Arsip Kategori: Lembar Tokoh Dunia

Diari Bung Karno (Bagian Terakhir)

Soekarno with Yury Gagarin, Nikita Khruchev and Leonid Brezhnev at Kremlin (Moscow, June 1961)

Dalam permainan adu gasing ada sebuah gasing kepunyaan kawan yang berputar lebih cepat daripada kepunyaanku. Kupecahkan situasi itu dengan berpikir cepat ala Sukarno, kulemparkan gasing itu ke dalam kali. Bagaimanapun juga, ada permainan dimana seorang anak bangsa Indonesia dari jamanku tidak dapat menunjukkan keahliannya. Misalnya, Perkumpulan Sepakbola. Aku bukan hanya tidak bisa menjadi ketuanya, bahkan aku tidak dapat lama menjadi anggotanya. Anggota yang lain adalah anak‐anak Belanda yang terus terang tidak senang padaku. Anak Belanda tidak pernah bermain dengan anak Bumiputera. Ini tidak bisa.

Mereka orang Barat yang putih seperti salju, yang asli, yang baik dan mereka memandang rendah kepadaku karena aku anak Bumiputera atau “inlander”. Bagiku Perkumpulan Sepakbola itu merupakan pengalaman pahit yang membikin hati luka di dalam. Anak‐anak yang berambut jagung menjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak, “Hei… kauuuu Bruine Hei, anak kulit coklat goblok yang malang … Bumiputera ….. inlander ….. anak kampung Hei, kamu lupa memakai sepatu….”

Sedangkan bayi‐bayi pirang sudah tahu meludah kepada kami. Begitu mereka keluar dari kain bedung orok, inilah pengajaran pertama yang diajarkan orang-tuanya kepada mereka.

Di pagi hari aku bergembira, karena aku bersekolah di sekolah Bumiputera, dimana kami semua sama. Kami semua tigapuluh orang murid di Inlandsche School kelas dua. Bapakku menjadi Mantri Guru yang berarti kepala sekolah. Orang Bumiputera dilarang memakai pangkat Kepala Sekolah. Di waktu itu belum ada bahasa Indonesia persatuan. Sampai kelas tiga setiap murid berbicara dalam bahasa Jawa sebagai bahasa daerah.

Dari kelas tiga sampai kelas lima guru memakai bahasa Melayu, bahasa Melayu asli yang telah tersebar ke seluruh bagian dari Hindia Belanda dan akhirnya menjadi dasar bagi bahasa nasional kami, bahasa Indonesia.

Dua kali seminggu kami diajar bahasa Belanda. Ketika aku naik ke kelas lima, bapak menerangkan maksudnya. “Cita‐citaku hendak mengirim kau ke sekolah tinggi Belanda, ” katanya. “Karena itu, usaha kita yang pertama ialah memasukkan engkau ke sekolah rendah Belanda. “Karena teringat kembali akan pengalamanku di Perkumpulan Sepakbola aku bertanya, “Apakah saya tidak dapat meneruskan sekolah Bumiputera?” ”Pendidikan Bumiputera hanya sampai kelas lima. Tidak ada lanjutannya buat kita. Kita tidak boleh masuk Sekolah Menengah Belanda kalau tidak keluaran Sekolah Rendah Belanda dan tanpa ijazah ini orang tidak bisa masuk Sekolah Tinggi Belanda.” ”Apakah saya bisa masuk kesana berdasarkan kepandaian?” aku bertanya dengan perasaan kuatir. “Kau masuk dengan hak istimewa. Pegawai Gubernemen dan orang kelahiran bangsawan diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan Belanda. Yang lain tidak. “Mengingat keadaan kami aku bertanya, “Apakah Cuma-cuma?””Mana bisa. Kita mesti membayar uang sekolah.” ”Belanda juga?”,”Tidak, mereka bebas. Akan tetapi dalam penjajahan tak seorangpun dapat mencapai suatu kedudukan tanpa pendidikan Belanda. Kita harus maju. Aku akan menemui Kepala Sekolah Rendah Belanda untuk mengajukan permohonan.”

Gedung itu bagus terbuat dari kayu, bukan bambu seperti sekolah kami dan dinding luarnya berwarna biru muda. Di situ terdapat tujuh kelas. Berlainan dengan meja kami di Sekolah Bumiputera, maka bangku-bangku di sini mempunyai tempat tinta dan laci untuk buku.

