Arsip Tag: Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah

Puisi dan Cinta

Puisi November Sulaiman Djaya

Saya ingin memulai jurnal singkat ini dengan dua kutipan –yaitu: “Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata –terurai dalam perbuatan” (Fyodor Dostoyevsky, pujangga Rusia). “Cinta itu seperti air, dengannya hidup segalanya. Seperti bumi, cinta bisa menumbuhkan semuanya” (Ali bin Abi Thalib, Imam Pertama dari 12 Imam dalam Islam). Dan rasanya tak salah pula jika saya pun belajar membuat aforisma –suatu seni menyampaikan pandangan secara singkat dan padat:

“Lidah cinta tak hanya berkata untuk telinga –tapi hati pendengarnya. Puisi ditulis bukan semata oleh pikiran –tapi oleh rasa. Sebab kata-kata bukan hanya bunyi belaka –tetapi dunia. Dalam hidup kita tak mesti melakukan hal-hal besar –cukup melakukan hal-hal kecil dengan ketulusan, kesungguhan, dan cinta yang besar. Bukan banyaknya benda-benda yang kita miliki yang membuat kita bahagia –tapi karena yang kita miliki membuat kita bahagia.”

Tidaklah sama antara hubungan yang bergantung pada keuntungan semata dengan cinta. Yang pertama hanya akan ada selama ada transaksi dan pamrih, sementara cinta itu keteguhan hati dalam segala situasi dan keadaan.

Cinta melahirkan kesabaran dan konsistensi, seperti ketika seorang seniman dengan tekun mengukir karya seninya. Cinta melahirkan sikap rendah hati dan sikap pemaaf, selain sikap peduli. Cinta itu adalah rahim yang melahirkan pemahaman dan kepekaan.

Biasanya, orang egois itu bukan hanya tak sanggup mencintai dan peduli kepada orang lain, tetapi juga tak sanggup mencintai dirinya sendiri dan berdamai dengan orang lain dan dirinya, dan menganggap bahwa di dunia ini hanya dirinya-lah yang ada dan yang paling penting, yang pada akhirnya melahirkan sikap mudah meremehkan dan menghina.

Puisi ditulis karena cinta –karena keintiman, kesabaran, konsistensi dan keteguhan.

Tak ada cinta tanpa pemahaman –sebab tanpa pemahaman, cinta tak lebih egoisme sepihak, seumpama pohon yang akarnya rapuh dan dangkal, dan pemahaman lahir dari rahim kerendahan hati, yang membuat seseorang ingin mengerti orang lain, apa yang dalam istilah lain kita sebut sikap peduli.

Puisi ditulis karena cinta dan pemahaman, dari sikap rendah-hati kita dan sikap peduli kita kepada orang lain –mengintimi keberadaan orang lain, selain kita. Bahwa orang lain itu ada dan nyata!

Cinta-lah yang membuat seseorang mampu bertahan dalam situasi-situasi yang sulit dan menekan –yang membuat seseorang menjadi toleran terhadap sesama manusia. Cinta-lah yang membuat seseorang sanggup menahan amarah dan menjadi air yang memadamkan bara api yang merusak. Cinta-lah yang membuat seseorang menolak kejahatan, kekejian, dan kekejaman. Kearifan dan sikap welas-asih-nya menjadi alasan berjalannya keseimbangan di tengah ancaman kesemena-menaan dan aniaya. (Sulaiman Djaya 2016)

Imam Ali Sang Washi Rasul (Bagian Keempat)

Bai’at Massa Terhadap Imam Ali
Tanpa diragukan lagi bahwa semasa kepemimpinan tiga khalifah, Amirul Mukminin (Ali) as tidak berperan aktif di kancah politik yang sedang berjalan saat itu. Beliau hanya menyempatkan diri untuk menyelesaikan konsultasi yudikatif yang sampai kepada beliau. Dengan kata lain, beliau tidak menjadi anggota di formasi pemerintahan khalifah-khalifah sebelumnya. Sampai batas-batas tertentu bisa dikatakan bahwa kemenangan Ali as setelah periode Utsman berakhir berarti kemenangan lawan-lawan Quraisy dan garis anti Umawwi. Lawan-lawan ini dilindungi oleh suku-suku Irak dan para pendatang dari Mesir, didukung juga oleh kebersamaan Anshar dan pribumi Madinah. Tapi ada juga kelompok Muhajirin yang tergolong di dalam kelompok mereka, kelompok yang salah satu pembesarnya adalah Ammar bin Yasir. Semua ini baru sebagian dari orang-orang yang menentang Utsman. Ada juga kelompok Quraisy yang ikut serta melawan Utsman, karena mereka merasa diabaikan oleh Utsman dan dia hanya memperhatikan keturunan Umayyah. Para pembesar kelompok oposisi Quraisy ini adalah Thalhah, Zubair dan ‘Aisyah. Amr bin ‘Ash juga aktif melawan Utsman lantaran dia disingkirkan dari pemerintahan Mesir. Yang jelas, dakwaan mereka semua sama, yaitu Utsman telah mengambil jarak dari sunnah Rasulullah saw. Oleh karenanya, arah global dari demonstrasi anti Utsman tadi adalah kembali pada sunnah Rasulullah saw, yaitu keadilan dan kebijakan serta membumihanguskan kezaliman yang telah menimpa masyarakat.

Sejak awal arus perlawanan massa terhadap Utsman ini dimulai, Amirul Mukminin (Ali) as memainkan peran sebagai mediator dan juru bicara dua kelompok di atas yang menyampaikan kritik masyarakat kepada Utsman. Dalam peran ini, beliau juga menjaga keseimbangan dan keadilan kedua belah pihak. Kendatipun beliau menentang beberapa perlakuan Utsman yang tidak pantas, akan tetapi selaku mediator dan penengah kedua belah pihak massa dan Utsman, disamping menjaga hak penentang dan juga hak Utsman, beliau meminta Utsman berjanji untuk memperhatikan (menjaga) situasi para penentang. Dengan demikian, beliau juga telah menjaga mereka tetap tenang dan tidak berbuat kegaduhan. Akan tetapi, ketika Utsman terbunuh dan Ali as memimpin, secara otomatis Bani Umayyah dan sebagian dari sayap Quraisy menuduh beliau sebagai pelaku pembunuhan khalifah Utsman, padahal beliau sama sekali tidak punya peran dalam tragedi ini. Banyak pula dari sahabat dekat Amirul Mukminin as yang turut menentang Utsman, dan mereka juga tertuduh sebagai orang yang berperan dalam pembunuhan khalifah secara langsung. Semua orang yang mengutamakan Ali as adalah anti Utsman, dan sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya, ini adalah awal mula kematangan gerakan tasyayyu’ (pengikut setia Ali as) di tengah masyarakat Kufah. Aktifitas politik mereka yang utama bermula dari perlawanan terhadap Utsman sebagai pemimpin kala itu. Tapi umumnya mereka masih menerima Abu Bakar dan Umar.

Kekuatan pendukung Amirul Mukminin (Ali) as sangat kuat dan tersusun dari kalangan Anshar, mayoritas sahabat Rasulullah saw dan para qari’ dari kota Kufah. Begitu solidnya kekuatan ini sehingga sama sekali ia tidak memberikan kesempatan kepada Thalhah dan Zubair untuk muncul ke permukaan. Begitu juga dengan Sa’d bin Abi Waqqash yang sama sekali tidak disebut oleh massa. Lanjutan riwayat panjang Sa’id bin Musayyib tentang pembunuhan Utsman tadi menyatakan, setelah terbunuhnya Utsman, Ali as pulang ke rumah dan kerumunan massa berbondong-bondong mendatangi rumah beliau. Mereka berunjuk rasa demi manyatakan Ali sebagai khalifah, dan meminta Ali as untuk mengulurkan tangan demi menyambut bai’at mereka. Amirul Mukminin as menjawab permintaan mereka, “Bai’at tidak ada hubungannya dengan kalian. Bai’at adalah hak para sahabat yang telah ikut dalam perang Badar. Siapapun yang mereka yakini sebagai khalifah, ia akan menjadi khalifah.” Tak lama kemudian, semua sahabat yang pernah ikut dalam perang Badar yang masih hidup mendatangi Amirul Mukminin as dan berharap untuk membai’at beliau.

