Arsip Kategori: Sejarah Ummat Manusia

Militer Iran Sanggup Perang Cyber Tingkat Tinggi

New Iranian military trucks vehicles

Oleh Marsda TNI Prayitno Ramelan (Analis militer dan pertahanan)

Televisi Iran pada hari Kamis (8/12) telah memublikasikan sebuah pesawat pengintai tak berawak yang disebutkan milik Amerika Serikat dan telah telah berhasil mereka kuasai. Pesawat yang dipamerkan sangat mirip dan dikenali sebagai salah satu jenis pengintai AS yang sangat dirahasiakan, RQ-170 Sentinel. Selama ini pesawat tersebut beroperasi di kawasan Afghanistan dan Pakistan. Operasinya dikendalikan oleh CIA.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah Iran kemudian memanggil Duta Besar Swiss yang mewakili AS di Iran, (Iran tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan AS, Swiss yang mewakili kepentingan AS di Iran). Iran mengajukan protes bahwa telah terjadi pelanggaran wilayah dan upaya memata-matai negaranya. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan rasa tidak senangnya kepada Duta Besar Afghanistan di Iran atas terjadinya pelanggaran wilayah udara dari pesawat terbang yang jauh ke wilayah Iran.

Para pejabat Iran mengatakan bahwa pesawat itu terdeteksi di dekat kota Kashmar, 140 mil dari perbatasan Afghanistan, dan kemudian ditembak jatuh atau dipaksa turun (force down) karena sistem kontrol yang telah hacked dengan sebuah serangan cyber oleh militer Iran. Dikuasainya pesawat ini masih mengundang tanda tanya, karena Sentinel adalah pesawat siluman, tidak terdeteksi oleh radar. Kemungkinan terbesar, militer Iran memiliki kemampuan serupa, sehingga mampu melancarkan serangan Cyber dan memaksa/menuntunnya landing.

Menurut seorang pejabat Afghanistan, pesawat itu diterbangkan dari pangkalan bersama Amerika dan Afghanistan di Shindand di bagian barat Provinsi Herat. Para pejabat Amerika memang telah mengakui kehilangan sebuah RQ-170, pesawat siluman (teknologi stealth) tak berawak yang dibuat oleh Lockheed Martin. RQ-170 dirancang untuk terbang dalam misi rahasia untuk mengumpulkan informasi di wilayah lawan. Menanggapi pemberitaan televisi Iran tersebut, pemerintah AS tidak menolak untuk mengkonfirmasi ataupun menyangkal bahwa itu adalah pesawat mereka yang hilang.

Pengintaian udara oleh RQ-170 ke wilayah Iran nampaknya berkait dengan kekhawatiran AS terhadap program nuklir Iran yang terus berkembang, bahkan ada kekhawatiran Iran mampu membuat senjata nuklir. Dalam pidatonya baru-baru, penasihat keamanan nasional Presiden Obama, Tom Donilon, mengisyaratkan sebuah upaya rahasia Amerika Serikat untuk mengawasi program nuklir Iran . “Kami akan terus waspada,” kata Donilon bulan lalu di Brookings Institution. “Kami akan bekerja lebih giat untuk mendeteksi upaya-upaya baru yang berkait dengan nuklir Iran. Kami akan mengekspos mereka dan memaksa Iran untuk menempatkannya di bawah inspeksi internasional,” tegas Dillon.

Rq-170 kini menjadi bahan diskusi banyak pihak, pemerintah AS sangat khawatir teknologi stealth dan khususnya radar RQ-170 akan bocor kepihak lain, karena teknologinya jauh diatas radar terbaik baik dari China maupun Rusia. Sentinel, yang bisa terbang pada ketinggian 50.000 kaki, dianggap penting untuk operasi intelijen udara. Sementara satelit surveillance yang terus mengorbit hanya dapat mengamati sebuah lokasi hanya beberapa menit pada suatu waktu. Kehebatan RQ-170, bisa berkeliaran selama berjam-jam, mengirimkan gambar video. Dapat memberikan petunjuk penting untuk sifat pekerjaan yang dilakukan, peralatan yang digunakan dan ukuran lainnya.

John Pike, pakar teknologi militer di situs GlobalSecurity.org mengatakan, “Jika hanya untuk melihat target diam seperti batu bata dan mortir, satelit jauh lebih baik. Tetapi jika kita ingin melihat apa yang dilakukan orang sepanjang hari, pesawat tak berawak jauh lebih baik.” Selain dengan kamera video, pesawat hampir dipastikan membawa peralatan komunikasi untuk menyadap, serta dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi sejumlah kecil isotop radioaktif dan bahan kimia lainnya yang dapat memberikan petunjuk adanya kegiatan penelitian nuklir.

Demikian pentingnya pesawat dengan klasifikasi sangat rahasia tersebut. Kini kekuatan udara telah merubah cara serta strategi Amerika dalam berperang. Serangan pesawat tak berawak dibawah kendali CIA jauh lebih banyak dilakukan oleh pemerintahan Presiden Barack Obama dibandingkan era pemerintahan Presiden George W. Bush. Pentagon kini memiliki sekitar 7000 pesawat udara, dan pemerintah telah meminta Kongres anggaran sebesar hampir US$ 5 miliar untuk penambahan pesawat pada tahun 2012. Pesawat pengintai sekaligus penyerang tak berawak tersebut sangat efektif untuk operasi anti gerilya, terorisme dan surveillance lainnya.

