Arsip Tag: Banten

Wanita yang Berbeda

Sulaiman Djaya, Scent of Women

Cerpen Siti Nuraisyah* (Sumber: Radar Banten, 23 September 2014)

Pukul 16.30 Aku datang tepat waktu. Sore ini, kami berdua berjanji untuk kembali bertemu setelah hampir satu minggu semua pekerjaan menyita seluruh waktuku. Dari depan pintu, aku dapat melihatnya duduk di sudut cafe, sedikit terpisah dari pengunjung lainnya. Tempat biasa kami menghabiskan segelas kopi dalam genggaman masing-masing. Seperti biasa ia selalu datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.

“Aku tak suka menunggu, itu lah alasannya kenapa aku tak ingin membuat orang lain menunggu.” Itu yang selalu ia katakan. Dan aku belajar hal itu darinya.

Ia langsung tersenyum saat menyadari kehadiranku. Masih menggunakan blezer kerja berwarna hitam, yang menandakan bahwa ia tak sempat pulang ke rumah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Rasa lelah terpancar jelas di wajahnya, entah karena pekerjaan atau karena hubungannya dengan laki-laki itu. Tapi bagaimanapun, ia selalu terlihat cantik.

Aku melanjutkan langkahku dan duduk di hadapannya. Tanpa banyak haha dan hihi akhirnya kami memesan cappuccino dan tiramisu masing-masing satu.

Dua gelas cappuccino dan dua potong tiramisu datang tak lama setelah kami selesai menanyakan kabar. Ia menjawab bahwa ia baik-baik saja, tapi aku tahu ia tidak sedang baik-baik saja. Setelah tegukan pertama, ia menghela nafas panjang. Aku benar-benar yakin bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Tangismu pecah, pada helaan nafas di akhir cerita. Sepertinya kamu tak lagi mampu menahan beban berat yang sejak tadi membuatmu menghela nafas berkali-kali. Ceritamu selalu sama, tentang dia yang kembali menyakitimu dengan semua hal yang ia lakukan, dengan semua hal yang ia katakan. Aku benci mendengarnya.

Aku mengenalmu lebih dari siapapun yang pernah kamu kenal, kita telah bersama lebih lama dari siapapun yang pernah bersamamu. Aku tahu kamu, sifatmu, kebiasaanmu. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mengerti jalan fikiranmu. Aku tak pernah bisa sepenuhnya tahu apa yang kamu fikirkan. Aku…aku…tak pernah tahu, kenapa kamu masih saja bertahan.

Ia menyakitimu, lagi, lagi dan lagi. Tapi, Kamu masih tetap mencintainya. Ia mengecewakanmu, lagi, lagi dan lagi. Tapi kamu masih tetap bertahan di sampingnya.

“Aku yakin kok, dia bakal berubah.” Katamu di sela isak tangis.

“Tapi, aku nggak yakin.” kataku. Dan kamu hanya akan tersenyum mendengar semua omelanku.

Aku tahu sekali tentang hubunganmu dengan laki-laki itu. 3 tahun, aku tak menyangka kamu bisa bertahan selama ini menghadapi laki-laki seperti itu. Ini bukan pertama kalinya kamu menangis hingga separah ini. Penjaga cafe pun sudah tahu, dan mungkin mereka sudah memakluminya.

Berulang kali aku memberitahumu bahwa dia tak akan berubah, dia adalah orang yang salah. Namun aku menyerah, sampai kapan pun kamu tak akan pernah mendengarkanku. Tugasku, hanya menjadi seorang pendengar yang baik untukmu.

Kita berteman sudah sangat-sangat lama. Aku selalu menjagamu. Aku tak ingin satu orangpun menyakitimu. Tapi dia datang, menghancurkan apa yang selalu aku jaga. Dan aku…tak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa sakit yang teramat saat kamu menangis di hadapanku. Ada debar yang tak terduga saat jemariku menggenggam erat jemarimu ―yang bermaksud untuk menguatkan.

Aku tahu, tak seharusnya rasa sayangku berubah menjadi apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Aku tahu, tak seharusnya aku jatuh cinta padamu. Kita tumbuh bersama, hingga akhirnya aku mempunyai rasa. Aku tahu ini kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Aku menginginkanmu, namun tak ingin kamu ikut terjerumus bersamaku.

Aku pun tak mengerti tentang perasaan ini, bukan cuma sekali aku mengutuk diriku sendiri, tapi pada akhirnya aku harus mengerti bahwa ini telah terjadi. Aku telah jatuh cinta padamu, tapi…aku, sudahlah. Aku tahu aku hanya akan menjadi teman terbaikmu.

Suaramu mulai parau saat berkata. “Aku tak apa-apa.” Dan kembali meneguk cappuccino yang hampir dingin. Tapi nyatanya tangismu lebih banyak menceritakan apa yang kamu rasakan dibandingkan kata-kata yang kamu ucapkan. Tapi kamu, masih bisa berkata bahwa kamu tak apa-apa.

Lagi-lagi aku tak mengerti jalan fikiranmu.