Setelah aku menempuh ujian, Kepala Sekolah memberitahukan kepada bapak, “Anak tuan sangat pintar, akan tetapi bahasa Belandanya belum cukup baik untuk kelas enam Europeesche Lagere School. Kami terpaksa mendudukkannya satu kelas lebih rendah. “Ketika kami pergi kami merasa sangat tertekan. Bapak mengeluh. “Ini suatu pukulan yang hebat bagi kita. Tapi walaupun bagaimana, tidak ada jalan lain lagi.” “Umur saya sudah empatbelas,” aku memprotes. “Terlalu tua untuk kelas lima. Tentu orang mengira saya tinggal kelas karena bodoh. Saya tentu diberi malu.” “Baiklah,” bapak memutuskan di saat itu juga, “Kalau perlu kita membohong. Akan kita kurangi umurmu satu tahun. Kalau sudah mulai tahun pelajaran baru engkau didaftarkan dengan umur tiga belas. “Masih ada satu persoalan mengenai bahasa Belandaku. Sekalipun kami orang yang tidak mampu, bapak mengambil seorang guru yang mengajar bahasa Belanda di Europeesche Lagere School ini untuk memberikan pelajaran khusus kepadaku sejam setiap hari.

Aku ingat betul namanya. Juffrouw M.P. De La Riviere. M.P. kependekan dari Maria Paulina. Katakanlah, bahwa ia orang yang paling tidak menarik di dunia ini dibandingkan dengan perempuan lain dan karena itu ia tetap melekat dalam pikiranku. Cara yang paling baik untuk menerangkan arti daripada pendidikan Barat —dan bagaimana bapak telah bersusah payah mengorbankan uang, prinsip dan segala sesuatu untuk itu— ialah dengan menghubungkannya dengan kisah percintaanku yang pertamakali.

Aku berumur empatbelas tahun dan tidak ragu lagi hatiku yang muda ini telah tertambat pada Rika Meelhuysen, seorang gadis Belanda. Rika adalah gadis pertama yang kucium. Dan harus kuakui, bahwa aku sangat gugup waktu itu. Sejak itu aku lebih ahli dalam hal itu. Tapi, aduh, aku mencintai gadis itu mati‐matian dan kuikuti turun naiknya gelombang irama dari seluruh kehidupan anak sekolah. Aku membawakan buku‐bukunya, aku dengan sengaja berjalan melalui rumahnya, karena mengharapkan sekilas pandang dari dia. Dan nampaknya aku selalu secara kebetulan berada dimana dia ada.

Cintaku ini kusimpan dalam kalbuku sendiri. Aku takut mengucapkan sepatah kata, karena takut ketahuan oleh orangtuaku. Aku yakin, bahwa bapak akan sangat marah kepadaku kalau sekiranya ia mendengarku bergaul dengan anak gadis kulit putih. Sungguhpun aku sangat ingin menyampaikan sesuatu tentang hal itu kepadanya, ketakutan terhadap kemarahannya menyebabkan kata‐kataku membeku di kerongkongan. Karena itu, keinginan yang menyala‐nyala ini hanya kupercayakan kepada diriku yang sedang dimabuk kepayang.

Pada suatu sore aku berjalan‐jalan naik sepeda dengan Rika Meelbuysen dan ketika membelok di ujung jalan gang kami tepat menubruk bapak. Aku mulai menggigil karena takut. Dia bersikap hormat, tapi aku sangat kuatir akan apa yang akan menyusul nanti kalau aku sudah sampai di rumah. Inilah aku, putera bapak satu‐satunya, yang bercinta‐cintaan dengan orang Belanda yang dibenci.

Sejam kemudian aku menyusup masuk rumah dalam keadaan masih tergoncang. Bapak segera mendekatiku dan berkata, “Nak, jangan kau takut tentang perasaanku terhadap teman perempuanmu itu. Itu baik sekali. Pendeknya, hanya dengan jalan itu engkau dapat memperbaiki bahasa Belandamu!”