Lebih dari 1.900 gerilyawan di daerah suku Pakistan telah tewas oleh pesawat Amerika sejak tahun 2006, demikian dikatakan situs longwarjournal.com. Ahli etika militer mengakui bahwa pesawat tanpa awak dapat mengubah perang menjadi sebuah permainan video. Kelebihannya, tidak ada seorangpun warga Amerika yang beresiko menjadi korban dari perang itu sendiri. Inilah kelebihan sebuah operasi udara tanpa awak.

Pesawat mata-mata tanpa awak pertama yang dibuat AS adalah Predator. Pertama kali digunakan di Bosnia dan Kosovo pada 1990-an, dikendalikan oleh Angkatan Udara, dengan kegagalan yang hampir mencapai 30 persen, teknologinya terus disempurnakan. Sejak serangan 11 September, Angkatan Udara terus meningkatkan operasi pengintaian intelijen udara. Pengawasan dan pengintaian tercatat naik hingga 3.100 persen, sebagian besar dalam operasi udara pesawat tanpa awak. Setiap hari, Angkatan Udara memproses hampir 1.500 jam full-motion video dan sekitar 1.500 gambar statis, sebagian besar hasilnya berasal dari pesawat Predator dan Reaper didaerah operasinya di Irak, Afghanistan dan Pakistan.

Pesawat-pesawat pengintai tanpa awak selain RQ-170 dan Predator, yang juga terkenal adalah Reaper, yang lebih besar dan Shadow yang lebih kecil. Semua diterbangkan dengan pilot yang menggunakan remote, menggunakan joystick dan layar komputer, dioperasikan kebanyakan dari pangkalan militer Amerika Serikat. Versi pesawat tanpa awak dari Angkatan Laut adalah X-47b, prototipe yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat dari kapal induk secara otomatis. Pesawat ini berkemampuan membawa dan menyerang dengan bom. Selain itu, operasi pengintaian intelijen udara juga dilakukan oleh Global Hawk yang lebih besar. Pesawat ini digunakan untuk mengawasi kegiatan nuklir Korea Utara.

Dikuasainya RQ-170 milik CIA tersebut oleh militer Iran jelas membuat pemerintah AS khawatir, karena Rusia dan China telah mengajukan dan meminta akses ke pemerintah Iran untuk ikut memeriksa dan jelas akan menyalin teknologinya. Nampaknya beberapa negara besar saling memodernisir kepemilikan pesawat tanpa awak dengan teknologi tinggi, terutama untuk kegiatan surveillance. Intelijen perlu mengetahui tentang lawan jauh dibelakang palagan tempur, tentang kekuatan, kemampuan, kerawanan dan niatnya. Pesawat tanpa awak dengan teknologi tinggi inilah alutsista yang tepat digunakan.

Pesawat tanpa awak tersebut telah membuktikan keunggulannya dalam beberapa operasi intelijen baik dalam operasi penyelidikan maupun penyerangan. Pesawat berhasil membunuh beberapa tokoh kelas atas Al-Qaeda, Taliban dan Haqqani di Afghanistan dan Pakistan serta tokoh Al-Qaeda diYaman. Juga diketahui RQ-170 berperan menyelidiki dan mendeteksi keberadaan Osama bin Laden di Abottabat dengan akurasi tinggi sebelum dilakukan ambush oleh Navy SEALs Six Team. Kejatuhan hingga terbunuhnya Kolonel Khadafi juga tidak lepas dari peran besar pesawat tanpa awak.

Kini kekhawatiran AS secara khusus ditujukan kepada Korea Utara dan Iran yang terus dimonitor kepemilikan senjata nuklirnya. Kedua negara tersebut dikenal nekat dan radikal, memusuhi AS serta tidak mengenal takut. AS sadar bahwa sebuah serangan nuklir akan sangat menghancurkan dan tidak mempunyai toleransi sedikitpun. Apabila Iran pada saatnya nanti diketahui memiliki kemampuan menyerang dengan peluru kendali nuklir dan aksinya membahayakan, bisa diperkirakan AS dan sekutunya akan melakukan operasi semacam di Libya. Serangan udara yang akan menjadi pilihan terbaiknya.

Tetapi, dengan terjadinya kasus force down terhadap RQ-170 di Iran, nampaknya CIA harus lebih waspada dan berhati-hati, karena ternyata militer Iran mempunyai kemampuan melakukan serangan cyber terhadap pesawat rahasianya RQ-170. Ataukah kembali AS telah berhasil diinfiltrasi oleh para spion? Mungkin saja.

Jaringan Teror Israel, Saudi Arabia, dan Amerika

Kejahatan Israel dan Saudi Arabia

Oleh Prof. James Petras (Pengamat Politik Amerika Latin dan Timur Tengah)

Arab Saudi punya segala track record yang buruk, dan sama sekali tidak memiliki sisi baik dari sebuah negara yang kaya minyak seperti Venezuela. Negara ini diatur oleh rezim diktator dari sebuah keluarga, yang tidak mentolerir adanya kelompok oposisi dan menghukum berat pendukung hak asasi manusia, serta para pembangkang politik. Ratusan miliar dari pendapatan minyaknya dikendalikan oleh despotisme kerajaan, dan investasi spekulatif bahan bakar di seluruh dunia.

