Arsip Tag: Karl Marx

Apa Kerja Itu?

Puisi Jendela karya Sulaiman Djaya

“Menulis adalah juga kerja, bukan pengangguran sebagaimana yang disalah-pahami selama ini. Kerja dalam arti yang sesungguhnya, kerja yang sekaligus melibatkan tubuh dan pikiran, tenaga dan jiwa. Bagaimana seorang penulis, dengan tubuh dan pikirannya berkonsentarasi, melakukan pengembaraan spiritual dan intelektual bersama tubuh dan pikirannya sekaligus secara bersamaan. Penulis adalah seorang pekerja yang tak mengenal jadwal dalam arti mekanik ala para birokrat atau pegawai negeri sipil yang dibiayai uang rakyat”

Kerja merupakan sesuatu yang manusiawi yang mencakup kapasitas tubuh (tenaga), akal dan inteleknya, tak lain karena manusia-lah yang sanggup memperluas dan mengembangkan kerjanya. Kerja juga dipandang sebagai kegiatan transitif, yaitu suatu kegiatan yang memiliki hal lain sebagai objeknya. Sementara itu, secara subjektif, kerja merupakan manifestasi dan perwujudan kedaulatan manusia.

Dalam hal ini, kerja haruslah dikatakan sebagai setiap kegiatan manusiawi, baik kerja tangan atau pun kerja akal-budi. Dan marilah kita ulas satu per-satu masalah kerja ini.

Pertama, kerja sebagai kegiatan transitif, artinya kegiatan yang bermula pada pelaku manusia yang ditujukan kepada sasaran di luarnya, yang mengandaikan kedaulatan khas manusia atas bumi, yang pada saat bersamaan, mengembangkan kedaulatan tersebut.

Kedua, kerja dalam arti objektif, di mana hal ini merupakan buah kemajuan dan pencapaian intelektual manusia, utamanya penemuan mesin dan pembangunan industri modern, singkatnya penemuan dan penciptaan tekhnologi, seperti sekarang ini, di mana dalam konteks ini kerja mencakup keseluruhan perangkat peralatan yang dikerahkan oleh manusia.

Masalahnya adalah, seperti dikritisi Karl Marx, kerja dalam ranah dan kategori kedua tersebut ternyata melahirkan keterasingan atau alienasi, di mana “subjek” manusia kemudian tergerus oleh tekhnologi dan eksploitasi itu sendiri –hingga yang terjadi adalah “manusia untuk kerja”, bukannya “kerja untuk manusia”.

Masalah lainnya dari kerja dalam ranah dan kategori kedua tersebut adalah juga ternyata lebih merupakan instrument akumulasi bagi kekayaan elit korporat, pemilik perusahaan dan modal semata, dan karenanya situasi tersebut mendapat dukungan sistem sosial-politik liberal. Persis di sinilah yang menjadi konsen kritik Karl Marx seputar kerja yang melahirkan alienasi atau keterasingan bagi kaum buruh itu.

Di luar itu semua, atau dalam kategori ketiga, kerja juga mencakup kerja yang murni berkenaan dengan eksplorasi dan penggalian daya akal-budi, semisal kerja para penulis dalam menulis atau memproduksi karya-karya tulis mereka, atau kerjanya para ilmuwan yang mendedikasikan dirinya di dalam laboratorium. Di sini kita bisa memasukan para penulis, penyair, ilmuwan, filsuf, pemikir sosial, kritikus, dan yang lainnya yang dapat dimasukkan dalam kategori ini.

Lalu bagaimana dengan para pedagang, pemain saham, birokrat, olahragawan, perajin, pemahat, dan yang sejenisnya itu? Barangkali di sini kita dapat memasukkannya dalam kategori yang merupakan profesi dan skill di luar yang masuk di kategori ketiga di atas. Sebab, di jaman kita saat ini, dengan munculnya ragam disiplin dan sebaran ruang-ruang aktivitas dan kegiatan manusia, telah juga menciptakan ragam kerja itu sendiri. (Sulaiman Djaya 2015)

Iklan