Aku masih tak mengerti, saat kamu bilang tak bisa meninggalkannya. Aku hanya mengerti, bahwa kamu terlalu melihat pada satu titik hitam hingga tak sadar ada pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku hanya mengerti, kamu terlalu melihat pada jurang dalam di hadapanmu hingga kamu tak sadar bahwa ada jembatan yang siap menyeberangkanmu.

Aku tahu, tak seharusnya aku berharap menjadi pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku tahu, tak sepantasnya aku berharap menjadi jembatan yang akan menyebrangkanmu melewati jurang.

Aku tahu, sampai kapan pun kamu tak akan menyadari perasaanku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa memilikimu. Kita sama-sama wanita? Kau tahu sendiri kan? Tapi aku rasa kita wanita yang berbeda, maksudku aku wanita yang berbeda.

*Lahir di Pandeglang, Banten 1 April 1997. Saat ini aktif di Kubah Budaya.

Catatan Harian Orang Kampung (Bagian Keempat)

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Suatu ketika, di tengah perjalanan pulang sekolah, tiba-tiba turun hujan lebat, dan aku berteduh di bawah naungan ranting-ranting, dahan-dahan, dan daun-daun sepohon lebat di tepi jalan.

Memang, selama separuh perjalananku sebelumnya, langit tampak mendung, dan kupikir hujan baru akan turun sesampainya aku di rumah, sebuah praduga dan perkiraan sepihak yang sungguh keliru dan kusesali. Maklum, kala itu akau ingin segera pulang ke rumah.

Malangnya aku. Hujan itu ternyata berlangsung cukup lama, sekira setengah jam lebih. Dan saat itulah aku dirundung kesepian dan ketakutan.

Tak ada kendaraan atau orang yang melintas selama hujan lebat itu turun dan tercurah cukup deras dan riuh. Saat itulah aku serasa tengah berada di dalam dunia yang sangat sunyi. Barangkali pada saat itu pula hatiku berdo’a.

Manusia ternyata harus bersabar dan berdo’a ketika kejadian dan peristiwa yang tak menyenangkan menimpanya. Bahkan, kebahagiaan yang kita alami dan kita rasakan akan lebih bermakna setelah kita mengalami dan merasakan penderitaan.

Setelah hujan lebat itu reda, aku menggerakkan dan melangkahkan kedua kakiku dalam keadaan tubuh menggigil kedinginan, hingga gigi-gigiku sesekali bergemeretak. Untungnya kala itu, ada mobil truck pengangkut pasir melintas, dan aku dibolehkan duduk menumpang di kursi sopir dan temannya –dan itulah berkah yang tak kuduga pula.

Sesampainya di rumah, aku segera melepaskan baju seragam sekolahku dan langsung kuserahkan kepada ibuku, dan ibuku menjemur baju seragam sekolahku itu di dapur, di sebatang bambu yang melintang di atas dapur agar cepat kering dengan bantuan suhu dapur bila ibuku memasak dengan menggunakan kayu bakar di tungku-tungku dapur, karena keesokan harinya aku harus mengenakan baju seragam sekolahku tersebut.

Ketika itu rumah kami yang sederhana hanya berlantai tanah, tanpa semen atau keramik seperti saat ini (seperti saat aku menulis catatan ini). Di lantai tanah itulah akan menggelar tikar pandan bila kami akan tidur.

Sementara itu, kebutuhan makan kami sehari-hari telah disediakan oleh apa saja yang kami tanam, seperti sayur-sayuran yang kami tanam, semisal bayam, kangkung, kacang, tomat, cabe rawit, dan lain sebagainya, di mana ibuku seringkali membuat menu makanan seperti sambal dari cabe rawit, tomat, garam yang dibeli dari warung, dan kulit buah rosella berwarna merah yang kami tanam sendiri.

Dalam setiap waktu makan, ibuku akan selalu membuat atau memasak sayur dari bayam atau kangkung yang dicampur bawang yang ditanam sendiri dan garam yang dibeli dari warung. Kalau pun sesekali kami makan lauk, paling-paling ikan asin, tahu, dan tempe yang dibeli dari pedagang keliling yang menggunakan sepeda.

Keberuntungan lainnya, sesampainya di rumah setelah diguyur hujan lebat itu, adalah ketika buku-buku catatan sekolahku tidak ikut basah karena kubawa dan kubungkus dengan kantong plastik.

Ide untuk menggunakan kantong plastik yang agak tebal dan cukup besar untuk buku-buku itu berasal dari ibuku, dan terbukti lebih hebat dibandingkan teman-temanku yang menggunakan tas yang tembus air, hingga buku-buku mereka basah bila mereka kehujanan.

Di sekolah menengah pertama itulah aku bergabung dengan geng anak-anak Kragilan Utara, seperti Saifuddin (yang hingga sekarang masih sesekali berkunjung kepadaku), Mohammad Atta, Suradi Partawijaya, dan lain-lain, yang acapkali clash dan berkompetisi dengan geng anak-anak Kragilan Selatan (yang kebanyakan anak-anak mapan dan berasal dari lingkungan kota).

Geng anak-anak Kragilan Utara (anak-anak kampung) inilah yang selalu menang bila terjadi clash dengan anak-anak Kragilan Selatan (anak-anak kota), karena memiliki fisik yang jauh lebih kuat dibanding mereka (dibanding anak-anak kota), seperti Mohammad Atta dan Suradi Partawijaya.