Para elite yang berkuasa ini bergantung pada pembelian senjata dari Barat dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) untuk perlindungan keamanan mereka. Kekayaan Negara yang sekiranya produktif, hanya untuk memperkaya kebutuhan yang paling mencolok dari keluarga penguasa Saudi. Elit penguasa negeri petrodollar tersebut membiayai sebuah paham yang paling fanatik,buruk dan misoginis dari Islam. “Wahabi ”

Saat dihadapkan pada perbedaan pendapat internal dari sekelompok orang-orang yang tertindas dan kaum agama minoritas Islam, kediktatoran Arab Saudi merasakan ancaman dan bahaya dari semua sisi, baik itu dari luar negeri, kelompok sekuler, nasionalis dan Syi’ah Islam yang menguasai pemerintahan, secara internal, nasionalis Sunni moderat, demokrat dan feminis, dalam kubu royalis, tradisionalis dan modernis. Menanggapi perubahan yang mengarah kepada pembiayaan, pelatihan dan persenjataan jaringan teroris internasional Islam, yang diarahkan untuk menyerang, menginvasi dan menghancurkan rezim yang menentang ulama diktator Arab.

Dalang dari jaringan teror Saudi adalah Bandar bin Sultan, yang memiliki hubungan yang sudah lama dan akrab dengan para pejabat tinggi politik, militer dan intelijen AS. Bandar dilatih dan diindoktrinasi di Maxwell Air Force Base dan Johns Hopkins University, ia menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade (1983 – 2005). Sekitar tahun 2005 – 2011, ia adalah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Arab Saudi, dan pada tahun 2012 ia diangkat sebagai Direktur Jenderal Badan Intelijen Arab Saudi. Sampai saat ini, Bandar semakin banyak terlibat dalam proyek operasi teror rahasia.

Berkaitan dengan CIA, di antara berbagai operasi kotornya dengan CIA selama tahun 1980, Bandar menyalurkan US$ 32.000.000 ke Nikaragua Contra, yang terlibat dalam kampanye teror untuk menggulingkan pemerintahan revolusioner Sandinista di Nikaragua. Selama masa jabatannya sebagai duta besar, ia aktif terlibat dalam upaya perlindungan terhadap Kerajaan Arab Saudi yang diklaim terlibat dengan pemboman Triple Towers dan Pentagon pada 11 September 2001.

Kecurigaan bahwa Bandar dan sekutu-sekutunya di keluarga kerajaan memiliki pengetahuan sebelumnya tentang pemboman oleh teroris Saudi ( 11 dari 19 ), dikuatkan dengan adanya catatan penerbangan mendadak Kerajaan Arab Saudi menyusul aksi teroris pada 11/9. Dokumen intelijen AS mengenai hubungan Saudi – Bandar berada di bawah tinjauan Kongres.

Dengan banyaknya pengalaman dan pelatihan dalam menjalankan operasi teroris klandestin, berangkat dari dua dekade tugasnya untuk bekerjasama dengan badan-badan intelijen AS, Bandar berada dalam posisi yang pas untuk mengatur jaringan teror global tersendiri dalam upayanya menyembunyikan keburukan dan kelemahan monarki despotik Arab Saudi.

Jaringan Teror Bandar
Bandar bin Sultan telah mengubah Arab Saudi dari apa yang dahulu mereka sebut rezim mandiri yang berbasis kesukuan, menjadi benar-benar tergantung pada kekuatan militer AS untuk kelangsungan hidupnya, menjadi pusat regional utama dari jaringan teror yang luas, seorang penyandang dana aktif diktator militer sayap kanan (Mesir) dan klien rezim (Yaman) serta interventor militer di kawasan Teluk (Bahrain).

Bandar telah membiayai dan mempersenjatai banyak kelompok teroris dengan operasi rahasianya, ia memanfaatkan afiliasi Al Qaeda , sekte Wahabi Saudi yang dikendalikan berbagai kelompok bersenjata ekstrim lainnya. Bandar adalah promotor teroris yang pragmatis: Menindas lawan Al Qaeda di Arab Saudi dan membiayai teroris Al Qaeda di Irak, Suriah, Afghanistan dan di tempat lain, Sementara Bandar adalah aset masa depan badan intelijen AS, baru-baru ini ia mengambil ‘kursus independen’ di mana kepentingan daerah dari wilayah despotik, berbeda dari orang-orang Amerika Serikat.

Dengan maksud yang sama, sementara Arab Saudi memiliki permusuhan lama terhadap Israel, Bandar telah mengembangkan ”pemahaman rahasia” dan hubungan kerjasama dengan rezim Netanyahu terkait permusuhan bersama mereka atas Iran dan lebih khusus lagi bertentangan dengan perjanjian interim antara rezim Obama – Rouhani.

Bandar telah melakukan intervensi secara langsung atau melalui beberapa perwakilannya dalam membentuk kembali keberpihakan politik, menggoyahkan lawan dan memperkuat serta memperluas jangkauan politik kediktatoran Arab Saudi dari Afrika Utara ke Asia Selatan, dari kaukus Rusia ke Ujung Afrika, kadang-kadang dalam keberpihakannya dengan imperialisme Barat, beberapa kali ia menyuarakan aspirasi hegemonik Arab Saudi.

Bandar telah menggelontorkan miliaran dolar untuk memperkuat rezim pro-Islam sayap kanan di Tunisia dan Maroko, memastikan bahwa gerakan pro – demokrasi massa akan ditekan, terpinggirkan dan dihancurkan. Ekstremis Islam menerima bantuan keuangan dari Arab Saudi untuk mendukung kembalinya Muslim “moderat” di pemerintahan, dengan membunuh pemimpin demokrasi sekuler dan pemimpin serikat buruh sosialis dari kelompok oposisi. Kebijakan Bandar sebagian besar bertepatan dengan orang-orang dari Amerika Serikat dan Perancis di Tunisia dan Maroko, tetapi tidak di Libya dan Mesir.