Ketika datang waktunya untuk masuk sekolah menengah, bapak sudah tahu apa yang harus dikerjakannya. Ia menggunakan pengaruh kawan‐kawannya untuk memasukkanku ke sekolah menengah yang tertinggi di Jawa Timur, yaitu Hogere Burger School di Surabaya. “Nak,” katanya, ” Maksud ini sudah ada dalam pikiranku semenjak kau dilahirkan ke dunia.” Semua telah diaturnya dan aku akan tinggal dirumah H.O.S. Tjokroaminoto, ialah orang yang kemudian merubah seluruh kehidupanku.

”Tjokro,” ia menerangkan padaku, “Adalah kawanku di Surabaya sejak sebelum kau ada. ”0,” kataku gembira, “Saya kira dia keluarga kita.” “Tidak,” jawab bapak., “Oo, barangkali mungkin keluarga yang sangat jauh, tapi tidak serapat seorang kemenakan atau paman.” Kemudian bapak memandang kepadaku sesaat. “Kau tahu siapa Tjokro?”, “Saya hanya tahu, dia berkeliling untuk mempropagandakan keyakinan politiknya. Saya ingat dia datang ke kampung kita untuk mengadakan pidato dan menginap, bapak dengan dia mengobrol sampai waktu subuh.” “Tjokro adalah pemimpin politik dari orang Jawa.

Sungguhpun engkau akan mendapat pendidikan Belanda, aku tidak ingin darah dagingku menjadi kebarat‐baratan. Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang yang dijuluki oieh Belanda sebagai ‘Radja Jawa yang tidak dinobatkan. Aku ingin supaya kau tidak melupakan, bahwa warisanmu adalah untuk menjadi Karna kedua.”

Aku tidak membawa apa‐apa ketika berangkat ke Surabaya. Tak ada barang untuk dibawa. Satu‐satunya yang mengikuti kepergianku adalah sebuah tas kecil dengan pakaian sedikit. Bapak menunjuk salah seorang guru untuk mengiringi perjalananku di kereta api yang lamanya enam jam itu. Tidak dirayakan, tidak dipestakan kepergianku itu. Yang kuingat hanya bahwa aku menangis getir. Aku meninggalkan rumah. Aku meninggalkan ibu. Aku baru seorang anak 15 tahun yang masih takut‐takut.

Di pagi itu, di hari keberangkatanku ibu melepasku dengan peringatan bahwa aku tidak lagi akan kembali untuk tinggal bersama‐sama dengan mereka. Di depan rumah kami dia memerintahkan, “Berbaringlah di tanah, nak! Berbaring saja biarpun kotor.”

Kemudian ibu melangkahi badanku pulang balik sampai tiga kali. lni sesuai dengan kepercayaan menurut ilmu kebatinan. Dengan melangkahi anaknya dengan tubuhnya sendiri darimana si anak dilahirkan dan yang mengandung kekuatan‐kekuatan sakti dari kehidupan, berarti bahwa si anak mendapat restu dari ibunya untuk selama‐lamanya. Seakan‐akan ia berkata setiap kali, “Anak ini berasal dari kandunganku dan kuberkati dia. “Kemudian dia menyuruhku bangkit. Sekali lagi ia memutar badanku arah ke Timur dan berkata dengan sungguh‐sungguh, “Jangan sekali‐kali kaulupakan, anakku, bahwa engkau adalah putera sang fajar.”

Diari Bung Karno (Bagian Kedua)

bung-karno-bersama-rakyat-kecil

Aku segera menyadari bahwa kasih sayang menghapus segala yang buruk. Keinginan akan cinta kasih telah menjadi suatu kekuatan pendorong dalam hidupku. Disamping ibu ada Sarinah, gadis pembantu kami yang membesarkanku. Bagi kami pembantu rumah tangga bukanlah pelayan menurut pengertian orang Barat. Di kepulauan kami, kami hidup berdasarkan azas gotong royong. Kerjasama. Tolong menolong, gotong royong sudah mendarah daging dalam jiwa kami bangsa lndonesia. Dalam masyarakat yang asli kami tidak mengenal kerja dengan upah. Manakala harus dilakukan pekerjaan yang berat, setiap orang turut membantu engkau perlu mendirikan rumah? Baik, akan kubawakan batu tembok; kawanku membawa semen. Kami berdua membantumu mendirikannya. ltulah gotong royong. Setiap orang turun tangan. Ada tamu di rumahmu akhir‐akhir ini? Baik, jangan kuatir, akan kuantarkan kue ke rumahmu secara diam‐diam melalui jalan belakang. Atau beras. Atau nasi goreng. ltulah gotong royong. Bantu‐membantu.

Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeser pun. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta‐kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu.

Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato, “Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.”

Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku. Di masa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami‐isteri. Kami berdua tidur di tempat tidur yang kecil. Ketika aku sudah mulai besar, Sarinah sudah tidak ada lagi. Aku mengisi kekosongan ini dengan tidur bersama‐sama kakakku Sukarmini di tempat tidur itu juga. Kemudian aku tidur dengan Kiar, suatu campuran dari fox terrier dengan anjing jenis Indenesia. Aku tidak tahu pasti, akan tetapi dia bukan jenis yang murni. Orang lslam agaknya tidak menyukai anjing, akan tetapi aku mengaguminya.

Dengan caranya sendiri bapakku mencurahkan kasih sayangnya kepadaku. Ketika aku berumur sebelas tahun aku diserang penyakit tipus. Dua setengah bulan lamanya aku berada diambang pintu kematian. Aku hanya bersandar pada kekuatan bapak yang mendorongku untuk hidup.

Selama dua setengah bulan penuh bapak tidur di bawah tempat tidur bambuku. Ia berbaring di atas lantai semen yang lembab, di alas dengan tikar pandan yang tipis dan lusuh, tepat di bawah bilah‐bilah tempat tidurku.

Sepanjang hari dan sepanjang malam selama dua setengah bulan bapak berbaring di bawahku. Bukan karena ia tidak dapat memperoleh tempat barang setumpak untuk menyelip dalam kamarku yang sempit itu. Tidak. Ini dilakukannya karena kepercayaan mistik bapak. Ia hendak mendoa terus, memohon siang malam agar aku diselamatkan dan memohon agar aku mendapat kekuatan‐kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Akan tetapi supaya kekuatan mistiknya dapat memberikan manfaat secara penuh, yang dicurahkannya langsung dari badannya ke seluruh tubuhku, maka ia harus berbaring di bawahku. Tempat ayah berbaring itu hanya beberapa kaki, gelap, lembab dengan udaranya yang tidak enak dan menyesakkan, siang dan malam sama saja dan di sanalah ia selama itu menelentang hingga aku sehat sama sekali.

Sewa rumah kami sangat murah, karena letaknya kerendahan, dekat sebuah kali. Kalau musim hujan kali itu meluap, membanjiri rumah dan menggenangi pekarangan kami. Dan dari bulan Desember sampai April kami selalu basah. Air menggenang yang mengandung sampah dan lumpur inilah yang menjangkitkan penyakit tipesku. Setelah aku sehat kembali kami pindah ke jalan Residen Pamudji. Rumah ini tidak lebih baik keadaannya, akan tetapi setidak‐tidaknya ia kering. Kamar‐kamarnya melalui ruangan gelap yang panjang. Yang paling kecil adalah kamarku, yang mempunyai jendela atap sebagai ganti lobang udara.

Untuk memperoleh uang tambahan beberapa sen kami menerima orang bayar makan; tiga orang guru bantu dari sekolah bapak dan dua orang kemenakan seumurku. Nama kelahiranku adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria, disenteri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak menerangkan, “Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain supaya tidak sakit‐sakit lagi. “Bapak adalah seorang yang sangat gandrung pada Mahabharata, cerita klasik orang Hindu jaman dahulu kala.