Dapat dikatakan, geng kami adalah geng yang paling ditakuti di sekolah menengah pertamaku, dan orang yang paling lemah secara fisik di geng kami adalah aku, tapi yang paling kuat secara intelektual, hingga anggota geng kami akan bertanya kepadaku bila mereka kesulitan untuk mencerna dan memahami mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah kami.

Begitu pula, mayoritas anggota geng kami adalah anak-anak tetangga kampungku, anak-anak yang dibesarkan oleh alam pedesaan, di mana kami disatukan oleh latar-belakang kami dan keinginan agar tidak dilecehkan anak-anak kota yang acapkali kurang ajar terhadap anak-anak kampung. (Bersambung)

Sungai Ciujung

Kragilan, Serang, Banten

Hak cipta © Sulaiman Djaya (2010)

Di waktu kecilku dulu, arusmu kubaca sebagai tafakkur.
Keheningan bertepuk dengan rimbun daun-daun.

Pada yang tak rampung, musim mengetam nasib seputih randu.
Usia bagai perempuan menyisir rambutnya, menjelma bendera.

Di waktu kecilku dulu, siangmu kujadikan teduh sekarib peluk.
Dan aku pernah akrab dengan mereka yang senantiasa hijrah.

Sesaat sebelum aku pulang, aku singgah barang sebentar
pada senja yang bersandar di barisan pohon-pohon kelapa.

Kanak-kanak riang berlarian menerbangkan layang-layang
sebelum hujan memanen kenangan tanpa saputangan

ketika ibuku tersayang mengembarakan jari-jemari tangan
ke sela-sela pancaroba yang mengeringkan batang-batang pandan

hingga asar dikumandangkan, dan malam jadi rumah keheningan.

Anatomi Ingatan

Sulaiman Djaya Tahun 1985

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2010)

Dari segi budaya massa, tahun 70-an bisa dibilang sebagai eranya The Beatles dan Rock N Roll, ketika generasi muda mengenakan busana yang lebar di ujung kakinya dan ketat di bagian paha mereka. Sebuah masa yang bukan milik saya, dan karena itu tak banyak yang bisa saya ketahui di tahun-tahun 70-an, selain mereka-reka, dan itulah yang saya lakukan, ketika membuka album foto-foto keluarga, yang sebagian besar sudah agak kusam dan sudah tak lagi mencerminkan jepretan pertama. Namun di dalam hati, saya diam-diam merasa kagum dan berterimakasih kepada fotografi, yang meski saya lahir di pedesaan, keluarga saya bisa dikatakan sadar dokumentasi.

Dalam keadaan seperti itu, saya hanya bisa tersenyum-senyum sendiri di ruangan tempat saya menulis dan membaca ketika memandangi foto-foto keluarga dan membaca-baca majalah-majalah di tahun-tahun 70-an dan 80-an yang saya dapatkan dari paman dan sepupu saya itu.

Dalam foto-foto itu, saya adalah antara lain seorang bocah yang baru bisa merangkak dan seorang siswa kelas satu sekolah dasar dengan kondisi punggung yang masih tegak, tidak seperti sekarang ini yang mudah lelah dan merasa sakit bila tidak bersandar. Bersamaan dengan itu, saya tiba-tiba tergoda untuk membayangkan dan mengingat-ingat malam-malam di desa di tahun-tahun 80-an yang masih menggunakan lampu-lampu minyak. Saya tergoda untuk kembali membayangkan dan mengingat-ingat keheningan malam yang begitu panjang, sepanjang jalan dan sungai, sepanjang pohon-pohon rimbun, di mana suara-suara serangga dalam kegelapan selepas hujan semakin menambah keheningan itu sendiri.

Rasa ingin membayangkan kembali masa silam itu justru tersulut di saat-saat saya memandangi foto-foto yang tersimpan di album keluarga, di saat-saat saya membaca-baca majalah-majalah era 70-an dan 80-an, yang di saat tidak menceritakan semuanya, tapi pada saat yang sama menyimpan banyak hal, yaitu ingatan itu sendiri.

Kemudian saya seolah mendapatkan suatu kesan bahwa sebuah gambar, ternyata, sama-sama bisa bercerita banyak hal sebagaimana satu buku sejarah, atau bahkan bisa lebih banyak bercerita ketimbang satu buku sejarah, justru karena ia rentan dan selalu memiliki kemungkinan untuk ditafsirkan. Seperti halnya sebuah komposisi musik yang ingin selalu Anda dengarkan, karena ada sesuatu yang ingin Anda ceritakan dengannya, meski untuk anda sendiri. Dan sebuah foto bercerita banyak kepada Anda sekaligus tetap menyimpan dan menyembunyikan yang lainnya.

Seperti itulah, sebuah foto yang saya pandangi sanggup membuat saya tergoda untuk mengingat-ingat sejumlah kenangan yang menyenangkan dan yang menyedihkan. Memancing rasa sentimentil saya untuk membayangkan masa silam yang telah tak ada. Rasa sentimentil yang tersulut begitu saja ketika saya merasa bosan atau jenuh dengan apa yang tengah saya lakukan dalam kesendirian.

