiri, bukankah di sana terdapat banyak sumur yang dapat diminum oleh orang-orang yang berhaji.

Abdul Muthalib duduk di tengah-tengah pasir gurun pada pertengahan malam, ia memikirkan bintang-bintang sembari merenungkan cerita-cerita kuno yang mengatakan tentang sumur yang memancar darinya air sebagai akibat dari pukulan kaki Nabi Ismail as, di sana juga ada cerita yang mengatakan bahwa sumur itu telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman.

Matahari terbit di atas gurun Jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang, dan menceritakan kepada mereka bahwa ia akan menggali sebuah sumur di tempat tertentu, ia menunjukkan ke tempat yang di situ ia diberitahu oleh suara yang ada dalam mimpinya. Orang-orang Quraisy menolaknya. Sesungguhnya tempat yang diisyaratkan oleh Abdul Muthalib terletak di antara dua berhala dari berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama Ashaf dan Nallah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul Muthalib tidak mempunyai sesuatu selain hanya seorang anak. Bahwasanya ia tidak memiliki anak-anak yang dapat menolong dan memperkuatnya serta melaksanakan keinginan-keinginannya.

Pada saat itu di kawasan negeri Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang terjalin suatu ikatan fanatisme atau kesukuan yang kuat dan usaha untuk melindungi keluarga yang sangat menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan Ka’bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah SWT. Ia berkata: “Jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan mereka menginjak usia dewasa, sehingga mereka mampu melindungiku saat aku menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban.”

Pintu langit pun terbuka untuk doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki sampai pada tahun yang kesembilan, sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar.

Abdul Muthalib akhirnya menjadi seseorang yang memiliki kemampuan. Kemudian Abdul Muthalib berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya itu, yaitu ia bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaannya dari nazarnya. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka orang-orang yang ada di sekitarnya berusaha memberontak, mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih.

Abdullah saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih di kawasan Arab, ia telah dapat menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Ia tidak pernah menyakiti seseorang pun. Bahkan ia tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari orang lain. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan Jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh karena itu semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih, dan menjadikan anak-anak kami sebagai tebusan baginya. Kami tidak akan menemukan seseorang pun yang lebih baik dari dia seandainya kami menyembelihnya, pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami bertanya kepada dukun.”

Abdul Muthalib tampak tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu ia mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang dukun. Si dukun berkata: “Berapakah taruhan yang kalian miliki?” Mereka menjawab: “Sepuluh ekor unta.” Dukun itu berkata: “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya, maka tambahlah sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga tidak keluar lagi nama Abdullah.”

Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, kemudian lagi-lagi yang keluar nama Abdullah sehingga mereka pun menambah sepuluh ekor unta lagi sampai jumlah unta itu telah mencapai seratus ekor unta. Setelah itu, datanglah nama unta tersebut. Maka saat itu, masyarakat demikian gembiranya sehingga berlinangan air mata, kegembiraan dari mereka karena melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah, dan mereka membiarkannya di situ sehingga korban itu tidak disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas.

Abdul Muthalib sangat gembira atas keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia menetapkan untuk menikahkannya dengan gadis terbaik di Jazirah Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu hari dari Ka’bah ke rumah Wahab, dan di sana ia meminang untuknya Aminah binti Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy.

Dinyalakanlah api di gunung-gunung Mekkah, agar para musafir dan para tamu mengetahui tempat diadakannya acara tersebut, yaitu acara pernikahan antara Abdullah dan Aminah. Lalu disembelihlah hewan-hewan korban, dan manusia dari kalangan orang-orang fakir bahkan binatang-binatang buas dan burung makan darinya. Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan di rumah pernikahan, hingga suatu hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy menuju Syam, itu adalah kesempatan terakhir yang diperoleh Aminah binti Wahab bersamanya. Wajah Abdullah yang mulai tampak berseri-seri mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu bayang-bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan rnereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya setelah dua bulan dari perkawinannya. Abdullah mengunjungi paman-pamannya dari kabilah Bani Najar di Madinah, dan di sana ia meletakkan jasadnya di muka bumi, ia meninggal dunia.

Abdullah bin Abdul Muthalib kini telah meninggal. Saat itu ia berusia dua puluh lima tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan hati orang-orang yang mendengarnya, sehingga kabar itu sampai ke istrinya. Aminah tampak menangis tersedu-sedu dan ia tampak menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada dirinya dan tidak mengetahui jawabannya, mengapa Allah SWT menebusnya dengan seratus unta jika kemudian Dia menetapkan kematian baginya.

Tidak lama kemudian, bergeraklah di rahimnya janin dengan gerakan yang sedikit, ia tampak mulai mengetahui bahwa ia sedang hamil. Aminah menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis untuk anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum ia sempat dilahirkan. Aminah tidak pernah mengetahui sebelumnya bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi anak yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan.

Anak yatim ini harus menanggung beban anak-anak yatim dan orang-orang fakir serta orang-orang yang sedih di muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir dan rasul-Nya kepada manusia. Ia akan menjadi rahmat yang dihadiahkan kepada manusia dan tidak akan mengetahui makna rahmat kecuali orang yang merasakan penderitaan dan kepahitan. Inilah anak kecil yang sebelum dilahirkan telah menelan kesedihan. Dan berlalulah hari demi hari, lalu hilanglah tangisan penderitaan dan mata Aminah pun telah mengering, namun kesedihannya tampak menyerupai sebuah pohon yang turnbuh bersama kehausan.

Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan tetapi kesedihannya itu mulai tidak tampak ketika ia mendapatkan bahwa janin yang dikandungnya tidaklah memberatkannya, sebaliknya ia merasakan betapa ringannya janin yang dikandungnya bagaikan merpati yang berkeliling di seputar Ka’bah, dan seandainya kesedihannya yang selalu mengitarinya, maka tidak ada wanita yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin dekatlah hari kelahirannya. Sementara itu, pasukan Abrahahh mendekati Mekkah.

Abrahahh adalah seorang penguasa Yaman, yaitu pada saat Yaman tunduk kepada Habasyah setelah penguasa Persia diusir. Di Yaman ia membangun suatu gereja yang menunjukkan bangunan yang menakjubkan. Abrahahh membangunnya dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di Mekkah. Ia melihat betapa orang-orang Yaman tertarik dengan rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik seperti itu dan tidak mampu menarik hati orang-orang Arab, maka ia berkeinginan kuat untuk menghancurkan Ka’bah, sehingga orang-orang tidak menuju ke Ka’bah lagi melainkan ke gerejanya. Demikianlah akhirnya ia menyiapkan pasukan yang besar yang dipenuhi dengan berbagai senjata, kemudian pasukan itu menuju Ka’bah.

Pasukan Abrahahh terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk menghancurkan Ka’bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank yang kita gunakan saat ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab saat itu terkenal sebagai penyembah berhala, meskipun demikian mereka sangat memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap Ka’bah, karena mereka meyakini bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka’bah.

Perjalanan pasukan tiba-tiba dihadang oleh seorang lelaki yang mulia dari penduduk Yaman yang bernama Dunaher. Ia mengajak kaumnya dan dari kalangan orang-orang Arab untuk memerangi Abrahah, sehingga ada beberapa orang yang mengikutinya. Abrahah berhadapan dengan tentara tersebut tetapi pasukan yang sedikit itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan Abrahah tersebut juga sempat ditentang oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun Abrahah pun dapat mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail.

Kemudian ketika Abrahah melewati kota Taif, menghadaplah kepadanya beberapa orang tokoh setempat, dan mereka tampak gemetar ketakutan dan berkata kepadanya bahwa sesungguhnya ‘rumah’ yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi berada di Mekkah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk memalingkannya dari rumah berhala mereka, di mana mereka membangun di dalamnya berhala yang bernama Latha kemudian mereka mengutus seseorang yang akan menunjukkan kepada Abrahah letak Ka’bah. Ketika Abrahah berada di antara Taif dan Mekkah, ia mengutus seorang pemimpin pasukannya sehingga ia melihat keadaan Mekah. Di sana ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan selain mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar Quraisy dan pemimpin mereka, serta pengawas sumur Zamzam.

Kedatangan utusan Abrahah di Mekah telah menimbulkan gejolak pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Kemudian mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di Jazirah Arab berita tentang datangnya pasukan yang kuat yang sulit untuk ditandingi. Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahah menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: “Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Ka’bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya.” Kemudian utusan itu pergi bersama Abdul Mutihalib menuju Abrahah.

Abdul Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan sangat mulia. Ia memiliki kewibawaan dan kehormatan yang mengagumkan. Ketika Abrahah melihatnya, Abrahah menampakkan penghormatan kepadanya. Abrahah memuliakannya dan mendudukannya di bawahnya, ia tidak suka bahwa ia duduk bersamanya di kursi kekuasaannya. Lalu Abrahah turun dari kursinya dan duduk di atas sebuah permadani dan mendudukkan Abdul Muthalib di sisinya. Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakan padanya apa kebutuhannya?” Abdul Muthalib berkata: “Kebutuhanku adalah agar Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta yang diambilnya dariku” Ketika Abdul Muthalib mengatakan demikian, wajah Abrahah berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya: “Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan kakek-kakeknya, yang aku datang untuk menghancurkannya dan dia tidak menyinggungnya sama sekali” Abdul Muthalib menjawab: “Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang melindunginya.” Abrahah berkata: “Dia tidak akan mampu melindunginya dariku.” Abdul Muthalib menjawab: “Lihat saja nanti!”

Selesailah dialog antara Abdul Muthalib dan Abrahah. Abrahah pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang Quraisy dan menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan Mekkah dan berlindung di balik gua-gua di gunung. Akhirnya kota Mekkah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab.

Abdul Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka’bah dan berdiri bersama dengan sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta perlindungan-Nya, agar para malaikat memerintahkan gajah-gajah tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap di tempatnya dan menaati perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu tampak gemetar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu menolak untuk bergerak dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahah bertanya: “Mengapa pasukan tidak bergerak?” Kemudian dikatakan kepadanya bahwa gajah-gajah menolak untuk bergerak. Abrahah mengangkat cemetinya. Dengan muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya.

Matahari saat itu bersinar dan ia duduk di kemahnya. Ketika ia keluar, matahari bersembunyi di balik segerombolan burung. Abrahah mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahwa ia melihat sekawanan awan yang hitam. Kemudian ia mengamat-amati awan itu. Dan ternyata ia bukan awan biasa. Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung Ababil, burung yang banyak.