Aku belum mencapai masa pemuda ketika bapak menyampaikan kepadaku, “Kus, engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata.”, “Kalau begitu tentu Karna seorang yang sangat kuat dan sangat besar,” aku berteriak kegirangan.”Oh, ya, nak,” jawab bapak setuju. ”Juga setia pada kawan‐kawannya dan keyakinannya, dengan tidak mempedulikan akibatnya. Tersohor karena keberanian dan kesaktiannya. Karna adalah pejuang bagi negaranya dan seorang patriot yang saleh.” Bukankah Karna berarti juga ‘telinga?” aku bertanya agak kebingungan,”Ya, pahlawan perang ini diberi nama itu disebabkan kelahirannya. Dahulu kala, sebagaimana dikisahkan oleh Mahabharata, ada seorang puteri yang cantik. Pada suatu hari, selagi bermain‐main dalam taman, puteri Kunti terlihat oleh Surya, Dewa Matahari. Batara Surya hendak bercinta‐cintaan dengan puteri itu, oleh sebab itu dia memeluk dan membujuknya dengan keberanian dan cahaya panasnya. Dengan kekuatan sinar cintanya, puteri itupun mengandung sekalipun masih perawan. Sudah tentu perbuatan Dewa Matahari terhadap perawan yang masih suci itu diluar perikemanusiaan dan menimbulkan persoalan besar baginya. Bagaimana caranya mengeluarkan bayi tanpa merusak tanda keperawanan puteri itu. Dia tidak berani memetik gadis itu dengan memberikan kelahiran secara biasa. Apa akal ………Apa akal Ah, persoalan yang sangat besar bagi Batara Surya. Akhirnya dapat dipecahkannya, dengan melahirkan bayi itu melalui telinga sang puteri. Jadi, karena itulah pahlawan Mahabharata itu dinamai Karna atau ‘telinga’.”

Sambil memegang bahuku dengan kuat bapak memandang jauh kedalam mataku. “Aku selalu berdo’a,” dia menyatakan, “agar engkaupun menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya. Semoga engkau menjadi Karna yang kedua.”

Nama Karna dan Karno sama saja. Dalam bahasa Jawa huruf “A” mendjadi “O”. Awalan “Su” pada kebanyakan nama kami berarti baik, paling baik. Jadi Sukarno berarti pahlawan yang paling baik. Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu‐satunya. Sekali ada seorang wartawan goblok yang menulis, bahwa nama awalku adalah Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanya Sukarno saja. Memang dalam masyarakat kami tidak luar biasa untuk memakai satu nama saja.

Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno — menurut ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan supaya segala ejaan “OE” kembali ke “U”. Edjaan dari perkataan Soekarno sekarang menjadi Sukarno. Akan tetapi, tidak mudah untuk merubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun jadi kalau aku sendiri menulis tanda tanganku, aku masih menulis S‐O‐E. Memang aku penyakitan di waktu kecil. Dan sekalipun umpamanya tidak ada penyakit yang diderita oleh bayi Kusno‐Karno, beban untuk memberi makan dua orang anak masih terlalu berat bagi bapak.

Seringkali kami harus bergantung kepada kebaikan dan keramahan dari tetangga kami. Keluarga Munandar menempati rumah yang serangkai dengan kami. Menurut cara Jawa yang sebenarnya, kalau kami tidak punya beras, kami makan punya mereka. Kalau kami tidak ada pakaian, kami pakai mereka punya. Sewaktu aku berumur sekitar empat, lima tahun nenekku dari pihak bapak hendak membawaku ke tempatnya. “Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara,” katanya. “Aku akan menjaganya.”

Dan begitulah aku tinggal di Tulungagung yang letaknya tidak jauh dari Mojokerto. Nenekku tidak kaya. Siapa diantara kami yang kaya di waktu itu? Tapi memang ada juga yang sedikit berada. Nenek berdagang batik, jadi setidak-tidaknya dia sanggup memberiku makan. Kakek dan nenek kedua‐duanya mengatakan bahwa aku mempunyai kekuatan‐kekuatan gaib. Bilamana ada orang sakit di kampung itu atau mendapat luka yang terasa sakit, nenek selalu memanggilku dan dengan lidah aku menjilat bagian di mana terasa sakit. Anehnya, si sakit menjadi sembuh. Nenekpun menduga bahwa aku dapat melihat apa‐apa yang gaib, akan tetapi lintasan‐lintasan penglihatan qalb (hati) itu menghilang ketika aku mulai menemukan kekuatan pidatoku terhadap rakyat.

Nampaknya, apa yang disebut kekuatan ini kemudian tersalur ke arah lain. Pendeknya, sesudah berumur 17 tahun aku tak pernah lagi memperoleh penglihatan secara ilmu kebatinan. Watakku tidak berubah sedikitpun selama hampir enam dasawarsa. Dalam umur tujuh tahun aku sudah menjadi seorang pemuja seni. Aku memuja Mary Pickford, Tom Mix, Eddie Polo, Fatty Arbuckle, Beverly Bayne dan Francis X. Bushman. Setiap bungkus rokok Westminster keluaran Inggris berisi gambar dari seorang bintang sebagai hadiah. Aku mengumpulkan bungkus‐bungkus rokok yang sudah terbuang dan menempelkan pahlawan‐pahlawan yang kupuja itu di dinding.