Mungkin, pada saat-saat itu, Anda tak perlu membaca kembali catatan harian Anda, itu pun bila Anda punya catatan harian. Atau ketika Anda ingin merenungi sejenak perjalanan hidup Anda, mungkin cukup memandangi foto-foto dalam album fotografi milik Anda.

Sementara, bagi saya sendiri, ketika memandangi foto-foto di album keluarga, seperti yang telah saya katakan itu, saya tiba-tiba membayangkan kembali masa-masa ketika malam terasa begitu panjang dan hujan membuat keheningan terasa semakin kental di pedesaan, di saat saya hanya bertemankan selampu minyak di meja belajar. Katakanlah, sebuah foto atau sebuah gambar bisu tentang diri Anda, justru yang seakan-akan sanggup menghentikan dan menyandra masa lalu untuk siap menghadirkannya kembali ke masa sekarang di mana Anda hidup dan memandanginya.

Pada kasus tersebut, sebuah foto menjadi intim dan berarti bukan karena sebuah foto baru jadi atau baru dicetak, tetapi karena ia sudah tersimpan lama dan sekaligus telah menyimpan tahun-tahun yang pernah Anda jalani dalam hidup, tahun-tahun yang dalam keadaan tertentu dalam hidup Anda mungkin terasa belum jauh dan serasa baru beberapa waktu saja. Dan utamanya untuk kasus saya sendiri, foto-foto di album keluarga itu tak menerakan tanggal dan tahun kapan foto itu diambil dan dibuat oleh si fotografernya, hingga saya mesti mereka-reka sendiri tentang masa dan waktu pembuatan dan pencetakannya.

Karena itu, bila saya boleh menyimpulkan, sebuah foto bisa mengatakan sesuatu yang tak bisa dilakukan atau diceritakan oleh lembar-lembar halaman catatan harian. Contohnya adalah wajah-wajah yang sedih atau riang dalam sebuah foto atau gambar, tetap saja memancarkan keunikannya sendiri yang berbeda-beda pada setiap orang atau wajah, pada setiap moment atau kondisi-kondisi tertentu.

Bersama sebuah foto, ingatan yang memang sebenarnya hanya angan-angan kita, diberi kesempatan untuk memuaskan apa yang ingin direka dan digambarnya kembali. Meski pada saat yang sama juga ia hanya bisa mengembarai kegelapan dan khayalan-khayalannya sendiri. Tetapi, mungkin karena hal itu pula, rasa senang senantiasa direkonstruksi, di saat anda ingin mengingat-ingat kembali kejadian dan peristiwa yang pernah ada atau yang melatarbelakangi keberadaan foto itu sendiri, di saat foto itu sendiri sebenarnya sudah terbebas dari peristiwa atau kejadian yang pernah anda alami atau yang pernah anda rasakan.

Persis seperti itulah, dengan dan bersama sebuah foto, apa yang saya lakukan adalah mengarang kembali sejarah dan perjalanan hidup saya. Anggaplah sebuah foto tak ubahnya satu puisi singkat yang bisa menceritakan banyak hal sekaligus menyamarkannya pada saat bersamaan. Fungsi figuratifnya telah membuatnya menjadi kecil sekaligus longgar dan terbuka untuk selalu ditafsirkan.

Namun, di atas semua yang telah saya katakan itu, ada juga mungkin sesuatu yang lain. Sebutlah ketika Anda memandangi foto diri Anda, terutama diri Anda di suatu masa yang telah berlalu bertahun-tahun, ada sesekali perasaan bahwa Anda tengah memandangi orang lain, disadari atau tidak disadari. Dan pada saat itu pula, Anda pun tengah mengagumi diri Anda yang lain, seperti ketika Anda memandangi diri Anda di cermin, di mana sebuah cermin berfungsi sebagai pemantul sekaligus pemisah (pemecah) diri Anda. Hanya saja sebuah foto diri Anda di masa silam mengajak untuk kembali menemukan diri Anda, dan itulah yang bisa kita sebut sebagai ingatan yang disandera sekaligus diceritakan oleh sebuah foto yang telah lama tersimpan.

Ingatan dan sebuah foto paling pribadi milik Anda, sebagaimana sebuah puisi romantis yang bukan lagi milik penyairnya, telah memiliki kehidupannya sendiri, kehidupan yang telah berpisah sekaligus masih dibagi dengan diri Anda, atau katakanlah, merebut figur Anda demi keberadaan dirinya sendiri. Karena itu, yang Anda lakukan tak lebih mengarang kembali ketika Anda ingin memasuki ingatan, atau ketika Anda mengingat-ingat kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun. Meski pada kadar yang paling sentimentil, Anda merasa seakan-akan waktu tak beranjak, apa yang lazim disebut sebagai daya-tarik kesedihan dan keriangan sesaat.

Hingga bisa dikatakan, sebuah foto, sebagaimana sebuah cermin, menjadi ada karena bukan hanya mampu menampilkan citra Anda, tetapi lebih dari itu, ia mampu menunjukkan dan menghadirkan “orang lain”, orang lain yang anehnya terus-menerus Anda identifikasi sebagai diri Anda. Dalam kajian historiografi, contohnya, sebuah foto telah mampu menghadirkan kembali kejadian-kejadian atau pun peristiwa-peristiwa di masa lalu yang sebenarnya sudah tidak ada.