Amirul Mukminin (Ali) as menghindari dorongan para sahabat Rasulullah saw itu dan menolak untuk menjadi khalifah. Ath-Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Hanafiyah, “Setelah Utsman terbunuh, sekelompok sahabat mendatangi ayahku (Ali as) dan berkata kepadanya, ‘Kami tidak melihat satu orang pun yang lebih layak darimu untuk menduduki kursi kekhalifahan ini.’ Beliau as menjawab, ‘Aku menjadi wazir (menteri) kalian adalah lebih baik daripada aku menjadi amir (pemimpin).’ Mereka kembali berkata, ‘Kami tidak menerima sesuatu selain berbai’at kepadamu.’ Amirul Mukminin as berkata, ‘Bai’at kepadaku tidak boleh berlangsung secara tersembunyi. Bai’at ini harus berlangsung di masjid.’ Ibn Abbas berkata, ‘Aku takut jangan-jangan akan terjadi sesuatu (masalah) di masjid.’ Ketika beliau pergi ke masjid, maka Muhajirin dan Anshar berdatangan ke masjid dan membai’at beliau as.”

Diriwayatkan juga dari Abu Basyir, “Berkali-kali massa mendatangi Ali as setelah terbunuhnya Utsman, sampai akhirnya mereka berhasil mendesaknya untuk menjadi khalifah. Beliau naik ke mimbar dan berkata, ‘Aku tidak butuh pada khilafah, dan terpaksa aku menerimanya. Aku akan sudi memerintah umat apabila mereka berjanji untuk sejalan denganku sepenuhnya.'” Riwayat-riwayat ini mencatat bahwa Thalhah dan Zubair ikut bersama masyarakat yang lain. Di saat semua orang berkumpul di masjid, Thalhah adalah orang pertama yang berbai’at kepada Amirul Mukminin as (dan kelak orang pertama pula yang melanggarnya). Adapun Sa’d bin Abi Waqqash enggan untuk berbai’at seraya berkata, “Aku tidak akan berbai’at sampai semua orang berbai’at terlebih dahulu.” Abdullah bin Umar juga tidak mau berbai’at.

Ada satu riwayat di buku Tarikh ath-Thabari yang tidak sesuai dengan riwayat-riwayat lain. Riwayat ini menyebutkan bahwa Thalhah dan Zubair berbai’at karena takut kepada pedangnya Malik. Amirul Mukminin as meminta mereka agar menjadi khalifah, namun mereka sendiri sadar diri tidak pantas untuk menerimanya. Mereka rela membai’at Amirul Mukminin as agar dengan demikian mereka bisa meraih posisi tertentu. Kata-kata Thalhah dan Zubair setelah itu menunjukkan bahwa maksud dari membai’at secara terpaksa di atas bukan terpaksa karena kekerasan dan pedang, melainkan mereka tidak melihat seorangpun di Madinah yang bisa mereka bai’at. Sedangkan Ali as memiliki banyak pendukung. Maka, dengan demikian, mereka terpaksa membai’at beliau.

Sebelum ini juga pernah kami singgung dalam pembahasan bai’at bahwa pada dasarnya, Amirul Mukminin (Ali) as bukan tipe orang yang mau memaksa seseorang untuk berbai’at kepadanya dengan kekerasan (berbeda dengan yang dilakukan Umar yang menggunakan kekerasan dalam memaksa orang untuk berbai’at kepada Abu Bakar). Beliau tidak meminta bai’at dari Marwan yang berkata kepada beliau, “Kalau dipaksa, maka aku akan berbai’at.”

Segera setelah berlangsungnya bai’at, mereka meminta Amirul Mukminin (Ali) as menyerahkan kota Bashrah dan Kufah kepada mereka. Tapi, beliau tidak mengabulkan permintaan itu. Muhammad bin Hanafiah berkata, “Semua kaum Anshar membai’at Ali as kecuali berapa gelintir orang. Mereka yang menentang adalah Hassan bin Tsabit, Ka’b bin Malik, Maslamah bin Mukhallad, Muhammad bin Maslamah dan satu dua orang lagi yang semuanya tergolong Utsmaniah (kelompok Utsman). Adapun para penentang dari selain Anshar adalah Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Usamah bin Zaid yang mana mereka semua terhitung orang-orang yang telah dianugerahi kenikmatan khilafah Utsman.”

Ath-Thabari berkata, “Sebatas yang kutahu, tak seorangpun dari Anshar yang keluar dari bai’at kepada Ali as.”

Dari sini bisa dimengerti bahwa kemungkinan besar sebagian orang yang dicatat sebagai orang yang tidak membai’at Ali as, maksudnya adalah orang yang nantinya tidak ikut serta dalam perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, bukan berarti orang yang pada dasarnya tidak berbai’at kepada Ali as dalam urusan khilafah. Dayyari Bakri meriwayatkan bahwa semua sahabat Nabi saw yang ikut bersama beliau di perang Badr dan masih hidup pada masa itu—tanpa terkecuali—berbai’at kepada Ali as. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abzi, ia berkata, “Kami berjumlah delapan ratus orang yang hadir di bai’at Ridhwan, ikut di perang Shiffin dan enam puluh tiga orang dari kami termasuk juga Ammar bin Yasir terbunuh di perang tersebut.”

Diriwayatkan dari Ibn A’tsam bahwa pada mulanya Amirul Mukminin as menolak bai’at itu dan berkata, “Kulihat urusan ini begitu terpecah-belah sehingga hati dan akal setiap orang tidak akan merasa tenang.” Ketika itu beliau mendatangi Thalhah dan memintanya untuk menjadi khalifah dan dibai’at. Akan tetapi, Thalhah berkata, “Tidak ada orang lain yang lebih layak darimu untuk urusan khilafah.” Ucapan yang sama juga tercatat dari Zubair. Akhirnya, kedua orang itu berjanji untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Amirul Mukminin (Ali) as.

Ibn A’tsam menceritakan peran Anshar dalam pembai’atan Ali as dan bagaimana pemuka-pemuka Anshar berbicara di masjid kepada masyarakat yang di antara mereka terdapat pendatang Irak dan Mesir. Masyarakat berteriak, “Kalian adalah Ansharullah (penolong Allah). Maka apapun yang kalian katakan, pasti akan kita terima.” Anshar memperkenalkan Ali as sebagai khalifah. Dan tanpa menunggu lagi, masyarakat segera mengapresiasi hal itu dengan teriakan-teriakan pertanda sepakat. Hari itu mereka meninggalkan masjid. Dan keesokan harinya Amirul Mukminin (Ali) as datang ke masjid seraya berkata, “Pilihlah khalifah untuk kalian sendiri dan aku akan sejalan dengan kalian.” Tapi, mereka menjawab, “Kami tetap konsisten dengan keputusan kemarin.” Thalhah dengan tangannya yang cacat menjadi orang pertama yang berbai’at pada Amirul Mukminin as. Hal itu dikatakan sebagai pertanda yang buruk! Kemudian dilanjutkan dengan Zubair berbai’at kepada beliau. Begitu pula selanjutnya dengan Muhajirin, Anshar dan setiap orang Arab, ‘Ajam dan mawali yang hadir di Madinah.

Mengenai kenapa sejak awal Amirul Mukminin as tidak menerima bai’at masyarakat, jawaban terbaik adalah ucapan beliau sendiri. Pertama, Amirul Mukminin (Ali) as memandang masyarakat pada waktu itu sudah sampai batas kerusakan (fasâd) yang tidak bisa lagi dipimpin, sehingga beliau tidak akan mampu menerapkan tolok ukur dan kehendak yang semestinya.

Di tengah semua fitnah yang terjadi, Amirul Mukminin (Ali) as merasa tidak mungkin untuk memimpin masyarakat kala itu secara utuh. Namun, setelah menyaksikan bahwa mereka tidak melepasnya begitu saja, disamping mengungkapkan keengganannya, beliau minta mereka untuk berjanji menuruti beliau secara utuh dan pasrah terhadap apapun yang beliau kehendaki. Fenomena-fenomena yang terjadi setelah itu menjadi saksi pandangan Amirul Mukminin (Ali) as akan sulitnya bekerja di tengah fitnah besar. Sampai pernah diriwayatkan beliau berkata, “Kalaupun aku tahu masalah ini meningkat begitu tinggi, niscaya sejak awal aku tidak akan masuk ke dalamnya.”

Suatu saat Amirul Mukminin (Ali) as melihat seorang bernama Abu Maryam di kota Kufah. Beliau menanyakan alasan kedatangannya ke Kufah. Abu Maryam menjawab, “Aku datang karena janjiku padamu. Sebagaimana kau katakan sebelumnya apabila aku yang menjadi pemimpin, maka aku akan lakukan hal ini dan itu.” Amirul Mukminin (Ali) as menjawab, “Aku tetap pada janjiku, hanya saja aku dihadapkan dengan masyarakat terburuk di muka bumi yang mana mereka sama sekali tidak pernah mendengarkan kata-kataku.”