Dukungan finansial Saudi untuk para teroris dan afiliasi Al Qaeda melawan Presiden Libya, Gadhafi, sejalan dengan perang udara NATO. Namun banyak penyimpangan muncul setelahnya: rezim yang didukung NATO yang terdiri dari eks- neo liberal yang berhadapan melawan Saudi, dan didukung Al Qaeda juga kelompok-kelompok teroris Islam, mereka juga datang dari berbagai macam kelompok bersenjata dan perampok .

Bandar mendanai Ekstremis Islam Libya yang menjadi bankir untuk memperluas operasi militer mereka ke Suriah, di mana rezim Saudi sedang mengadakan operasi militer besar-besaran untuk menggulingkan rezim Assad. Konflik internal yang terjadi antara NATO dan kelompok-kelompok bersenjata Saudi di Libya pecah, dan menyebabkan pembunuhan umat Muslim dari Duta Besar AS, dan perwakilan CIA di Benghazi.

Setelah Gadhafi dilengserkan, Bandar hampir meninggalkan minatnya dalam pekerjaan bermandikan darah berikutnya, dan kekacauan yang diprovokasi oleh aset bersenjata. Mereka pada akhirnya mencari dana sendiri dengan merampok bank, melakukan pencurian minyak dan mengosongkan kas lokal ”independen” yang secara relatif ada di bawah kontrol Bandar.

Di Mesir, Bandar berkembang, berkoordinasi dengan Israel (tapi untuk alasan yang berbeda), strategi perusakan independen secara relative lewat sebuah rezim yang terpilih secara demokratis. Ikhwanul Muslimin dengan Mohammad Morsinya. Bandar dan rezim diktator Arab Saudi secara finansial mendukung kudeta militer dan kediktatoran Jenderal Sisi.

Strategi AS berupa perjanjian akan adanya pembagian kekuasaan antara IM dan rezim militer, menggabungkan legitimasi pemilu populer dan militer pro – Israel – pro NATO yang disabotase. Dengan paket bantuan US$ 15 miliar dan janji-janji yang akan datang, Bandar menyediakan kebutuhan militer Mesir, yaitu sebuah jaminan finansial dan kekebalan ekonomi dari setiap transaksi keuangan internasional.

Tidak ada konsekuensi apapun yang diambil. Pihak militer menghancurkan IM dengan cara dipenjara dan militer juga mengancam untuk mengeksekusi para pemimpin yang terpilih. Ini dilarang oleh sayap oposisi liberal – kiri yang telah digunakan sebagai umpan meriam untuk membenarkan kudeta kekuasaannya. Dalam mendukung kudeta militer, Bandar menghilangkan saingan, rezim Islam yang terpilih secara demokratis berdiri kontras dengan despotisme Saudi.

Dia mengamankan rezim diktator yang berpikiran selayaknya pemimpin di banyak negara Arab, meskipun penguasa militer saat itu lebih sekuler, pro-Barat, pro – Israel dan anti – Assad dibandingkan rezim IM. Bandar berhasil menjalankan kudeta Mesir dengan mengamankan sekutu politik tetapi menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Kebangkitan gerakan massa anti – diktator baru-baru ini juga akan menargetkan hubungan dengan Arab Saudi. Apalagi Bandar bersikap acuh dan melemahkan kesatuan Negara Teluk seperti Qatar yang telah membiayai rezim Morsi dan mengeluarkan dana sebesar $ 5 miliar dollar, hal ini juga telah diperluas ke rezim sebelumnya.

Jaringan teror Bandar paling jelas terbukti pada pembiayaan, persenjataan, pelatihan dan pengalokasian besar-besaran jangka panjang puluhan ribu “relawan teroris” dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, kaukus, Afrika Utara dan di tempat lain di beberapa Negara. Teroris Al Qaeda di Arab Saudi menjadi “pejuang jihad” di Suriah. Puluhan kelompok bersenjata Islam di Suriah bersaing untuk mendapatkan suplai senjata dan pendaan dari Arab Saudi. Basis pelatihan dengan instruktur dari AS dan Eropa dan dibiayai oleh Saudi, didirikan di Yordania, Pakistan dan Turki. Bandar membiayai kelompok utama pemberontak teroris bersenjata, Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), untuk operasi lintas batas Negara.

Dengan adanya Hizbullah yang mendukung Assad, Bandar mengalirkan dana dan senjata kepada Brigade Abdullah Azzam di Lebanon Selatan untuk mengebom Beirut, kedutaan Iran dan Tripoli. Bandar mengucurkan US$ 3 milyar kepada militer Lebanon untuk ide mengobarkan perang saudara baru antara mereka dan Hizbullah.

Ia berkoordinasi dengan Perancis dan Amerika Serikat, namun dengan dana yang jauh lebih besar dan ruang gerak yang lebih besar untuk merekrut para teroris, Bandar diasumsikan sebagai peran utama dan menjadi direktur utama tiga front militer dan serangan diplomatik terhadap Suriah, Hizbullah dan Iran. Bagi Bandar, pengambilalihan kekuasan atas muslim Suriah akan mengarah pada invasi terhadap mereka dalam mendukung Al Qaeda di Lebanon, untuk mengalahkan Hizbullah dengan harapan mengisolasi Iran. Teheran kemudian akan menjadi target dari serangan Arab -Israel – AS. Strategi Bandar tak kurang hanya sekedar fantasi yang tak akan terwujud menjadi realita.