Sementara itu, bagi saya sendiri, sebuah foto yang saya pandangi seakan mengajak saya kembali untuk menyusuri jejalan setapak sungai di bawah barisan pohon-pohon rindang yang mirip sebuah terowongan kota-kota metropolitan sekarang ini. Jejalan setapak sepanjang sungai yang sebenarnya hanya bisa saya khayalkan. Dan diri saya yang saya ingat-ingat itu pun sebenarnya tak lebih orang lain yang telah tak ada. Sedangkan dorongan khayalan itu sendiri adalah perasaan cacat dan tak lengkap dalam diri saya sendiri, atau mungkin dalam diri Anda. Itulah yang lazim disebut sebagai ironi dan dilema Narcissus: “permainan kehilangan dan menemukan”.

Pada konteks seperti itu, nilai makna dan arti sebuah foto terletak pada kemampuannya untuk membangkitkan sentimentalitas personal. Ketika detil dan ketaklengkapan telah membebaskan dirinya untuk ditafsirkan oleh saya atau Anda sendiri. Ketika ia membiarkan dirinya untuk terus direkonstruksi sejauh menyangkut kejadian dan latarbelakang yang menyediakan peluang bagi ingatan untuk melakukan tugasnya dalam pengembaraan-pengembaraan permainan kehilangan dan menemukan itu.

Kita juga sebenarnya sudah begitu tahu, dari sudut historiografis, fotografi telah menjalankan fungsi artifak dan hiorieglif, situs dan prasasti, meski yang diceritakan kepada kita lebih merupakan pecahan, potongan, dan kepingan kejadian, yang dari itu, kita sendiri yang mesti merangkai keutuhan dan kelengkapannya. Di sini dikatakan, misalnya, detil-detil sebuah foto akan mampu memberikan materi untuk upaya rekonstruksi kejadian dan pemahaman peristiwa, meski sebenarnya tak pernah berhasil menemukan keutuhan.

Sebagai contoh lainnya misalnya dikatakan, dari kualitas warna dan cahaya, kita bisa mereka-reka apakah sebuah foto yang kita pandangi dibuat dan diambil pada waktu pagihari, sianghari, sorehari, ataukah malamhari. Sementara itu, detil-detil material dan situasi sebuah tempat yang tersimpan dan tertangkap sebuah foto akan juga mengatakan kepada kita tentang situasi sebuah jaman, trend yang sedang berlaku, atau juga situasi sosial-budaya yang bisa dicontohkan dengan materi dan situasi busana, arsitektur tempat, produk-produk industri-ekonomi, dan lain sebagainya. Sesuatu yang dulu orang-orang purba gambarkan kepada kita melalui ukiran, lukisan, simbol-simbol, dan rumus-rumus seperti yang dicontohkan dengan baik oleh hieroglif orang-orang Mesir purba, yang adalah juga para seniman grafis yang cakap secara matematis dan estetis.

Tetapi, karena ketaklengkapannya itu, dan ini pun diakui oleh para arkeolog dan sejarawan, sebuah prasasti, hieroglif, atau pun fotografi, hanya memberikan kepingan cerita, bukan keseluruhan peristiwa atau pun kejadian historis yang padu dan lengkap. Pada celah itulah dibutuhkan interpretasi alias penafsiran dan angan-angan sang arkeolog atau pun sang sejarawan, atau apa yang saya sendiri akan menyebutnya sebagai upaya “mengarang kembali” peristiwa dan kejadian.

Hingga karena demikian, historiografi sekalipun tak pernah terbebas dari angan-angan, justru karena setiap fakta dan bukti historiografis pada akhirnya mesti ditafsirkan, di saat yang hadir kepada kita hanya pecahan dan kepingan, bukan peristiwa atau kejadian yang utuh. Ia ada sebagai sesuatu yang cacat dan tak lengkap.

Tepat pada saat itulah, Anda hanya berusaha mengangankan dan mengarang kembali kejadian atau pun latarbelakang sebuah foto yang anda pandangi atau yang tengah anda selidiki, di saat figur anda yang ada dalam foto tersebut telah menjadi orang lain yang milik masa lalu. Di saat milik Anda yang sesungguhnya hanyalah angan-angan itu sendiri. Dan karena itu, semakin tak lengkap sebuah foto, semakin kreatif pula angan-angan Anda untuk mengarang kembali sebuah peristiwa atau kejadian yang dapat membuat sebuah foto berarti bagi Anda, di saat Anda sendiri hanya bisa mengangankan kembali gambar-gambar buram ingatan.

Seperti itu pulalah historiografi, sebagaimana dipahami Homerus, Virgilius, dan Plutarch, tak sekadar dokumentasi prosaik, tetapi sebuah deskripsi yang hidup, yang karenanya Homerus dan Virigilius menuliskannya dalam bentuk teater puitis melalui media puisi, di mana ingatan menjadi demikian hidup karena dituliskan dan digambarkan secara teatrikal. Sebab itu tidak berlebihan, ketika Shakespeare mengaku diri lebih banyak belajar tentang sejarah dari puisi-puisi dan drama-drama Yunani, atau dari epik-epik lainnya.