Kesulitan Amirul Mukminin
Ketika Ali as menjalankan tugas sebagai khalifah, beliau dihadapkan pada sejuta masalah dan kesulitan. Semua kesulitan yang ditambah juga dengan kondisi politik yang labil dan kacau balau setelah terjadi pembunuhan Utsman, menggambarkan masa depan yang hitam dan gelap gulita. Berikut ini sekilas tentang kesulitan beliau disambung dengan solusi yang ditawarkan. Sebelumnya perlu ditekankan bahwa semua kesulitan ini dihadapkan pada seorang seperti beliau yang sangat komitmen terhadap prinsip utama maupun cabang. Di masa sebelum itu, setiap khalifah membuka jalan secara temporal hanya dengan tujuan memperluas kawasan dan menaklukkan negara luar. Tapi, sekarang jelas bahwa kebanyakan jalan yang mereka tempuh adalah keliru sebagaimana terbukti oleh zaman. Contohnya, Umar menyusun buku (diwan) negara berasaskan prinsip etnis (sukuisme). Dan setelah lima belas tahun berjalan, dampak-dampak negatifnya mulai dirasakan secara sosial maupun politik.

Berikut akan kami sebutkan beberapa kesulitan yang beliau hadapi selama menjalankan tugas kekhilafahan:

Problem pertama yang dihadapi Amirul Mukminin as terfokus pada menjaga keadilan dan kestabilan ekonomi. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa Umar menyusun diwan atas dasar masa lalu Islam seseorang dan juga atas dasar etnis. Sahabat yang lebih dahulu masuk Islam mendapatkan saham yang lebih besar. Hal yang sama juga berlaku semasa Utsman menjabat sebagai khalifah. Utsman memulai pemberian dan hadiahnya secara besar-besaran, dan hal ini menambah kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin. Kekayaan ini berkaitan dengan khumus (seperlima yang musti dikeluarkan dari) rampasan perang, pajak negara (kharâj), dan jizyah yang musti dikeluarkan dari tanah yang dimenangkan dan milik muslimin. Ketika Amirul Mukminin (Ali) as terpilih sebagai khalifah, beliau membagi kekayaan itu secara merata. Dan beliau berdalil bahwa Rasulullah saw juga bertindak demikian.

Pada ceramah pertamanya setelah menjadi khalifah, Amirul Mukminin (Ali) as menjelaskan bahwa beliau akan bertindak sesuai sunah Rasulullah saw (aku akan membawa kalian di atas jalan Nabi kalian saw). Beliau juga menerangkan politik keuangan negara dan sesungguhnya keutamaan Muhajir dan Ansar terhadap yang lain adalah keutamaan spiritual yang senantiasa terjaga di sisi Allah SWT dan mereka akan menerima pahala dari-Nya. Adapun di dunia, barangsiapa yang menjawab ajakan Allah SWT dan Rasul-Nya saw, masuk Islam dan shalat ke arah kiblat muslimin, maka dia berhak mendapatkan semua haknya dan hudud (batasan dan hukuman Islam) akan berlaku atasnya. Beliau menambahkan, “Kalian adalah hamba-hamba Allah SWT, dan kekayaan ini adalah harta-Nya yang harus dibagi di antara kalian secara merata. Tiada seorang pun yang lebih tinggi daripada orang lain. Orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan pahala yang terbaik di sisi Allah SWT.”

Beliau menegaskan politiknya seraya berkata, “Jangan sampai nanti ada orang yang mangatakan bahwa Ali bin Abi Thalib as telah menghalangi hak-hak kita.” Di keesokan harinya, beliau memerintahkan Ubaidullah bin Abi Rafi’, “Berilah 3 Dinar kepada siapapun yang datang.” Di situlah Sahl bin Hanif berkata, “Dulu orang ini adalah budakku dan baru kemarin aku membebaskannya.” Amirul Mukminin (Ali) as menimpali, “Semuanya tetap medapatkan 3 Dinar dan kita tidak akan melebihkan satu daripada yang lain.” Kelompok elit dari Bani Umaiyah dan juga Thalhah serta Zubair tidak datang untuk mengambil saham mereka. Sehari setelah itu, Walid bin Uqbah beserta rombongan datang pada beliau mengungkit kembali pembunuhan ayahnya oleh beliau di perang Uhud, pembunuhan ayah Said bin ‘Ash di perang yang sama, penghinaan terhadap ayah Marwan di depan Utsman dan hal-hal lain. Dengan itu, mereka meminta beliau untuk minimal tidak menarik kembali apa yang telah jatuh ke tangan mereka dari kekayaan negara Islam. Disamping itu juga mereka meminta beliau untuk melakukan qishâsh terhadap pelaku-pelaku pembunuhan Utsman. Amirul Mukminin (Ali) as menolak permintaan mereka, maka mereka menampakkan kemunafikan dan mulai membisikkan perlawanan.

Keseokan harinya, beliau ceramah lagi, dan karena marah, beliau menjelaskan bahwa asas pembagian harta negara Islam yang beliau berlakukan adalah kitab suci Allah SWT. Kemudian, beliau turun dari mimbar, shalat dua raka’at lalu duduk di samping masjid dekat dengan Thalhah dan Zubair. Inti pembicaraan dua orang tesebut (Thalhah dan Zubair) adalah pertama, Ali as tidak bermusyawarah dengan mereka dalam menentukan kinerja sehari-hari, dan kedua, —dan ini adalah yang lebih penting—adalah beliau menyeleweng dari sunah Umar bin Khattab dalam membagi kekayaan negara Islam. Hal itu dikarenakan beliau memberikan kepada mereka saham sama seperti orang lain yang tidak berjerih payah untuk Islam.

Amirul Mukminin (Ali) as berkata, “Selama masih ada hukum di kitab Allah SWT, maka di situ bukanlah tempat bermusyawarah. Tentu, apabila ada sesuatu yang tidak ada di Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw, maka aku pasti akan bermusyawarah dengan kalian. Adapun berkenaan dengan pembagian sama rata, kita sama-sama menyaksikan Rasulullah saw melakukan demikian, sebagaimana Al-Qur’an pun memerintahkan hal tersebut.” Di sana Zubair menggerutu, “Bukankah ini adalah upah kami? Kami telah melangkah di jalan ini dan berkiprah untuknya sampai akhirnya Utsman terbunuh. Tapi hari ini dia mengutamakan atas kita orang-orang yang sebelumnya kita lebih utama dari mereka.”

Ibn Abil Hadid melanjutkan penjelasannya, “Terbiasanya masyarakat pada saat itu dengan cara yang diberlakukan Umar bin Khattab merupakan faktor utama perlawanan sahabat terhadap Amirul Mukminin (Ali) as, padahal Abu Bakar sendiri menjalankan cara seperti yang telah diberlakukan oleh Rasulullah saw dan tak seorang pun yang menentangnya. Amirul Mukminin (Ali) as berkata, ‘Apakah sunah Rasulullah saw lebih layak untuk diikuti atau sunah Umar?'”

Perlawanan terhadap cara ini semakin serius, sampai akhirnya sebagian dari sahabat dekat Amirul Mukminin (Ali) as mendatangi beliau dan mohon agar elit Arab dan Quraisy dilebihkan daripada mawali dan ‘Ajam. Beliau tidak menerima permohonan mereka dan berkata, “Apakah kalian menyarankan padaku untuk meraih kemenangan dengan kezaliman?” Jauh setelah itu, Ibn Abbas pernah menulis surat kepada Imam Hasan al-Mujtaba as, “Masyarakat meninggalkan ayahmu dan pergi ke Muawwiyah lantaran cara yang beliau berlakukan, yaitu membagi kekayaan negara secara merata di antara mereka, sementara mereka tidak tahan akan hal itu.

Imam Ali Sang Washi Rasul (Bagian Ketiga)

Isolasi dan terlupakannya Imam Ali di tengah masayarakat Islam saat itu mendesak beliau di masa kekhilafahannya untuk mengoptimalkan segala kesempatan demi memperkenalkan dirinya serta jerih payah beliau di masa Rasulullah saw dalam memperjuangkan agama Islam. Hubungan Imam Ali as dengan Abu Bakar betul-betul dingin dan tidak ada kenangan apapun yang tercatat dalam sejarah. Adapun dengan Umar, ada banyak cerita yang sampai kepada kita, umumnya berkaitan dengan bantuan yudikatif (kehakiman) beliau terhadap Umar dan juga jawaban beliau terhadap konsultasi-konsultasi Umar. Umar berusaha menghindari sikap kurang ajar yang terang-terangan terhadap Amirul Mukminin Ali as, dan kemungkinan besar beliau pun menghargai sikap tersebut. Berbeda dengan Utsman. Dia tidak tahan menyaksikan Amirul Mukminin Ali as menuangkan gagasan-gagasan beliau. Sampai-sampai pernah dia berkata kepada beliau, “Kamu di sisiku tidak lebih baik dari pada Marwan Bin Hakam!”