Aku menjaga kumpulan ini dengan nyawaku. Ini adalah harta milikku sendiri yang pertama. Pada waktu berumur 10 tahun jagoan Karno sudah ternyata mempunyai kemauan yang keras. Dengan kekuatan pribadiku aku menjadi tokoh yang berkuasa setiap kali berkumpul. Bahkan keluargaku sendiri berkumpul mengelilingiku dan aku menjadi pusat perhatian. Pada hari ulang tahunku yang ke‐duabelas, aku sudah mempunyai pasukan. Dan aku memimpin pasukan ini. Kalau Karno bermain jangkrik dalam debu di lapangan Mojokerto, yang lain‐lain pun turut main. Kalau Karno mengumpulkan perangko, mereka juga mengumpulkan. Mereka menamakanku seorang “jago” Aku mempunyai sebuah sumpitan yang kuperoleh dari seorang kawan. Kami menempatkan bambu yang panjang dan berlobang kecil ini kemulut dan menembakkan kacang ke arah sasaran. Tentunya si Karno menjadi jago penyumpit. Kalau kami memanjat pohon, aku memanjat lebih tinggi dari yang lain. Dan akupun jatuh paling keras pula daripada anak‐anak lain. Akupun lebih sering melukai kepalaku dari yang lain.Tapi setidak‐tidaknya tak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa aku tidak mencobanya. Nasibku adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan, sekalipun pada waktu kecilku.

Diari Bung Karno (Bagian Pertama)

Sukarno_HBS

MASA kanak‐kanakku tidak berbeda dengan David Copperfield. Aku dilahirkan di tengah‐tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih. Dengan kakakku perempuan Sukarmini, yang dua tahun lebih tua daripadaku, kami merupakan suatu keluarga yang terdiri dari empat orang. Gaji bapak $25 sebulan. Dikurangi sewa rumah kami di Jalan Pahlawan 88, neraca menjadi $ 15 dan dengan perbandingan kurs pemerintah $ 3,60 untuk satu dolar dapatlah dikira‐kira betapa rendahnya tingkat penghidupan keluarga kami.

Ketika aku berumur enam tahun kami pindah ke Mojokerto. Kami tinggal di daerah yang melarat dan keadaan tetangga‐tetangga kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, akan tetapi mereka selalu mempunyai sisa uang sedikit untuk membeli pepaya atau jajan lainnya. Tapi aku tidak. Tidak pernah. Lebaran adalah hari besar bagi umat Islam, hari penutup dari bulan puasa, pada bulan mana para penganutnya menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu melalui mulut mulai dari terbitnya matahari sampai ia terbenam lagi.

Kegembiraan di hari Lebaran sama dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah. Akan tetapi kami tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punya uang untuk itu. Di malam sebelum Lebaran sudah menjadi kebiasaan bagi kanak‐kanak untuk main petasan. Semua anak‐anak melakukannya dan di waktu itupun mereka melakukannya. Semua, kecuali aku.

Di hari Lebaran lebih setengah abad yang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar tidurku yang kecil yang hanya cukup untuk satu tempat tidur. Dengan hati yang gundah aku mengintip keluar arah ke langit melalui tiga buah lubang udara yang kecil‐kecil pada dinding bambu. Lubang udara itu besarnya kira‐kira sebesar batu bata. Aku merasa diriku sangat malang. Hatiku serasa akan pecah.

Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh sorak‐sorai kawan‐kawanku karena kegirangan. Betapa hancur luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan‐kawanku dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu — dan aku tidak!. Alangkah dahsyatnya perasaan itu. Mau mati aku rasanya.