Menulis Ingatan

Jalan yang Sunyi

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2008)

Di tahun 80-an, di mana ketika itu saya masih kanak-kanak, kami biasa menggunakan penerangan untuk rumah-rumah kami dengan menggunakan lampu-lampu minyak. Di keluarga saya sendiri, yang setiap hari melakukan tugas menyediakan lampu-lampu minyak untuk kami itu adalah ibu kami.

Setiap menjelang malam, kira-kira beberapa menit sebelum adzan magrib berkumandang, ibu kami mulai mengisi tabung lampu-lampu minyak kami dengan minyak tanah atau minyak kelapa buatan ibu kami sendiri. Antara dua minggu atau satu bulan, karena saya tak lagi ingat dengan tepat, ibu kami juga akan mengganti sumbu lampu-lampu minyak yang terbuat dari kain-kain bekas itu.

Lampu-lampu minyak itu, bila kami sedang menjalani malam-malam kami di musim hujan, harus bertarung dengan hembusan angin ketika hujan turun di waktu malam. Biasanya, ibu kami akan melindungi nyala-nyala apinya dengan menggunakan pelindung dari plastik yang dibuat oleh ibu kami sendiri.

Pada saat itu, saya yang tengah belajar di meja belajar saya, diberi anugerah untuk mendengarkan pecahan-pecahan hujan di halaman dan di genting-genting rumah. Mungkin, saat itu, saya membayangkan pecahan-pecahan hujan itu sebagai para peri yang tengah riang menari dan bernyanyi di hening malam.

Kadang-kadang, sebagaimana angan-angan saya merekonstruksinya saat ini, saya berhenti sejenak untuk sekedar menyimak suara-suara riuh angin dan gerak dedaunan yang diombang-ambing angin dan hujan. Sesekali saya juga membiarkan saja tetes air hujan yang menitik di ruangan saya, hingga ibu saya kecewa dengan sikap diam saya itu.

Di masa-masa itu, saya sendiri hanya boleh bermain dengan teman-teman saya sampai jam delapan malam saja. Berbeda dengan sekarang ini, ketika itu jam delapan malam sudah terasa sangat sunyi dan hening sekali. Apalagi dengan keberadaan pepohonan rindang sepanjang jalan dan sungai.

Sebagai seorang perempuan yang dihidupi oleh tradisi dan kepercayaan tradisional masyarakat kami, ibu kami yang mendekati puritan, terbilang seorang perempuan yang saleh dan sabar. Maklum, sebelum berhenti, ibu kami dikenal sebagai seorang guru ngaji bagi para perempuan dan ibu-ibu di kampung kami, bahkan di kampung tetangga. Tugas itu dilakukannya setelah selama beberapa tahun menjalani pendidikan keagamaan di pesantren tradisional di Cilegon, Banten, tepatnya di Cibeber.

Sementara itu, untuk saya sendiri, masa-masa itu adalah masa-masa ketika saya sedemikian akrabnya dengan kesunyian dan keheningan malam. Terlebih di bulan-bulan selama musim hujan, ketika hujan adakalanya turun di waktu subuh atau tengah malam. Sedemikian akrabnya dengan selampu minyak yang asap hitamnya menghitamkan bilahan-bilahan bambu penyangga genting-genting rumah kami.

Dan, bila hujan malam itu usai, kini giliran binatang-binatang malam, semisal para serangga dan katak, mengambil alih keheningan yang dingin itu dengan suara-suara riuh mereka. Namun anehnya, suara-suara mereka itu malah semakin menambah keheningan itu sendiri sedemikian nyata dan akrab. Bahkan, saya adakalanya membayangkan, suara-suara mereka tak ubahnya sebuah orkestrasi yang tengah digelar di sebuah tempat yang jauh, meski mereka hanya beberapa meter jaraknya dari belakang rumah. Suara-suara konser yang datang dari pematang-pematang kegelapan malam itu sendiri.

Tanpa sadar, saya dan nyala mungil selampu minyak di meja belajar ternyata sama-sama tengah saling merenungi diamnya waktu kala itu. Waktu, yang saat ini, saya pahami sebagai keabadian itu sendiri.

Kisah Nyi Randa

pedesaan.jpg

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2008)

Lampu-lampu sebuah pabrik kertas, karena tampak berkerlap-kerlip dan berkerumun, lebih mirip sebuah kota kecil yang tak pernah tertidur. Dan memang sudah hampir tengah malam ketika pintu ruang baca masih terbuka, ruang di mana saya duduk dan berada. Juga, meski cukup jauh, suara-suara mesin pabrik kertas itu seolah datang dari setapak pematang di belakang rumah.

Tak terasa, saya sudah bertahun-tahun hidup di dunia yang tak lagi sama seperti ketika saya masih kanak-kanak. Memang, sesuatu acapkali telah berubah secara pelan-pelan ketika kita tak sedang memikirkannya, atau ketika kita, entah sengaja atau tidak sengaja, tak menyadarinya. Sementara, malam tetap lengang seperti biasanya, tak ada bising atau keriuhan selain suara-suara katak dan serangga.

