Arsip Kategori: Diari Sulaiman Djaya

Kupu-Kupu Senja di Kebun Rosella

Ketika Gerimis Terus Berbisik Karya Sulaiman Djaya

Dari mana aku harus mulai? Sungguh sulit sekali untukku menemukan simpul pertama dari ceceran dan serakan ingatan yang telah tercerai-berai –yang sebagian besar telah terlupakan. Meski demikian, rasanya aku akan merasa bersalah bila mencampakkan yang masih tersisa sebagai kenangan. Aku ingin memulainya dari kupu-kupu di pagihari dan senja yang sesekali kulihat di barisan pohon Rosella yang ditanam Ibuku, ketika hari bersimbah cuaca dingin atau di kala iklim berubah cerah selepas hujan menjelang siang.

Apakah kau akan membaca kisah pribadi yang kutulis ini? Aku berharap demikian. Keikhlasanmu untuk meluangkan waktu demi membaca kisahku ini akan menjadi penghargaan yang sangat berarti bagiku.

Kala itu adalah masa-masa di tahun 1980-an, ketika Ibuku memetik buah Rosella, sementara aku asik memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di salah-satu pohon Rosella itu, yang warna sepasang sayapnya seperti susunan ragam tamsil karena cahaya matahari senja. Ia sesekali terbang, lalu hinggap lagi, kadangkala berpindah atau pindah kembali ke pohon Rosella yang sama, lalu terbang lagi, sebelum akhirnya pergi ke tempat yang ingin ia ziarahi.

Keesokan harinya Ibuku akan menjemur biji-biji Rosella itu dengan tikar yang ia sulam dari sejumlah karung bekas, dan akan mengangkatnya selepas asar, sebelum kami akan menggoreng dan menumbuknya bersama menjadi bubuk kopi yang akan kami bungkus dengan plastik-plastik kecil yang ia beli dari warung. Kakak perempuanku yang akan memasukkan bubuk kopi Rosella itu, sedangkan aku yang menjahit ujung plastik itu dengan cara mendekatkannya ke semungil nyala lampu minyak.

Aku membeli buku-buku tulis sekolahku dari menjual bubuk kopi Rosella yang ditanam Ibuku itu, pohon-pohon Rosella yang acapkali disinggahi sejumlah kupu-kupu, selain dihinggapi dan diziarahi para kumbang.

Kami terbiasa hidup bersahaja dan memperoleh rizki kami dari Tuhan dengan perantaraan pohon-pohon ciptaan Tuhan yang ditanam Ibundaku: Rosella, kacang panjang, tomat, labuh, dan lain-lain yang kemudian dijual Ibuku setelah ia mengunduh dan memanennya. Aku hanya bisa membantu Ibuku sepulang sekolah atau ketika hari libur sekolah, meski kadangkala aku absen untuk membantunya dan lebih memilih untuk bermain dan menerbangkan layang-layang, berburu jangkerik, atau berburu para belalang yang kesulitan untuk terbang karena air yang melekat di sayap-sayap mereka dan yang tergenang di hamparan sawah-sawah di kala hujan atau selepas hujan bersama teman-temanku.

Hidup kami memang seperti kupu-kupu di senjakala yang mengimani kesabaran dan ketabahan sebagai keharusan yang tak terelakkan. Tahukah kau kenapa aku mengumpamakannya dengan kupu-kupu? Aku akan menjawabnya. Kupu-kupu, juga para kumbang, adalah makhluk-makhluk Tuhan yang ikhlas bekerja dan dengan takdir mereka sebagai para pengurai dan penyerbuk kembang dan bunga.

Kehadiran mereka merupakan berkah bagi kami yang mengais rizki dari hidup bertani dan menanam sejumlah tanaman yang buah-buahnya dapat dijual Ibuku. Keberadaan mereka adalah siklus alam dan kelahiran bagi kami, para petani.

Mereka, para kupu-kupu dengan sayap-sayap ragam warna di kedua sisi lengan mereka itu, akan datang tanpa kami undang bila tanaman-tanaman yang kami tanam telah berbunga, entah mereka datang di pagihari atau di senjahari. Memang aku baru menyadarinya di saat aku tak lagi hidup seperti di masa-masa itu –sebuah pemahaman yang memang terlambat. Tetapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak menyadarinya sama-sekali? [Sulaiman Djaya]

Iklan

Hujan dan Waktu

Sajak Prosa Sulaiman Djaya

Sebagaimana jamak kita maphumi, setiap kenyataan dan peristiwa akan senantiasa bersifat subjektif bagi setiap orang atau pengamat yang berbeda alias berlainan. Begitu pula suatu “sunnah alam” yang sama, semisal hujan yang dibicarakan dalam diari singkat ini, tak selamanya memberikan dan menghadirkan keintiman dan suasana yang seragam ketika ia hadir dan datang kepada kita untuk yang pertama-kalinya atau untuk yang kesekian-kalinya.