Satu‐satunya jalan bagi seorang anak untuk mempertahankan diri ialah dengan melepaskan sedu‐sedan yang tak terkendalikan dan meratap di atas tempat tidurnya. Aku teringat ketika aku menangis kepada ibu dan mengumpat, “Dari tahun ke tahun aku selalu berharap‐harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon.” Aku sungguh menyesali diriku sendiri. Kemudian di malam harinya datang seorang tamu menemui bapak. Dia memegang bungkusan kecil ditangannya. “Ini,” katanya sambil mengulurkan bingkisan itu kepadaku. Aku sangat gemetar karena terharu mendapat hadiah itu, sehingga hampir tidak sanggup membukanya. Isinya petasan. Tak ada harta, lukisan ataupun istana di dunia ini yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku seperti pemberian itu. Dan kejadian ini tak dapat kulupakan untuk selama‐lamanya.

Kami sangat melarat sehingga hampir tidak bisa makan satu kali dalam sehari. Yang terbanyak kami makan ialah ubi kayu, jagung tumbuk dengan makanan lain. Bahkan ibu tidak mampu membeli beras murah yang biasa dibeli oleh para petani. Ia hanya bisa membeli padi. Setiap pagi ibu mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, tak henti‐hentinya menumbuk butiran‐butiran berkulit itu sampai menjadi beras seperti yang dijual orang di pasar. “Dengan melakukan ini aku menghemat uang satu sen,” katanya kepadaku pada suatu hari ketika sedang bekerja dalam teriknya panas matahari sampai telapak tangannya merah dan melepuh. “Dan dengan uang satu sen kita dapat membeli sayuran, nak.”

Semenjak hari itu dan seterusnya selama beberapa tahun kemudian, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku menumbuk padi untuk ibuku. Kemelaratan seperti yang kami derita menyebabkan orang menjadi akrab. Apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan, apabila nampaknya aku tidak punya apa‐apa di dunia ini selain daripada ibu, aku melekat kepadanya karena ia adalah satu‐satunya sumber pelepas kepuasan hatiku. Ia adalah ganti gula‐gula yang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku yang ada di dunia ini.

Yah, ibu mempunyai hati yang begitu besar dan mulia. Dalam pada itu bapakku seorang guru yang keras. Sekalipun sudah berjam‐jam, ia masih tega menyuruhku belajar membaca dan menulis. “Hayo, Karno, hafal ini luar kepala. Ha Na—Ca—Ra— Ka Hayo, Karno, hafal ini; A‐B‐C‐D‐E” dan terus-menerus sampai kepalaku yang malang ini merasa sakit. Lagi‐lagi kemudian, “Hayo Karno, ulangi abjad Hayo, Karno, baca ini Karno, tulis itu”. Tapi ayahku mempunyai keyakinan, bahwa anaknya yang lahir di saat fajar menyingsing itu kelak akan menjadi orang.

Kalau aku berbuat nakal —ini jarang terjadi— dia menghukumku dengan kasar. Seperti di pagi itu aku memanjat pohon jambu di pekarangan rumah kami dan aku menjatuhkan sarang burung. Ayah menjadi pucat karena marah. “Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaya menyayangi binatang,” ia menghardik. Aku bergoncang ketakutan. “Ya, Pak.” “Engkau dapat menerangkan arti kata‐kata: ‘Tat Twan Asi, Tat Twam Asi’ ?”, “Artinya ‘Dia adalah Aku dan Aku adalah dia; engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau.’ “Dan apakah tidak kuajarkan kepadamu bahwa ini mempunyai arti yang penting?” Ya, Pak. Maksudnya, Tuhan berada dalam kita semua,” kataku dengan patuh.

Dia memandang marah kepada pesakitannya yang masih berumur tujuh tahun. “Bukankah engkau sudah ditunjuki untuk melindungi makhluk Tuhan?”, “Ya, Pak.”,”Engkau dapat mengatakan apa burung dan telor itu ?”,”Ciptaan Tuhan,” jawabku dengan gemetar, “tapi dia jatuh karena tidak disengaja. Tidak saja sengaja. “Sekalipun dengan permintaan maaf demikian, bapak memukul pantatku dengan rotan. Aku seorang yang baik laku, akan tetapi bapak menghendaki disiplin yang keras dan cepat marah kalau aturannya tidak dituruti. Aku segera mencari permainan yang tidak usah mengeluarkan uang untuk memperolehnya.