Abbas mengingatkan dan meminta Utsman untuk hati-hati terhadap Amirul Mukminin Ali as. Tapi Utsman malah menjawab, “Pernyataan pertamaku padamu adalah kalau Ali menginginkan dirinya sendiri saja (tidak sampai mengusik yang lain), ketahuilah, tidak seorang pun yang lebih mulia di sisiku selain dia.” Sudah barang tentu, Amirul Mukminin as tidak sudi menutup mata dari penyelewengan yang sedang terjadi hanya karena Utsman dan pershabatan dengannya. Oleh karena itu, dari satu sisi hubungan beliau dengan Utsman sangat dekat sebagai seorang sahabat dan di sisi lain tegas karena menyangkut kepentingan umum.

Pernah suatu ketika ada seorang wanita dari Anshar bertikai dengan salah satu wanita dari Bani Hasyim, dan akhirnya yang menang secara hukum adalah wanita Anshar itu. Utsman berkata kepada wanita itu, “Ini adalah pendapat misananmu sendiri, Ali!”

Perlawanan Amirul Mukminin as terhadap pemerintahan yang berkuasa adalah sebuah kerja yang sangat berat, khususnya pada tahun-tahun pertama. Dengan mengucilkan diri, beliau berusaha untuk menghindari bentrokan face to face dengan pemerintah. Sa’d bin ‘Ubadah adalah salah satu pengalaman terbaik untuk itu. Dia tidak berbaiat kepada pemerintah, dan tiba-tiba pada masa kekhilafahan pertama dan kedua tersebar berita bahwa makhluk-makhluk halus (jin) telah membunuhnya. Pada topik pembahasannya sendiri dapat kita sadari bersama bahwa berdasarkan referensi-referensi historis yang akurat, pembunuhan itu berlatar belakang politik.

Ibn Abil Hadid bercerita, “Saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far Naqib (Yahya bin Abi Zaid), ‘Yang saya herankan dari Ali as adalah bagaimana beliau bisa bertahan hidup selama itu setelah wafatnya Rasulullah saw, padahal Quraisy sangat dengki tehadap beliau?’ Abu Ja’far menjawab, ‘Apabila beliau tidak mengecilkan diri sekecil mungkin dan tidak mengucilkan diri di pojok rumahnya, sungguh beliau telah diteror. Namun beliau telah men-delete file tentang dirinya dari memori masyarakat dan menyibukkan diri dengan ibadah, shalat dan membaca Al-Qur’an. Beliau telah keluar dari gaya pertamanya. Beliau melupakan pedang seperti halnya perajurit pemberani yang bertaubat dan merasuk ke dalam bumi atau menjadi biarawan di gunung-gunung. Karena beliau “menuruti” pemerintah waktu itu dan merendahkan diri sebisa mungkin, maka beliau pun dibiarkan. Andai saja beliau tidak berbuat demikian, niscaya mereka telah menerornya.'” Kemudian dia menjelaskan rencana serius Khalid untuk membunuh beliau as. Mukmin ath-Thaq juga berpendapat sama bahwa sikap vakum dalam politik beliau pada masa itu karena kekhawatiran jangan sampai makhluk-makhluk halus tadi membunuhnya (sebagaimana yang telah terjadi menimpa Sa’d).

Sudah barang tentu, hal ini bukan berarti Amirul Mukminin as sama sekali menyia-nyiakan kesempatan yang sesuai untuk menjelaskan dan mempertahankan hak-haknya yang terampas. Contoh, periode pertama beliau menolak untuk berbaiat yang berlangsung beberapa bulan lamanya. Bahkan, di hari-hari pertama, beliau menggandeng tangan istri dan anak-anaknya dibawa ke depan rumah-rumah Anshar untuk berusaha mengembalikan haknya yang terampas. Kegigihan beliau sampai batas beliau dituduh sebagai orang yang rakus terhadap khilafah. Beliau berkata, “Ada seorang yang mengatakan kepadaku, ‘Wahai putera Abu Thalib! Betapa rakusnya dirimu terhadap Khilafah!’ Kukatakan kepadanya, ‘Tidak, Demi Allah! Kalianlah yang rakus terhadap khilafah. Kalian lebih jauh dari Rasulullah saw sementara aku sangat khusus di sisi beliau. Aku hanya menghendaki hak-ku, tapi kalian tidak mengizinkan, bahkan kalian halangi aku untuk sampai pada hak yang sebenarnya.'”

Sering beliau berargumentasi seperti di atas. Contoh lain, “Wahai masyarakat Quraisy! Sesungguhnya kami, Ahlulbait, lebih berhak daripada kalian atas hal ini (khilafah Islam). Apa tidak ada di tengah kita orang yang bisa membaca Al-Qur’an? Apa tidak ada di tengah kita orang yang memeluk agama yang benar?”

Mengenai penilaian beliau terhadap tiga khalifah sepeninggal Rasulullah saw, harus dikatakan bahwa Amirul Mukminin tidak pernah bebas untuk mengungkapkan penilannya terhadap khalifah pertama dan kedua. Berbeda dengan Utsman. Beliau dengan leluasa dapat mengungkapkan pandangannya tentang dia kapan pun ada kesempatan yang tepat untuk itu. Alasannya adalah karena bala tentara yang beliau pimpin di Kufah masih menerima mereka berdua. Hanya sebagian kecil saja yang menolak mereka. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as tidak bisa secara leluasa berbicara tentang khalifah pertama dan kedua di tengah-tengah mereka. Sekali pernah ada peluang. Beliau segera mengungkapkan sakit hati yang dipendamnya selama ini. Namun tak lama berselang, beliau berhenti untuk melanjutkan pembicaraan. Ketika Ibn Abbas bersikeras agar beliau meneruskan curah hatinya, beliau hanya menjawab, “Tidak wahai Ibn Abbas! Yang kamu dengar tadi adalah nyala api yang tumpah.”

Kendatipun Amirul Mukminin as sudah sangat berhati-hati, akan tetapi beliau tidak menerima persyaratan Abdurrahman bin Auf berkaitan dengan khilafah. Ibn Auf pernah mensyaratkan, “Apabila Ali bertindak sesuai dengan sunnah dua khalifah pertama dan kedua, maka akan kuserahkan khilafah kepadanya.” Amirul Mukminin as menegaskan, “Aku akan bertindak sesuai dengan pandanganku.” Ini menunjukkan bahwa beliau secara terang-terangan menolak sunnah dan logika tindakan dua khalifah tersebut. Menurut beliau, banyak tindakan mereka yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw dan hanya berlandaskan ijtihad yang menyeleweng. Kalaupun terkesan Amirul Mukminin as menuruti Abu Bakar dalam beberapa hal, tidak lain karena di sebagian hal itu terkandung juga ketaatan kepada Allah SWT. Jadi beliau melakukannya bukan karena menuruti khalifah pertama, tapi karena Allah menghendaki beliau untuk mengambil langkah demikian.

Ucapan-ucapan Amirul Mukminin as di masa khilafahnya dan juga langkah-langkah beliau dalam menyikapi berbagai masalah menjelaskan kepada kita bahwa beliau tidak menerima cara-cara yang diberlakukan oleh khalifah-khalifah sebelum beliau.

Lama setelah itu, Muawwiyah menuliskan dalam suratnya kepada Amirul Mukminin as, “Kamu iri terhadap khalifah-khalifah sebelummu dan kamu telah berlaku zalim atas mereka!” Amirul Mukminin as menjawab, “Kamu beranggapan bahwa aku hanya menghendaki keburukan khalifah-khalifah dan iri dengki terhadap mereka. Kalaupun memang demikian (apa yang kamu katakan itu benar), memangnya kamu ini siapa sehingga berhak menuntut sesuatu? Tidak pernah mereka berbuat jahat terhadap dirimu sehingga mereka mesti mohon maaf kepadamu….Sementara kamu sendiri menyatakan bahwa aku diberlakukan seperti unta yang hidungnya telah dijinakkan sehingga dengan mudah mereka dapat menyetirku untuk berbai’at. Demi Tuhan, kamu ingin mencela, tapi memuji, kamu hendak menjatuhkan, tapi kamu jatuhkan dirimu sendiri. Apa kekurangan muslimin sehingga mereka terzalimi dan tidak tahu lagi akan agama. Keyakinannya kokoh dan terlepas dari dua hati…dan aku tidak akan minta maaf atas perlawananku terhadap Utsman lantaran bid’ah-bid’ah yang telah dia karang.”