Bagi saya sendiri, dan tentu saja saya tidak tahu bagi Anda, hujan saya pahami sebagai waktu dan semesta yang tumpah, sebagai aksara yang lahir untuk menjadi kata, menjadi kalimat, singkatnya menjadi sajak. Ini adalah momen ketika saya berada di ruang baca dan meja menulis saya.

Pada saat itu, lewat jendela kaca, saya menyempatkan diri untuk merenungi dan memandangi mereka. Menyimak riuh dan gemericik suara mereka, persis ketika kelahiran dan kematian hadir bersamaan dalam waktu –persis ketika waktu sedang berhenti.

Dan tentu saja, adakalanya mereka menawan saya dalam momen-momen yang lain, seperti ketika saya duduk atau menunggu di halte busway, di kota Jakarta yang tak bahagia itu, dalam keadaan kedinginan –dan saya yakin Anda pernah mengalami momen ini. Ketika mereka mengguyur jalanan aspal dan gedung-gedung bertingkat yang angkuh dan bisu.

Dalam keadaan seperti itu, Anda kadang merasa kesal, jenuh, atau bosan, tak lain karena pada momen itu, mereka menghadirkan dan menghunjamkan kesepian ke dalam perasaan dan hati Anda, kedalam jantung eksistensi Anda yang rentan. Kecuali jika Anda menerima dan mengintiminya sebagai momen puitik.

Kehadiran mereka, ternyata “menciptakan” ragam momen eksistensial dan suasana bathin bagi ragam orang di ragam tempat dan “waktu”. Momen eksistensial bagi seorang kekasih yang memiliki janji atau jadwal untuk bertemu kekasihnya, contohnya. Bagi mereka yang hendak ke tempat kerja atau bagi mereka yang hendak pulang dari tempat kerja, dan lain sebagainya.

Tetapi lain di kota lain pula di desa (di sebuah kosmik ruang-waktu di mana saya menulis diari singkat ini), hujan adalah momen puitik dan peristiwa bahasa, sejumlah perumpamaan kosmis dan spiritual, di mana kematian dan kelahiran, hadir dan datang secara serentak, persis ketika waktu berhenti, dan bahasa kembali ke rahimnya sebagai puisi. Bahasa itu adalah perpaduan kematian dan kelahiran –yang kita sebut waktu. Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Ketika Engkau Terjaga

fragmen-sulaiman-djaya

“Di waktu-waktu sorehari puluhan tahun silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan”

Bagi banyak orang, terutama orang-orang kota, Januari tentu saja adalah bulan keriangan, pesta, dan perayaan yang hingar-bingar, tentu bagi mereka yang menyambut dan merayakannya. Tapi itu tidak sama dengan kami. Sejujurnya kami tak pernah tahu bila ada orang-orang yang menyalakan kembang api di tengah malam di ujung bulan Desember. Saya hanya tahu bahwa di saat saya terbangun pagi-pagi sekali di awal bulan itu, saya hanya keluar sejenak. Mungkin ketika itu saya terpesona, meski masih seorang kanak-kanak, saat tangan-tangan fajar menyentuh rumput dan daun-daun yang masih basah karena embun. Menyentuh hidup.

Itulah saat-saat saya sungguh-sungguh terjaga, entah saya duduk atau berdiri kala itu. Mengelanakan kedua mata ke arah cuaca. Sementara, ketika saya telah menjadi seorang lelaki remaja, di pagi-pagi seperti itu saya akan menyeduh segelas kopi dari bubuk kopi buatan Ibu, agar sedikit merasa nyaman saat duduk di gubuk, menunggu burung-burung Januari yang kami khawatirkan akan datang menyerbu.

Pada saat-saat seperti itulah, saya sadar bahwa ada yang tengah termenung, ada yang begitu riang berlarian seperti kanak-kanak yang bahagia. Juga, ada yang tengah merapihkan diri dan ada yang bermain-main saja –seperti kanak-kanak atau para bocah yang belum mengenal kejahatan dan tipu daya yang menyakitkan, atau pengkhianatan yang telah membuat sejarah menjadi arena pertumpahan darah.