Dekat rumah kami tumbuh sebatang pohon dengan daunnya yang lebar. Daun itu ujungnya kecil, lalu mengembang lebar di pangkalnya dan tangkainya panjang seperti dayung. Adalah suatu hari yang gembira bagi anak‐anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa kami mempunyai permainan. Seorang lalu duduk di bagian daun yang lebar, sedang yang lain menariknya pada tangkai yang panjang itu dan permainan ini tak ubahnya seperti eretan. Kadang-kadang aku menjadi kudanya, tapi biasanya menjadi kusir. Watakku mulai berbentuk sekalipun sebagai kanak‐kanak. Aku menjadikan sungai sebagai kawanku, karena ia menjadi tempat dimana anak‐anak yang tidak punya dapat bermain dengan cuma‐cuma. Dan ia pun menjadi sumber makanan.

Aku senantiasa berusaha keras untuk menggembirakan hati ibu dengan beberapa ekor ikan kecil untuk dimasak. Alasan yang tidak mementingkan diri sendiri demikian itu pada suatu kali menyebabkan aku kena ganjaran cambuk. Hari sudah mulai senja. Ketika bapakku melihat bahwa hari mulai gelap dan bocah Sukarno tidak ada di rumah, dia menuntut ibu dengan keras: “Kenapa dia bersenang‐senang tak keruan begitu lama? Apa dia tidak punya pikiran terhadap ibunya? Apa dia tidak tahu bahwa ibunya akan susah kalau terjadi kecelakaan?”,”Negeri begini kecil, Pak, tidak mungkin kita tidak mengetahui kalau terjadi ketjelakaan,” ibu menerangkan. Sekalipun demikian, bapak yang agak keras kepala marah dan ketika aku sejam kemudian melonjak‐lonjak gembira pulang dengan membawa ikan kakap untuk ibu, bapak menangkapku, merampas ikan dan semua yang ada padaku, lalu aku dirotan sejadi‐jadinya. Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan disiplin itu dengan kebaikan hatinya. Oh, aku sangat mencintai ibu. Aku berlari berlindung ke pangkuan ibu dan dia membujukku. Sekalipun rumput‐rumput kemelaratan mencekik kami, namun bunga‐bunga cinta tetap mengelilingiku selalu.

Salman Alfarisi (Bagian Kedua)

isfahan

Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?

Orang itu berkata, Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim as. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!

Kemudian orang ini pun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku? Mereka menjawab, Ya. Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.

Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzhalimiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.

Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.

Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.

Allah mengutus seorang Rasul-Nya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, Fulan, Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.

Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan? Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, Apa urusanmu menanyakan hal ini, lanjutkan pekerjaanmu.

Aku menjawab, Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.

Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, Telah sampai kepadaku kabar bahwasannya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.

Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallalloahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, Ini satu tanda kenabiannya.

Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.

Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, Inilah tanda kenabian yang kedua.’

Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi’ al Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.

Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Rasulullah bersabda kepadaku, Geserlah kemari, maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman! Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, Berilah bantuan kepada saudara kalian ini. Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku. Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di Tangan-Nya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi? Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!

Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya. Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di Tangan-Nya (kekuasaan-Nya), berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.

Sumber: HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir (6/222); Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, 4/75; al-Baihaqi dalam al-Kubra, 10/323.

Salman Alfarisi (Bagian Pertama)

ancient-persia-in-depth

Dari Abdullah bin Abbas ra berkata, Salman al Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata:

Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.

Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.

Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana! Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).

Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?

Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.

Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, Dari mana asal usul agama ini?’ Mereka menjawab, Dari Syam (Syiria).

Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, Anakku, ke mana saja kamu pergi? Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu? Aku menjawab, Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.

Ayahku menjawab, Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikit-pun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu. Aku membantah, Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita. Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.

Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu. Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negerinya, memberiku izin bisa menemui mereka.

Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.

Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, Siapakah orang yang ahli agama di sini? Mereka menjawab, Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja. Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu. Pendeta itu menjawab, Silahkan. Maka akupun tinggal bersamanya.

Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.

Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.

Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu? Aku menjawab, Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu. Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami. Lalu aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya. Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.

Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (di sini konteksnya bukan seorang muslim yang sedang sholat) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.

Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?

Orang itu berkata, Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku. Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakat pun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni si Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!’

Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.

Kemudian orang yang kutemui itu berkata, Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya. Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!

Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.

Orang itu berkata, Silahkan tinggal bersamaku. Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.

Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?

Orang itu berkata, Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.

Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, Silahkan tinggal bersamaku. Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.