Dengan adanya kritik tajam Amirul Mukminin as terhadap khalifah sebelumnya, khususnya sikap tegas beliau di tengah-tengah Dewan Syura, maka tidak bisa seseorang—dengan beralasan hubungan kekeluargaan beliau dengan Umar dan Utsman—untuk mengatakan bahwa beliau meyakini kebenaran pemerintahan mereka. Bahkan, apabila terlihat beliau memuliakan sebagian khalifah dibandingkan dengan khalifah yang lain, sama sekali bukan berarti beliau menerima prinsip utama mereka dalam memerintah.

Ketika Amirul Mukminin as sadar akan kelemahannya melawan partai yang sedang berkuasa, dan tidaklah maslahat bagi Islam apabila beliau memulai perlawanan terhadap mereka, maka beliau memilih jalan damai. Di berbagai kondisi dan kesempatan, Amirul Mukminin as menjelaskan dan meluruskan bahwa bai’at dan penerimaan beliau terhadap Abu Bakar sebagaimana umumnya Muhajirin dan Anshar tidak lain karena keharusan dan menjaga persatuan muslimin. Terkadang beliau juga membawakan pendekatan untuk penjelasannya di atas dengan ucapan Nabi Harun as kepada nabi Musa as, “Aku takut kau katakan bahwa aku telah memecah belah Bani Israil” (QS. Thaha : 94). Beliau berkata tentang Saqifah, “Bahkan aku sendiri sadar bahwa hak-ku telah dirampas dan aku tinggalkan hakku untuk mereka. Semoga Allah SWT mengampuni mereka.”

Dulu, Sunni tidak menerima bahwa Ahlulbait as meyakini diri mereka lebih layak memerintah dari pada khalifah pertama, kedua dan ketiga. Namun sekarang ada beberapa golongan Sunni yang tercerahkan yang menerima bahwa alasan Ali as berbaiat kepada Abu Bakar tidak lain adalah menjaga persatuan di saat beliau mengungkapkan hanya dirinya orang yang layak dan berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah saw.

Bagaimanapun juga, kehidupan terpencil Amirul Mukminin as di tengah masyarakat merupakan sikap beliau dan para khalifah sendiri tahu kalau mereka tidak bisa bertemu, dalam artian mendukung satu sama lain, khususnya berhubungan dengan persoalan khilafah. Kendatipun demikian, pulang dan pergi ke masjid, bahkan jalinan kekeluargaan seperti pernikahan Umar dengan Ummu Kultsum adalah sesuatu yang biasa. Pernikahan ini terjadi karena Umar bersikeras untuk menikahinya. Pada mulanya Amirul Mukminin as menolak, tapi pada akhirnya beliau terima. Seperti juga yang pernah terjadi antara beliau dan Abu Bakar. Amirul Mukminin as menikahi istri Abu bakar, Asma’ binti Umais, sepeninggalnya, dan beliau mendidik putera Abu Bakar, yaitu Muhammad bin Abu Bakar, di rumah beliau sendiri. (Bersambung ke Bagian Keempat)

Imam Ali Sang Washi Rasul (Bagian Kedua)

Di dalam ceramahnya yang berjudul “al-Qashi’ah”, Imam Ali as mengungkapkan kedekatannya dengan Rasulullah saw dalam untaian kata-kata yang sangat indah. Begitu dekatnya beliau dengan Rasulullah saw sehingga Imam Ali as berkata, “Sumpah demi Tuhan! Tidak ada satu pun dari ayat al Qur’an yang turun kecuali aku tahu tentang apa dan di mana turunnya.” Ibn Abbas mengatakan, “Allah SWT tidak mengirimkan surat Al-Qur’an kecuali Ali as adalah amir dan tuannya. Allah SWT pernah menghardik sahabat Rasulullah saw, akan tetapi Ia tidak pernah berfirman tentang Ali kecuali secara baik.”

Ahmad bin Hanbal memberikan jawaban kepada orang yang merasa aneh dan terkejut bagaimana Imam Ali as menjadi pembagi surga dan neraka seraya berkata, “Bukankah diriwayatkan pula dari Rasulullah saw yang bersabda kepada Ali as, ‘Tak seorang pun yang mencintaimu kecuali orang yang beriman, dan tak seorang pun yang membencimu kecuali orang yang munafik?'” Mereka menjawab, “Iya.” Lalu Ahmad bin Hanbal melanjutkan penjelasannya, “Oleh karena tempat orang beriman adalah surga dan tempat orang munafik adalah neraka, maka Ali as adalah pembagi surga dan neraka.”

Umar bin Abdulaziz mengatakan, “Andaikan masyarakat yang bodoh ini tahu akan apa yang kita ketahui tentang Ali, niscaya tidak lebih dari dua orang yang akan mengikuti kita.” Salman Alfarisi berkata, “Apabila Ali as pergi dari sisi kalian, niscaya tidak ada orang lagi yang mengungkapkan rahasia-rahasia Rasulullah saw kepada kalian.” Tepat sekali apa yang dikatakan Ibn Abil Hadid, “Tidak seorang pun setara dengan Abu Thalib dan anak-anaknya, Ali dan Ja’far, dalam menolong Rasulullah saw.”

Ketika seorang datang mengadukan Ali as kepada Rasulullah saw karena satu permasalahan, beliau tiga kali menjawab, “Jangan ganggu Ali, sesungguhnya Ali adalah dariku dan aku dari Ali, sesungguhnya Ali adalah pemimpin (wali) semua orang yang beriman.” Ali as telah menyelamatkan nyawa Rasulullah saw di malam hijrah. Sekitar 30 orang musyrik yang gugur di tangan Ali as di perang Badar. Di saat sejumlah besar sahabat Nabi lari meninggalkan medan perang Uhud, Imam Ali as tetap tinggal di sisi Rasulullah saw dan menjaga serta menyelamatkan nyawa beliau dari serangan musuh. Tebasan pedang Ali as di perang Khandak yang menimpa Amr Bin Abdi Wud dinilai Rasulullah saw lebih tinggi dari pada ibadahnya jin dan manusia. Dan pukulan inilah yang mendesak musuh untuk menarik mundur pasukan mereka. Di mayoritas peperangan Nabi saw, Imam Ali as adalah pengibar bendera pasukan Islam.

Tanpa ragu bisa dikatakan bahwa tiada seorang pun dari sahabat Nabi saw yang menandingi ilmu Imam Ali as. Hal ini terbukti oleh sabda Rasulullah saw sendiri dan juga para sahabat, dan disamping itu pula, sejarah menjadi saksi nyata atas hal tersebut. Sabda Nabi saw, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya” adalah sebaik bukti atas hal di atas. Begitu pula dengan perkataan Imam Ali as, “Tanyalah aku sebelum kalian kehilangan diriku.” Ini adalah tantangan yang—menurut pengakuan Sa’id bin Musayyib—tak ada sahabat selain Ali berkata demikian. Rasulullah saw selalu menugaskan Imam Ali as untuk mengajarkan wudhu dan sunah kepada masyarakat. ‘Aisyah, yang sejak zaman Nabi saw selalu memusuhi Fatimah dan Imam Ali as, berkata, “Ali adalah orang paling pintar tentang sunah”. Atha’, salah seorang tabi’in yang populer, berkata, “Ali adalah orang yang paling faqih di antara para sahabat Nabi saw.” Umar bin Abdul Aziz menyebut Imam Ali as sebagai orang yang paling zuhud di antara para sahabat.

Ali Pasca Rasulullah Wafat
Kalau memang benar bahwa pada masa Nabi saw ada dua arus politik yang bertentangan dari kalangan Muhajirin dalam memperebutkan khilafah dan kepemimpinan setelah beliau, maka harus diterima pula bahwa sejak dulu hubungan antara Imam Ali as dengan dua sahabat besar pertama dan kedua tidaklah harmonis. Di dalam data-data sejarah, tidak ada yang merekam pertikaian antara mereka saat itu. Namun juga tidak ada data sejarah yang menceritakan persahabatan mereka. Tapi, ‘Aisyah sendiri mengakui bahwa sikap sentimen dan permusuhan dirinya terhadap Imam Ali as sudah berkobar sejak masa Rasulullah saw hidup. Dan ini menjadi saksi atas pertentangan antara keluarga Ali dan keluarga Abu Bakar.