Itu semua saya namakan sebagai tangan-tangan fajar yang riang bermain dan bercanda dengan burung-burung awal bulan Januari yang basah dan lembab saat saya tengah terduduk di sebuah gubuk tempat saya termenung dan menunggu. Itulah keriangan Januari yang kami pahami dan kami alami. Keriangan yang juga datang ketika kami meninggalkan tahun sebelumnya, meski saya kira, ketika itu segala sesuatunya masih tetap sama dan tidak berubah. Ketika kami menjalani hidup dengan menginjakkan kaki-kaki kami di lumpur dan meremas batang-batang padi ketika memukul-mukulkan ujung-ujung pohonnya yang bergelantungan bijian-bijian berwarna kuning pada sebuah alat yang kami sebut gelebotan. Setelahnya, seperti biasa, ada keheningan senjakala.

Burung-burung Januari saat itu, seperti sebuah karnaval yang melintasi bentangan kanvas-kanvas langit dan cakrawala yang berwarna kuning dan merah. Di hari-hari yang lain, bila kami telah selesai membantu orang tua-orang tua kami itu, kami akan bermain layang-layang hingga adzan magrib berkumandang. Dan pada malam harinya, selepas sembahyang magrib itu, kami akan membawa lampu minyak milik kami masing-masing menuju sebuah langgar tempat kami belajar Al-Qur’an kepada ustadz kami yang terbilang galak.

Seperti itulah rutinitas kami sebagai kanak-kanak sebelum akhirnya saya belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah, juga bertemankan semungil nyala lampu minyak yang telah dinyalakan Ibu jelang magrib. Tidak seperti sekarang ini, musik-musik malam saya ketika itu adalah desau angin yang datang dari ranting-ranting dan sela-sela dedaunan sepanjang sungai, juga para katak dan serangga yang tak bosan-bosan memainkan orkhestra mereka dengan riang gembira, namun anehnya semakin menambah kesunyian.

Memang, saya tak sepenuhnya mengerti apa yang saya sebut sebagai ingatan. Tetapi, dengan keterserakannya, dengan potongan-potongan dan serpihan-serpihannya, mereka justru memberikan kesempatan dan kebebasan pada seseorang untuk mengumpulkannya dan merangkainya menjadi sebuah narasi yang tidak mesti sama dengan peristiwa-peristiwa sesungguhnya. Saya tergoda untuk menyebutnya sebagai historiografi angan-angan, karena mereka semua tak lebih sejumlah jejak yang samar. Ketika sebuah tulisan yang ingin menceritakannya tak ubahnya warna-warna pada sebuah kanvas.

Historiografi angan-angan itu dituliskan dan digambar dari keakraban dan keintiman, yang adakalanya bsosan dan adakalanya riang, dengan cuaca, angin, cahaya, tanah, dan sudut-sudut langit yang pernah kita tinggali dan kita akrabi dengan bathin kita. Seperti ketika Giovanni Segantini menggambar dan melukis Saint Moritz, dimana ia menumpahkan kerinduan dan kesepian bathinnya sebagai seorang lelaki. Atau, katakanlah, ingatan itu seperti ketika seseorang memandangi warna-warna dan figur-figur yang tercerai-berai di sudut-sudut kanvas, sobekan-sobekan cahaya yang justru memberi kesempatan pada kita untuk menyusun dan menambalnya dengan angan-angan kita sendiri.

Tetapi saya, kadang akan memahaminya seperti seorang perempuan belia yang merendam separuh tubuhnya di sebuah sungai di kala senja. Sebuah imajinasi impresionis yang menggoda khayalan saya demi mendapatkan penghiburan.

Entah ini tercela ataukah tidak, kadang-kadang saya mengumpamakan salah-satu pengalaman di masa kanak-kanak seperti salah-satu figur dalam lukisan impresionistik, di mana ketika saya menuliskannya tidak berarti saya menulis tentang diri saya sendiri, melainkan tentang ingatan itu sendiri. Atau biarlah saya umpamakan ingatan itu seperti sebuah samar figur di antara desir angin dan gemerisik lembut dedaunan. Atau seperti seorang bocah yang berjalan telanjang kaki sendirian di bawah barisan rindang pepohononan senjahari. Seorang bocah yang menyusuri setapak jalan sepanjang aliran sungai.

Namun yang pasti, di waktu-waktu sorehari puluhan tahun silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan.