Bandar Menyimpang dari Washington: Serangan terhadap Irak dan Iran
Arab Saudi adalah partner yang menguntungkan bagi Washington, tetapi kadang-kadang mereka menjadi tidak terkontrol. Hal ini terjadi karena Bandar telah diangkat sebagai kepala Intelijen: aset lama CIA, dia juga beberapa kali mengambil keuntungan berupa kebebasannya untuk menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, terutama ketika keuntungan itu berupa kenaikan jabatan dalam struktur kekuasan monarki Arab Saudi.

Oleh karena itu, misalnya, kemampuan Bandar untuk mengamankan AWACs meskipun pihak oposisi AIPAC ini membuatnya mendapatkan bintang jasa. Seperti kelebihannya dalam mengamankan keberangkatan beberapa ratus anggota kerajaan Saudi yang terlibat dalam pemboman 11/9, meskipun tingkat pengamanan nasional setelah pengeboman itu dinilai sangat tinggi.

Ketika ada beberapa kesalahan masa lalu, Gerakan Bandar menjadi lebih menyimpang dari kebijakan US. Dia menjalankan operasi terror dengan cara membangun jaringan teror tersendiri yang diarahkan untuk memaksimalkan hegemoni Arab Saudi – meskipun kebijakan itu bertentangan dengan perwakilan-perwakilan US, para kolega mereka dan operasi-operasi rahasia.

Teroris “Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)”
Ketika AS bernegosiasi mengenai “perjanjian interim” dengan Iran, Bandar menyuarakan ketidaksetujuan dan “membeli” dukungan Saudi dengan menandatangani traktat pembelian senjata bernilai miyaran dollar selama kunjungan Presiden Perancis, Francois Hollande di sana, hal ini terjadi dalam rangka pertukaran sanksi yang lebih besar terhadap Iran. Bandar juga menyatakan dukungannya terhadap keterlibatan Israel untuk pengaturan kekuatan Zionis agar mempengaruhi Kongres, tujuannya adalah sabotase perundingan AS dengan Iran.

Bandar telah bergerak di luar protokol aslinya sebagai pemegang kendali intelijen AS. Hubungan dekatnya dengan AS dan presiden Uni Eropa di masa lalu dan sekarang serta tokoh masyarakat politik telah mendorong dia untuk terlibat dalam “Petualangan Kekuatan Besar”. Dia bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk meyakinkan Putin agar memberikan dukungannya terhadap Suriah, menawarkan wortel atau tongkat: penjualan senjata multi-miliar dolar secara sukarela atau ancaman untuk melepaskan teroris Chechnya agar mengacaukan Olimpiade Sochi.

Dia telah merubah Erdogan yang semula adalah sekutu NATO, menjadi pendukung lawan bersenjata ‘moderat’ Bashar Assad, dalam merangkul Saudi yang didukung oleh ISIS ‘Negara Islam Irak dan Suriah’, afiliasi Al Qaeda. Bandar telah “mengabaikan” upaya cari untung Erdogan untuk menandatangani kesepakatan minyak dengan Iran dan Irak, pengaturan militernya dilanjutkan dengan NATO dan dukungan masa lalunya dari rezim tidak aktif Morsi di Mesir, dalam rangka mengamankan dukungan Erdogan untuk mendukung kemudahan transit besar-besaran teroris binaan Saudi ke Suriah dan kemungkinan juga ke Lebanon.

Bandar telah memperkuat hubungan dengan kelompok bersenjata Taliban di Afghanistan dan Pakistan, dia mempersenjatai dan membiayai perlawanan bersenjata mereka terhadap AS, serta menawarkan sebuah lokasi untuk proses awal negosisasi kepada AS.

Dimungkinkan juga, Bandar mendukung dan mempersenjatai teroris Uighur Muslim di Cina barat, dan Chechnya, juga teroris Islam Kaukasia di Rusia, bahkan saat Saudi melakukan ekspansi perjanjian minyak dengan China dan bekerjasama dengan Gazprom, Rusia.

Satu-satunya wilayah di mana Saudi gagal melakukan intervensi militer langsung adalah Negara teluk kecil, Bahrain. Pasukan Saudi hancur oleh gerakan pro-demokrasi menantang rezim despotik lokal.

Bandar: Teror Global pada Yayasan Domestik yang Mencurigakan
Bandar telah memulai transformasi yang luar biasa dari kebijakan luar negeri Saudi dan meningkatkan pengaruh global. Semua untuk yang terburuk. Seperti Israel, ketika penguasa reaksioner sampai pada keinginan untuk menguasai dan menjungkirbalikkan tatanan demokrasi, Saudi datang dengan kantong dollarnya untuk menopang rezim despotic tersebut.

Setiap kali jaringan teroris muncul untuk menumbangkan rezim nasionalis, sekuler atau Syi’ah Islam, mereka dapat mengandalkan dana dan dukungan Saudi. Persis seperti yang digambarkan oleh para ahli Taurat sebagai “upaya lemah dalam liberalisasi dan modernisasi” rezim Saudi yang memburuk, mereka benar-benar meningkatkan kemampuan militer para teroris di luar negeri. Bandar menggunakan teknik-teknik teror modern untuk memaksakan model pemerintahan reaksioner Saudi pada negara tetangga dan rezim-rezim di Negara yang memiliki populasi mayoritas umat Muslim.