Namun, ketika saya masih kanak-kanak, tempat yang kini menjadi kawasan pabrik kertas itu adalah sejumlah rawa-rawa dan hutan belukar yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular dan binatang-binatang lainnya. Di tempat itu pula, dulu sering terlihat gerombolan-gerombolan bermacam-macam burung dan unggas yang singgah atau kembali terbang.

Saya baru terbangun dari tidur sebelum saya membuka pintu dan memandangi lampu-lampu pabrik kertas itu, dan karenanya saya sengaja menahan dingin angin selepas hujan. Sedangkan di antara atau di sekitar lintasan-lintasan pematang dan hamparan sawah-sawah, gelap terasa kental dengan kebisuannya yang menyerupai kiasan maut yang tengah terlelap karena cuaca lembab.

Tetapi, ingatan saya tentang masa silam, muncul ketika sejenak memandangi barisan angka-angka pada kalender yang terpampang dan berdiri di atas meja baca, di antara beberapa buku, jurnal dan majalah yang terhampar dengan tenang, juga seperti kematian dan masa silam. Masa-masa yang bagi saya seperti lorong-lorong keheningan yang panjang.

Ketika itu saya harus berjalan kaki dengan menempuh jarak beberapa kilometer untuk bisa sampai ke sekolah menengah pertama. Atau menumpang mobil-mobil truk pengangkut pasir dan batu-bata yang jarang ada, kecuali di hari-hari tertentu saja. Pernah juga saya harus berteduh di sepohon rindang di tengah perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah karena hujan lebat yang turun tiba-tiba.

Itulah ketakutan pertama saya, berada dalam kegelapan dan guyuran hujan di antara barisan pohon-pohon rindang sepanjang jalan dan sungai, yang karena keheningannya, lebih mirip terowongan panjang di waktu malam. Tetapi kini, sungai sebagiannya telah memiliki dinding-dinding batu dan pohon-pohon rindang sepanjang jalan telah digantikan barisan tiang-tiang beton, bersamaan dengan hadirnya pabrik kertas dengan dua cerobong asap raksasanya.

Tetapi, sebelum pabrik kertas itu dapat hadir dengan megah seperti sekarang ini, ada sebuah cerita tentang Nyi Randa, yang kemudian menjadi nama tempat yang kini telah digantikan pabrik kertas itu, yaitu Tegal Nyi Randa. Dan ketika pabrik kertas mulai dibangun di tegal itu, orang-orang bercerita tentang sepohon besar yang berdiri kokoh kembali keesokan harinya setelah dirobohkan.

Pohon besar itulah yang oleh orang-orang dipercaya sebagai jelmaan Nyi Randa bertahun-tahun kemudian setelah ia melarikan diri ke rawa-rawa dan gugusan hutan belukar ketika seorang jawara membunuh suaminya tak lama setelah dilangsungkan resepsi pernikahan Nyi Randa dan suaminya yang terbunuh itu. Sebab, setelah kejadian itu, seperti cerita orang-orang di sekitar sungai Ciujung, Nyi Randa tak lagi ditemukan.

Mendapati pohon besar yang telah dirobohkan dengan menggunakan alat berat itu berdiri kokoh kembali keesokan harinya, pihak perusahaan pun merobohkan lagi pohon besar itu. Tetapi hasilnya tetap sama, pohon besar itu kembali berdiri seperti semula.

Kejadian itu pun segera menyebar luas di masyarakat, dan memunculkan dua pendapat: pihak perusahaan tetap ngotot untuk melenyapkan pohon tersebut, sementara sebagian masyarakat menginginkan agar pohon besar tetap ada di tempatnya seperti telah bertahun-tahun ada.

Butuh waktu berhari-hari bagi pihak perusahaan untuk mewujudkan keinginan mereka sebelum akhirnya mereka berhasil membayar para dukun dan beberapa orang untuk melenyapkan pohon besar tersebut dengan bayaran yang cukup besar bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan resmi.

Namun ceritanya tak hanya sampai di situ saja. Beberapa hari setelah pohon besar itu berhasil dilenyapkan, pihak perusahaan dikagetkan dengan banyaknya kehadiran ular-ular yang datang tiba-tiba entah dari mana ke setiap sudut dan tempat di kawasan pabrik kertas yang sedang dibangun itu, hingga beberapa pekerja pun meninggal karena serangan ular-ular tersebut. Sementara, di waktu malam, para pekerja seolah selalu mendengar suara seorang perempuan tengah bersenandung dan beberapa pekerja terjatuh dari konstruksi bangunan karena efek teror nyanyian gaib tersebut.

Dan seperti pada kejadian-kejadian sebelumnya, orang-orang pun mempercayai bahwa perempuan yang selalu bersenandung di waktu malam itu adalah Nyi Randa yang tengah merana dan merasakan kesepian karena telah terusir untuk kedua kalinya. Saya jadi teringat kembali tentang kisah Nyi Randa itu ketika memandangi lampu-lampu pabrik kertas, yang dulunya adalah rawa-rawa dan habitat para unggas, burung-burung, dan binatang-binatang Tuhan lainnya.