Pada saat-saat seperti itu, mereka seakan-akan asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca. Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan. Dingin yang tentu saja meresap pada bulu-bulu mereka. Dan saya sendiri, ketika itu, duduk di bawah rimbun pepohonan bambu pinggir sungai kecil yang airnya mengaliri sawah-sawah. Anggaplah ketika itu, saya memang sudah jatuh cinta pada kebisuan dan kesenduan alam, yang pada akhirnya menggambar dan melukis kesenduan hidup itu sendiri. Kebisuan dan kesenduan yang memberi kedamaian yang aneh. Kedamaian yang merupakan keheningan musim yang basah dengan gerak-gerak yang samar dalam pandangan kedua mata saya sendiri sebagai seorang bocah yang hendak beranjak menjadi lelaki remaja.

Tentulah di saat-saat seperti itu, matahari sudah merasa terlambat untuk menampakkan diri. Di saat malam datang lebih awal. Kesunyian-kesunyian seperti itu pada akhirnya sangat berpengaruh pada keadaan bathin. Keadaan bathin yang mudah tersulut oleh kondisi-kondisi yang mendorong saya untuk mencipta dunia-dunia khayalan. Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dan saya sendiri, bila dilihat dari sudut pandang orang lain lagi, merupakan salah-satu figurnya. Katakanlah saya telah bersatu, atau paling tidak, telah menjadi bagian dari mereka. Sebagai seseorang yang turut mengambil bagian dalam keheningan itu sendiri.

Konon, kecendrungan-kecendrungan seperti itu sebenarnya merupakan salah-satu bentuk keterasingan dan pelarian karena kecewa dan rasa tak puas. Atau karena amarah yang terpendam. Amarah yang menyamarkan dirinya untuk menggandrungi keindahan. Semacam kegilaan yang lembut. Dan kalau pun ya, saya takkan menganggapnya sebagai persoalan atau pun masalah yang perlu disikapi dengan serius. Sebab jika pun itu semua benar, saya akan mengakuinya. Saya akan menerimanya sebagai sesuatu yang mungkin saja malah akan memberikan kebaikan-kebaikan tak terduga.

Dalam cuaca seperti itu, saya pun sebenarnya tak hanya memandangi capung-capung yang saya umpamakan sebagai para peri mungil yang tengah bergembira. Sesekali saya pun melihat juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang. Sementara itu, di malam hari, bila saya keluar dari rumah untuk memandangi bintang-bintang di langit, saya akan bertemu dengan kunang-kunang. Saya sangat mengagumi tubuh-tubuh mereka yang seperti lampu-lampu kecil yang bergerak dan beterbangan dengan cahaya-cahaya yang mereka tebarkan dari tubuh mereka kala itu.

Hanya saja, di saat saya telah menjadi seorang lelaki dewasa, saya hampir tak pernah melihat kunang-kunang masa kanak dan masa remaja saya itu. Kadang-kadang, ada kerinduan dalam hati yang terasa sangat kuat sekali untuk bisa kembali melihat mereka, binatang-binatang ciptaan Tuhan yang menurut saya sendiri termasuk dalam golongan binatang-binatang kecil paling indah. Makhluk-makhluk yang sampai saat ini saya golongkan sebagai makhluk-makhluk keluarga para peri mungil bersama dengan kupu-kupu dan para capung itu.

Saat itu, di masa-masa ketika angin ujung senja tak pernah sekalipun tidak datang ke pintu-pintu rumah kami, adzan berkumandang dalam cuaca basah, dan burung-burung telah bersembunyi di dahan-dahan, ranting-ranting atau di sarang-sarang mereka. Sedemikian akrabnya kami dengan adzan yang seakan memecahkan keheningan itu, kami juga jadi terbiasa berdoa dengan hasrat di hati kami masing-masing, yang kami tak pernah akan saling mengetahuinya satu sama lain. Namun yang pasti, kami sulit membedakan antara pasrah, berdoa atau berusaha bersikap sebagaimana layaknya orang-orang yang telah demikian akrab dengan kepolosan.

Dan kini, ternyata, saya akan menyebutnya sebagai kecerdasan jiwa kami yang tidak diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di kota-kota besar saat ini. Bersamaan adzan yang berkumandang dari sebuah speaker yang menggunakan tenaga accu di ujung senja itulah sebenarnya kami tengah belajar berkali-kali merenungi dan memahami waktu, meski saya belum menyadarinya ketika itu.

