Arsip Tag: Kubah Budaya

Wanita yang Berbeda

Sulaiman Djaya, Scent of Women

Cerpen Siti Nuraisyah* (Sumber: Radar Banten, 23 September 2014)

Pukul 16.30 Aku datang tepat waktu. Sore ini, kami berdua berjanji untuk kembali bertemu setelah hampir satu minggu semua pekerjaan menyita seluruh waktuku. Dari depan pintu, aku dapat melihatnya duduk di sudut cafe, sedikit terpisah dari pengunjung lainnya. Tempat biasa kami menghabiskan segelas kopi dalam genggaman masing-masing. Seperti biasa ia selalu datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.

“Aku tak suka menunggu, itu lah alasannya kenapa aku tak ingin membuat orang lain menunggu.” Itu yang selalu ia katakan. Dan aku belajar hal itu darinya.

Ia langsung tersenyum saat menyadari kehadiranku. Masih menggunakan blezer kerja berwarna hitam, yang menandakan bahwa ia tak sempat pulang ke rumah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Rasa lelah terpancar jelas di wajahnya, entah karena pekerjaan atau karena hubungannya dengan laki-laki itu. Tapi bagaimanapun, ia selalu terlihat cantik.

Aku melanjutkan langkahku dan duduk di hadapannya. Tanpa banyak haha dan hihi akhirnya kami memesan cappuccino dan tiramisu masing-masing satu.

Dua gelas cappuccino dan dua potong tiramisu datang tak lama setelah kami selesai menanyakan kabar. Ia menjawab bahwa ia baik-baik saja, tapi aku tahu ia tidak sedang baik-baik saja. Setelah tegukan pertama, ia menghela nafas panjang. Aku benar-benar yakin bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Tangismu pecah, pada helaan nafas di akhir cerita. Sepertinya kamu tak lagi mampu menahan beban berat yang sejak tadi membuatmu menghela nafas berkali-kali. Ceritamu selalu sama, tentang dia yang kembali menyakitimu dengan semua hal yang ia lakukan, dengan semua hal yang ia katakan. Aku benci mendengarnya.

Aku mengenalmu lebih dari siapapun yang pernah kamu kenal, kita telah bersama lebih lama dari siapapun yang pernah bersamamu. Aku tahu kamu, sifatmu, kebiasaanmu. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mengerti jalan fikiranmu. Aku tak pernah bisa sepenuhnya tahu apa yang kamu fikirkan. Aku…aku…tak pernah tahu, kenapa kamu masih saja bertahan.

Ia menyakitimu, lagi, lagi dan lagi. Tapi, Kamu masih tetap mencintainya. Ia mengecewakanmu, lagi, lagi dan lagi. Tapi kamu masih tetap bertahan di sampingnya.

“Aku yakin kok, dia bakal berubah.” Katamu di sela isak tangis.

“Tapi, aku nggak yakin.” kataku. Dan kamu hanya akan tersenyum mendengar semua omelanku.

Aku tahu sekali tentang hubunganmu dengan laki-laki itu. 3 tahun, aku tak menyangka kamu bisa bertahan selama ini menghadapi laki-laki seperti itu. Ini bukan pertama kalinya kamu menangis hingga separah ini. Penjaga cafe pun sudah tahu, dan mungkin mereka sudah memakluminya.

Berulang kali aku memberitahumu bahwa dia tak akan berubah, dia adalah orang yang salah. Namun aku menyerah, sampai kapan pun kamu tak akan pernah mendengarkanku. Tugasku, hanya menjadi seorang pendengar yang baik untukmu.

Kita berteman sudah sangat-sangat lama. Aku selalu menjagamu. Aku tak ingin satu orangpun menyakitimu. Tapi dia datang, menghancurkan apa yang selalu aku jaga. Dan aku…tak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa sakit yang teramat saat kamu menangis di hadapanku. Ada debar yang tak terduga saat jemariku menggenggam erat jemarimu ―yang bermaksud untuk menguatkan.

Aku tahu, tak seharusnya rasa sayangku berubah menjadi apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Aku tahu, tak seharusnya aku jatuh cinta padamu. Kita tumbuh bersama, hingga akhirnya aku mempunyai rasa. Aku tahu ini kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Aku menginginkanmu, namun tak ingin kamu ikut terjerumus bersamaku.

Aku pun tak mengerti tentang perasaan ini, bukan cuma sekali aku mengutuk diriku sendiri, tapi pada akhirnya aku harus mengerti bahwa ini telah terjadi. Aku telah jatuh cinta padamu, tapi…aku, sudahlah. Aku tahu aku hanya akan menjadi teman terbaikmu.

Suaramu mulai parau saat berkata. “Aku tak apa-apa.” Dan kembali meneguk cappuccino yang hampir dingin. Tapi nyatanya tangismu lebih banyak menceritakan apa yang kamu rasakan dibandingkan kata-kata yang kamu ucapkan. Tapi kamu, masih bisa berkata bahwa kamu tak apa-apa.

Lagi-lagi aku tak mengerti jalan fikiranmu.

Aku masih tak mengerti, saat kamu bilang tak bisa meninggalkannya. Aku hanya mengerti, bahwa kamu terlalu melihat pada satu titik hitam hingga tak sadar ada pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku hanya mengerti, kamu terlalu melihat pada jurang dalam di hadapanmu hingga kamu tak sadar bahwa ada jembatan yang siap menyeberangkanmu.

Aku tahu, tak seharusnya aku berharap menjadi pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku tahu, tak sepantasnya aku berharap menjadi jembatan yang akan menyebrangkanmu melewati jurang.

Aku tahu, sampai kapan pun kamu tak akan menyadari perasaanku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa memilikimu. Kita sama-sama wanita? Kau tahu sendiri kan? Tapi aku rasa kita wanita yang berbeda, maksudku aku wanita yang berbeda.

*Lahir di Pandeglang, Banten 1 April 1997. Saat ini aktif di Kubah Budaya.

Iklan