Masalahnya adalah bahwa, petualangan operasi konflik luar negeri skala besar Bandar, bertentangan dengan beberapa gaya kepemimpinan keluarga kerajaan Arab Saudi yang cenderung berhati-hati. Mereka ingin dibiarkan sendiri dalam menimbun kumpulan uang sewa minyak bumi yang bernilai ratusan miliar itu, hal ini sengaja dilakukan agar mereka dapat berinvestasi pada bisnis properti mewah di seluruh dunia, dan diam-diam menyewa gadis-gadis panggilan di Washington, London, dan Beirut, di saat yang sama mereka bertindak sebagai wali saleh dari Madinah, Mekkah dan berbagai macam situs suci Islam.

Sejauh ini Bandar belum merasa tertantang, karena ia masih berhati-hati dengan cara memberikan penghormatan kepada raja yang berkuasa dan lingkaran dalamnya. Dia telah membeli dan membawa seluruh perdana menteri, para presiden dan pejabat penting lain dari negara-negara Barat dan Timur, Bandar membawa mereka ke Riyadh untuk menandatangani kesepakatan dan pembayaran upeti dalam usahanya untuk menyenangkan rezim despotik Al Saud. Namun sikap khawatirnya terhadap operasi Al Qaeda di luar negeri, mendorong ekstrimis Saudi untuk pergi ke luar negeri dan terlibat dalam perang antar teroris, hal ini jelas menimbulkan keresahan di kalangan monarki.

Mereka khawatir teroris yang mereka latih dan bina ini kembali dari Suriah, Rusia dan Irak kemudian meledakkan istana kerajaan. Selain itu, rezim luar negeri yang ditargetkan oleh jaringan teror Bandar kemungkinan bisa membalas: Rusia atau Iran, Suriah, Mesir, Pakistan, Irak yang mungkin hanya menyediakan instrumen “balas dendam” mereka sendiri. Meskipun ratusan miliar dihabiskan untuk pembelian senjata, rezim Arab Saudi sangat rentan di semua tingkatan.

Terlepas dari paham kesukuan, elit miliarder hanya didukung oleh segelintir rakyat dan bahkan legitimasi mereka kurang. Hal ini tergantung pada buruh migran luar negeri, pakar asing dan pasukan militer AS. Para elit Saudi juga dibenci oleh Ulama Wahabi yang paling relijius karena mengizinkan “takfiri” berjihad di medan suci. Sementara Bandar memperluas kekuasaan Saudi di luar negeri, fondasi aturan domestik jadi menyempit. Ia menentang kebijakan AS di Suriah, Iran dan Afghanistan, rezim Al Saud tergantung pada Angkatan Udara AS dan Armada Ketujuh untuk melindungi mereka dari berkembangnya kelompok-kelompok yang memusuhi pemerintah.

Bandar, dengan ego-nya, mungkin percaya bahwa ia adalah seorang “Saladin” yang membangun kerajaan Islam baru, tetapi dalam kenyataannya, dengan hanya menjentikkan jari, raja pelindungnya dapat menyebabkan pemecatannya dipercepat. Terlalu banyak pemboman sipil provokatif oleh teroris yang dia manfaaatkan dapat menyebabkan krisis internasional, yang mengarah ke Arab Saudi dan hal ini menjadikan mereka sasaran penghinaan secara global. Pada kenyataannya, Bandar bin Sultan adalah anak didik dan penerus Bin Laden, ia telah memperdalam dan menstrukturisasi terorisme global. Jaringan teror Bandar telah membunuh banyak korban tak berdosa dibandingkan Bin Laden. Hal itu tentu saja yang paling diharapkan, setelah semua kepemilikannya atas miliaran dolar kas Saudi, pelatihan dari CIA dan jabat tangan Netanyahu!

Ihwal Imperium Safawi

Allahverdi Khan Bridge, from Pascal Coste, Les Monuments modernes de la Perse, 1867

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2014)

“Dalam catatan sejarah, Kesultanan Safawi dikenal sebagai kesultanan yang telah mengukir prestasi di bidang filsafat, kajian keagamaan, ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur. Bahkan, menurut sejumlah sejarawan, kegemilangan Safawi dalam prestasi-prestasi tersebut telah mengungguli Turki Usmani. Lihatlah bangunan-bangunan indah di Isfahan dan wilayah-wilayah lain di Iran yang merupakan peninggalan-peninggalannya”

Kesultanan Safawi bermula dari gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, sebuah kawasan yang terbilang indah dan menawan. Tarekat ini diberi nama Safawiyah karena pendirinya bernama Syekh Safuyudin Ishaq (1252-1334), seorang guru agama yang lahir dari sebuah keluarga Kurdi di Iran Utara. Beliau merupakan anak murid Syekh Zahed Gilani (1216–1301) dari Lahijan. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan untuk memerangi orang-orang inkar dan golongan Ahlul Bid’ah. Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi al Din menempatkan seorang wakil yang diberi gelar Khalifah untuk memimpin murid-murid di daerahnya masing-masing. Bermula dari sinilah, gerakan Safawi mewakili sebuah kebangkitan Islam Populer yang menentang dominasi militer Mongol yang meresahkan dan bersifat eksploitatif. Tidak seperti gerakan lainnya, gerakan Safawiyah memprakarsai penaklukan Iran dan mendirikan sebuah Kesultanan baru yang berkuasa dari 1501 sampai 1722. Sang pendiri mengawali gerakannya dengan seruan untuk memurnikan dan memulihkan kembali ajaran Islam.