Mungkin saja ketika itu bukan hanya kami yang berdoa, tetapi burung-burung yang sama-sama menahan dingin selepas hujan seperti kami. Tapi itu hanya rekaan saya sebagai seorang kanak-kanak yang terjebak antara rasa bosan dan keheningan yang tak kami mengerti. Itulah sebenarnya saat-saat kami tengah mengakrabi musik yang samar-samar, dengan sejumlah komposisi yang tengah dimainkan angin, daun-daun basah, burung-burung dan yang lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Sebab di sana, para katak dan para serangga turut serta menjadi para penyanyi yang meramaikan dan menjelma pentas orkestra keheningan ketika itu. Kumandang adzan di ujung senja hanyalah overture-nya.

Saya akan menamai mereka semua sebagai keriangan yang tengah bertasbih dan memuji lembab. Juga, saya akan menamai mereka sebagai konsierto menjelang tidur, sebab mereka terus saja memainkan musik dan bernyanyi hingga menjelang tengah malam. Sementara itu, sesekali angin mempermainkan daun-daun hingga menjelma desau yang mengirimkan hembusan lembut ke arah jendela dan pintu-pintu rumah kami. Saya juga akan menamainya sebagai moment of compassion. Dengan musik-musik itulah jiwa kami menjadi cerdas dan jujur pada hidup, bukan dari khotbah-khotbah seperti sekarang ini. Tentu saja, ada banyak nama untuk itu semua, tapi saya akan lebih suka menyebutnya praying in solitude.

Dalam keheningan seperti itulah, kami sebenarnya tengah belajar bagaimana berdoa dengan tulus. Itu, tentu saja, jauh berbeda dengan khotbah-khotbah modern dan politis sekarang ini, yang telah mengaburkan batas individual jiwa, bahwa hati kami masing-masing ketika itu sebenarnya tetap tak terselami sebagai manusia yang mempercayai sesuatu yang kudus dan adikodrati. Namun, kepercayaan itulah yang membuat kami, orang-orang desa, menjadi manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tidak pernah berputus asa meski dalam kesahajaan kami yang serba terbatas. Saya akan menamainya sebagai kekuatan dan kecerdasan jiwa. Dan pada saat itulah, ada yang berubah dan ada yang tetap dan tidak berubah. (Sulaiman Djaya 2006)

Puisi dan Cinta

Puisi November Sulaiman Djaya

Saya ingin memulai jurnal singkat ini dengan dua kutipan –yaitu: “Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata –terurai dalam perbuatan” (Fyodor Dostoyevsky, pujangga Rusia). “Cinta itu seperti air, dengannya hidup segalanya. Seperti bumi, cinta bisa menumbuhkan semuanya” (Ali bin Abi Thalib, Imam Pertama dari 12 Imam dalam Islam). Dan rasanya tak salah pula jika saya pun belajar membuat aforisma –suatu seni menyampaikan pandangan secara singkat dan padat:

“Lidah cinta tak hanya berkata untuk telinga –tapi hati pendengarnya. Puisi ditulis bukan semata oleh pikiran –tapi oleh rasa. Sebab kata-kata bukan hanya bunyi belaka –tetapi dunia. Dalam hidup kita tak mesti melakukan hal-hal besar –cukup melakukan hal-hal kecil dengan ketulusan, kesungguhan, dan cinta yang besar. Bukan banyaknya benda-benda yang kita miliki yang membuat kita bahagia –tapi karena yang kita miliki membuat kita bahagia.”

Tidaklah sama antara hubungan yang bergantung pada keuntungan semata dengan cinta. Yang pertama hanya akan ada selama ada transaksi dan pamrih, sementara cinta itu keteguhan hati dalam segala situasi dan keadaan.

Cinta melahirkan kesabaran dan konsistensi, seperti ketika seorang seniman dengan tekun mengukir karya seninya. Cinta melahirkan sikap rendah hati dan sikap pemaaf, selain sikap peduli. Cinta itu adalah rahim yang melahirkan pemahaman dan kepekaan.

Biasanya, orang egois itu bukan hanya tak sanggup mencintai dan peduli kepada orang lain, tetapi juga tak sanggup mencintai dirinya sendiri dan berdamai dengan orang lain dan dirinya, dan menganggap bahwa di dunia ini hanya dirinya-lah yang ada dan yang paling penting, yang pada akhirnya melahirkan sikap mudah meremehkan dan menghina.

Puisi ditulis karena cinta –karena keintiman, kesabaran, konsistensi dan keteguhan.