Diriwayatkan juga dalam sejarah, ketika Fatimah as meninggal dunia, semua istri Nabi saw turut serta dalam belasungkawa dan duka cita Bani Hasyim. Akan tetapi, Aisyah berpura-pura sakit dan tidak datang ke sana. Bahkan, lebih tragis lagi, dinukil juga oleh sejarah seakan-akan Aisyah juga menampakkan rasa gembiranya atas kematian Fatimah as. Apapun yang terjadi pada waktu itu, yang jelas, setelah Abu Bakar menduduki tampuk kekhilafahan, Imam Ali as segera bersikeras untuk memperjuangkan hak dan kebenarannya untuk menjadi khalifah Rasulullah saw secara langsung, dan hal inilah yang menjadi faktor timbulnya polemik antara mereka.

Serangan terhadap rumah beliau as, amarah Fatimah as terhadap dua sahabat (Abu Bakar dan Umar) dan juga larangan beliau terhadap mereka untuk menghadiri jenazah sucinya, semua itu memperuncing perselisihan di atas. Setelah semua kejadian tersebut, Imam Ali as menyendiri dan melanjutkan kehidupan pribadinya. Selain bai’at, pemerintah saat itu sangat menghendaki Imam Ali as untuk tidak menyuarakan hak dan kebenarannya atas khilafah Nabi saw. Disamping itu pula, pemerintah juga menghendakinya untuk menghunus pedang dan berperang untuk memperkuat tonggak kekuasaan mereka melawan musuh dan orang-orang yang murtad. Imam Ali as menolak permintaan itu. Dan melihat sikap seperti ini, sekilas tampak wajar pemerintah harus melecehkan dan merendahkan beliau di mata umum. Dan politik ini juga yang menambah keterasingan beliau di tengah masyarakatnya.

Imam Ali as berkata di dalam laknatnya terhadap Quraisy, “Ya Allah! Aku meminta pertolonganmu terhadap orang-orang Quraisy dan siapapun yang mendukung mereka. Sesungguhnya mereka telah memutus rahimku, mengerdilkan kedudukanku yang agung, dan bersepakat untuk memerangiku lantaran satu hal yang merupakan hak dan milikku.” Beliau melanjutkan, “Aku menangis dan kulihat tak seorang pun yang menolong dan membelaku kecuali orang-orang khususku, yang mana aku tercegah untuk membawa mereka sampai titik kematian….” Ucapan beliau menunjukkan politik para khalifah saat itu dalam melecehkan jati diri beliau. Beliau berkata mengenai Dewan Syura di dalam ceramah asy-Syiqsyiqiyah-nya, “Karena hidupnya (Umar) tengah berakhir, maka dia mencalonkan sekelompok orang untuk khilafah setelahnya, dan aku diletakkan di antara mereka. Ya Allah, Syura macam apakah ini? Apa kekuranganku dibanding yang pertama (Abu Bakar) sehingga aku tidak dianggap—minimalnya—sepadan dengan dia sehingga aku diposisikan sepadan dengan mereka (anggota Syura)?”

Diposisikannya Amirul Mukminin Imam Ali as di tengah orang-orang seperti Thalhah, Zubair dan Utsman betul-betul dekonstruktif (menghancurkan). Tidak cukup di situ, melainkan mereka, anggota Syura, sendiri melecehkan beliau dari dalam. Lebih aneh lagi, di saat Umar memilih enam orang anggota Syura, dia menyandangkan kriteria tertentu pada masing-masing. Salah satunya, dia menuduhkan karakter yang sangat menghina dan tidak beralasan kepada Imam Ali. Umar menuduh beliau dengan ucapannya, “Ali adalah orang yang humoris (hobi bercanda).” Tuduhan Umar ini menjadi landasan kata-kata Muawiyah dan Amr Bin ‘Ash di kemudian hari, yaitu, “Ali suka main-main”. Dan Amirul Mukminin Imam Ali as dengan tegas menepis tuduhan Amr bin Ash tersebut yang berarti menepis tuduhan Umar bin Khattab.

Kehidupan terpencil Amirul Mukminin Imam Ali as di sudut kota Madinah berakibat beliau tidak dikenal untuk selanjutnya. Roda zaman bergulir dengan cepat sementara beliau sendiri di Madinah, hanya ditemani oleh muka-muka lama para sahabat. Adapun di Irak dan Syam, tak seorang pun yang mengenali beliau. Hanya sebagian kabilah Yaman, yang pernah melihat beliau semasa beberapa bulan missi ke Yaman, yang kenal. Jundab bin Abdillah bercerita, “Setelah berbai’at kepada Utsman, aku pergi ke Irak dan kuriwayatkan keistimewaan Ali as kepada masyarakat setempat. Jawaban terbaik yang kuterima dari mereka adalah singkirkan saja kata-kata seperti ini dan pikirkanlah sesuatu yang lebih bermanfaat untuk dirimu. Kujelaskan kepada mereka bahwa kata-kataku ini sungguh bermanfaat bagiku dan bagi kalian semua. Namun mereka bangkit dan pergi meninggalkanku.”

Ketika membawakan analisa Muhammad bin Sulaiman, Ibn Abil Hadid menegaskan bahwa salah satu faktor perpecahan pada masa pemeritahan Utsman adalah pembentukan Dewan Syura oleh Umar, karena masing-masing anggota Syura menjadi sangat haus pada khilafah. Thalhah adalah orang yang betul-betul menantikan khilafah. Zubair pun membelanya sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai orang yang juga layak menduduki pemerintahan. Harapan mereka terhadap khilafah jauh lebih besar daripada harapan Ali as terhadapnya. Karena dua sahabat sebelum mereka itu selalu menjatuhkan martabat dan melecehkan kehormatan beliau di depan masyarakat umum, oleh karenanya, beliau di tengah masyarakatnya sendiri telah terlupakan. Mayoritas sahabat yang mengetahui keutamaan Ali as sejak zaman Nabi saw telah meninggal dunia, dan telah lahir generasi baru yang mengenalnya seperti orang baru mengenal Islam. Yang tersisa dari kebanggaan beliau saat itu hanyalah Ali sebagai misan Rasulullah, suami putri tercinta dan ayah dari cucu-cucu Nabi saw. Adapun keistimewaan beliau yang lain telah terkubur. Ditambah lagi dengan permusuhan Quraisy terhadap beliau dimana mereka tidak pernah membenci seseorang seperti itu. Di sisi lain, Quraisy begitu menyenangi Thalhah dan Zubair, karena tidak alasan bagi mereka untuk dengki terhadap kedua orang itu.

Setelah menjelaskan penantian massa di tengah pertempuran Siffin atas kehadiran Ammar bin Yasir di medan perang sebagai tolok ukur kebenaran salah satu dari dua belah pihak yang bertikai, Ibn Abil Hadid mengatakan, “Betul-betul aneh masyarakat ini! Bagaimana mungkin mereka menjadikan Ammar sebagai tolok ukur kebenaran dan kebatilan, sementara Ali as tidak diterima sebagai tolok ukur keduanya? Padahal beliau adalah orang yang Rasulullah saw pernah bersabda di dalam hadis Wilâyah, ‘Tidak ada seorang pun yang mencintaimu kecuali dia adalah orang yang mukmin dan tidak satu orang pun yang membencimu kecuali dia adalah orang yang munafik.’ Hal itu dikarenakan sejak awal, semua orang Quraisy berupaya keras menutupi keutamaan Ali as, menghapuskan memori tentang beliau, menghanguskan semua keistimewaan beliau, dan menggeser kedudukan beliau yang agung dari hati setiap orang.”

Ibn Abil Hadid juga membawakan analisa yang cukup menarik tentang mengapa Quraisy sangat membenci Amirul Mukminin as. Ada seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin as, “Menurutmu, seandainya Rasulullah saw mempunyai putra yang besar dan dewasa, apakah masyarakat Arab akan menyerahkan pemerintahan kepadanya?” Beliau menjawab, “Jika dia bertindak selain apa yang kulakukan, niscaya mereka akan membunuhnya. Masyarakat Arab membenci kerja Nabi Muhammad saw dan iri terhadap kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada beliau. Semenjak beliau masih hidup, mereka telah berencana untuk mengambil alih pekerjaan (pemerintahan) setelah wafatnya dan merebutnya dari tangan Ahlulbait as. Kalau bukan karena menjadikan nama beliau sebagai perantara kekuasaan dan tangga perkembangan, sesaat pun setelah beliau wafat, Quraisy tidak akan menyembah Allah SWT dan akan menjadi orang-orang yang murtad.