Berdirinya Kesultanan Safawi ini bersamaan dengan masa ketika kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaan, di saat Kesultanan Safawi yang didirikan di Persia tersebut baru berdiri. Hanya saja, tanpa diduga, kesultanan ini dapat berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini pun terus dipertahankan sampai Tarekat Safawiyah menjadi gerakan politik dan menjadi sebuah kesultanan yang disebut Kesultanan Safawi. Dan dalam perkembangannya, Kesultanan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kesultanan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya, seperti kerajan Turki Usmani dan Mughal. Kesultanan ini menyatakan sebagai Penganut Syi’ah Islam dan dijadikan sebagai mazhab Negara, dan karena itulah, dalam sejaran bangsa Iran, Kesultanan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya Negara Iran dewasa ini, di mana ketika Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini sukses menyudahi rezim Syah Pahlevi yang disokong Amerika dan Israel itu, Iran kembali memantapkan Syi’ah Islam sebagai mazhab resmi Negara.

Jalan Sejarah Safawi

Bangsa Safawi (Tarekat Safawiyah) memiliki komitmen yang sangat kuat dalam menjalankan Syi’ah Islam, dan seiring perkembangannya, banyak murid-murid Tarekat Safawiyah yang menjadi tentara dan prajurit. Semenjak itulah, mereka memasuki dunia perpolitikan pada masa kepemimpinan Syah al Junaid. Selanjutnya Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menumbuhkan kegiatan politik di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Pada tahun 1459 M, Junaid mencoba merebut Ardabil tapi gagal, dan pada tahun 1460 M ia mencoba merebut Sircasia, sayangnya pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan dan ia terbunuh dalam pertempuran tersebut. Penggantinya diserahkan kepada anaknya, Haidar, pada tahun 1470 M. Haidar menikah dengan seorang cucu Uzun Haisan dan lahirlah Ismail yang kemudian hari secara tegas menetapkan bahwa Syi’ah lah yang resmi dijadikan mazhab Negara ini. Inilah Kesultanan yang dapat dikatakan merupakan peletak batu pertama negara Iran.

Selanjutnya, gerakan Militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Koyunlu setelah ia menang dari Kara Koyunlu (1476 M). Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan ia terbunuh. Ali, putera dan pengganti Haidar, didesak bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Akan tetapi Ya’kub pemimpin AK Koyunlu menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim, Ismail dan ibunya di Fars (1489-1493 M). Periode selanjutnya, kepemimpinan Gerakan Safawi diserahkan pada Ismail. Selama 5 tahun, Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan untuk menyiapkan pasukan dan kekuatan. Pasukan yang dipersiapkan itu diberi nama Qizilbash (Baret Merah). Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash alias pasukan “Baret Merah” dibawah pimpinan Ismail menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu (Domba Putih) di Sharur dekat Nakh Chivan. Qizilbash terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, yakni ibu kota AK Koyunlu dan akhirnya berhasil dan mendudukinya. Di kota Tabriz inilah Ismail memproklamasikan dirinya sebagai Sultan pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga Ismail I, dan berkuasa kurang lebih 23 tahun antara 1501-1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, buktinya ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Mazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghdad dan daerah Barat Daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun itulah wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian Timur Bulan Sabit Subur.

Sebagaimana para pendahulunya, Ismail memberlakukan Syi’ah Islam sebagai mazhab resmi negara. Ismail, yang dikenal sebagai Ismail I, ini adalah orang yang sangat berani dan berbakat. Ambisi politiknya mendorong untuk menguasai negara lain sampai Turki Usmani. Namun dalam peperangan ia dikalahkan pasukan militer Turki yang lebih unggul dalam kemiliteran. Karena keunggulan militer Kerajaan Usmani, dalam peperangan ini Isma’il mengalami kekalahan, malah Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi terselamatkan oleh pulangnya Sultan Salim ke Turki karena terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya. Kekalahan akibat perang dengan Turki Usmani ini membuat Ismail sedikit kehilangan harapan. Rasa pemusuhan dengan Kerajaan Usmani pun terus berlangsung sepeninggal Ismail I, hingga peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada masa pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577-1567M). Pada masa tiga raja tersebut Kerajaan Safawi mengalami kelemahan. Hal ini dikarenakan sering terjadinya peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih kuat.

Masa Kejayaan Safawi

Keadaan Kesultanan Safawi yang memprihatinkan tersebut baru bisa diatasi setelah Sultan Safawi Kelima, Abbas I, yang naik tahta pada tahun 1588 dan berkuasa hingga 1628. Popularitas Abbas I ditopang oleh sikap keagamaannya. Ia terkenal sebagai seorang Syi’ah Islam yang shalih. Sebagai bukti atas kesalehannya adalah bahwa dia sering berziarah ke tempat suci Qum dan Masyhad. Disamping itu ia pun melakukan perubahan struktur birokrasi dalam lembaga politik keagamaaan. Lembaga sadarat secara berangsur-angsur digantikan oleh lembaga Ulama yang dipimpin oleh seorang Syeikhul Islam. Abbas I telah berhasil menciptakan kemajuan pesat dalam bidang keagamaan, yang membuat Syi’ah Islam menjadi harum dan semakin kokoh di Iran dan sekitarnya. Di antara langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan Kesultanan Safawi tersebut, misalnya, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru yang berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia.