Tak ada cinta tanpa pemahaman –sebab tanpa pemahaman, cinta tak lebih egoisme sepihak, seumpama pohon yang akarnya rapuh dan dangkal, dan pemahaman lahir dari rahim kerendahan hati, yang membuat seseorang ingin mengerti orang lain, apa yang dalam istilah lain kita sebut sikap peduli.

Puisi ditulis karena cinta dan pemahaman, dari sikap rendah-hati kita dan sikap peduli kita kepada orang lain –mengintimi keberadaan orang lain, selain kita. Bahwa orang lain itu ada dan nyata!

Cinta-lah yang membuat seseorang mampu bertahan dalam situasi-situasi yang sulit dan menekan –yang membuat seseorang menjadi toleran terhadap sesama manusia. Cinta-lah yang membuat seseorang sanggup menahan amarah dan menjadi air yang memadamkan bara api yang merusak. Cinta-lah yang membuat seseorang menolak kejahatan, kekejian, dan kekejaman. Kearifan dan sikap welas-asih-nya menjadi alasan berjalannya keseimbangan di tengah ancaman kesemena-menaan dan aniaya. (Sulaiman Djaya 2016)

Apa Doa Itu?

Mula Puisi Karya Sulaiman Djaya

Jika seseorang tak menginginkan sesuatu yang tak dimilikinya –barangkali ia hanya berharap agar hari-harinya senantiasa jadi doa. Namun, tentu saja, doa tak selamanya hanya milik mereka yang mengklaim beragama dan mengakui eksistensi Tuhan. Tetapi, pada saat yang sama, saya tak percaya kepada mereka yang berkata bahwa mereka berkuasa sepenuhnya atas hidup dan hari-hari mereka.

Saya tak percaya kepada mereka yang mengingkari keajaiban dan kebetulan –sehingga dengan lantang mereka senantiasa mengumandangkan bahwa Tuhan itu tidak ada, bukannya berendah hati bahwa jiwa manusia senantiasa berada dalam kerentanan.

Manusia acapkali dirundung kegelisahan, rasa bosan, kesepian, dan diterkam suatu keadaan dan kebetulan dalam hidup yang berada di luar jangkauan akal dan pemahamannya. Seseorang seringkali terjebak begitu saja dalam rasa asing dan keterasingan, dan karenanya hatinya berdoa dan mengharapkan sesuatu yang menggembirakan akan datang dalam hidupnya.

Pernahkah kau merasakan kegelisahan dan keterasingan –ketika engkau berada dalam kesulitan dan kepapaan, contohnya? Dan pada saat itu engkau merasa tak berarti dan terjebak dalam rasa ketakbermaknaan dalam hidup. Jika kau pernah mengalami hal itu, maka kau manusia normal.

Ketika engkau berharap mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup ini, pada saat itulah engkau tengah berdoa –entah kau mempercayai adanya Tuhan atau tidak? Kepada siapa engkau membathinkan harapan di dalam hatimu ketika engkau tidak mempercayai Tuhan? Itu bukan urusan saya, karena engkau sendiri yang berhak menjawabnya.

Ada saat-saat manusia berada dan terjebak dalam situasi yang tak menyenangkan –mengalami kesepian dan kesendirian ketika berada dalam kesulitan dan kejatuhan yang tak ia duga sebelumnya, pada saat itu yang membuat manusia bertahan adalah doa dan harapan yang ada di lubuk jiwanya. Barangkali, itulah iman. (Sulaiman Djaya 2016)

Catatan Harian Orang Kampung (Bagian Keempat)

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Suatu ketika, di tengah perjalanan pulang sekolah, tiba-tiba turun hujan lebat, dan aku berteduh di bawah naungan ranting-ranting, dahan-dahan, dan daun-daun sepohon lebat di tepi jalan.

Memang, selama separuh perjalananku sebelumnya, langit tampak mendung, dan kupikir hujan baru akan turun sesampainya aku di rumah, sebuah praduga dan perkiraan sepihak yang sungguh keliru dan kusesali. Maklum, kala itu akau ingin segera pulang ke rumah.

Malangnya aku. Hujan itu ternyata berlangsung cukup lama, sekira setengah jam lebih. Dan saat itulah aku dirundung kesepian dan ketakutan.

Tak ada kendaraan atau orang yang melintas selama hujan lebat itu turun dan tercurah cukup deras dan riuh. Saat itulah aku serasa tengah berada di dalam dunia yang sangat sunyi. Barangkali pada saat itu pula hatiku berdo’a.