Tak lama kemudian, mulailah kemenangan dan penaklukan negara-negara luar mereka peroleh. Mereka merasa kenyang setelah lama kelaparan dan merasakan kemewahan selepas kemiskinan. Islam jadi mulia dan agama mulai menemukan tempat di hati sebagian dari mereka. Karena bagaimanapun juga, seandainya agama Islam tidak benar, maka hal ini dan hal itu tidak akan terjadi. Setelah itu, mereka menisbatkan kemenangan dan penaklukan tersebut kepada pikiran dan kelayakan para amir dan wali mereka. Ada yang mereka besar-besarkan dan ada juga yang mereka hapus dari ingatan masyarakat. Kami adalah orang yang terhapus dari ingatan, cahaya yang padam dan suara yang terputus sehingga kami ditelan masa. Tahun-tahun berlalu dengan kondisi yang sama. Banyak dari wajah-wajah yang dikenal telah meninggal dunia dan lahir generasi baru yang tak dikenal. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang putera dalam kondisi semacam ini. Kalian sendiri tahu bahwa Rasulullah saw mendekatkan diriku pada beliau bukan lantaran hubungan famili, melainkan untuk jihad dan nasehat.” (Bersambung ke Bagian Ketiga)

Imam Ali Sang Washi Rasul (Bagian Pertama)

Berdasarkan data sejarah yang paling populer, Ali lahir pada tanggal 13 Rajab 30 tahun Gajah atau sepuluh tahun sebelum pengutusan Rasulullah saw dan tiga tahun sebelum hijrah. Ada beberapa versi lagi berkenaan dengan tanggal kelahiran beliau; 7 Sya’ban, 23 Sya’ban dan juga pertengahan bulan Ramadan. Perlu pula diketahui bahwa penyusun al-Kâfî dan beberapa ulama lainnya juga meyakini tahun 30 dari tahun Gajah tersebut sebagai hari kelahiran beliau. Data sejarah tentang kapan beliau memeluk agama Islam juga simpang-siur, mulai dari beliau usia tujuh tahun sampai dengan lima belas tahun. Namun, yang populer dan lebih akurat adalah data yang menyatakan bahwa beliau masuk Islam pada usia sepuluh sampai dua belas tahun. Beliau meneguk cawan syahadah pada tanggal 23 Ramadan 4 Hijriah, tepatnya di kota Kufah. Ayah beliau adalah Abu Thalib dan ibunya adalah Fatimah binti Assad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Rasulullah saw menyikapi Fatimah binti Asad seperti ibunya sendiri, dan ketika ia meninggal dunia, Rasulullah saw memfungsikan bajunya sebagai kafan Fatimah seraya mengiringi jenazah dan menangisinya.

Amirul Mukminin di Masa Rasulullah
Masa kanak-kanak dan pertumbuhan Imam Ali as berlalu di rumah Nabi Muhammad saw. Banyak sekali cerita menarik seputar pengalaman hidup beliau di dalam rumah Rasulullah saw. Semua data tentang hal ini telah dikumpulkan dengan rapi oleh Ibn Abil Hadid di dalam bukunya, Syarah Nahjul Balaghah. Salah satunya adalah riwayat dari Zaid bin Ali bin Husain as bahwa pada masa itu Nabi Muhammad saw senantiasa mengunyah dan melembutkan daging dan korma di mulutnya agar dapat dengan mudah dikonsumsi, lantas beliau menyuapkannya ke mulut Imam Ali as. Dan kedekatan ini telah menjadi salah satu faktor bagi beliau untuk menjadi orang pertama yang memeluk agama Islam dan beriman kepada ajakan Rasulullah saw. Beliau sendiri berkata, “Tak seorang pun yang mendahuluiku dalam menunaikan ibadah shalat kecuali Rasulullah saw.” Begitu banyak bukti dan kesaksian akan hal ini sehingga tidak tersisa lagi keraguan sedikitpun bagi orang-orang yang netral dan tidak sentimen atau fanatik. Diceritakan bahwa nabi Muhammad saw sendiri yang maju melangkah dan mengajak Imam Ali as untuk menerima risalahnya. Dengan demikian, hal itu menunjukkan kematangan intelektual Imam Ali as pada saat itu. Sebab, jika tidak demikian, maka itu adalah satu hal yang negatif bagi Rasulullah saw mengajak orang di bawah umur dan belum dewasa dalam menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Al-Mas’udi berkata, “Sebagian orang menyebutkan bahwa usia Imam Ali as masih dini saat memeluk agama Islam sampai akhirnya terlontar pernyataan bahwa beliau masuk Islam di saat masih anak-anak.”

Pengorbanan Ali as di jalan Islam merupakan salah satu faktor utama mengapa Rasulullah saw sering mengutarakan keutamaan-keutamaannya. Ahmad bin Hanbal berkata, “Begitu banyak hadis sahih dan bisa diterima sampai kepada kita tentang keutamaan Ali as, dan sama sekali tidak ada hadis sebanyak itu yang sampai kepada kita tentang sahabat yang lain.” Ia juga berkata, “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib as tidak bisa dibandingkan dengan siapa-pun.” Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Ali as senantiasa pulang dan pergi mengunjungi Rasulullah saw dan tak seorang pun ikut serta bersamanya. Begitu pula Rasulullah saw selalu keluar dan masuk mendatanggi Ali as dan tak seorang pun bersama mereka berdua.” Zaid Bin Tsabit pernah berkata kepada beliau, “Posisimu di sisi Rasulullah saw tidak tertandingi oleh siapa pun.” Perlu dicatat bahwa dia mengeluarkan pernyataan ini ketika dia betul-betul gigih mendukung Utsman bin Affan. Inilah yang menjadi faktor mengapa beliau mengenali Rasulullah saw jauh di atas pengenalan orang lain kepada beliau.

Satu lagi bukti perhatian khusus Rasulullah saw terhadap Imam Ali as adalah mengawinkan putri tercintanya, wanita terpilih alam semesta dengannya, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab pernah datang melamar Fatimah as dan tertolak. Akan tetapi, ketika Imam Ali as melangkah maju dan melamarnya, ia diterima dengan senang hati.

Ketika ia menikahi Fatimah as, Rasulullah saw menyuruhnya untuk mendapatkan rumah, dan ia berhasil mendapatkannya. Tapi rumah itu terletak jauh dari tempat tinggal Nabi saw. Lalu beliau meminta mereka berdua untuk tinggal lebih dekat di sisinya, dan hal itu dapat terwujud dengan pengorbanan Haritsah bin Nu’man yang memasrahkan rumahnya kepada mereka. Mungkin inilah alasan kenapa Abdullah bin Umar berkata, “Apabila kalian ingin tahu kedudukan Ali as di sisi Rasulullah saw, maka lihatlah posisi rumahnya dari rumah beliau saw.”

Saat kejadian akad persaudaraan di tengah masyarakat Islam pada zaman Rasulullah saw, beliau memilih Imam Ali as sebagai saudara. Saat Rasulullah saw berceramah, Imam Ali as mengulangnya untuk orang-orang yang duduk jauh dari beliau dan sulit mendengarnya secara langsung. Saat Rasulullah saw marah, tak seorang pun berani berbicara dengan beliau kecuali Imam Ali as. Masyarakat senantiasa menjadikan Imam Ali as sebagai perantara kepada beliau untuk mendapatkan solusi atas masalah mereka. Data-data sejarah Sunni sendiri mencatat pernyataan ‘Aisyah, “Orang yang paling dicintai Rasulullah saw dari kaum pria adalah Ali, dan orang yang paling dicintai beliau dari kaum wanita adalah Fatimah.” Di salah satu hadis yang paling akurat dan benar, yaitu hadis Manzilah (kedudukan), Rasulullah saw menegaskan bahwa kedudukan Ali di sisi beliau seperti kedudukan Nabi Harun as di sisi Nabi Musa as. Setiap kali muncul problem yang perlu mengutus seseorang untuk memperbaikinya, Rasulullah saw mengirim Imam Ali as untuk mengemban tugas tersebut.

Pernah seorang bertanya kepada Imam Ali as, “Bagaimana Anda bisa lebih banyak meriwayatkan hadis dari pada sahabat yang lain?” Beliau menjawab, “Karena ketika aku bertanya kepada beliau, beliau mengajariku, dan apabila aku diam, maka beliaulah yang memulai pembicaraan denganku.” Imam Ali as juga berkata, “Aku tidak pernah mengalami kebodohan kecuali aku menanyakannya kepada Rasulullah saw, kuserap jawabnya dan kusimpan baik-baik dalam memoriku.” Ia juga berkata, “Apapun yang kudengar dari Rasulullah saw senantiasa kuingat dan tak pernah kulupakan.” Di salah satu surat beliau menuliskan, “Aku dan Rasulullah saw seperti dua tangkai dari satu pohon, dan seperti tangan dan lengan.”