Sejumlah burung-burung dan para unggas, yang ketika terbang melintasi cakrawala pagi atau senja, membuat saya membayangkan diri ingin seperti mereka yang dapat pergi dan terbang kapan saja.

Ketika Desaku Berubah

Kragilan, Serang, Banten by Asep S Bahri

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2015)

Benggalih. Itulah nama kampung di mana saya dilahirkan, menjalani masa kanak, masa remaja, dan yang kini saya tinggali –sebuah nama yang terdengar berbau Hindustan dan Sanskrit. Sebuah kampung yang terletak di antara dua sungai: Sungai Ciujung yang mengalir dari pegunungan di Lebak, Banten Selatan dan Sungai Irigasi yang mengalir dari Pamarayan, Serang, Banten Utara.

Di masa-masa saya masih kanak-kanak hingga remaja, saya harus menempuh jalan yang belum diaspal bila hendak menuju ke tempat di mana sekolah menengah pertama saya berada. Bersama Sungai Irigasi, jalan yang saya tempuh itu, hanya dipisahkan oleh rumput, ilalang, pohon-pohon kecil dan besar yang tumbuh subur di tepi jalan yang sekaligus tentu saja tepi Sungai Irigasi tersebut.

Sebelum saya memiliki sepeda sendiri, saya harus berjalan kaki menempuh perjalanan sejauh lima kilometer itu, dan kadang-kadang menumpang mobil truck pengangkut gabah dan pasir yang kebetulan lewat atau melintas ketika hendak berangkat sekolah atau ketika pulang sekolah. Tentu saja, keadaan dan kondisinya tidak sama ketika musim hujan.

Di masa-masa itu, kami akrab dengan beberapa hal yang kini telah hilang. Contohnya kunang-kunang, yang cahaya-cahaya mungil tubuh mereka, merupakan keindahan dan keajaiban tersendiri di waktu malam yang hening dan sepi. Persis ketika saya memandangi mereka yang tengah mengambang di atas jalan, di halaman, atau di antara petak-petak sawah di belakang rumah.

Rupa-rupanya, kehadiran dunia yang baru, pada akhirnya memang menyingkirkan dunia yang lama, baik secara ekonomis dan sosiologis, atau pun secara antropologis dan ekologis.

Ketakhadiran kunang-kunang itu sendiri untuk saat ini, yang dulu ada dan menjadi tamu-tamu malam kami, tak lain karena tempat di mana saya dilahirkan dan saya tinggali telah berubah secara ekologis dan ekonomis, sebagai contohnya. Persis ketika sawah-sawah telah menjadi raungan mesin-mesin pabrik dan infrastruktur-infrastruktur industri yang mengepulkan asap dan memproduksi limbah dan racun setiap hari. Dan pada saat bersamaan, secara antropologis, juga telah merubah sikap dan prilaku masyarakat, merubah pandangan dan gaya hidup mereka saat ini, yang kontras berbeda di masa-masa ketika infrastruktur-infrastruktur industri dan teknosains belum hadir.

Yang ingin saya katakan adalah bahwa, kehadiran industri turut pula memberikan perubahan yang ternyata tidak kecil dan memiliki dampak multidimensi: material dan spiritual, meski jarak industri tersebut beberapa kilometer dari kampung saya. Contohnya, kini banyak orang kampung saya yang terpacu menyekolahkan anak-anak mereka, karena bila anak-anak mereka tidak memiliki ijazah dari sekolah, maka mereka tak bisa melamar pekerjaan. Hal itu sangat berbeda ketika dulu orang-orang tua di kampung saya menganggap remeh pendidikan formal. Sekedar tambahan, di kampung saya yang pertama-kali mengenyam pendidikan perguruan tinggi adalah paman saya (adik-nya almarhumah ibu saya).

Dengan contoh-contoh yang saya katakan itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa perubahan yang dihadirkan oleh keberadaan infrastruktur-infrastruktur industri dan tekno sains, tak hanya memberi dampak perubahan ekonomis semata, namun turut pula merubah aspek sosial-budaya masyarakat, selain tentu saja, kehadiran infrastruktur-infrastruktur industri juga berdampak pada kerusakan ekosistem alami alias berdampak secara ekologis, yang terbilang “berbahaya”.

Singkatnya, acapkali kemajuan dalam beberapa hal harus “dibayar” dengan kerusakan hal-hal lain. Bahkan, kerusakan-kerusakan yang merupakan dampak kehadiran infrastruktur-infrastruktur industri itu tidak sepadan dengan kebaikan “ekonomis” yang telah diberikannya. Misalnya, limbah beracun yang “membunuh” sungai yang dulu asri dan merupakan jiwa kehidupan bagi tanah dan makhluk-makhluk hidup yang dihidupi olehnya.

Sedangkan secara kultural, atau katakanlah secara antropologis, kehadiran televisi dan tekno sains lainnya, semisal internet, selain telah memberi manfaat positif dan kecerdasan bagi anak-anak muda, juga telah melakukan impor “kultural” dan pandangan hidup yang akhirnya merubah pandangan dan perilaku masyarakat, terutama generasi muda, bahkan menyangkut hal-hal yang dulu dianggap tabu dan “dosa besar”.