Manusia ternyata harus bersabar dan berdo’a ketika kejadian dan peristiwa yang tak menyenangkan menimpanya. Bahkan, kebahagiaan yang kita alami dan kita rasakan akan lebih bermakna setelah kita mengalami dan merasakan penderitaan.

Setelah hujan lebat itu reda, aku menggerakkan dan melangkahkan kedua kakiku dalam keadaan tubuh menggigil kedinginan, hingga gigi-gigiku sesekali bergemeretak. Untungnya kala itu, ada mobil truck pengangkut pasir melintas, dan aku dibolehkan duduk menumpang di kursi sopir dan temannya –dan itulah berkah yang tak kuduga pula.

Sesampainya di rumah, aku segera melepaskan baju seragam sekolahku dan langsung kuserahkan kepada ibuku, dan ibuku menjemur baju seragam sekolahku itu di dapur, di sebatang bambu yang melintang di atas dapur agar cepat kering dengan bantuan suhu dapur bila ibuku memasak dengan menggunakan kayu bakar di tungku-tungku dapur, karena keesokan harinya aku harus mengenakan baju seragam sekolahku tersebut.

Ketika itu rumah kami yang sederhana hanya berlantai tanah, tanpa semen atau keramik seperti saat ini (seperti saat aku menulis catatan ini). Di lantai tanah itulah akan menggelar tikar pandan bila kami akan tidur.

Sementara itu, kebutuhan makan kami sehari-hari telah disediakan oleh apa saja yang kami tanam, seperti sayur-sayuran yang kami tanam, semisal bayam, kangkung, kacang, tomat, cabe rawit, dan lain sebagainya, di mana ibuku seringkali membuat menu makanan seperti sambal dari cabe rawit, tomat, garam yang dibeli dari warung, dan kulit buah rosella berwarna merah yang kami tanam sendiri.

Dalam setiap waktu makan, ibuku akan selalu membuat atau memasak sayur dari bayam atau kangkung yang dicampur bawang yang ditanam sendiri dan garam yang dibeli dari warung. Kalau pun sesekali kami makan lauk, paling-paling ikan asin, tahu, dan tempe yang dibeli dari pedagang keliling yang menggunakan sepeda.

Keberuntungan lainnya, sesampainya di rumah setelah diguyur hujan lebat itu, adalah ketika buku-buku catatan sekolahku tidak ikut basah karena kubawa dan kubungkus dengan kantong plastik.

Ide untuk menggunakan kantong plastik yang agak tebal dan cukup besar untuk buku-buku itu berasal dari ibuku, dan terbukti lebih hebat dibandingkan teman-temanku yang menggunakan tas yang tembus air, hingga buku-buku mereka basah bila mereka kehujanan.

Di sekolah menengah pertama itulah aku bergabung dengan geng anak-anak Kragilan Utara, seperti Saifuddin (yang hingga sekarang masih sesekali berkunjung kepadaku), Mohammad Atta, Suradi Partawijaya, dan lain-lain, yang acapkali clash dan berkompetisi dengan geng anak-anak Kragilan Selatan (yang kebanyakan anak-anak mapan dan berasal dari lingkungan kota).

Geng anak-anak Kragilan Utara (anak-anak kampung) inilah yang selalu menang bila terjadi clash dengan anak-anak Kragilan Selatan (anak-anak kota), karena memiliki fisik yang jauh lebih kuat dibanding mereka (dibanding anak-anak kota), seperti Mohammad Atta dan Suradi Partawijaya.

Dapat dikatakan, geng kami adalah geng yang paling ditakuti di sekolah menengah pertamaku, dan orang yang paling lemah secara fisik di geng kami adalah aku, tapi yang paling kuat secara intelektual, hingga anggota geng kami akan bertanya kepadaku bila mereka kesulitan untuk mencerna dan memahami mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah kami.