Imam Ali as berkata, “Aku mengikuti jejak Rasulullah saw seperti anak unta yang mengikuti jejak induknya.” Beliau juga berkata, “Sesaat pun aku tak pernah melawan Allah SWT dan sesaat-pun aku tak pernah menentang Rasulullah saw.” Dalam proklamasi pembebasan diri (bara’ah), Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw agar beliau sendiri yang menyampaikan kepada khalayak umum, atau jika tidak, maka harus orang dari beliau yang melakukan hal itu. Oleh karena itu, Rasulullah saw memberhentikan Abu Bakar di tengah jalan dan menyerahkan surat pembebasan diri itu kepada Imam Ali as untuk disampaikan di hari besar haji. (Bersambung ke Bagian Kedua)

Bulu Itik di Kepala Pencuri

Mesjid Imam Ali Bin Abi Thalib As

Suatu hari, seseorang menghadap Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dan mengadukan tetangganya yang selalu mengganggu dan mencuri itiknya. Namun, ia tidak tahu siapa pencurinya. Imam Ali berkata kepada orang itu, “siang ini, datanglah ke masjid. Akan kutunjukkan siapa pencurinya”. Imam Ali pun berkhutbah di masjid dan berkata, “seseorang diantara kalian telah mencuri itik milik tetangganya dan sekarang berada di sini. Bulu itik itu ada di atas kepalanya sekarang” (maksud beliau, bulu itik itu berada di atas kepala itik). Saat itu, Imam Ali dengan jeli melihat salah seorang hadirin mengusap kepala dengan tangannya. Segera, beliau menyuruh si pemilik untuk mengambil itiknya dari orang tersebut (dari orang yang ketahuan mengusap kepala dengan tangannya itu).

Saluuni yaa Maasyiran-Naas

Ketika Imam Ali diangkat menjadi khalifah secara aklamasi (dengan suara mayoritas) dan ummat Islam membai’atnya dengan sukarela, beliau pergi ke masjid dengan memakai sorban dan selendang Rasulullah saw, memakai sandal Rasulullah saw, lalu beliau naik mimbar dan duduk di atasnya sambil menyilangkan jari-jari kedua tangannya dan meletakan dekat perut. Kemudian beliau berkata: “Maasyirannas…bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Inilah wadah ilmu. Inilah air liur Rasululah saw. Inilah yang Rasulullah saw tuangkan padaku berkali-kali. Bertanyalah kepadaku karena aku mempunyai ilmu-ilmu orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang…”

Perkataan Imam Ali itu tentu bukan sekedar omong kosong, tetapi sebuah kenyataan dan bukti kesiapan beliau untuk memberikan jawaban segala persoalan dan memberikan solusi yang tepat terhadap segala problema umat manusia. Said bin al Musayib berkata, “Tidak ada seorangpun dari sahabat Rasulullah yang mengatakan itu kecuali Ali bin Abi Thalib. Beliau berkali-kali mengatakan itu diatas mimbar” (Usud al Ghabah 4/22).

Sepanjang sejarah umat Islam ada beberapa orang yang sesumbar seperti perkataan di atas, tapi akhirnya dipermalukan karenanya, seperti: Muqotil bin Sulaiman, pada suatu saat duduk dan berkata, ”Betanyalah kepadaku tentang apa yang ada di bawah Arsy sampai Luyana.” Seorang bertanya kepadanya, “Adam ketika haji, siapa yang memotong rambutnya?” Lalu dia (Muqotil) menjawab, “Ini bukan pertanyaanmu, tetapi Allah berkehendak mempermalukanku atas keujubanku” (Tarikh al Khatib al Baghdadi 13 hal. 163).

Qatadah berkata, “bertanyalah kepadaku tentang al Quran! (niscaya aku menjawabnya). Abu Hanifah lalu bertanya kepada Qatadah, “Bagaimana pendapatmu tentang Firman Allah: Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip” (Q.S 27:40). Siapakan orang itu?” Qatadah menjawab, “Dia adalah anak pamannya Sulaiman bin Dawud. Dia mengetahui nama Allah yang Sangat Agung. “Apakah Sulaiman mengetahui nama (yang sangat agung) itu?” tanya Abu Hanifah lagi. “Tidak”. Jawab Qatadah yakin. “Subhanallah, berarti di hadapan seorang Nabi ada orang yang lebih pandai darinya.” Ujar Abu Hanifah. “Tanyakan persoalan lainnya!” kata Qatadah. “Apakah anda orang yang beriman?” tanya Abu Hanifah. “Saya berharap seperti itu,” jawab Qatadah. “Mengapa Anda tidak menjawab seperti Nabi Ibrahim “Ya, aku beriman” (Q.S 2:260) “Penganglah tanganku! Demi Allah, aku tidak akan datang ke kota ini lagi!” ujar Qatadah dengan malu (al Intiqa`, hal. 156).

Riwayat di atas dikutip dari Muhammad Ridha Al-Hakimi, Mengungkap Untaian Kecerdasan Sayidina Ali Bin Abi Thalib (MUKSA), hal 11-16.

Lalu bagaimana dengan Imam Ali sendiri? Beliau berkata, “Sebelum aku meninggalkan kalian, tanyakanlah kepadaku tentang al Qur’an. Demi Allah! Tidak satupun dari ayat al Quran yang turun, kecuali Rasulullah membacakannya untukku, dan mengajarkan tafsirannya.” Ibnu Abil Hadid menuturkan: Umar Ibnu Khatab berkata kepada Ali bin Abi Thalib, ”Aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan tidak tahu, dan engkau selalu dapat menjawabnya secara langsung, bahkan tanpa berpikir sejenakpun.” Lalu Imam Ali menunjukkan lima jarinya ke hadapan Umar seraya berkata: “Wahai Umar, berapakah ini?”

Seketika Umar menjawab, “Lima.” “Ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi.” (Ilmu pengetahuan dan kebenaran itu jelas bagi Ali, seperti jelasnya Umar melihat lima jari tangan Ali).

Ammar bin Yasir bertutur: Pada satu peperangan, aku dan Imam Ali bin Abi Thalib as melewati sebuah gurun yang dipenuhi oleh semut. Akupun berkata kepada imam Ali, “Wahai Tuanku, apakah ada yang mengetahui jumlah semut ini?” “Ya Wahai Ammar, aku mengetahuinya.” Jawab Imam Ali. “Bagaimana engkau mengetahuinya?” tanya Ammar lagi. “Wahai Ammar, tidakkah engkau membaca surah Yasin? Yang mengatakan:

وكل شيء أحصيناه في إمام مبين

“Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam imam yang nyata” (Q.S 36:12) ?” “Demi Allah, jiwaku kukorbankan untukmu, sesungguhnya aku telah membaca surah itu berkali-kali.” Ujar Ammar. “Maksud dari Imamim-mubin yang tersebut dalam Surah Yasin itu adalah diriku.” (Tafsir Jami’, jilid 5).

Anjing atau Kambing

Saat itu seseorang datang menghadap Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dan berkata, “Seekor anjing mengawini seekor kambing dan sekarang kambing itu melahirkan. Kami tidak tahu apakah anak dari keduanya itu anjing atau kambing?” Imam Ali menjawab, “Jika ia makan tulang berarti ia anjing, jika makan rumput berarti ia kambing”. “Kadang ia makan rumput, kadang makan tulang,” kata orang itu. “Kalau ia minum air dengan lidah berarti ia anjing, kalau dengan mulut berarti ia kambing”. “Ia pun kadang melakukan kedua-duanya”, lanjut orang itu. Imam Ali pun menjawab, “Jika ia berjalan di belakang kambing berarti ia anjing, jika ia berjalan di depan atau di tengah-tengah mereka berarti ia itu kambing”. “Kadang ia berjalan di depan dan kadang ia berjalan di belakang kawanan kambing”.

“Lihatlah, jika ia tidur di atas ekornya, ia adalah anjing. Jika tidurnya seperti kambing maka ia kambing”. “Ia juga terkadang tidur dengan dua cara ini”, kata orang itu. “Kalau hewan itu kencing seperti anjing maka ia anjing, jika seperti kambing maka ia kambing”. “Kadang seperti anjing, kadang seperti kambing”. Akhirnya, Imam Ali pun berkata, “kalau begitu, sembelihlah hewan itu. Jika ia punya kantung makanan pemakan rumput maka ia kambing, jika tidak ia adalah anjing”.