Selain itu, ia juga mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara menyerahkan wilayah Azerbaijan dan Georgia, yang pada saat bersamaan ia adalah orang yang tidak mencela Abu Bakar, Umar, dan Usman, yang meski dalam sejarah telah merebut hak Ali Bin Abi Thalib sebagai Khalifah dan Imam ummat Islam yang ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad Saw berdasarkan otoritas wahyu saat peristiwa Haji Wada’. Kesuksesan Abbas I juga pada keberhasilannya dalam program administrasi dan ekonomi, seperti pembentukan ibukota baru yang besar, Isfahan. Isfahan merupakan kota yang sangat penting bagi tujuan politik dan ekonomi bagi negara Iran yang memusat dan bagi legitimasi Dinasti Safawiyah ini. Dinasti Safawiyah membangun kota baru tersebut dengan mengitari Maydani-Syah, yakni sebuah alun-alun yang besar yang luasnya sekitar 160×500 meter. Alun-alun tersebut berfungsi sebagai pasar tempat perayaan dan sebagai lapangan permainan polo. Ia dikelilingi oleh sederetan toko bertingkat dua, dan sejumlah gedung utama pada setiap sisinya. Pada sisi bagian timur terdapat Masjid Syaikh Lutfallah, yang mulai dibangun pada 1603 dan selesai pada 1618, merupakan sebuah oratorium yang disediakan sebagai tempat peristirahatan pribadi Syah.

Sejumlah bazar di Isfahan sangat penting kedudukannya bagi perekonomian negara, sebab ia merupakan pusat produksi dan kegiatan pemasaran, dan mereka berada di dalam pengawasan petugas perpajakan negara. Ibukota tersebut juga sama pentingnya bagi vitalitas Islam Syi’ah Iran. Pada tahun 1666, menurut keterangan seorang pengujung bangsa Eropa, Isfahan memiliki 162 masjid, 48 perguruan, dan 273 tempat pemandian umum, yang hampir seluruhnya dibangun oleh Abbas I dan penggantinya Abbas II (1642-1666). Di bawah pemerintahan Abbas I Kesultanan Safawi mencapai kekuasan politiknya yang tertinggi. Pemerintahannya merupakan sebuah pemerintahan keluarga yang sangat dihormati dengan seorang penguasa yang didukung oleh sejumlah pembantu, tentara administrator pribadi. Sang penguasa secara penuh mengendalikan birokrasi dan pengumpulan pajak, memonopoli kegiatan industri dan penjualan bahan-bahan pakaian dan produk lainnya yang penting, membangun sejumlah kota besar, dan memugar sejumlah tempat keramat dan jalan-jalan sebagai ekspressi dari kepeduliannya terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Selain itu, keberhasilan Abbas I adalah menyatukan wilayah-wilayah Persia di bawah satu atap, yang merupakan kesuksesannya di bidang politik yang juga cukup prestisius. Betapa tidak, karena sebelumnya wilayah Persia terpecah dalam berbagai dinasti kecil yang bertaburan di mana-mana, sehingga para sejarawan berpendapat bahwa keberhasilan Safawiyah itu merupakan kebangkitan nasionalisme Persia. Tentu saja, kemajuan yang dicapai Kesultanan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, melainkan bidang lainnya, semisal di bidang ekonomi. Kemajuan ekonomi ini dicapai terutama setelah kepulauan Hurmua dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya Bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Prancis sepenuhnya jadi milik Kesultanan. Sektor pertanian juga mengalami kemajuan terutama di daerah Bulan Sabit Subur. Letak Geografis Persia sendiri yang setrategis dan sebagian wilayahnya yang subur, hingga dikenal sebagai daerah bulan sabit subur, membuat mata dunia internasional pada saat itu memusatkan perhatiannya ke Persia. Portugal, Inggris, Belanda, dan Prancis berlomba-lomba menarik simpati Istana Safawiyah. Bahkan Inggris telah mengirim duta khusus dan ahli pembuat senjata modern guna membantu memperkuat militer Safawiyah.

Bidang lainnya yang juga mengalami kemajuan di masa Abbas I ini adalah bidang Ilmu Pengetahuan, termasuk tasawuf. Kemajuan di bidang tasawuf ditandai dengan berkembangnya Filsafat Ketuhanan (al Hikmah al Ilahiyah) yang kemudian terkenal dengan sebutan filsafat pencerahan atau al Isyraqiyah. Sepanjang sejarah Persia yang dikenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan, filsafat terus mengalami kemajuan, dan banyak ulama dan ilmuan yang selalu hadir di majlis istana Safawiyah, yang antara lain adalah Baha al Din al Syirazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al Din al Syirazi, filosof, dan Muhammad al Baqir Ibn Muhammad Damad, yang dikenal sebagai filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi tentang kehidupan lebah. Selain itu ada juga Bahauddin al ‘Amali, yang tak hanya seorang teolog dan sufi, tapi ia juga ahli matematika, arsitek, dan ahli kimia yang terkenal. Ia menghidupkan kembali studi matematika dan menulis naskah tentang matematika dan astronomi untuk menyimpulkan ahli-ahli terdahulu. Ia ahli agama yang juga ahli matematika ternama. Dalam bidang ilmu pengetahuan inilah, Kesultanan Safawi dapat dikatakan lebih maju dibanding Mughal dan Turki Usmani.

Selain bidang keagamaan dan ilmu pengetahuan, pencapaian lainnya adalah dalam bidang Pembangunan Fisik dan Seni. Kemajuan bidang seni arsitektur, misalnya, ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibukota kerajaan. Sejumlah Masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik. Beberapa perayaaan di bulan Muharram pun menjadi prioritas, seperti pembacaan tragedi Imam Husain di Karbala yang sangat memilukan hati. Terlepas dari sisi kurang baiknya, sebagaimana perjalanan sejarah pada umumnya, Kesultanan Safawi telah menjadi sebuah “alternatif versi” untuk apa yang dinamakan Islam yang kompherensif dan menjadi inspirasi dan rahim pengetahuan dan peradaban.