Begitu pula, mayoritas anggota geng kami adalah anak-anak tetangga kampungku, anak-anak yang dibesarkan oleh alam pedesaan, di mana kami disatukan oleh latar-belakang kami dan keinginan agar tidak dilecehkan anak-anak kota yang acapkali kurang ajar terhadap anak-anak kampung. (Bersambung)

Catatan Harian Orang Kampung (Bagian Ketiga)

Jalan yang Sunyi

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2011)

Di era 80-an itu, selain ibuku, yang bekerja keras mencari uang untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan keluarga kami adalah kakak pertamaku (aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara), seperti mengangkut batu-bata ke mobil truck, mencetak batu-bata, dan yang lainnya. Dapat dikatakan, di masa-masa itu, aku dan kakak pertamaku (lelaki) berbagi kerja dan tugas sesuai dengan kemampuan kami, di mana aku sering bertugas membantu ibuku bekerja di sawah atau menyirami tanaman yang ia tanam di samping rumah kami, di saat kakak pertamaku mencari uang dengan pekerjaan-pekerjaan lain.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya di era 90-an, ketika industri mulai banyak yang hadir di sekitar tempat kami (meski agak jauh), yaitu ketika kakak pertamaku yang hanya bersekolah sampai di sekolah menengah pertama, diterima menjadi karyawan (buruh) di sebuah perusahaan kontraktor yang tengah membangun sebuah pabrik kertas.

Keberuntungan pun terus berlanjut, kala masa kerja kakakku di perusahaan kontraktor tersebut berakhir karena pembangunan pabrik itu telah rampung, ia pun lalu diterima sebagai karyawan pabrik kertas (yang dibangun perusahaan kontraktor itu), siap beroperasi dan melakukan produksi.

Tak ragu lagi, keadaan itu telah memperbaiki keadaan ekonomi keluarga kami dan aku pun bisa meneruskan pendidikanku ke sekolah menengah pertama setelah lulus sekolah dasar, tepatnya di SMPN 1 Kragilan. Aku termasuk orang yang beruntung dapat melanjutkan di sekolah menengah pertama negeri, karena dengan demikian, aku dapat melanjutkan pendidikanku dengan cukup murah, di saat sejumlah kawanku banyak yang harus di sekolah swasta, semisal di SMP PGRI Kragilan (yang biayanya lebih tinggi).

Sekedar informasi tambahan, pendidikan sekolah dasarku hanya kutempuh selama lima tahun, karena aku tak perlu menempuh kelas dua sekolah dasar berdasarkan pertimbangan kepala sekolah dan para guru. Selama lima tahun menempuh pendidikan sekolah dasar itulah aku selalu mendapatkan ranking (peringkat pertama) dan lulus di sekolah dasar (SDN Jeruk Tipis 1 Kragilan) itu dengan peringkat pertama dan mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan murid-murid yang lain.

Di saat aku duduk di kelas lima sekolah dasar di SDN Jeruk Tipis 1 itu pula, aku sempat menjadi juara pertama lomba cerdas cermat untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat Kecamatan dan juara satu tingkat Kabupaten untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sementara itu, selama dua tahun menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, aku harus berjalan kaki sejauh lima kilometer lebih menuju sekolahku. Bila ada mobil truck yang lewat atau melintas di saat aku berangkat atau pulang sekolah, aku pun akan menumpang mobil tersebut. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali memiliki sepeda ketika melihat banyak teman-temanku di sekolah memiliki sepeda, namun aku tak berani memintanya kepada ibuku. Bagiku aku sudah sangat beruntung dapat meneruskan pendidikanku, yang seringkali aku pun telat membayar iuran sekolah, seperti membayar SPP atau biaya ujian.

Masalahnya adalah ketika aku harus bersekolah dengan jalan kaki itu harus kujalani di masa-masa musim hujan. Di masa-masa hujan itulah biasanya ketidakhadiranku di kelas lebih banyak. Sebagai gantinya aku harus belajar di rumah lebih keras untuk mengejar materi-materi mata pelajaran mata pelajaran yang tertinggal ketika aku tidak dapat hadir di kelas. Tentu saja, prestasiku di sekolah menengah pertamaku tidak sama ketika aku di sekolah dasar. Ketika menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, paling-paling peringkatku di antara 7 atau 9, kalah dengan anak-anak kota yang buku-buku mata pelajarannya lebih lengkap.

Tak jarang aku harus meminjam buku-buku teman-temanku untuk sehari atau dua hari agar dapat kusalin di buku-buku catatanku, yang dengan demikian aku tak mesti membeli buku-buku paket yang seringkali diwajibkan sekolah untuk membelinya dari sekolah. Pihak sekolah pun menjadi maklum ketika kujelaskan keadaan yang sebenarnya ketika aku sering tidak membeli sejumlah buku paket –kecuali untuk buku matematika dan fisika yang mau tak mau aku harus membelinya dari uang jajan yang kutabung diam-diam alias tak kugunakan untuk jajan. (Bersambung)