Arsip Tag: Nietzsche

Pasar

Gitanjali Sulaiman Djaya

“In this world of trickery –emptiness is what your soul wants” (Jalaluddin Rumi).

“Engkau adalah apa yang kau-baca dan yang kau-makan”, kata sebuah pameo –yang kira-kira berkaitan dengan identitas dan “siapa seseorang” ditentukan atau dibentuk oleh kultur dan kesekitaran masyarakatnya –oleh kesekitaran dunia keseharian yang akrab dengannya dan atau yang diakrabinya. Dan tidak teringkari –sebagaimana dikatakan para sosiolog dan antropolog budaya, jaman ini adalah sebuah era “pertarungan” ragam informasi dan sebaran komoditas yang diproduksi dengan cepat.

Dari sudut analisis media dan teknosains serta dampaknya bagi “masyarakat konsumtif” –di jaman ketika masyarakat atau publik luas mengiyakan dan mempercayai begitu saja apa yang didesakkan media massa layaknya mereka menjalankan perintah-perintah agama –pada saat itu pula mereka melupakan banyak hal yang tidak diberitakan dan tidak didesakkan oleh media massa.

Di jaman ketika iklan dan reklame menggantikan imperatif-imperatif keyakinan religius saat ini, aspek kesadaran dan kognitif manusia seakan tak sanggup lagi menimbang dan mempertanyakan apa yang didefinisikan oleh citra-citra yang disebarkan secara massif dan cepat oleh berbagai reklame dan iklan.

Seakan-akan kita tak bisa lagi menampik barang sejenak semua yang diujarkan media massa –yang dengan memanfaatkan efektivitas dan kecepatan teknosains, dapat dengan mudah berada di mana saja, mulai dari trotoar-trotoar jalan hingga ke sudut-sudut pedesaan. Seakan-akan tempat-tempat ritual ibadah abad ini adalah Carrefour dan mall-mall –di mana kita dapat dengan segera menumpahkan hasrat dan kerinduan kita untuk mencintai benda-benda yang lebih nyata.

Istilah lain untuk menyebutnya –alias untuk menyebut era kita ini, adalah “pemassalan” –yaitu ketika individu-individu direkayasa dan dikondisikan oleh mesin dan pasar-pasar kapitalisme sebagai “massa konsumtif” –yang hanya diperintahkan untuk membeli dan membeli, sehingga membalik motto Cartesian tentang otonomi subjek menjadi subjek-subjek yang “di-crowd-kan –alias di-massa-kan, dengan pameo: “aku membeli, maka aku ada”.

Dalam konteks yang demikian –sebagaimana telah diramalkan Nietzsche dan Kierkegaard ihwal manusia kontemporer, individu-individu telah menjadi kerumunan “yang disamakan” oleh pasar. (Sulaiman Djaya 2004)