Arsip Tag: Fyodor Dostoyevsky

Puisi dan Cinta

Puisi November Sulaiman Djaya

Saya ingin memulai jurnal singkat ini dengan dua kutipan –yaitu: “Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata –terurai dalam perbuatan” (Fyodor Dostoyevsky, pujangga Rusia). “Cinta itu seperti air, dengannya hidup segalanya. Seperti bumi, cinta bisa menumbuhkan semuanya” (Ali bin Abi Thalib, Imam Pertama dari 12 Imam dalam Islam). Dan rasanya tak salah pula jika saya pun belajar membuat aforisma –suatu seni menyampaikan pandangan secara singkat dan padat:

“Lidah cinta tak hanya berkata untuk telinga –tapi hati pendengarnya. Puisi ditulis bukan semata oleh pikiran –tapi oleh rasa. Sebab kata-kata bukan hanya bunyi belaka –tetapi dunia. Dalam hidup kita tak mesti melakukan hal-hal besar –cukup melakukan hal-hal kecil dengan ketulusan, kesungguhan, dan cinta yang besar. Bukan banyaknya benda-benda yang kita miliki yang membuat kita bahagia –tapi karena yang kita miliki membuat kita bahagia.”

Tidaklah sama antara hubungan yang bergantung pada keuntungan semata dengan cinta. Yang pertama hanya akan ada selama ada transaksi dan pamrih, sementara cinta itu keteguhan hati dalam segala situasi dan keadaan.

Cinta melahirkan kesabaran dan konsistensi, seperti ketika seorang seniman dengan tekun mengukir karya seninya. Cinta melahirkan sikap rendah hati dan sikap pemaaf, selain sikap peduli. Cinta itu adalah rahim yang melahirkan pemahaman dan kepekaan.

Biasanya, orang egois itu bukan hanya tak sanggup mencintai dan peduli kepada orang lain, tetapi juga tak sanggup mencintai dirinya sendiri dan berdamai dengan orang lain dan dirinya, dan menganggap bahwa di dunia ini hanya dirinya-lah yang ada dan yang paling penting, yang pada akhirnya melahirkan sikap mudah meremehkan dan menghina.

Puisi ditulis karena cinta –karena keintiman, kesabaran, konsistensi dan keteguhan.

Tak ada cinta tanpa pemahaman –sebab tanpa pemahaman, cinta tak lebih egoisme sepihak, seumpama pohon yang akarnya rapuh dan dangkal, dan pemahaman lahir dari rahim kerendahan hati, yang membuat seseorang ingin mengerti orang lain, apa yang dalam istilah lain kita sebut sikap peduli.

Puisi ditulis karena cinta dan pemahaman, dari sikap rendah-hati kita dan sikap peduli kita kepada orang lain –mengintimi keberadaan orang lain, selain kita. Bahwa orang lain itu ada dan nyata!

Cinta-lah yang membuat seseorang mampu bertahan dalam situasi-situasi yang sulit dan menekan –yang membuat seseorang menjadi toleran terhadap sesama manusia. Cinta-lah yang membuat seseorang sanggup menahan amarah dan menjadi air yang memadamkan bara api yang merusak. Cinta-lah yang membuat seseorang menolak kejahatan, kekejian, dan kekejaman. Kearifan dan sikap welas-asih-nya menjadi alasan berjalannya keseimbangan di tengah ancaman kesemena-menaan dan aniaya. (Sulaiman Djaya 2016)